
Sore menjelang...
Dery yang merasa lebih baik, melangkahkan kaki keluar kamar,
Suasana sepi saat dia sudah berdiri diluar kamar,
"nona?" suara seorang pria mengagetkan Dery,
"ehh.." spontan Dery menoleh pada pria dibelakangnya.
"maaf tuan, saya ingin kekamar mandi,"
Pria itu tersenyum hangat, "mari saya tunjukkan nona,"
Dery mengangguk, mengikuti langkah pria itu.
Saat sudah selesai dari kamar mandi, Dery akan kembali dalam kamar, ingin melihat apakah Ramon sudah bangun atau belum.
Tapi pandangannya beralih pada pria yang tengah duduk diruang tamu.
"tuan.." sapa Dery lembut.
"hai nona," pria itu nampak canggung saat Dery sudah berdiri dihadapannya.
"boleh aku duduk?"
"tentu, silahkan."
Dery duduk di kursi kayu bersebrangan dengan pria itu.
Hening cukup lama, sampai Dery memberanikan diri bertanya pada pria itu.
"tuan, boleh aku bertanya?"
Pria itu menatap Dery, lalu mengangguk. "tapi sebelum kamu bertanya, bisakah kamu memanggil ku dengan nama saja, tidak perlu menggunakan embel-embel tuan, aku ini orang biasa," ucapnya lembut.
Dery tersenyum, "aku sudah tinggal dirumah tuan, tapi kita bahkan belum berkenalan," Dery mengulurkan tangan, "aku Dery,"
"aku Rendy," dia menyambut uluran tangan Dery.
"jadi aku sudah boleh bertanya sekarang, tuan ehh maksud ku Rendy,"
"apa kamu mau bertanya kenapa kamu dan putra mu bisa ada dirumah ku," Rendy bisa menebak apa yang ingin Dery tanyakan.
Dery mengangguk, memang itu yang ingin dia tanyakan.
Flashback...
Pagi buta Rendy yang baru saja memasuki wilayah desa kecil tempat dia dibesarkan,
Rendy adalah satu-satunya pria di desa itu yang bekerja di kota.
Rendy tengah berjalan santai, saat pandangan matanya melihat bocah laki-laki yang terlihat berantakan tengah menangis dan berlari kesana-kemari.
"tolong..." pria kecil itu terisak, " tolong mama ku... siapapun tolong," Rendy bergegas menghampiri anak itu.
"Hei, kenapa kau di sini? ini jauh dari desa nak," ucapnya lembut, berjongkok mensejajari anak itu.
"to..tolong ibu ku tuan.." ucapnya terbata ditengah isakannya.
"dimana ibu mu?" Ramon menarik Rendy masuk kedalam hutan, menunjukkan dimana ibunya berada.
Mata Rendy membulat sempurna saat ia melihat seorang wanita yang sudah tidak sadarkan diri dibawah pohon yang cukup besar.
"nona..." Rendy menepuk pipi Dery, wajahnya sangat pucat tubuhnya juga dingin. "nak, aku akan membawa ibu mu ke rumah ku, kau ikuti aku ya," tanpa pikir panjang, ia menggendong Dery, lalu bergegas menuju rumahnya.
Ramon terus terisak, sedikit kesulitan mengikuti langkah cepat Rendy.
__ADS_1
bagaimana kalian bisa ada disini, batin Rendy.
flashback of...
.
"bagaimana kalian bisa berada disini, ini sangat jauh dari kota, Dery," Rendy menatap Dery penuh tanda tanya.
Mata Dery berkaca-kaca mendengar cerita Rendy, Ramon putra nya itu sungguh menyayanginya.
"ak...aku dan Ramon lari dari tempat penyekapan, Ren," Dery menunduk dalam, dia malu jika harus menceritakan apa yang sudah dia alami.
Rendy tampak sangat terkejut, "kau dan putra mu disekap?" Dery hanya mengangguk, mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya dan Ramon membuatnya jadi sangat lemah.
"tenanglah, kau disini aman," secara tidak sengaja Rendy mengusap punggung tangan Dery. "kau punya keluarga kan, lusa aku akan kembali ke kota, aku akan bantu mencari keluarga mu," ucapnya tulus.
"ti..tidak Rendy, jangan,"
"kenapa?"
"kau punya suami kan?"
Dery tidak menjawab pertanyaan Rendy, dia hanya bisa menangis.
Dia hanya takut jika Rizal tidak lagi memperdulikan dirinya.
Dery meyakini jika Rizal sudah menikah dengan Monica, karena Monica tengah mengandung anak dari suaminya.
Rendy yang merasa bingung karena Dery terisak hanya bisa diam.
Sampai ibu Rendy masuk kedalam rumah dan panik mengetahui Dery menangis.
"Rendy, apa yang kau lakukan," bentaknya pada Rendy.
"ehh! ibu aku tidak melakukan apapun,"
Dery mendongak, lalu menghapus air matanya, "nyonya, Rendy tidak melakukan apapun, aku hanya terharu karena Ramon," ucapnya.
