Janda Judes

Janda Judes
122 Vina!


__ADS_3

Dery yang baru saja sampai dicafe, menerobos masuk dan mendapati semua karyawannya tergeletak disembarang tempat.


Fia pingsan didekat meja kasir,


"Fia, apa yang terjadi," Dery menepuk-nepuk pipi asistennya ini.


Dery sedang sibuk mengetikkan nomor di ponselnya ingin menghubungi rumah sakit, saat suara langkah kaki seseorang mengagetkan dirinya.


Tap...Tap... Tap


Seringai licik tercipta di wajah wanita yang berdiri tidak jauh darinya.


"kau.." Dery menatap tajam wanita itu.


"ini semua perbuatan mu?"


"haha.." tawanya menggelar.


"tentu saja, siapa lagi." sombongnya.


"berani sekali kau," Dery sudah mengepalkan tangannya menahan amarah.


"kenapa tidak," cueknya. "tenang saja, mereka hanya pingsan tidak akan ada yang mati disini."


"jika kau marah pada ku, jangan pernah libatkan orang-orang tidak bersalah ini," bentak Dery.


"maaf ya nona, tapi hanya dengan cara ini aku bisa membuat kakak ku bahagia," ucap Vina dengan senyum mengerikan.


Dery tidak menyadari jika dibelakangnya sudah berdiri seseorang yang sangat dia benci.


Marco memeluk Dery dengan tiba-tiba.


Deg...


Dery berbalik lalu menatap wajah orang yang memeluknya.


"Ma... Marco?" Dery sampai terlonjak kaget, "lepaskan." sentak Dery.


"Aku merindukan mu sayang," bukannya melepaskan pelukannya, Marco malah memeluk dan mencium bibir Dery dengan paksa.


"lep...lepaskan" Dery mendorong tubuh Marco.


Marco mundur satu langkah, "baiklah, aku tahu kau masih marah pada ku, tapi kau harus tahu sesuatu sayang,"


Dia menyerahkan amplop bertuliskan rumah sakit milik Arandra group.


"bacalah sayang,"


Dery yang ragu-ragu hanya menatap amplop itu tanpa mau membukanya.


Sampai Marco mencubit dagu Dery karena gemas.


"apa dirimu tidak ingin tahu hasil tes DNA itu?"


Mendengar tes DNA, Dery menatap Marco penuh tanya.


"dari mana kau tahu?"


"haha, apa kau lupa sayang, bertahun-tahun aku menjadi orang kepercayaan Rizal, jadi aku tahu semua tentangnya, termasuk Monica."


Dery hanya menunduk, Marco benar.


Dia pasti tahu semua tentang Rizal, bagaimana pun Marco adalah sahabat Rizal.


"wajar sayang, jika Rizal tidak bisa move on dari Monica, wanita itu cinta pertamanya dan bertahun-tahun bersama." bisik Marco, membuat hati Dery memanas. "bacalah, kau harus tahu kebenarannya."


Dery meraih amplop di tangan Marco, lalu membukanya dengan perlahan.


Dia takut, takut jika kenyataannya adalah Monica hamil dengan sang suami.


"ayolah sayang, buka dan bacalah," Marco sudah tidak sabar melihat reaksi Dery.


Dery akhirnya membaca surat hasil tes DNA itu dengan teliti.


Deg...

__ADS_1


ya Tuhan, ja..jadi benar? suami ku ayah dari anak dalam kandungan Monica.


Marco dan Vina menyunggingkan bibir saat melihat Dery sudah berkaca-kaca.


"menangis lah jika ingin menangis." ucap Marco.


"kak Rizal tidak akan semudah itu melupakan Monica, kau itu hanya dijadikan pelampiasan," Vina sengaja mengucapkan itu agar Dery semakin sakit hati.


Dery hendak melangkah pergi, tapi Marco menarik tangannya.


"kamu mau kemana?"


"aku mau menemui kak Rizal, aku mau penjelasan darinya."


"apa itu kurang jelas, yah aku tahu itu bukan yang asli, tapi itu sudah cukup membuktikan sebuah kebenaran."


"tidak, aku mau dengar langsung pengakuannya." tegas Dery.


"kau boleh pergi," Marco melepaskan genggaman tangannya. Dery langsung melangkah pergi.


"pergilah, jika kau ingin tidak lagi bisa melihat putra mu." Dery langsung berbalik menatap Marco dengan tatapan kebencian.


"apa yang kau lakukan pada putra ku,"


"ikutlah denganku, maka putra mu ini akan baik-baik saja,"


"jangan coba-coba menipu ku, anak ku sedang berada disekolah."


"seyakin itukah diri mu?" Marco meraih pinggang ramping Dery,


"lepaskan co," Marco semakin mengeratkan pelukannya, menghembuskan nafasnya tepat ditelinga Dery.


"ikutlah denganku, aku sangat merindukanmu sayang,"


"lepaskan, apa kau sudah gila," Dery mencoba mendorong kuat Marco, tapi tenaganya tidak cukup kuat.


Marco mengeluarkan ponselnya, menyerahkan ponsel itu pada Dery.


Dery bergetar takut saat ponsel itu menampilkan putranya yang berbeda dalam sekapan anak buah Marco, dengan pisau yang menempel tepat dileher Ramon.


"aku mohon, lepaskan putra ku, dia masih kecil tidak seharusnya dia mengalami hal seperti ini," Dery memohon air matanya sudah meleleh.


