
Dua hari berlalu...
Siang ini Dery sudah diijinkan pulang dari rumah sakit, meski sebetulnya Rizal masih khawatir dengan kondisinya, tapi berlama-lama dirumah sakit membuat Dery terus saja mual.
Melihat sang istri yang terus saja mual dan muntah, membuat Rizal tidak tega.
Saat tiba dirumah, Dery langsung menghambur mencari keberadaan Ramon putranya.
Rizal mengikuti langkah Dery, dengan senyum yang terus mengembang.
"apa kamu mencari Ramon sayang?"
"iya, dimana putra ku kak?"
"Sedang jalan-jalan dengan Dena dan Dika, Ramon sangat mengkhawatirkan mu, jadi Dena mencoba menghiburnya,"
Mendengar putranya sedang pergi jalan-jalan, Dery lalu menuju kamarnya untuk istirahat.
"dia benar-benar manis sekali, aku sungguh merindukan Ramon," Dery tersenyum.
"hanya Ramon yang kamu rindukan? aku tidak?"
"tidak" tegas Dery.
"aku mau istirahat, kakak boleh kembali kekantor."
Sebenarnya aku merindukan mu kak, aku ingin mengatakan pada mu jika ada malaikat kecil kita dirahim ku.
"istirahatlah sayang, aku tidak kekantor hari ini, jika ingin sesuatu aku ada diruang kerja ya," Rizal mencium kening Dery lembut.
aku tahu sayang kamu masih marah pada ku, tapi kamu juga sangat merindukan ku kan.
Aku tidak akan meninggalkan dan mengabaikan mu lagi.
"ya baiklah, aku mau tidur dulu, kakak boleh keluar." Dery sudah duduk diatas ranjangnya.
Rizal berjalan keluar kamar, dan menutup pintu dengan pelan.
Sebentar lagi sayang, hasil tes DNA itu akan keluar, dan akan terbukti jika aku tidak bersalah.
Aku hanya mencintai mu, dan tidak akan ada wanita lain di hidup ku selain diri mu.
Rizal masuk dalam ruang kerjanya, besok hasil tes DNA itu akan keluar.
Rizal sudah tidak sabar lagi menantikan hari besok.
Cukup lama Rizal berada di dalam ruang kerjanya, banyak pekerjaan yang terpaksa dia selesaikan dirumah.
Sungguh tidak ingin menyia-nyiakan waktu bersama sang istri.
Tiba-tiba suara gaduh memecah konsentrasi Rizal yang masih sibuk didepan laptopnya.
ahh, aku lupa menutup pintu, pantas saja keributan diluar bisa terdengar sampai sini.
Rizal berjalan keluar, ingin tahu, kegaduhan apa yang terjadi diluar.
Dery sedang berdebat dengan kepala pelayan didapur, suaranya bahkan sampai membuat pelayan lain menjauh dari mereka.
"nona, sebaiknya nona jangan makan ini, jika tuan Rizal tahu maka kami akan mendapatkan masalah."
"memangnya kenapa? apa sekali saja tidak boleh?"
__ADS_1
"itu tidak baik untuk kesehatan nona, chef disini bisa membuatkan makanan dengan rasa yang lebih enak daripada itu,"
"Pak Burhan, pergilah dari sini." Dery sudah membanting panci yang dari tadi dia pegang.
"jangan ganggu aku."
Pria paruh baya itu tidak bergeming, dia benar-benar mematuhi segala perintah Rizal.
Jika tuannya itu berkata tidak maka tidak akan ada yang berani membantah.
Rizal sudah berdiri di belakang Dery, sang istri bahkan tidak menyadari kehadirannya.
Dia melambaikan tangan agar kepala pelayan itu meninggalkan mereka.
Rizal tiba-tiba memeluk Dery yang masih terlihat sangat kesal.
"apa yang membuat mu begitu marah sayang?"
"ehh, kak," Dery berbalik, melepaskan pelukan sang suami.
"aku hanya ingin makan mie ini, tapi pak Burhan malah mengajak ku berdebat."
"ini tidak sehat sayang, jika ingin mie, para chef bisa membuatkannya untuk mu."
Ucapan Rizal sukses menyulut emosi Dery lagi, apa salahnya jika dia ingin memakan mie instan.
"aku ingin makan mie ini, bukan mie buatan chef dirumah ini," dengus Dery.
