
"kak...!!!" teriak Daniel menerjang tubuh Rizal saat melihat Monica membidikkan pistol kearah sang kakak. Tepat saat Daniel mendorong Rizal, tembakan di lepaskan.
Doorr....
Doorr....
Doorr....
Daniel memang berhasil menyelamatkan Rizal. Tapi, sayangnya tiga peluru itu melesat mengenai dirinya yang masih berdiri diposisi Rizal berdiri tadi.
Rizal terkesiap saat Daniel menerjang tubuhnya, karena ingin menyelamatkan dirinya. "Dan.. Daniel" lirih Rizal melihat Daniel masih tegak berdiri.
"ka..kau tidak apa...." tanya Daniel, dia tersenyum lega melihat sang kakak baik-baik saja.
Brukk
Daniel ambruk tepat di dalam dekapan Rizal yang masih terduduk dilantai.
Rizal masih terdiam, ia masih tidak percaya dengan apa yang Daniel lakukan. Ia tersadar saat merasa tangannya basah dengan darah dan aroma anyir menyeruak dari tubuh Daniel yang ambruk menimpanya.
Mata Rizal membulat sempurna saat mengetahui Daniel terkena tembakan.
"Joe...." Teriak Rizal dengan lantang, Joe yang sedari tadi berdiri di luar ruangan, berlari masuk. Sedangkan anak buah Rizal yang lain membekuk Monica.
Rizal memeluk tubuh Daniel. "Joe bantu aku, kita harus bawa Daniel ke rumah sakit sekarang," Joe yang baru saja masuk, langsung membantu Rizal mengangkat tubuh Daniel kedalam mobil.
Zyan yang baru saja akan menyusul langkah Joe dan Rizal, langsung menghentikan langkahnya.
"tuan aku akan memberi kabar, tuan besar. aku kan menyusul nanti," ucap Zyan, lalu berbalik arah menuju ruang Marco ditahan.
Di dalam mobil, Rizal masih memeluk tubuh Daniel yang sudah lemah.
"bertahanlah Niel, kau akan baik-baik saja," ucap Rizal sambil menggenggam tangan Daniel.
Daniel yang masih sadar, dia tersenyum menatap Rizal.
"ma..maafkan a..aku kak," ucapnya terbata.
"jangan banyak bicara, aku kakak mu apapun kesalahan mu aku akan selalu memaafkan mu," tidak terasa air mata Rizal sudah mengalir deras.
Baru sebentar dia bisa merasakan menjadi kakak untuk Daniel tanpa perselisihan, dan kini Daniel mengorbankan nyawa untuk menyelamatkan dirinya.
"ka..kak ak..aku mohon, te..temukan putra ku," lirih Daniel.
"uhuukk..." darah segar mengalir dari mulut Daniel, membuat Rizal semakin panik.
"Ra..Ramon putra ku kak, temukan di..dia jangan sam..sampai ibu atau The BlackDelta me...mengetahui tentang PU...putra ku," Daniel menatap Rizal dengan mata yang mulai sayu.
"diam lah Niel, dia juga putra ku aku akan mencarinya, kau harus kuat dan kita rawat Ramon bersama," Rizal mengusap darah yang keluar dari mulut sang adik.
"Niel, bangun Niel, bertahan lah buka mata mu Niel,"
Kini Daniel sudah kehilangan kesadaran nya.
"Joe tidak bisakah kau lebih cepat lagi, haahh," marah Rizal pada Joe.
"se.. sebentar lagi kita sampai tuan," lirih Joe.
Tanpa disadari Joe sejak tadi sudah menitikkan air mata, melihat seorang Adik yang dulu sangat membenci kakaknya, kini mempertaruhkan nyawanya untuk sang kakak.
Semoga kau baik-baik saja Niel, Joe.
.
__ADS_1
"Marco..." suara Bariton Tuan Rahadi menggema di ruangan tempat Marco ditahan.
Setelah dia memberikan perintah pada Jack, ia ingin menemui Marco sendiri, ia ingin melihat pria yang sudah berani menculik menantu dan cucunya.
