Janda Judes

Janda Judes
Daddy Daniel


__ADS_3

Anak


adalah wujud cinta dan kasih sayang dua insan yang nyata. Titipan Tuhan yang begitu sempurna, yang seharusnya dijaga dengan baik dan penuh cinta kasih.


Tapi Daniel melewatkan banyak waktu dimasa-masa emas Ramon, meski bukan sepenuhnya ia bersalah tapi tentu rasa sesal membelenggu hatinya.


Pantas kah dirinya dipanggil ayah?


Hampir setiap malam Daniel menangis dalam kesendirian, menyesali keadaan yang membuatnya terpisah dari sang putra.


Daniel memeluk erat putra kecilnya dengan perasaan haru dan bahagia luar biasa.


Bersyukur, Ramon tak menaruh kebencian padanya.


Tak pula menanyakan kenapa dirinya ditinggalkan dipanti asuhan.


Jika apa yang dialami Ramon terjadi pada anak lain, bisa dipastikan hanya kebencian pada orangtuanya yang ada dalam hatinya.


"daddy... " ucap Ramon dengan mata berbinar, tangan kecilnya mengusap lembut air mata dipipi Daniel. "bolehkan aku memanggil mu daddy? " Daniel hanya mengangguk bahagia.


Terima kasih Tuhan, hadiah yang kau berikan begitu indah. batin Daniel.


Diakui sebagai ayah Ramon memang keinginannya, kini telah menjadi nyata.

__ADS_1


Bahkan hati Daniel begitu bergetar kala Ramon memanggilnya dengan daddy.


"maafkan daddy sayang.. " gumam Daniel lirih.


malu rasanya saat sang putra begitu berlapang dada menerima dirinya sebagai ayah kandungnya. Tanpa ada kebencian tanpa ada rasa marah.


Jika waktu bisa ia putar lagi, tentu ia akan memberi semua kebahagiaan didunia untuk putranya bahkan sebelum Ramon dilahirkan.


Semua orang yang ada dalam ruangan, merasa terharu. Bahkan Dery sampai berulang kali mengusap air matanya.


"ayah.. " Daniel menatap tuan Rahadi, "sepertinya aku tidak akan pergi kemanapun, aku akan tetap disini, aku ingin menghabiskan banyak waktu dengan putra ku, " ucapnya dengan menggebu-gebu.


Tuan Rahadi mengangguk " seharusnya memang begitu kan, " mengusap kepala Ramon dan Daniel bergantian. "dan sepertinya kau juga harus mulai mencari ibu untuk Ramon juga, " sambungnya dengan senyum jail mencairkan suasana.


Daniel hanya berdecih. " kakak ipar sudah cukup menjadi ibu Ramon, jadi tidak perlu ibu lagi, iyakan sayang? " memeluk Ramon semakin erat, sedangkan Ramon malah menggeleng kecil di dalam dekapan sang ayah.


"memang kamu tidak ingin punya istri? " Rizal memeluk istrinya posesif.


"tidak"


"cih... terserah kau saja, "


"sudah jangan bertengkar, ayo kita buat rencana untuk merayakan kelahiran baby R, " sambung Tuan Rahadi dengan penuh semangat.

__ADS_1


"setuju... " seru Daniel dan Ramon bersemangat.


Jika dirumah utama sedang dalam suasana yang haru dan membahagiakan.


Lain halnya yang tengah terjadi pada Joe dikantor.


Sejak Tuan Rahadi menyerahkan segala tugas The RedDelta pada Juii, Jack dan Marco, membuat Joe selalu kesal dan uring-uringan.


Ia yang mati-matian menjauhkan Juii dari Jack, kini malah harus menerima kenyataan bahwa Juii bekerja bersama Jack.


"kau tau zy, rasanya aku ingin meledakkan kepala Jack setiap kali dia sengaja mengirimkan foto Juii saat mereka sedang duduk diruangan yang sama, " Joe membanting ponselnya di meja kerja Zyan dengan emosi tertahan.


Zyan hanya melirik layar ponsel Joe "memangnya kenapa kalau Jack dan Juii bersama? " enteng jawab Zyan yang langsung mendapat tatapan tajam dari Joe.


"sepertinya kau lupa bagaimana perangai pria gila itu, " dengus Joe marah "dia dan Marco itu sama, Sama-sama gila wanita, "


"ya ya ya... tapi semua orang bisa berubah kan?" Zyan sendiri tak yakin dengan kalimatnya barusan.


"dia adik ku satu-satunya, aku tidak akan membiarkan hidupnya hancur, " seru Joe dengan langkah cepat keluar dari ruang kerja Zyan.


Zyan hanya menggaruk kepalanya melihat kelakuan Joe. Setiap hari laki-laki itu selalu saja mengomel diruang kerjanya.


Lama-lama aku bisa gila jika terus mendengar ocehan Joe. dia benar-benar mirip dengan emak-emak komplek. batin Zyan

__ADS_1


__ADS_2