Janda Judes

Janda Judes
Pindah Lagi?!


__ADS_3

Ditempat yang jauh,


Dery tengah menikmati indahnya pemandangan desa terpencil ini,


Ramon yang sedari tadi berlarian kesana kemari, membuat Dery tersenyum bahagia.


Selama dia ada disini, waktunya ia habiskan untuk membatu ibu Ratih, yang mengelola kebun sayur tepat dibelakang rumahnya.


Namun senyumnya lenyap seketika saat bayangan Rizal kembali berkelebat dimatanya.


Mencoba memejamkan mata untuk mengusir bayangan suaminya itu, tapi semakin mencoba untuk melupakannya, cinta dihatinya justru semakin besar.


Dari kejauhan Rendy yang sedang bermain dengan Ramon bisa melihat Dery yang lagi-lagi bersedih.


Meski berulang kali Rendy berusaha mencari tahu apa masalah yang terjadi pada Dery tapi tetap saja wanita itu selalu diam.


"kenapa bersedih lagi, hmm?" Rendy sudah berdiri disamping Dery yang sedang menunduk.


"jika kau bertekad melupakan masalalu mu, jangan lagi tumpahkan air mata diwajah cantik mu,"


"tidak Ren, aku hanya terharu dan bersyukur bisa bertemu dengan kau dan ibu," Dery mendongak menghapus sisa air mata di pipi putihnya, tersenyum menatap Rendy.


Rendy hanya berdecih melihat kelakuan Dery,


Memangnya aku ini Ramon, yang bisa dia bohongi.


Rendy menatap intens wajah Dery yang mulai tersenyum.


Ada rasa kagum dihatinya, wanita ini benar-benar seperti seorang aktris.


Dia bisa menutup kesedihannya dengan tawa dan keceriaan, didepan semua orang.


Aku tahu kau sering diam-diam menangis, tapi kenapa kau tidak mau membagi luka hati mu. Rendy


"ibu, aku lapar, bisakah kita masuk sekarang?" seru Rendy, sambil menepuk-nepuk perutnya.


"sebentar..." sahut Bu Ratih.


"Dery, bisa minta tolong siapkan makan siang? Ramon juga ikut masuk saja ya," ucap Bu Ratih yang masih sibuk dengan tanaman sayurnya.


"baik Bu, ayo sayang kita masuk," Dery meraih tangan Ramon.


"ibu cepat masuk ya, kita makan bersama," Bu Ratih hanya mengangguk pada Dery.


Didalam Dapur...


Dery sedang sibuk menyiapkan makan siang untuk mereka semua,


Sedangkan Rendy dan Ramon menunggunya dimeja makan sambil terus bercanda.


Tidak lama Dery sudah berjalan kearah mereka dengan membawa makan siang,


"makanan sudah siap, Ramon sayang, mama minta tolong ya nak, tolong panggilkan nenek," Ramon mengangguk bergegas menyusul Bu Ratih yang masih sibuk di kebun.


Dery dengan cekatan menyiapkan makanan, semua gerakannya tidak luput dari perhatian Rendy.


"ada yang bisa aku bantu, nona?" Rendy sudah berdiri dibelakang Dery.


"astaga..." Dery sampai terlonjak kaget,


"Rendy kamu suka sekali mengagetkan ku," dengus Dery, karena kesal Dery mencubit lengan kekar Rendy.

__ADS_1


"Aw....Aiihh..." Ringis Rendy,


"kenapa mencubitku, ini sakit Dery,"


"itu karena kamu selalu mengagetkan ku," Dery berjalan meninggalkan Rendy yang masih berdiri di dapur.


"katanya mau bantuin, jadi tolong bawakan itu kesini," seru Dery sambil menunjuk piring berisi ikan goreng.


"baiklah, nona Dery," Dery hanya tersenyum menatap Rendy berjalan kearahnya dengan bibir yang mengerucut.


"maaf, apa aku mencubit mu sangat keras," Saat Rendy sudah duduk disampingnya, Dery mengusap lengan pria yang itu lembut.


"iya, ini sangat sakit.." Rendy meliriknya sekilas.


iishh badan aja gede, dicubit gitu aja bilangnya sakit banget, aku tadi nyubit cuma pelan padahal. gerutu Dery dalam hati. Menatap kesal pada Rendy.


Ibu Ratih dan Ramon sudah bergabung dengan mereka dimeja makan.


Mereka mulai makan dengan lahap.


Hingga selesai makan tidak ada yang berbicara. Dery menyendok makanan terakhir dipiringnya.


"kau harus membayar luka akibat cubitan mu ini nona," bisik Rendy, membuat Dery menghentikan gerakannya lalu menatap Rendy yang sudah melangkah pergi.