"tu..tuan..." lirih Marco saat tatapan matanya dan tuan Rahadi bertemu.
"untuk apa tuan kemari?" ucap Marco sinis.
"kamu itu sama persis seperti mendiang ayah mu," tuan Rahadi menata tajam pada Marco.
Setiap kali melihat Marco, membuat tuan Rahadi teringat pada sahabat yang mengkhianatinya yang tidak lain adalah ayah Marco dan juga Vina.
Flashback...
*Sembilan belas tahun yang lalu*
Malam itu, dibawah guyuran hujan seorang wanita berjalan dengan kaki gemetar.
Ia mendekap erat anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang terus terisak.
Dia adalah Ratna Mahendra, istri dari Hardi Mahendra, Ratna dan Hardi adalah sahabat Rahadi sejak di bangku sekolah menengah atas.
Tubuhnya bergetar hebat menahan perihnya luka sayatan ditubuhnya, dibawah guyuran hujan yang semakin deras.
Kilatan petir menghiasi langit malam yang gelap dengan awan hitam.
Luka yang diberikan Hardi bukan hanya luka batin, tapi juga luka fisik.
Selama menjalin pernikahan dengan Ratna, Hardi berulang kali bermain-main dengan wanita lain.
Dan kini, fisiknya juga terluka saat Hardi mengayunkan ikat pinggangnya pada tubuh Ratna.
Mobil mewah berwarna hitam berhenti saat sang empunya melihat seorang wanita berjalan dengan pundak terguncang.
Rahadi turun dari dalam mobil, matanya membulat sempurna saat melihat Ratna dengan kondisi yang sangat buruk, tubuhnya penuh luka dan basah kuyup karena air hujan.
"Ratna?" lirih Rahadi.
Melihat banyaknya luka ditubuh sahabatnya Rahadi merengkuh tubuh Marco dalam pelukannya, lalu menarik Ratna masuk kedalam mobilnya.
"ja..jangan Rahadi, biarkan aku dan Marco pergi, jika Hardi tahu kau menolong ku, bisa dipastikan dia akan marah padamu," ucap Ratna dengan air mata yang terus mengalir.
"jika dia ingin marah biarkan saja, aku tidak akan membiarkan mu dan anak mu hidup menderita lagi, kau adalah sahabat ku, dan sudah seharusnya aku membantu mu, ayo masuklah.." Ratna terpaksa masuk kedalam mobil milik Rahadi.
Sepanjang perjalanan menuju mansion milik Rahadi, Ratna terus menangis.
.
Hingga sampai di mansion, Rahadi mempersilakan Ratna dan Marco masuk.
Istri Rahadi yang sudah menerima kabar jika sang suami pulang dengan istri sahabatnya menyambut hangat mereka.
Ayushita istri Rahadi menatap nanar Ratna yang begitu lemah,
"Ratna...." air mata Ayu mengalir memeluk tubuh Ratna dan Marco.
"suami mu memang sakit jiwa, bisa-bisanya dia menyakiti kalian seperti ini,"
"ak..aku tidak sanggup lagi hidup bersama Hardi Ay, aku sudah cukup menderita, aku tidak ingin anak-anak ku tumbuh bersama ayah yang tempramen dan gila wanita." ucap Ratna lirih.
Belum selesai Ratna mencurahkan isi hatinya pada Ayu, suara Hardi menggema memenuhi ruangan.
"Wanita sialan..." teriak Hardi lantang.
__ADS_1
"beraninya kau meminta bantuan Rahardi dan Ayu, apa kau tidak tahu malu." Ratna semakin bergetar ketakutan saat melihat suaminya sudah berdiri tidak jauh dari darinya.
"Hardi..."
"apa kau tidak bisa sedikit saja mengasihani istri dan anak mu," Rahadi sudah berdiri didepan Ratna yang bergetar dalam pelukan istrinya, Marco sendiri sudah dibawa seorang pengawal masuk dalam kamar.