"aku hanya tidak ingin kesehatan mu terganggu sayang, dari mana kamu dapat mie ini, dirumah ini tidak pernah ada yang menyimpan ini sayang."
"aku yang menyimpannya, makan ini sesekali saja apa tidak boleh." Dery melempar satu bungkus mie itu ke lantai, lalu berjalan pergi meninggalkan Rizal yang terheran-heran dengan sikapnya.
Biasanya jika aku melarangnya melakukan sesuatu dia akan patuh, tapi kenapa dia malah marah seperti ini.
Beberapa hari ini Dery, memang mudah menangis atau marah.
Mungkin karena hormon kehamilan, membuatnya menjadi sangat sensitif.
Rizal menyusul Dery masuk dalam kamar, melihat istrinya menangis seperti itu membuatnya merasa sangat bersalah sekaligus bingung.
Apa aku sudah sangat keterlaluan tadi, istri ku bahkan sampai menangis seperti ini.
"sayang, maafkan aku," Rizal sudah duduk di bibir tempat tidur.
Tidak ada jawaban, Dery masih terisak. Rizal ikut berbaring, lalu melingkarkan tangan kekarnya diperut rata Dery.
"ayo kita masak mie instan bersama, aku juga ingin mencoba bagaimana rasanya." bisik Rizal.
Dery masih tak bergeming.
Istri ku benar-benar marah. batin Rizal.
"sayang, maaf kan aku, jangan marah ya,"
"per..pergilah, aku ingin sendiri," Dery masih terisak, dia sangat kesal pada Rizal.
"sayang, jangan marah ya, aku mohon." Rizal semakin erat memeluk Dery.
"kamu ingin makan mie itu kan, ayo aku buatkan sayang," bujuknya.
Dery melepaskan diri dari pelukan Rizal, menarik paksa Rizal untuk bangun.
__ADS_1
Matanya sembab, wajahnya merah menahan marah.
"pergi, aku tidak mau melihat mu." Dery mendorong Rizal keluar dari kamarnya.
Dia sangat kesal pada sang suami ini.
"aku hanya ingin makan saja kamu larang, kenapa tidak sekalian saja kamu mengurung ku didalam kamar ini." kerus Dery langsung menutup pintu dengan keras.
Tok...tok...tok...
"Sayang maaf, ayo aku bikinkan mie itu, tapi jangan lagi marah." Rizal berulang kali mengetuk pintu.
ya Tuhan, hanya karena sebungkus mie instan kenapa istri ku marahnya sampai seperti ini. Ada apa dengannya, apa dia sengaja membalas ku.
Rizal masih berdiri kebingungan didepan kamar sang istri, tidak mengerti kenapa istrinya menjadi sangat sensitif.
Bahkan sejak dirumah sakit Dery terus saja meminta hal-hal yang menurutnya aneh.
Dena baru saja tiba diujung tangga lantai atas, matanya menatap Rizal keheranan.
"kak, ngapain berdiri disitu?"
Seorang pengawal ada dibelakang Dena, menggendong Ramon yang tertidur pulas.
"apa sebabnya wanita menjadi sangat sensitif?"
Mendengar pertanyaan yang baru saja terlontar dari mulut Rizal, Dena tertawa dengan kerasnya.
"ada apa dengan mu kak? kenapa bertanya seperti itu?"
"Ck, jawab saja Dena,"
"baiklah, biasanya karena seorang wanita sedang pms,"
Rizal tampak menautkan alisnya, menatap Dena tidak mengerti.
"apa itu?"
"kak, apa kakak lupa pelajaran disekolah kakak dulu, pms itu datang bulan."
Dena mulai kesal menanggapi pertanyaan Rizal.
"oh, itu.." Rizal hanya manggut-manggut.
"kenapa tanya begitu?"
"istri ku marah hanya karena sebungkus mie instan," Rizal menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"hahaha...." Dena tergelak.
"hanya itu?"
"masalahnya dia sampai menangis dan mengusir ku dari kamar," bahu Rizal melorot.
"ya seperti itulah wanita kak, jika sedang pms, pasti menjadi mudah menangis, apalagi kakak kan memang sangat menyukai mie instan dengan telur mata sapi dan cabai yang banyak,"
Mendengar penjelasan Dena, Rizal langsung berlari menuruni tangga, bergegas menuju dapur untuk memasak mie untuk sang istri.
Berharap dengan menuruti keinginannya. sang istri tidak lagi marah.
***bersambung...
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan vote ya 😘❤❤***