"aku akan melepaskan anak itu, tapi..." Marco menggantung kalimatnya, lalu mencium bibir Dery dengan sangat rakus. Dery tidak bisa bergerak dalam kungkungan Marco.


"ikutlah denganku, jika kamu tidak mau, maka putra mu yang akan menanggung akibatnya." tegas Marco.


Dery terlihat berpikir sejenak, dia tidak tahu harus melakukan apa.


Disisi lain putranya, tapi dia juga tidak ingin ikut dengan pria gila ini.


Dery masih ingat betul bagaimana Marco dan Vina memperlakukan dirinya dulu.


Sampai rintihan Ramon dari ponsel Marco membuat Dery tidak lagi bisa memilih.


"ma..Mama tolong Ramon... Papa," rintih Ramon.


"bagaimana?" Marco masih menempel pada Dery, menciumi aroma tubuh manta istrinya ini yang sangat dia rindukan.


"baiklah, aku ikut, tapi kembalikan Ramon pada ku," Mendengar itu Marco tersenyum senang.


"tentu saja, kalian akan bahagia hidup dengan ku." bisik Marco.


Sekarang aku harus mengikuti permainan pria gila ini, sambil mencari kesempatan untuk membawa Ramon pergi jauh darinya.


Marco menuntun Dery masuk dalam mobilnya, diikuti Vina dibelakang mereka.


Marco terlihat sangat senang, dia tidak henti-hentinya menciumi pucuk kepala Dery.


Mobil melaju dengan cepat membelah jalanan, Dery mencoba menahan agar air matanya tidak jatuh.


Dia tidak ingin terlihat lemah dimata kakak beradik sakit jiwa ini.


Tidak lama mobil yang mereka tumpangi berhenti dibangunan tua yang usang,


tidak ada yang turun dari mobil, tapi supir Marco membuka sedikit kaca mobilnya, lalu melambaikan tangan.

__ADS_1


Dua orang dengan pakaian serba hitam, terlihat menghampiri mobil mereka.


Dery bisa melihat salah satu dari mereka menggendong anak kecil yang dia yakini itu adalah Ramon putranya.


Marco membuka pintu mobil, lalu menarik masuk anak yang digendong pengawalnya.


Menyerahkan Ramon pada Dery.


Dery memeluk Ramon erat, mengusap-usap wajah Ramon yang terlihat sangat ketakutan.


"sayang,"


"Mama..." Ramon membalas pelukan Dery dengan sangat erat. "Ramon takut ma.."


"tenanglah sayang, ada Mama disini Mama pasti jagain Ramon," Dery sudah tidak bisa lagi menahan air matanya.


Merasa sangat sakit, saat melihat tubuh Ramon bergetar ketakutan.


Marco hanya melirik mereka, tanpa mengucapkan apapun.


Seharusnya kamu tidak perlu melindungi dan begitu menyayangi anak ini, ibunya saja ingin melenyapkan anak malang ini, kau justru sangat takut kehilangan dia. batin Marco.


Mobil sudah kembali melaju, entah mereka akan membawa ibu dan anak ini kemana.


.


Dicafe...


Rizal dan dua asistennya baru saja sampai.


Mobil yang dikendarai Dery terparkir didepan cafe, Saat menginjakkan kaki didalam cafe, mereka begitu dibuat tercengang melihat semua karyawan Dery terkapar tidak berdaya.


Zyan berlari mendekati Fia yang berbeda didekat meja kasir.


"Fia...Fia bangun" Zyan menepuk-nepuk pipi Fia.


Sedangkan Rizal sudah berlari menuju ruang kerja sang istri, tapi sayang dia tidak menemukan Dery disana.


Semua orang sibuk mencari keberadaan nona mereka, tapi tidak menemukan Dery disetiap sudut ruangan cafe.


Joe sudah menghubungi tim dokter agar segera datang ke cafe.


Entah apa yang terjadi, tapi jelas ini sebuah kejahatan yang terencana dengan matang.


Joe melihat ponsel Dery dibawah kaki Fia, dan ada sebuah kertas tidak jauh dari ponsel Dery tergeletak.


"tu..tuan lihat ini," Joe mamungut ponsel dan kertas itu.


Rizal yang sangat panik, mengambil ponsel sang istri dari tangan Joe, lalu membaca kertas itu.


Amarah Rizal memuncak setelah membaca hasil tes DNA palsu itu.


"brengs*k," Rizal meremas kertas itu penuh emosi.


"maaf tuan, kami tidak menemukan nona,"


"cek cctv cafe, sekarang," titah Joe, dia sendiri menyusuri setiap ruangan mencari seseorang.


Vina, dia mencari Vina.


Tapi sayang dia tidak bisa menemukan wanita itu.


"kau mencari siapa Joe?" kesal Rizal, melihat Joe mondar-mandir.


"Vi..Vina tuan, aku mencari Vina."


Wajah Rizal tampak terkejut mendengar nama Vina disebut.


"Vina? kenapa kau mencari Vina? harusnya kau mencari istri ku,"


"seharusnya Vina ada disini tuan, dia juga karyawan di cafe ini, nona yang mempertahankan dia bekerja disini."


Rizal semakin terlihat tercengang, gadis itu karyawan cafe milik istrinya ini.


Joe dan Rizal saling melempar tatapan.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2