
Malam semakin larut, dengan berat hati Rizal membiarkan Dery tidur diruang rawat Rendy bersama dengan ibu Ratih.
Dia melihat sendiri bagaimana ibu Ratih menyayangi istrinya seperti putrinya sendiri.
Ditemani keempat orang kepercayaannya Rizal menunggui Dery di luar ruang rawat Rendy.
Meski mendapat penolakan dari sang istri, tapi Rizal tak gentar sedikitpun.
__________🍁🍁🍁🍁__________
Siang Hari rumah sakit keluarga Leonard
Berkat bantuan dari ibu Ratih, akhirnya Rizal bisa memiliki kesempatan untuk berbicara dengan istrinya, meski Dery masih terus memalingkan wajah.
"Sayang..." panggil Rizal lembut, Dery masih tidak bergeming. Yang dia perhatikan hanya tubuh lemah Rendy yang terbaring diatas brankar.
"Sayang, aku ingin menjelaskan semuanya," Rizal sudah duduk disamping Dery, menggenggam tangan istrinya yang terlihat sudah berkaca-kaca.
"Apa kau marah pada ku karena hasil tes DNA palsu yang diberikan Marco saat dicafe waktu itu?" tanya Rizal.
"kau tahu sayang, hari itu aku baru saja dari rumah sakit bertemu dengan dokter Ilham, dia menyerahkan hasil tes DNA bayi Monica, kenyataannya bayi itu bukan anak ku sayang. Dan dia juga mengabarkan pada ku jika kau sedang mengandung, mendapatkan kabar itu aku langsung pulang untuk memberikan kabar bahagia itu, tapi kamu sudah pergi sejak pagi, saat aku mencari mu dicafe kerusuhan sedang terjadi dan aku menemukan ponsel dan hasil tes DNA palsu yang diberikan Marco pada mu," Rizal menjelang panjang lebar pada Dery.
Dery hanya diam mendengarkan semua kalimat yang keluar dari mulut sang suami.
Dia memang sangat marah dan kecewa karena hasil tes DNA yang diberikan Marco padanya.
"lalu Ramon? dia putra mu dengan Monica kan, tega sekali kalian membuang Ramon ke panti asuhan, kau tahu Monica menculik dan akan mencelakai Ramon jika saja Marco tidak mencegahnya. Kenapa kamu tidak bertanggungjawab atas Ramon saat itu?" Ucap Dery tanpa mau menatap Rizal.
"Dalam diri Ramon memang mengalir darah Arandra Putra sayang..."
Deg...
Seketika itu juga air mata Dery mengalir semakin deras, bukannya dia tidak bisa menerima Ramon yang ternyata putra dari suaminya, tapi dia begitu terpukul karena anak sekecil Ramon harus menerima perlakuan buruk dari sang ibu kandung.
"Kalian yang berbuat kenapa harus Ramon yang menerima hukumannya, orang tua macam apa kalian ini," sentak Dery.
"dengarkan dulu sayang.."
"dengar apa lagi, kau juga mengakui kalau Ramon putra mu kan," sungut Dery menatap tajam pada Rizal yang masih duduk disampingnya. "semua sudah jelas, pergi dari sini, jangan mencari ku atau Ramon lagi, bahagialah dengan istri baru mu," sambungnya.
Melihat istrinya yang begitu marah dan kesal padanya membuat Rizal semakin frustasi.
Ya Tuhan kenapa jadi serumit ini...
"Sayang, aku mohon dengarkan aku," pinta Rizal dengan wajah yang semakin lesu. "Ramon memang keturunan Arandra Putra, tapi dia putra Daniel bukan putra ku," Seru Rizal dengan suara kencang, membuat Dery mematung seketika.
Apa katanya tadi? putra Daniel?
Dery melirik Rizal tidak percaya.
__ADS_1
"percayalah pada ku, jika nanti Daniel sudah pulih dia akan menceritakan semuanya pada mu," Lagi-lagi Dery memalingkan wajah.
Rizal menarik nafas panjang, "dan soal istri baru, sepertinya Rendy sudah salah mendapatkan informasi, karena persiapan pernikahan yang ayah lakukan itu untuk Samuel, bukan untuk ku. Mana mungkin aku akan menikah lagi, kamu tahu kan satu-satunya wanita yang aku cintai hanya diri mu," bisik Rizal tepat di telinga sang istri, membuat Dery bergidik geli.
"Cih..." Dery mendorong Rizal agar menjauh dari dirinya, Dery tidak ingin jika dia lepas kendali dan akan memeluk pria yang sangat dia rindukan ini.
