
Siang menjelang,
Dery dan sahabatnya bersiap untuk pulang, waktu liburan mereka telah usai.
Kebahagiaan terpancar di wajah mereka, semua berjalan sesuai rencana.
"der, kamu mau langsung pulang atau ke bengkel dulu?" Reno membuka suara saat mereka akan berangkat.
"aku mau ke cafe dulu kak, ada sedikit urusan disana," Dery sibuk mengecek kondisi motornya.
"baru juga liburan selesai, udah mau kerja lagi aja jah?" Roby ngeluarkan kepala dari dalam mobil.
"kerja itu wajib, gak kerja gak makan," ceplos Dery.
"cafe bercabang-cabang gitu bisa-bisanya bilang gak kerja gak makan," Iwan mengacak rambut Dery.
"sejak kapan Lo pikun, Dery mana pernah berlama-lama ninggalin kerjaannya," sahut Ikbal "hidup Dery itu buat kerja, bukan buat gue," godanya.
"ah, itu betul," mengacungkan dua jempol untuk Ikbal. "yuk jalan," Dery sudah naik keatas motornya.
Perjalanan yang menyenangkan bagi Dery, ia memacu motornya dengan kecepatan sedang, menikmati jalanan perkampungan yang masih sangat asri.
Hingga memasuki kota Dery baru melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, cafe masih lumayan jauh, jadi Dery mempercepat lajunya meninggalkan mobil Reno dibelakang.
"gila emang ya tuh bocah, kalo udah naik motor lupa daratan dia," Reno susah payah mengikuti laju motor Dery.
"Mas, jangan ngebut dong aku takut," Lidia mencubit lengan Reno.
"auw sakit sayang," mengaduh "masak berangkat bareng pulang sendiri-sendiri," mengurangi kecepatan mobilnya.
"iya lah ngebut, dia kan suka ikut balap liar," Roby keceplosan.
"apa lo bilang?" Lidia, Reno dan Ikbal berteriak bersamaan. Reno sampai mengerem mendadak.
Plak, Ikbal dengan keras menabok Roby yang nyalinya sudah menciut.
"apa yang Lo tau tentang Dery, tapi kita gak tau kampret?" semua orang didalam mobil melotot menatap Roby.
__ADS_1
"emm itu gue cuma bercanda doang kok kak sumpah, Dery mana punya nyali buat balapan," dengan wajah pias Roby mencoba menutupi.
mampus gue mampus, bisa dihajar gue sama Dery kalo sampe semuanya pada tau. kenapa nih mulut kagak ada remnya sih. tolol emang Lo rob. mengutuki dirinya sendiri.
"Lo berani bohong gue aduin sama Amih, biar lo gak dikasih uang jajan selama enam bulan." ancam Reno.
matilah gue, enam bulan gak dikasih duit jajan, bisa mati gaya gue, tapi gue mana tega bongkar rahasia Dery.
"Roby jawab," bentak kak Lidia.
"kalian tanya aja sama Ijah sendiri, gue cuma pernah sekali liat Ijah ikut balap liar, dan dia menang. selebihnya gue gak tau," Roby memasang wajah kesal.
Mendengar apa yang Roby jelaskan membuat mereka tercengang, sejak kapan Dery jadi senekat ini, dia sungguh sangat berubah.
Dery? balap liar. sebenarnya apa yang terjadi, kenapa dia sangat berubah sekarang. Aku seperti tidak mengenal Dery yang sekarang.
Ikbal menggeleng tidak habis pikir atas apa yang sudah Dery lakukan.
"kak kita susul Dery ke cafe," usul Ikbal, Reno mengangguk setuju. Wajah Lidia juga nampak sangat terkejut, apa yang Dery lakukan benar-benar diluar bayangannya.
.
Fia sedang mengumpulkan karyawan baru untuk mendapatkan training sebelum ditempatkan dicabang cafe baru.
Fia memang selalu memastikan tidak akan ada masalah dikemudian hari yang akan merepotkan bos nya.
Fia adalah anak putus sekolah yang ditolong Dery saat akan dijual ayahnya sendiri, Dery juga banyak membantu dirinya dan sang ibu, memberikan mereka rumah tinggal dibelakang cafe dan membiayai pengobatan ibu Fia.
Itulah alasan kenapa Fia selalu patuh dan menjaga kepercayaan Dery, meski Fia 2tahun lebih tua dari Dery tapi Fia sangat menghormati Dery.
"Fi, ikut gue ke dalam," Dery yang baru saja datang, berjalan cepat menuju ruang kerjanya.
"siap bos," Fia bergegas mengikuti bosnya.
"ada yang bisa saya bantu bos?" saat sudah berhadapan dengan Dery.
"duduklah," menunjuk kursi dengan dagunya. "buatkan perjanjian kontrak kerja untuk karyawan baru wanita ini," Dery menunjuk foto salah seorang karyawan.
__ADS_1
"buat dia tidak akan bisa keluar dari cafe kecuali gue yang pecat, dan jangan sampe dia tahu kalo gue pemilik cafe ini." Fia mengangguk paham,
Dia langsung keluar untuk menjalankan perintah Dery tanpa banyak bertanya.
sudah saatnya kamu harus tahu rasanya diinjak-injak kawan.
Tok tok tok ketukan pintu membuat Dery menghentikan pekerjaannya.
"ya masuk," suara Dery tegas.
kak Reno, kak Lidia, Ikbal ? ngapain mereka nyusul gue kemari.
"duduk kak, kenapa nyusul aku kesini kak," Dery bangun dari duduknya.
"Dery Pratiwi, sejak kapan kamu ikut balap liar," Reno tampak sangat marah, Ikbal menatap tajam dirinya.
"kakak tau dari mana?" jawab Dery santai.
Sudah resiko kan, jika mereka tahu mereka akan marah padanya. "Roby ya?" lanjutnya
"Dery, apa kamu sudah gila, itu bisa membahayakan diri mu sendiri. apa kamu udah gak sayang sama nyawa mu?" Reno semakin kesal saat Dery menjawab dengan santai.
"Ijah, plis jangan lakukan itu lagi, kita gak mau kamu kenapa-kenapa dek," Lidia memeluk Dery, wajahnya terlihat sangat khawatir.
"baiklah aku tidak akan melakukannya lagi," Dery sedang tidak ingin berdebat.
"janji?" Reno mengusap pucuk kepala Dery.
"iya kak aku janji," mengangguk mantap "apa kalian ingin makan atau minum? biar aku siapkan?" lanjut Dery.
"tidak, kita langsung pulang saja. sepertinya pekerjaan mu sangat banyak." Lidia melirik meja kerja Dery yang dipenuhi banyak berkas.
"baiklah kita pulang dulu, dan pegang janji mu jangan lagi ikut balap liar, atau aku akan adukan pada ayah supaya motor itu dijual." ancam Reno.
"jangan buat aku khawatir jah," Ikbal memeluk Dery sebelum pergi.
ck, dasar kudanil emang kakag bisa jaga rahasia, awas aja, gue makan idup-idup Lo
__ADS_1
bersambung....