
Dery.....!
Teriak Rizal dari kejauhan, ia berlari semakin cepat.
Dery yang jatuh tersungkur dipinggir jalan, menatap tubuh pria kekar bersimbah darah tidak jauh darinya.
Rendy....
Pekik Dery, dengan suara bergetar.
Dengan menahan rasa sakit diperutnya, ia berjalan menghampiri Rendy yang tergeletak dengan wajah penuh darah.
"De...Dery..." lirih Rendy saat Dery sudah duduk memeluk tubuhnya.
"kak, bertahanlah aku mohon.." Isak tangis Dery semakin keras, "tolong, siapapun tolong," teriak Dery.
Beberapa orang berlari mendekati Dery yang memeluk tubuh pria bersimbah darah dijalan raya.
Rizal berlari menuju istrinya yang tengah menangis memeluk tubuh pria yang sudah menolong dirinya.
"Dery..." Rizal duduk memeluk Dery yang terus menangis.
"tolong, Rendy kak.." pinta Dery dengan air mata berurai, dia terus mengusap wajah Rendy yang dipenuhi darah.
"Joe, Jack bantu pria ini," teriak Rizal.
Joe dan Jack langsung mengangkat tubuh Rendy. "kita bawa dia ke rumah sakit sekarang," ucap Joe, yang langsung mendapat anggukan dari Jack.
Rizal memeluk erat tubuh Dery. Sangat terlihat jika wanita ini masih sangat shock atas apa yang menimpa dirinya dan Rendy baru saja.
Karena kecerobohan dirinya yang melangkah tanpa melihat jalanan, Rendy mengorbankan diri hanya untuk menyelamatkan dirinya dari bahaya.
Jika saja Rendy terlambat mendorong tubuhnya, entah apa yang akan terjadi padanya.
"Aaakkhhh.." Dery merintih kesakitan dalam pelukan suaminya.
Dia mencengkeram kuat gaun yang dia kenakan, merasakan sakit yang luar biasa di bagian perutnya.
"Zyan... kita bawa istri ku ke rumah sakit sekarang," titah Rizal, yang langsung mengangkat tubuh Dery masuk kedalam mobil.
"pe..perut ku sakit kak," lirih Dery, Rizal memeluk erat istrinya yang merintih menahan sakit.
"kau akan baik-baik saja sayang," Rizal terus mengecup seluruh wajah istrinya.
Dengan cepat Zyan melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang sama dengan Rendy.
Saat mobil sudah sampai diparkiran rumah sakit, Rizal turun dan mengangkat tubuh Dery yang mulai melemas.
"dokter...suster...tolong istri saya," teriak Rizal.
Beberapa perawat menghampiri Rizal sambil mendorong brankar pasien. Dery diletakkan di brankar dan di dorong ke ruang IGD.
Wajah panik dan khawatir terlihat jelas diwajah Rizal.
Dia mondar-mandir didepan pintu ruang IGD. Rizal berharap istri dan anak dalam kandungan Dery akan baik-baik saja.
Dia tahu Dery pasti sangat teguncang atas apa yang telah terjadi.
"kenapa semua ini bisa terjadi..." Rizal meremas rambutnya kasar.
Setelah cukup lama seorang dokter keluar dari ruang tindakan. "apa tuan ini suami pasien?" tanya dokter itu.
__ADS_1
"iya dok saya suaminya, bagaimana kondisi istri dan anak dalam kandungannya? dia baik-baik saja kan dok?" tanya Rizal dengan wajah panik.
"istri anda baik tuan, meski sempat mengalami pendarahan tapi bayi dalam kandungannya bisa kami selamatkan, anda tidak perlu khawatir bayi kalian sungguh kuat, anda bisa menjenguknya setelah pasien kami pindahkan ke ruang rawat," ucap dokter menjelaskan.
Rizal tampak menghela nafas lega, Zyan yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari Rizal juga terlihat tersenyum lega.
"syukurlah, terimakasih kau selamatkan istri dan anak ku Tuhan, terima kasih dok," Berulang kali Rizal mengucap syukur.
"sama-sama tuan."
Setelah dokter itu pergi, tidak lama dua perawat keluar dari ruang tindakan mendorong brankar pasien.
Rizal mengikuti dari belakang hingga tiba di ruang rawat VVIP yang sudah Zyan siapkan.
Sudah didalam ruangan, Dery memalingkan wajah saat Rizal berdiri disampingnya.
"sayang..." Rizal mencoba meraih tangan sang istri, tapi dengan cepat Dery menarik tangannya.
Air mata Dery lagi-lagi mengalir deras, "sayang... ada apa?" Rizal mengusap pucuk kepala istrinya lembut.
"aku tidak ingin melihat mu, pergi lah," ucap Dery disela tangisnya.
Rizal hanya mematung tanpa bisa menjawab apapun.
"pergi dari sini kak, aku tidak ingin melihat mu lagi," ulang Dery dengan suara bergetar.
"ta...tapi kenapa sayang, ada apa? apa salah ku? apa kau tidak merindukan ku?" Rizal menggenggam erat tangan Dery, berulang kali ia mencium lembut tangan istrinya ini.
"apa kau merindukanku?" tanya Dery, "apa kau masih merindukan aku kak? bukan kah kau sudah berbahagia?" ketus Dery.
"apa yang kamu katakan, aku tidak pernah bahagia saat kau tidak ada sayang..."
"tu..tuan, nona.." belum selesai Rizal bicara Juii sudah masuk, untuk mengabarkan keadaan Rendy.
