Janda Judes

Janda Judes
12


__ADS_3

Setelah perjalanan cukup panjang, mereka sampai di bengkel, dan sudah disambut oleh kak Reno dan kak Lidia istrinya. Kekhawatiran terlihat jelas di wajah kedua kakak Roby, yang sudah menganggap Dery seperti adik sendiri.


"rob, gimana dery?" kak Lidia membuka pintu mobil.


"sssttt Dery tidur kak, kakak udah siapin tempat tidur kan?" Roby berbisik.


"udah kok, kok kamu malah turun sendiri kenapa gak gendong Dery masuk" lanjut kak Lidia.


Roby melirik Ikbal "tugas Lo tu" tunjuknya dengan dagu.


"gue juga gak rela Lo gendong Dery, lagian emang Lo kuat" Ikbal meremehkan.


Yang diremehkan hanya berdecak tak peduli.


"kak aku laper nih, ada makanan gak?" Roby membuka pintu bengkel memberi jalan pada ikbal.


"ini baru kakak pesenin makanan, bentar lagi sampai kok" kak Lidia menunjukkan orderan makanan nya.


"ah kakak emang ipar yang perhatian sama adek nya" puji Roby Menaik turunkan alisnya.


"ohyaa kok bisa sich Dery hampir tenggelam? Dery gak mungkin kan berani berenang, dia kan gak bisa berenang" jiwa reporter kak Lidia muncul.


"iyaa kenapa Dery bisa tenggelam" kak Reno juga penasaran.


Iwan masuk membawa makanan yg dipesan kak Lidia. "niih makanannya katanya laper" menarunya dimeja. "kasian cacing Lo nanti demo" lanjutnya duduk bersandar di sofa.


"makannya nanti dulu kenapa sich, cerita dulu" paksa kak Lidia meraih makanan Roby.


"ck. kak aku laper banget nih, makan dulu ya baru cerita" rengek Roby manyun.


"yaudah deh kalian makan dulu, mana Ikbal kok gak turun sih. biar kakak panggil, sekalian liat kondisi Dery" berjalan menuju tangga lantai 2 bengkel yang memang dijadikan tempat istirahat Roby dan teman-temannya.

__ADS_1


****


Dilantai atas Ikbal masih duduk di samping tempat Dery tidur, menggenggam erat tangan Dery, meneteskan air mata merasa bersalah karena dirinya Dery dicelakai Vina. Kalau tadi dia telat menemukan Dery entah apa yang terjadi pada gadis yang begitu ia cintai.


"gue minta maaf der, gue sampai lepas kendali tadi, gue gak bisa liat Lo disakitin." batin Ikbal.


Tok tok "Ikbal kakak masuk ya" kak Lidia membuka pintu pelan.


Ikbal hanya mengangguk samar tanpa mengalihkan pandangannya dari gadis dihadapannya.


"Ikbal lebih baik kamu makan dulu sana, udah disiapin dibawah, biarkan Dery istirahat dia pasti lelah banget" bujuk kak Lidia.


"tapi kak...." mencoba menolak.


"udah sana makan dulu, kalo kamu kayak gini Dery pasti sedih dan makin merasa bersalah" mengusap pundak Ikbal lembut.


Ikbal hanya tersenyum samar lalu berjalan menuju pintu.


"makasih ya kak, kakak udah baik sama kami" Ikbal berbalik mengucapkan terima kasih pada kak Lidia.


Lidia duduk disamping Dery, kamu beruntung ya der punya teman-teman yang baik, tapi kenapa kamu bisa tenggelam. kamu itu bukan gadis ceroboh. Saat ingin menyelimuti Dery Lidia melihat bekas merah melingkar di lengan Dery. "ini bekas apa, kenapa seperti bekas cengkraman" batinya.


"Mereka udah selesai makan belum ya, aku harus tau sebenarnya apa yg terjadi" Berjalan menuruni tangga.


*****


"apa kalian udah selesai makan?" tanya kak Lidia saat sudah sampai dibawah.


"kalau sudah sekarang jelaskan pada kakak apa yang sebenarnya terjadi" lanjutnya, lalu duduk disofa samping Reno. "ayoo jelaskan Roby??" mulai memaksa.


"kak kita baru selesai makan, bisa gak ceritanya besok aja?" Roby mulai kesal.

__ADS_1


"jangan menunda lagi, kakak tau itu bukan sebuah kecelakaan. Tenggelamnya Dery karena kesengajaan kan? jawab jujur" bentaknya.


"apa hal sebesar ini mau kalian sembunyikan dari kakak hmm? tadi kakak lihat ada bekas merah yang sangat jelas di lengan Dery" kak Lidia mulai marah. "itu jelas bekas cengkraman. Ikbal, Iwan, Roby" semakin memaksa.


"iya kak Dery tenggelam memang karena didorong Vina dari dermaga" Ikbal jujur yangg diangguki oleh Iwan.


"Untung kami cepat menolong kalau tidak entah apa yang terjadi" lanjut Ikbal sendu.


Kak Reno dan kak Lidia kaget mendengar pengakuan Ikbal yang dibenarkan oleh Iwan.


"apaaa?! Vina? teman satu sekolah kalian kan, yang pernah kesini tapi kamu usir bal?" kak Lidia mencoba mengingat siapa Vina.


"Tapi kenapa, ada masalah apa sampai Vina senekat itu" kak Lidia menggeleng tak habis pikir. "apa kalian juga mengajak Vina liburan bersama?" semakin penasaran.


"kita gak tau kak kalau Vina liburan disana juga, waktu dia nyamperin aku sama Dery, dia bilang kalau liburan sama keluarga dan sahabatnya" Ikbal mulai menjelaskan.


"untuk lebih jelasnya gimana dery bisa didorong Vina kita gak tau kak, kita tunggu aja Dery besok pagi" lanjut Ikbal merasa bersalah "Tapi sepertinya Vina marah karena aku sangat peduli pada Dery, kakak tau kan Vina itu memang terobsesi sama aku" Ikbal tertunduk lesu dengan mata berkaca-kaca.


"udah bal, gak usah sedih Dery kan baik-baik aja" kak Lidia menenangkan.


"kita harus lapor polisi, ini tindak kriminal. Dan kalau gak ada efek jera buat pelaku nya, pasti dia bakal ngulangin lagi" usul kak Reno yang juga terlihat menahan amarah.


"kakak emang bener tapi kita gak ada bukti dan saksi, belum tentu juga Dery tega ngelaporin Vina kak." Roby angkat bicara.


"soal bukti dan saksi Kakak bisa suruh orang buat cari. kalian tenang aja" kak Reno mengeluarkan ponsel ingin menelfon seseorang.


"kamu bener mas, Vina harus diberi pelajaran" dukung kak Lidia.


"kak jangan, pliis aku mohon jangan" suara lemah Dery mengejutkan kami.


Kak Lidia berjalan mendekatinya yang masih berdiri di tangga. Memeluk lembut Dery menguatkan, menyalurkan rasa aman.

__ADS_1


*cerita ini hanya fiktif* jangan lupa like dan komen ya dear. Maaf jika masih banyak kesalahan🙏🙏


Terima kasih untuk dukungan kalian


__ADS_2