Janda Judes

Janda Judes
34 Mencoba Ikhlas


__ADS_3

Satu bulan Dery dan Marco sudah menjalani hidup sebagai suami istri.


Awalnya Marco tidak mempermasalahkan jika Dery belum mau tidur satu kamar dengannya karena kesalahannya dulu,


tapi akhir-akhir ini Marco sudah tidak bisa menahan lagi.


Dery memang menjalani semua tugasnya dengan baik, tapi selama menikah Dery belum siap jika harus mengulang kejadian yang sudah membuat rasa malunya dicabik-cabik.


Sabtu sore,


Dery memang selalu pulang lebih awal, selain tidak ingin berada satu mobil dengan suaminya, dia juga ingin segera sampai rumah dan melanjutkan tugas sebagai istri yang baik dirumah.


Dery baru selesai mandi, setelah membersihkan apartemen dan menyiapkan makan malam, membuka pintu kamar karena Marco yang baru pulang memanggil nya.


"der, boleh aku minta secangkir kopi?" pintanya sebelum masuk ke kamarnya.


"yaa, akan aku buatkan" Dery tersenyum berjalan menuju dapur.


"aku mandi dulu sebentar ya." Marco menghilang dibalik pintu.


Sambil menunggu Marco mandi, Dery duduk di balkon sambil memandang kerlap-kerlip lampu kota, merasakan hawa dingin menyapu wajahnya.


Membayangkan kedua orang tuanya, Dery sangat merindukan mereka.

__ADS_1


Lamunan Dery dikagetkan oleh sentuhan Marco.


"kamu melamun, sayang?" Marco duduk di samping Dery.


"eemm tidak kok mas, aku cuma rindu ayah sama ibu" menggeser duduk lebih jauh dari Marco.


"ow ya kopi mu sudah siap dimeja makan, apa kamu mau makan sekarang?" tanya Dery.


"boleh, yuk makan." Marco berdiri menarik tangan Dery lembut.


Dimeja makan Dery hanya diam begitu juga Marco, tidak tahu harus bicara apa, hanya terdengar dentingan sendok beradu dengan piring.


Hingga selesai makan mereka saling diam, Dery membereskan sisa makan, dan mencuci bekas makan mereka.


Marco sudah berdiri di belakang Dery, memeluk dari belakang.


"Mas kamu ngapain," Dery berbalik badan mendorong Marco agar sedikit menjauh.


"apa salahnya aku memeluk istriku?" santai Marco.


"mm aku baru cuci piring, sebaiknya mas istirahat dikamar saja." Dery melanjutkan pekerjaannya.


Marco masih berdiri menunggu Dery.

__ADS_1


Marco menarik tangan Dery untuk duduk disofa. "ini untuk istri tercinta ku" menyerahkan kotak berisi kalung yang indah.


"ini untuk aku?" tanya Dery dingin. "tapi aku sudah punya, itu pun tidak pernah aku pakai." lanjutnya mengalihkan pandangan dari Marco.


"apa aku tidak boleh memberi istri ku hadiah, hmm?" memaksa Dery menatapnya.


Dery hanya diam.


"boleh aku pakaikan?" Marco mengeluarkan kalung dari kotaknya, Dery hanya mengangguk pasrah, hanya tidak ingin mengecewakan Marco.


Marco sudah tidak bisa menahan lagi, akhirnya meminta hak nya pada Dery.


"sayang kita menikah sudah satu bulan, apa kita tidak bisa seutuhnya menjadi suami istri?" mendengar pertanyaan Marco, Dery tahu apa maksudnya.


"tapi mas ak..aku" Dery ragu-ragu. "Apa ini waktunya aku menerima pernikahan ini, aku juga tidak mungkin terus-menerus menolak marco, apapun keadaannya dia tetap suami ku yang sah. aku harus mencoba ikhlas menerima ini" batin Dery


"sudahlah jika memang kamu tidak siap" Marco berdiri, tapi langsung ditarik oleh Dery.


"aku siap mas" jawab Dery tertunduk.


Marco yang mendengar jawab dari Dery langsung tersenyum senang.


"akhirnya waktu yang aku tunggu-tunggu" batin Marco, dan langsung mengangkat Dery ke kamarnya.

__ADS_1


*cerita ini hanya fiktif" semoga kalian suka ya dear 🙏🙏❤❤ maaf jika masih ada kesalahan, jangan lupa like dan komen.


__ADS_2