"lalu apa yang kamu lakukan dengan wanita itu di pesta kemarin, haahhh?" tanya Dery dengan suara meninggi, dia menatap Rizal dengan tatapan membunuh.
Wanita yang mana? batin Rizal.
"sayang, apa maksud mu?" Rizal yang belum menyadari jika Dery sempat melihat Juii yang tanpa sengaja jatuh di pangkuannya, terlihat sangat kebingungan.
"jangan pura-pura bodoh, dasar laki-laki buaya."
Plaakk...
Dengan keras Dery menampar pipi Rizal hingga memerah.
"kau mengatakan hanya mencintai ku, tapi memeluk mesra wanita lain dipesta kemarin, kau kira mata ku buta, haaahh," bentak Dery. Rizal yang kembali mengingat kejadian dipesta kemarin justru tersenyum senang.
"apa istri ku ini sedang cemburu, hmm?" goda Rizal. Sedangkan Dery langsung melotot mendengar suaminya berkata dengan entengnya.
"pergi dari sini," usir Dery.
"Hei! jangan marah, wanita yang kamu lihat itu Juii adik Joe,"
"itu hanya kecelakaan sayang, aku tidak sengaja menginjak ujung gaun Juii hingga membuatnya jatuh tepat di pangkuan ku," Merasa pukulan sang istri semakin lemah, Rizal langsung merengkuh tubuh mungil Dery.
"tapi kau menikmatinya," ucap Dery disela isakannya.
"tidak sayang, aku bahkan menghukum Juii karena kecerobohannya," bohong Rizal.
"maafkan aku ya, jangan lagi marah dan menghindar dari ku, aku sangat mencintaimu," bisik Rizal.
Dery Yang udah mendengar semua penjelasan dari Rizal, hanya bisa menangis didalam dekapan sang suami.
Ada rasa sesal dalam hatinya karena dia meragukan cinta dan kasih sayang seorang Rizal Arandra.
"apa kalian sudah puas bermesraan disini?" tanya Sam dengan suara datar.
Rizal dan Dery menoleh bersamaan. "kau, menganggu saja.." dengus Rizal.
"Paman sudah sampai ditempat parkir, apa kalian tidak ingin menyambutnya?" tanya Sam, yang langsung melangkah keluar ruang rawat Rendy.
"kita temui ayah ya," Dery hanya mengangguk.
Sesaat kemudian,
Dery dan Rizal sudah duduk diruang tunggu bersama Bu Ratih, Zyan, Jack dan Sam.
__ADS_1
Dilihat dari wajah Zyan dan Jack, terlihat jika mereka sangat lega melihat bosnya sudah kembali berbaikkan dengan sang istri, kesalahpahaman yang sempat membuat Dery begitu marah kini sudah terselesaikan.
Bu Ratih yang duduk bersebelahan dengan Dery tidak henti-hentinya, memeluk dan mencium pucuk kepalanya.
Ikut marasakan kebahagiaan yang dirasakan Dery.
Tap...Tap...Tap...
Suara derap langkah memenuhi lorong ruang rawat Rendy.
Rizal dan Sam bangkit dari duduknya menyambut kedatangan Tuan Rahadi sedangkan Dery tersenyum menatap ayah mertuanya yang nampak gagah dan berwibawa diusia yang tidak lagi muda.
Rizal memberikan jalan agar sang ayah bisa menyapa menantu yang selama satu bulan ini sangat dirindukannya.
"ayah..." Dery yang melihat mata sang ayah mertua mulai berkaca-kaca, ikut larut dalam keharuan.
Tuan Rahadi duduk mensejajari Dery, lalu memeluk erat menantunya dengan mata yang sudah merah menahan air mata.
"kenapa kau pergi lama sekali nak, apa kau tidak merindukan ayah mu ini," ucap tuan Rahadi.
"ma.. maafkan aku yah, maaf," Dery semakin terisak saat mendapatkan perlakuan yang begitu hangat dari mertuanya.
"apa kau baik-baik saja, hmm, bagaimana kondisi cucu ayah?" tanya tuan Rahadi yang sudah menakup wajah Dery.
"ayah sudah tidak sabar untuk menimang cucu ayah," sambungnya.
"kami baik-baik saja yah," lagi-lagi Dery menghambur kepelukan Tuan Rahadi.
Melihat interaksi antara menantu dan mertua yang begitu saling menyayangi, membuat semua orang yang ada di sana ikut terharu.
Termasuk Bu Ratih yang sejak kedatangan Tuan Rahadi terus menunduk dalam.
Kenapa dia tidak menyadari sejak awal siapa suami Dery.
bersambung...
like
like
like
komen
vote
rate
jugaak yaaa readers ❤😘😘😘
__ADS_1