
Pernikahan Dery sudah berjalan lebih dari lima bulan,
tapi selama itu pula Dery belum memberi tahu kepada sahabatnya jika dia sudah menikah.
Sampai akhirnya Marco memutuskan untuk kembali ke kantor pusat.
Itu artinya Marco dan Dery kembali ke kota asal mereka.
Hari yang Dery harapkan datang juga, dimana dia akan pulang kerumah orang tuanya dia sudah sangat merindukan ayah, ibu dan kedua adiknya.
"apa aku boleh kerumah Ayah, setelah sampai nanti mas?" tanya Dery ragu-ragu.
"tentu saja, kamu boleh kerumah Ayah, menginap disana juga boleh," ucap Marco.
"terima kasih mas" Dery tersenyum tulus,
Terkadang Dery masih merasa canggung saat bersama Marco,
entah mengapa hatinya belum benar-benar menerima apa yang sudah dia jalani selama ini.
****
Perjalanan mereka cukup melelahkan.
Marco langsung mengantar Dery ke rumah ayah.
"assalamu'alaikum" Dery memberi salam sebelum masuk kerumah.
"wa'allaikumsalam" Dery tersenyum mendengar suara sang ayah.
"ya Allah anak ayah pulang, Bu, Dena, Dika anak ayah pulang" teriak ayah senang memeluk erat putrinya.
Ibu dan kedua adiknya keluar saling memeluk bergantian.
"ibu sehat kan" Dery memeluk ibunya.
"ibu sehat sayang, apa ini menantu ibu?" tersenyum hangat pada Marco.
"iya Bu, saya Marco, maaf kan saya karena menikahi Dery secara mendadak Bu." marco mencium tangan ibu.
"sudah tidak apa, ayo masuk kalian pasti lelah." ayah menarik Dery dan Marco masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Ibu dan Dena sibuk menyiapkan makan dan minum didapur,
"ibu aku sungguh merindukan masakan ibu" lagi-lagi memeluk ibunya.
"aah kakak kayak anak kecil deh peluk-peluk terus" gerutu Dena.
"heeii apa kau tidak merindukan kakak mu ini" melirik sebal Dena.
"tentu saja tidak, aku hanya rindu oleh-oleh yang Kakak bawa?" balas melirik Dery
"dasar adik durhaka, aku tidak membawa oleh-oleh untuk kamu," mendelik kesal.
"wleeekk kakak masih saja menyebalkan" menjulurkan lidah meledek.
****
Setelah puas bercengkrama dengan keluarga Dery,
Marco meminta ijin untuk pulang, dia ingin menyiapkan segala keperluan Dery dirumahnya nanti. Ayah hanya mengangguk setuju.
Dery kembali ke kamarnya dulu, semua masih sama seperti sebelum dia tinggal pergi.
Dery baru duduk diatas ranjangnya tiba-tiba Dena masuk,
"Amih? apa Amih tahu kalau kakak pulang?" tanya Dery pada Dena,
"Dika tadi telefon kak Reno" jelas Dena
Dery langsung bergegas keluar menemui mereka.
****
Diruang tamu, ada tiga sahabat Dery, Reno, Lidia serta orang tua Reno dan Roby.
"ah Ijah Lo lama banget gak bisa dihubungi, kemana aja sih Lo jah, bikin kita panik" Roby berdiri dan memeluk Dery.
"maaf ya ponsel lama ku hilang entah dimana" Dery tersenyum.
"ah pantas saja, dan kamu juga terlalu sibuk dengan pekerjaan mu?" sahut Iwan
"apa kamu tidak merindukan Amih sayang?" Dery menoleh pada Amih
__ADS_1
"tentu saja aku rindu Amih" menghambur memeluk ibu kedua nya.
Setelah banyak berbincang dengan keluarga dan sahabatnya,
Dery menyusul Ikbal yang dari tadi duduk diluar dengan raut wajah tidak bisa ditebak.
"apa kamu marah pada ku ikbal?" lamunan Ikbal dikagetkan dengan suara lembut Dery.
"apa aku masih pantas marah pada mu der?" mendongak menatap mata Dery.
"maksud kamu? kenapa kamu bilang seperti itu?" masih tidak tahu apa yang terjadi pada Ikbal.
"siapa lelaki beruntung yang mendapatkan hati mu, der?" pertanyaan Ikbal menusuk hati Dery.
Sakit, sangat sakit, hati Dery masih tak bertuan, entahlah dia bahkan tidak tahu siapa yang ada dalam hatinya,
yang jelas itu bukan suaminya.
"maksudmu bal?" melihat gurat kesedihan di wajah Ikbal.
"aku tau kamu der, selama ini kamu tidak pernah mau menggunakan perhiasan, terutama cincin. Tapi jika kamu mau memakainya berarti itu bermakna besar kan" Ikbal menyentuh cincin yang melingkar indah di jari manis Dery.
"dan ini, apa ini cincin pernikahan der?" tersenyum menguatkan dirinya sendiri.
"maafkan aku yang tidak memberi kabar kalian tentang pernikahan ku," Dery bisa merasakan kekecewaan dihati Ikbal.
"tak apa der, jika kamu bahagia aku juga bahagia." Ikbal memalingkan wajahnya.
Dery tahu hati Ikbal sangat hancur, melihat mata Ikbal yang terus berkaca-kaca, ada rasa sakit dihati Dery.
Obrolan Ikbal dan Dery jelas didengar oleh keluarga dan sahabatnya didalam.
Iwan dan Roby keluar memberondong Dery dengan banyak pertanyaan, begitu juga dengan Amih, Apih, Reno dan Lidia.
Mereka tidak menyangka Dery akan secepat ini memutuskan untuk menikah, dan dengan siapa dia menikah.
Dery masih tidak mau menceritakan apa yang sudah dia lalui selama di Surabaya dan peristiwa buruk di Bali waktu itu.
Dia hanya berkata nanti akan mengajak suaminya berkumpul untuk syukuran kecil-kecilan, agar semua dapat berkenalan sendiri dengan suaminya.
Setelah kepulangan keluarga Sanjaya dan sahabatnya, Dery kembali masuk ke kamarnya, entah kenapa air mata Dery kembali meleleh mengingat kekecewaan di mata Ikbal. "maafkan aku ya bal, seharusnya ini semua gak terjadi kalau saja aku gak ikut ke bali waktu itu." batin Dery
__ADS_1
*cerita ini hanya fiktif* semoga kalian suka ya dear, maaf jika masih ada kesalahan 🙏🙏❤❤ jangan lupa like dan komen.