"jangan memanggilku seperti itu, panggil saja aku Bu Ratih," Dery mengangguk.
Dery merasa sangat bersyukur karena bisa bertemu dengan orang-orang baik seperti ibu Ratih dan Rendy.
.
Markas...
Rizal terlihat sangat berantakan, berulang kali dia memaksa tiga sanderanya untuk mengatakan dimana istri dan anaknya, tapi sama sekali tidak ada jawaban.
Rizal duduk di sofa, tatapannya kosong.
Sia-sia saja dia menghajar Marco dan Mike, tapi masih saja mereka tidak mengakui dimana mereka menyembunyikan Dery.
Rizal bisa mendengar derap langkah beberapa orang mendekatinya, tapi sama sekali tidak dia pedulikan.
"Rizal..." suara bariton sang ayah membuatnya menegang seketika.
Rizal mengalihkan pandangan pada arah suara, "a..ayah?"
Kedatangan sang ayah membuatnya sangat terkejut.
"dimana menantu ayah, nak?"
Deg
Rizal mematung, dia tidak berani mengatakan pada sang ayah jika istrinya menghilang.
"Rizal, jawab ayah."
__ADS_1
"ma..maafkan aku yah, Dery dan Ramon, mereka diculik yah, dan aku masih belum bisa melacak keberadaan mereka," Tangan Rizal sedikit bergetar, karena takut sang ayah akan marah padanya.
"sejak kapan Rizal?" tegas tuan Rahadi.
"..."
"kenapa kau tidak meminta bantuan pada ayah, jika kau tidak mampu mencari keberadaan menantu dan cucu ayah, ayah yang akan mencari mereka," Tuan Rahadi menggelengkan kepala, tidak habis pikir pada putra sulungnya ini, bagaimana bisa dia menutupi masalah sebesar ini.
Bahkan anak buah yang dia utus untuk mengawasi Rizal, juga tidak mengetahui masalah ini.
Daniel yang sedari tadi berdiri dibelakang taun Rahadi tak kalah terkejutnya, mendengar kakak iparnya diculik lagi.
Rizal juga belum menyadari keberadaan Daniel di sana.
"maafkan aku yah," Rizal hanya menunduk.
"Daniel, panggilkan Jack kemari," titah tuan Rahadi.
"baik yah," Daniel menunduk, lalu berjalan keluar ruangan itu.
Mendengar nama Daniel disebut Rizal langsung mendongak, tubuhnya seketika menegang menatap sang adik yang tengah berjalan keluar ruangan.
"Daniel, dia disini..." gumam Rizal.
Joe yang sedari tadi berdiri dibelakang Rizal pun tak kalah terkejutnya.
Daniel? untuk apa dia kemari. Joe.
Tidak lama Jack masuk beriringan dengan Daniel.
"Anda memanggil saya tuan?" Jack sudah berdiri dihadapan tuan Rahadi yang sudah duduk menunggu mereka.
"kerahkan semua orang-orang kita, cari menantu dan juga cucu ku, temukan mereka secepat mungkin," tegas tuan Rahadi.
Jack mengangguk hormat lalu pergi meninggalkan mereka semua.
Daniel masih berdiri dan menundukan wajahnya.
Malu rasanya menghadapi sang kakak.
Tuan Rahadi melambaikan tangan pada Joe.
Joe yang mengerti langsung meninggalkan ruangan bersama Zyan dan pengawal yang ada di sana.
Tinggallah ayah dan Dua anaknya yang selama ini selalu berselisih.
"Daniel..." tegur tuan Rahadi.
"i..iya yah," Daniel mendongak takut-takut.
Tuan Rahadi melirik Rizal yang menatap Daniel dengan ekspresi yang tidak bisa di tebak.
Tatapan mata Daniel dan Rizal bertemu, "kak..." lirih Daniel.
"duduklah Niel," titah Rizal. Daniel mengangguk lalu duduk tepat di depan Rizal.
"kau sudah tahu semuanya?" Daniel hanya bisa mengangguk. Rizal tersenyum samar.
"ma.. maafkan aku kak, maaf karena aku selalu menyakiti mu selama ini, maaf aku sudah membuat mu hancur berulang kali, dan maaf kan aku yang sudah menyakiti kakak ipar," Rizal bisa melihat ketulusan Dimata sang adik, ada kebahagiaan yang dia rasakan dihatinya.
Rizal bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Daniel yang masih diam, Rizal bisa melihat wajah Daniel berubah pias saat dia berdiri didepannya.
"bangun," tegas Rizal. Perlahan Daniel bangkit dari duduknya, tidak berani menatap Rizal.
Rizal memeluk erat Daniel, matanya berkaca-kaca. Sudah sangat lama dia ingin memeluk sang adik seperti ini.
"maafkan aku kak, maaf. kau bisa menghukum ku apapun, asal maaf kan kebodohan ku." Daniel mulai terisak dalam pelukan Rizal.
__ADS_1
"diam lah, jangan menangis," Rizal mengusap air matanya sendiri yang sudah mengalir.
Bersambung....