
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ikbal, membuat Rizal merasa sangat menyesal.
Apa yang sudah dia lakukan waktu itu, pasti membuat Dery merasa sangat tersakiti.
Kebodohan apa yang sudah aku lakukan, kenapa aku membuat Dery tersakiti. Harusnya dulu aku meminta penjelasan darinya bukan malah meninggalkannya seperti ini.
Rizal meninggalkan acara dengan perasaan tidak menentu, yang ada didalam pikirannya adalah dia ingin segera kembali ke Indonesia dan meminta maaf pada Dery.
Rizal memerintahkan pengawal untuk menyiapkan penerbangannya ke Indonesia secepat mungkin.
Apa Dery bisa memaafkan kebodohan yang sudah aku lakukan. Apa dia akan menerima kehadiran ku.
"Tuan semuanya sudah siap,"
"kita berangkat sekarang," titah Rizal
"apa tidak sebaiknya tuan berpamitan pada tuan besar dulu?"
"tidak ada waktu lagi, aku ingin berangkat sekarang." marah Rizal "setelah aku berangkat kau bilang pada ayah jika aku kembali ke Indonesia."
Melihat kemarahan Rizal pengawal itu hanya mengangguk, tidak lagi berani membantah.
Rizal sudah ada didalam jet pribadinya, dia sangat tidak sabar ingin segera bertemu dengan Dery. Dia duduk dengan sangat tidak nyaman, terus saja mengumpat pada pengawal yang setia berada disampingnya.
Jika biasanya Rizal selalu stay cool dan calm, berbeda dengan sekarang dia sangat berantakan.
"apa tidak bisa lebih cepat," Rizal mengacak-acak rambutnya kesal.
"tuan lebih baik istirahat dulu, setidaknya tenang kan diri tuan, jika nanti sudah tiba di Indonesia tuan akan lebih segar."
"diam kau, pergi dari sini. Tanyakan apa perjalanan ini tidak bisa lebih cepat." mata Rizal memincing.
Huh...ada apa dengan tuan Rizal ini, kenapa dia lebih mengerikan daripada biasanya. apapun yang aku lakukan selalu saja salah.
.
Tuan Rahadi baru saja mendapatkan laporan dari pengawalnya, jika putra sulungnya sudah terbang ke Indonesia dengan terburu-buru.
__ADS_1
Sebenarnya tuan Rahadi beberapa kali dihubungi Zyan asisten Rizal, tapi dia belum sempat bertemu langsung dengan putranya karena Rizal sangat sibuk.
Sebenarnya ada apa, kenapa zyan beberapa kali menghubungi ku dan meminta Rizal untuk mengangkat teleponnya, dan sekarang Rizal kembali ke Indonesia tanpa memberi tahu ku.
.
Setelah perjalanan panjang,
Rizal baru saja tiba di Indonesia, saat turun dari pesawat Rizal melihat Joe sudah berdiri di samping mobil, menatapnya penuh kelegaan.
"Joe kau disini?" Rizal masuk kedalam mobil. Joe mengangguk lalu menutup pintu mobil. "dari mana kau tahu jika aku pulang?"
"tuan besar menghubungi Zyan, memberitahukan jika tuan kembali mendadak,"
"aku ingin bertemu Dery Joe, ada sedikit kesalah pahaman yang ingin aku selesaikan." lanjut Rizal.
Arghh kenapa dada ku akhir-akhir ini sering nyeri begini, sepertinya aku harus mengatur jadwal dengan dokter Ilham.
"tuan," Joe menggantung kalimatnya. " no..nona"
"sejak kepergian tuan, nona sangat sulit kami temui, bahkan tidak pernah bisa kami temui." Joe menarik nafas dalam sebelum melanjutkan kalimatnya, " nona sangat berubah, dia tidak lagi ceria senyumnya tidak lagi menghiasi hari-harinya, nona sangat keras, sangat tomboy dan yang paling membuat kami tercengang adalah nona ikut balap liar."
Deg...
"apa, kau sedang bercanda kan Joe?" Mendengar penjelasan Joe, Rizal sangat terkejut.
apa aku sudah sangat keterlaluan, kenapa Dery bisa sangat berubah seperti itu. Ini semua gara-gara aku kan.
Mobil yang ditumpangi Rizal berhenti di rumah sakit, Joe menuntun Rizal untuk mengikuti dirinya.
Dengan rasa penasaran Rizal bergegas mengikuti Joe yang berjalan didepannya.
"Joe kenapa kita kemari?" Rizal mempercepat langkahnya, Joe masih diam tidak tahu bagaimana harus menceritakan apa yang sudah Dery alami.
Didepan ruang ICU, Reno dan Zyan duduk dengan wajah tertunduk.
"kalian?" Rizal menghentikan langkahnya saat melihat Zyan dan Reno ada disana.
__ADS_1
"tuan Rizal," Reno bangkit dari duduknya, mendekati Rizal.
"ada apa ini, kenapa kalian ada disini?" Rizal masih bingung.
"nona, ada didalam tuan," Zyan menunjuk pintu kaca ruang ICU.
Melihat Dery terbaring dengan begitu banyak selang dan kabel ditubuhnya membuat hati Rizal sangat sakit.
Rasanya seperti dia tidak lagi memiliki tulang, dia kehilangan kekuatannya.
Dery, apa yang terjadi, kenapa kamu bisa seperti ini. aku tidak akan memaafkan diri ku jika sesuatu terjadi pada mu der, maaf jika kepergian ku membuat mu sangat terluka.
"apa yang sebenarnya terjadi?" Rizal tidak mengalihkan pandangannya dari Dery, setitik air mata menetes diujung matanya.
"Dery mengalami kecelakaan motor tuan, dari saksi mata ditempat kecelakaan, nona kehilangan kendali motornya lalu menabrak pembatas jalan dengan kecepatan tinggi. dan nona terpental cukup jauh, motor sport nona habis terbakar di lokasi." Joe menjelaskan dengan wajah menunduk, tidak berani menatap Rizal.
Mendengar penjelasan Joe, Rizal kemudian beranjak dari tempat itu. Tangannya mengepal karena marah pada dirinya sendiri. Menjauh dari ruang ICU tempat Dery dirawat.
Kenapa aku jadi sebodoh ini!
Bugh Bugh Bugh!!!
Tangan Rizal meninju tembok rumah sakit, melampiaskan segala rasa amarah.
Karena kebodohan dan keegoisan ku, aku malah menyakiti wanita yang aku cintai. Baru kali ini dia melakukan kesalahan dan ini kesalahan yang sangat fatal.
Rizal merasa sangat frustasi, berulang kali meninju tembok hingga darah mengucur dari tangannya.
"nak Rizal, hentikan!" ayah Dery menahan tangan Rizal, "kau melukai dirinya mu sendiri,"
"ayah," Rizal terisak memeluk ayah Dery, " maafkan aku yah, aku yang membuat Dery jadi seperti ini, maaf yah maaf kan aku." tubuh Rizal melorot terduduk dibawah kaki ayah Dery, tidak berani menatap wajah pak Rahmat.
"sudah nak, sudah ayo berdiri. Jangan seperti ini, ayo kita temui Dery, berikan semangat padanya. ayah tau Dery sangat merindukan mu," pak Rahmat menuntun Rizal masuk ke ruang ICU, meninggalkan Rizal dan putrinya disana.
Semoga kehadiran mu bisa membawa Dery kembali nak, ayah tahu Dery sangat mencintai mu, dia membutuhkan mu.
bersambung.....
__ADS_1