Janda Judes

Janda Judes
87 Posesif.


__ADS_3

Satu hari setelah Dery tersadar dari koma, Dia sudah mulai bicara meski hanya sedikit.


Kata yang selalu dia ucapkan pada setiap orang adalah keinginannya untuk pulang kerumah.


Pagi ini saja Dery sudah lima kali meminta pulang pada sang ayah, sudah jenuh berada diruang rumah sakit katanya.


Dokter Ilham baru saja masuk bersama seorang perawat wanita, memeriksa perkembangan keadaan Dery.


"selamat pagi nona, ku dengar kau ingin segera pulang kerumah ya?" dokter Ilham tersenyum ramah, dengan sedikit menjaga jarak, karena jika dia terlalu dekat dengan nona kesayangan tuan muda kejam ini, bisa dipastikan Ilham akan dihajar oleh Rizal.


Dery mengangguk dengan senyum tipis diwajahnya. "bolehkah aku pulang sekarang?" kata-kata itu yang keluar dari mulut Dery.


Semua orang yang ada disana hanya tersenyum.


"jika nona sudah jauh lebih baik, maka nona bisa pulang hari ini." sahut dokter Ilham.


Dokter Ilham berdiri tepat di samping brankar Dery, saat tiba-tiba Rizal sudah masuk keruangan Dery.


"ekhem,..." Rizal sengaja berdehem keras, membuat dokter Ilham terlonjak kaget.


"sumpah demi Tuhan aku tidak menyentuh nona," Ilham mengangkat kedua tangannya, dengan wajah pias.


Dery yang melihat Rizal berdiri didepan pintu, langsung mengalihkan pandangannya.


Ada rasa amarah yang tersimpan di hati Dery, meski dia merindukan pria itu tapi entah dia seperti enggan bertemu dengannya.


Rizal berjalan mendekat menatap Dery penuh cinta, "apa kau ingin benar-benar pulang nona?"

__ADS_1


"....."


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Dery, dia hanya diam lalu memejamkan mata. Mengisyaratkan jika dia tidak ingin diganggu saat ini.


Rizal melambaikan tangan, Ilham dan perawat wanita itu keluar, hanya tinggal ayah yang masih setia duduk di sofa tidak jauh dari brankar Dery.


Rizal mendekati duduk disamping ayah.


"yah, aku dengar Dery terus saja merengek ingin pulang,"


"iya nak Rizal, pagi ini saja sudah berkali-kali meminta pulang,"


"akan aku usaha kan dia pulang hari ini yah, akan ada perawat dan dokter yang akan sering mengecek kondisi nya dirumah." Rizal menenangkan pak Rahmat.


Dery yang hanya berpura-pura tidur bisa mendengar jelas percakapan ayahnya dan Rizal. Air matanya menetes, hatinya ngilu mengetahui Rizal masih memperhatikan nya.


"yah aku harus bertemu dengan dokter Ilham dulu ya," Rizal berpamitan pada pak Rahmat sebelum beranjak keluar ruangan. Pak Rahmat hanya mengangguk.


.


Ruang kerja dokter Ilham...


"ham.. boleh aku masuk," Rizal berdiri di depan pintu yang terbuka lebar.


"tentu kawan, masuklah," Ilham tersenyum lebar.


kau kesini pasti untuk membujuk ku agar nona bisa dirawat dirumah kan, aku tau itu.

__ADS_1


"duduk lah, apa kau ingin membicarakan soale nona?"


"hmm tentu saja, memangnya apa yang akan aku bicarakan," Rizal duduk menatap Ilham. "apa dia sudah bisa dirawat dirumah, dia terus saja merengek ingin pulang,"


nah kan benar, dia pasti akan mengusahakan semua keinginan nona, kau ini memang bucin tuan muda.


Ilham tersenyum samar,


"sebenarnya bisa saja, nona juga jauh lebih baik sekarang." Ilham menunjukkan hasil pemeriksaan Dery. "dia koma karena benturan hebat di kepalanya, untungnya nona tidak kehilangan memori ingatannya, dan lebih beruntungnya lagi nona tidak mengalami patah tulang, hanya dua tulang rusuk nona retak,"


"jadi Dery bisa pulang?" wajah Rizal berbinar.


"yaa tentu saja, tapi nona harus banyak istirahat, nanti aku sendiri yang akan memantau keadaan nona selama perawatan dirumah,"


"kenapa harus kau, banyak dokter wanita dirumah sakit ini kan," wajah Rizal berubah kesal.


"aku tidak akan menyentuh nona, aku hanya akan membantu perawat saja." Ilham juga ikut kesal,


kau benar-benar posesif tuan, menyebalkan.


"baiklah, tapi jika kau menyentuh Dery awas saja," ancam Rizal.


"kau ini posesif sekali tuan," Ilham mendengus, "akan aku urus kepulangan nona sekarang, kau pergi lah. melihat wajah posesif mu itu membuat ku kesal." Ilham mengibaskan tangannya mengusir Rizal.


"beraninya kau mengusir pemilik rumah sakit ini, apa kau ingin ku pecat," Rizal menggeram menatap tajam. Wajah Ilham berubah pias, Rizal meninggalkan ruangan tanpa mau mendengarkan Ilham yang mencoba bicara.


seenaknya saja dia bilang aku posesif, aku hanya tidak ingin Dery disentuh pria lain, apa itu salah. jika bukan teman ku sudah ku pecat dia.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2