Selalu saja.... Dery


Rendy masuk kedalam kamar dengan tersenyum puas, dia sudah memikirkan ingin mengerjai Dery.


Sore menjelang...


Rendy baru saja keluar dari dalam kamar, Saat pandangan matanya melihat Dery yang sedang duduk bersama Ramon diruang tamu.


"Ekhem.." Rendy sengaja berdehem dengan keras menatap Dery yang hanya meliriknya sekilas.


Rendy hanya terkekeh melihat raut wajah Dery yang terlihat menggemaskan, saat sedang merajuk seperti itu.


"tidak.." ia menggeleng,


"aku hanya ingin kau mengganti rugi atas luka ini," Rendy menunjuk lengannya yang terlihat membiru sangat kontras dengan kulitnya yang putih, karena dicubit Dery siang tadi.


"apa kau mau aku membuatkan banyak cemilan untuk mu lagi?" ketus Dery, Rendy hanya menggelang.


huuuhhhh Dery tampak membuang nafas dengan sangat malas.


"lalu??"


Rendy menaikkan kakinya diatasi pangkuan Dery.


Melihat kaki Rendy yang sudah ada di pangkuannya, membuat Dery meliriknya tajam.


"apa ini, singkirkan kaki mu ini," Dery mendorong kaki Rendy kasar.


"kau harus memijat kaki ku,"


"tidak akan...." ketus Dery.


"Rendy apa kau tahu dimana ibu? sejak selesai makan siang tadi aku tidak melihat ibu." Dery sengaja mengalihkan pembicaraan, agar Rendy tidak lagi mengerjakan.


"ibu? ehh iya dimana ibu, aku juga tidak melihat nya sejak tadi," Rendy menurunkan kakinya dari pangkuan Dery.


"nenek sedang pergi mam, katanya ingin kerumah tetangga mengantarkan sayuran," seloroh Ramon.

__ADS_1


"oh.." Dery dan Rendy bersamaan.


Bruukk...


Ibu Ratih menutup pintu dengan keras, membuat mereka terkejut.


Nafas Bu Ratih terengah-engah, wajah cantiknya berubah pucat pasi.


"ibu ada apa?" tanya Dery yang sudah bangkit dari duduknya.


"kita harus pergi dari sini sekarang," suara bu Ratih tegas, tapi terdengar gemetar ketakutan.


"pergi lagi Bu?" Rendy menatap ibunya tidak percaya.


"tapi kenapa, bukankah ibu sudah nyaman disini?"


"ibu mau pergi sekarang," ulang Bu Ratih dengan suara tegasnya. "kemasi barang-barang kalian, bawa yang penting saja, kita pergi malam ini juga," Bu Ratih meninggalkan mereka yang masih kebingungan.


"Rendy, ada apa ini?" tanya Dery.


"lakukan saja perintah ibu," Rendy menarik tangan Ramon dan Dery, menuntun mereka masuk kedalam kamar. "kalian kemasi baju kalian, aku akan mengemasi baju ku, lakukan secepat mungkin," Dery mengangguk, lalu mengemasi bajunya yang hanya beberapa lembar.


Ibu...


ada apa lagi ini, aku lelah harus berpindah-pindah, aku bahkan tidak tahu alasan dari semua ini. Rendy


Malam itu,


Mereka pergi dari desa terpencil tempat Rendy dan Bu Ratih bermukim selama Lima tahun kebelakang.


.


Rumah Sakit...


Rizal masih duduk termenung diluar ruang ICU, menatap sendu wajah sang adik, yang terbaring lemah diatas brankar dengan selang dan kabel medis ditubuhnya.


Daniel...


Bangunlah, aku mohon, bantu aku mencari kakak ipar dan juga putra mu.


Setelah operasi pengangkatan peluru ditubuh Daniel berhasil dilakukan, kini Daniel harus mengalami koma.


Satu selongsong peluru berhasil menembus organ vital ditubuh Daniel.


Kini mereka hanya harus menunggu dan berdoa semoga Daniel, mendapatkan keajaiban dan bisa segera sadar.


Meski Rizal terus menunggu Daniel dirumah sakit, tapi dia juga terus berusaha mencari sang istri.


Rizal cukup lega dengan kedatangan Juii, adik Joe.


Juii adalah salah satu orang handal di The RedDelta.


***Bersambung...


Minal aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir batin ya readers kesayangan.


Maafkan author jika ada kesalahan yang othor lakukan dengan sengaja atau tidak sengaja...


Semoga dihari yang Fitri ini, kita semua selalu diberi keberkahan dan kesehatan 🙏🙏😘😘


Salam sayang dari othor,

__ADS_1


Salam sehat semangat Gusti berkahi, Gusti dampingi


Love yu all ❤😇***


__ADS_2