
Masih pagi, tapi kegaduhan sudah terjadi di dalam villa megah milik Rizal Arandra.
Dery yang sejak dini hari sudah terbangun, memaksa koki dan para pelayan untuk menyingkir dari dapur.
"Sebaiknya nona kembali ke kamar, atau jika membutuhkan sesuatu biar kami ambilkan, nona duduk saja," pinta seorang pelayan dengan wajah khawatir.
"aku ingin membuat makanan ku sendiri, apa salah?" Dery menghentakkan kaki kesal.
"tapi jika nona melakukan pekerjaan, kami bisa kehilangan pekerjaan, bahkan bisa lebih buruk," semua pelayan mengangguk cepat.
"apa pak tua itu begitu semena-mena pada kalian?" sudah mengebrak meja.
Melihat Dery menggebrak meja, nyali mereka jadi menciut. "apa ini benar-benar wanita yang dicintai tuan, kenapa ganas sekali", batin seorang kepala koki.
"pergi dari sini sekarang, atau kalian akan benar-benar kehilangan pekerjaan," Dery maju dua langkah sambil mengacungkan pisau pemotong daging.
"ba..baik nona kami akan pergi," para koki dan pelayan pun pergi ke rumah belakang, saling berbisik membicarakan Dery.
"nona Dery bahkan tidak mau kita layani," kata seorang pelayan paruh baya.
"iya, coba kalau orang lain pasti akan meminta ini meminta itu," bisik pelayan lain.
"ssstt diam jangan sampai karena obrolan kalian, kita jadi dipecat oleh tuan Rizal, kita tunggu saja disini sampai nona selesai didapur," kepala koki memperingatkan agar tidak ada yang membicarakan penghuni rumah utama.
Didapur Dery sedang sibuk membuat nasi goreng, "apa pak tua itu suka pedas? nanti marah gak ya kalau aku masak terlalu pedas. Ah sudahlah biarkan saja, aku buat satu piring super pedas yang lain biasa aja." bergumam sendiri.
__ADS_1
Hampir tiga puluh menit Dery berkutat didapur, semua masakan sudah siap dimeja makan.
Dery duduk sendiri, dengan satu cangkir kopi didepannya. "sudah hampir jam 6, kenapa masih belum ada yang bangun, dasar pak tua pemalas," bergumam lagi, tanpa disadari Rizal dari tadi sudah berdiri dibelakangnya.
"siapa yang kau sebut pak tua pemalas?" Mendengar suara Rizal Dery sampai tersedak karena kaget.
"bisa tidak kalau datang jangan mengagetkan, apa kamu ingin aku terkena serangan jantung," mendelik pada Rizal yang tersenyum samar.
"Pak Burhan," teriaknya
"heii kenapa teriak-teriak," melirik kesal pada Rizal,
"aku hanya ingin secangkir kopi, kenapa para pelayan dan koki tidak terlihat?" celingak-celinguk.
"mereka aku usir, aku tidak mau acara memasak ku diganggu oleh mereka." Dery berdiri "kau ingin kopi kan? biar aku buatkan" berjalan menuju dapur.
"apa yang kamu lihat pak tua, ini kopi mu. ayo duduk disana dan minum lah," menarik Rizal ke meja makan. "kamu ingin makan sekarang?"
"ya, aku juga sudah merasa lapar, apa aku boleh makan ini," meraih piring nasi goreng super pedas milik Dery. Hap, satu suap masuk kedalam mulut Rizal, sebelum Dery sempat mencegahnya.
"apa itu enak?" Dery tertawa melihat ekspresi Rizal. "pedaskan? makanya jangan suka comot sembarangan, ini milik ku." menarik piringnya. "minum ini," menuang susu untuk Rizal "ini bisa mengurangi rasa pedas,"
Setalah rasa pedas sudah berkurang Rizal baru mulai bicara "apa kau tidak sakit perut setelah memakan itu." sambil menyesap kopi.
"tidak, memangnya kenapa? ini enak, sangat-sangat enak," melahap nasi goreng dengan begitu nikmatnya. "untuk mu yang ini, ayo makan," mengambilkan nasi dan lauk untuk Rizal "tenang saja itu tidak pedas," mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
Rizal menikmati makanan yang Dery buat, "ini enak sekali," gumamnya pelan tapi masih bisa didengar Dery.
"gimana enak kan? tidak terlalu pedas," tersenyum manis.
"yaa lumayanlah, daripada yang kamu makan itu ini jauh lebih nikmat," masih malu untuk memuji.
"terserah kau saja, bilang enak aja gengsi, dasar pak tua," Dery ngedumel kesal.
"kenapa kau suka sekali memanggil ku dengan sebutan pak tua? aku ini masih muda, lihat bahkan tubuhku begitu gagah," berdiri tepat didepan Dery dan melepaskan kaos yang dia kenakan.
Melihat itu Dery melongo tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan seorang pemimpin perusahaan yang terkenal dingin ini, "kau ini memang benar-benar sudah gila, pakai baju mu, jika dilihat orang lain apa yang akan mereka pikirkan." menggeleng heran.
"biarkan saja, kau sendiri yang salah kenapa memanggil aku pak tua, lihat, tubuh sebagus ini, wajah setampan ini, bahkan keriput saja tidak ada, kau bilang aku tua? kau tau, berapa banyak wanita yang mengantri ingin menyentuh tubuhku yang indah ini." menepuk-nepuk dadanya bangga.
"ck kau ini terlalu percaya diri, dasar pak tua" tertawa keras sampai perut Dery terasa sakit. "sudah, jangan pamer pada ku, aku tak berminat menyentuh tubuh indah mu itu, berikan saja pada wanita yang sudah mengantri itu " masih terus tertawa.
Rizal hanya mendengus kesal, baru kali ini ada wanita yang tidak terpesona dengan dirinya, bahkan malah tertawa mengejek.
Tanpa mereka sadari perdebatan mereka jadi tontonan para pelayan dan juga Zyan yang dari tadi bersembunyi tidak jauh dari mereka. Para pelayan sampai melongo melihat tuannya yang terkenal angkuh bisa sekonyol itu didepan Dery.
"yang benar saja, apa pak Rizal sedang tidak enak badan atau apa, kenapa dia bisa sekonyol ini, kalau pesaingnya mengetahui ini mereka pasti akan menertawakan pak Rizal," Zyan tidak percaya pada apa yang dia lihat baru saja.
Sampai selesai makan Rizal dan Dery terus saja berdebat. Zyan yang sudah bergabung dimeja makan juga dibuat kewalahan dengan perdebatan mereka.
Apa cinta bisa benar-benar membuat orang menjadi begitu aneh?
__ADS_1
**cerita ini hanya fiktif semoga kalian suka ya dear, jangan lupa like dan komen, bantu vote karya mimin ya 🙏❤❤
with love aksaraprabu**