Tawa Hardi menggelar, Rasanya Rahadi tidak lagi mengenal sahabatnya ini.
Pria dihadapannya bukanlah Hardi yang ia kenal, pria ini berubah menjadi iblis yang tidak memiliki hati dan rasa kasih, bahkan untuk keluarganya sendiri.
"Untuk apa aku mengasihani jal*ng seperti dia, aku juga tidak yakin anak itu adalah anak ku," ucapnya disela-sela tawanya yang begitu mengerikan didengar telinga.
"Hardi!!! Meski kita adalah penjahat, apa kau akan berbuat kejam juga pada anak dan istri mu...." Rahadi menaikkan volume suaranya. Dan kini dua sahabat itu saling menodongkan senjata.
Suasana ruangan kini menjadi sangat sepi, yang terdengar hanya isakan dari Ratna yang berdiri dibelakang Rahardi.
Entah apa yang membuat Hardi berubah menjadi pria kejam dan tidak punya hati.
Tapi Ratna kini tidak lagi mengenal Hardi suaminya, suami yang menyayanginya dan putranya dulu, yang selalu memujanya dan ayah terbaik untuk Marco.
"Peduli setan dengan wanita sialan itu..." Suara Hardi tak kalah tingginya. Rahadi bisa dengan jelas melihat kilatan kebencian dalam mata Hardi.
"Wanita menjijikkan, aku menyesal menikahi jal*Ng seperti dia,"
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut suaminya, Ratna hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan agar isakannya tak semakin keras terdengar.
Mengasihani dirinya sendiri, Entah apa kesalahan yang dia lakukan hingga sang suami begitu membencinya.
Ratna maju dua langkah, berdiri di depan Rahadi mengusap kasar air mata yang tersisa disudut matanya.
"Kau marah pada ku karena aku meminta mu melepaskan pekerjaan mu ini?" ucap Ratna lirih.
"Kau membenciku karena aku tidak lagi mau menerima uang mu dan memilih berkerja sendiri?" Tatapan matanya tajam, ia meneguhkan hatinya menghadapi pria yang selama ini ia cintai.
"Dan kau semakin murka pada ku karena aku meminta mu menceraikan istri muda mu?" suara Ratna semakin meninggi.
Dia sudah tidak sanggup lagi menutupi semua kebenaran yang ada.
Kalimat terakhir yang Ratna ucapkan sukses membuat Rahadi dan Ayushita mematung, mereka benar-benar tidak tahu jika Hardi memiliki istri lain.
Rahadi memang tahu Hardi selalu bermain-main dengan banyak wanita tapi ia tidak tahu jika Hardi menikah lagi.
"diam kau jal*ng, kau tidak lagi penting di hidup ku. Jika kau dan anak mu itu mati aku juga tidak peduli. Yang terpenting aku tidak kehilangan harta dan kekuasaan ku." Tawa Hardi kembali pecah.
Obsesi Hardi pada uang dan kekuasaan membutakan mata hatinya. Menurutnya tidak ada yang lebih penting dari itu semua.
"banyak wanita diluar sana yang rela menyerahkan tubuhnya untuk ku," lanjutnya.
Kemarahan Hardi semakin berkobar saat Ratna mendekati dan memeluknya.
"ceraikan aku, biarkan aku hidup dengan kedua anak-anak ku tanpa mu, aku mampu menghidupi mereka." ucap Ratna lirih.
Dia memeluk Hardi, menghirup aroma tubuh suami yang hampir tidak pernah dia hirup setelah ia hamil anak kedua mereka.
Melepaskan kerinduan dan menjadikan ini sebagai pelukan terakhir, ia sudah cukup lelah menutupi luka hatinya selama ini. Luka yang digoreskan Hardi semakin hari semakin dalam.
Mendengar kalimat yang Ratna ucapkan, semakin membuat Hardi seolah kehilangan akal sehatnya.
Doorr...
***Bersambung....
Jangan lupa kasih like
__ADS_1
terus dikomen
ngevote, Fav & rating 5 yak 😇😁🙏***