Ada rasa cemburu yang besar saat kembali mengingat saat suaminya memeluk wanita didepannya ini.
"pria yang menolong nona tadi itu, asisten pribadi tuan Sam, tuan." Juii menunduk saat melihat tatapan tidak suka dimata nona mudanya. "sekarang keadaan masih kritis, apa kita harus memberi kabar ini pada tuan Sam sekarang?"
"jangan, mereka sedang berbahagia," tegas Rizal.
"Re.. Rendy.." lirih Dery.
"aku ingin menemui Rendy sekarang," Dery mencoba bangun dari brankarnya.
Sesaat Ia melupakan amarahnya pada Rizal dan Juii, saat ini dia hanya ingin menemui Rendy.
"jangan sayang, kamu harus istirahat," cegah Rizal.
"aku bilang aku mau menemui Rendy sekarang," ketus Dery. "kalian pergilah,"
"tidak, aku akan terus mendampingi mu," Rizal memeluk Dery, "aku antarkan jika kamu mau menemui Rendy."
"ambilkan kursi roda untuk istri ku," titah Rizal pada Zyan.
Tidak lama, Zyan masuk dengan membawa kursi roda sedangkan Juii sudah pergi untuk menyelidiki tentang Rendy.
Dia begitu penasaran kenapa nona mudanya begitu akrab pada pria itu.
Diruang rawat Rendy, Dery menatap sendu wajah pucat pria yang sudah menolong dirinya.
"kak..." dari balik kaca Dery terus merapalkan doa agar Rendy lekas melewati masa kritis.
__ADS_1
Rizal hanya bisa menatap istrinya yang sangat mengkhawatirkan pria itu.
"apa nona ingin menjenguk pasien?" tanya seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan Rendy.
"apa boleh?" tanya Dery.
"silahkan nona, tapi hanya boleh satu orang yang masuk,"
"suster, tolong antarkan saya masuk kedalam ya," pinta Dery. Perawat itu mengangguk lalu mendorong kursi roda Dery sampai disamping brankar Rendy.
Dery semakin terisak saat sudah berada di samping Rendy, "kak... bangun lah aku mohon," Dery mengusap tangan Rendy.
"kenapa kamu menolong ku dan membahayakan nyawa mu sendiri, bangunlah kak, kamu sudah berjanji pada Ramon akan membawa aku pulang dan menjaga kami kan," ucap Dery, dia menenggelamkan kepalanya pada lengan kekar Rendy. "bukankah kakak juga sudah berjanji pada ku, akan mencarikan aku suami baru saat aku sudah melahirkan nanti, kakak tidak ingin aku disakiti suami ku lagi kan, harusnya tadi kita tidak datang ke pesat itu," sambungnya.
Tanpa disadari Dery, sejak tadi Rizal sudah berdiri di balik pintu, dia mendengarkan semua kalimat yang keluar dari mulut istrinya.
Rizal benar-benar terkejut, ada rasa marah dan geram dalam hatinya.
jadi selama ini asisten Sam yang menyembunyikan istri ku, lalu kenapa dia ingin mencarikan suami baru untuk Dery, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Dery juga begitu dingin pada ku. batin Rizal.
"tuan..." Zyan mengagetkan dirinya yang masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"tuan Sam datang,"
Mendengar Samuel datang Rizal langsung mendongak, menatap tajam pada sepupunya ini.
Tanpa aba-aba Rizal langsung menarik kasar kerah baju Sam hingga membuat dia sangat terkejut.
"hei! kak, apa yang kau lakukan?" tanya Sam sambil berusaha melepaskan tangan Rizal.
"beraninya kau menyembunyikan istri ku Sam! selama satu bulan ini istri ku tinggal bersama asisten mu dan kamu tidak memberitahukan itu pada ku!" sentak Rizal dengan kilatan amarah di matanya.
"sumpah demi apapun aku tidak tahu jika kakak ipar tinggal bersama Rendy," jawab Sam yang mulai merasa takut pada kemarahan Rizal.
Tuan Rahadi dan Tuan Johnson yang baru saja tiba, dibuat terkejut dengan kelakuan Rizal.
"apa yang kamu lakukan Zal, lepaskan adik mu," dengan suara tegas Tuan Rahadi memperingatkan putranya.
"apa ayah tahu, selama satu bulan ini Dery tinggal bersama pria didalam itu, dan dia adalah asisten kepercayaan keluarga uncle John." Rizal mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Apa...?" tuan Rahadi dan Tuan Johnson tersentak kaget.
"apa yang dikatakan Rizal itu benar Sam?" tanya Johnson.
"aku tidak tahu yah, aku juga baru tahu jika kakak ipar tinggal bersama Rendy selama ini," jawab Sam.
"ayah tahukan tidak ada yang bisa menyentuh kehidupan pribadi Rendy, bahkan aku dan ayah sekalipun," tegas Sam.
"kita urus ini nanti setelah Rendy sadar," ucap Tuan Rahadi bijak.
Ditempat lain Juii sudah berdiri didepan pintu apartemen milik Rendy bersama dengan beberapa anak buah yang biasa mengawal Rendy.
Bersambung....
yukk like sama komen yuuk....
Biar othor semangat up lagi....
udah panjang bet nih othor nulisnya, mikirnya lama lagi 😂😂 masak ngelike aja pada gak mau 🙏🤘
jangan lupa mampir di karya baru othor yaa ❤😍😘😘
__ADS_1
love yuu all