
Setelah mengusir Ikbal, Rizal duduk di samping Dery, tersenyum menatap wanitanya.
"kenapa kau masih tidak mau bangun nona, kau tahu aku sangat marah saat melihat sahabat mu itu berada didekati mu. Siapa namanya, Ikbal ya itu, Ikbal. sepertinya dia menyukai mu ya.
Kenapa aku harus bersaing dengan anak kecil seperti dia, hmm? aku jauh lebih tampan dari dia kan, bahkan berulang kali kau bilang tubuh ku ini bagus, atletis dan seperti roti sobek. Apa saat kau bangun nanti kau akan memilih anak kecil itu dibandingkan aku?" terus menciumi tangan lemah Dery, "bangun lah, aku ingin mengatakan jika aku sangat mencintaimu, aku akan menjadikan mu ratu ku," mencium kening Dery lembut.
Tok tok tok terdengar ketukan pintu pelan. Rizal berjalan membukakan pintu.
"tuan ini saatnya tubuh nona dibersihkan," seorang perawat wanita masuk.
"hmm baik lah," Rizal keluar dengan wajah lesunya.
Melihat ayah dan ibu Dery, Rizal mendekatinya.
"Pak sebaiknya bapak dan ibu pulang saja, Joe akan mengantar kalian," sopan Rizal
"panggil ayah saja ya tuan agar lebih akrab, semua sahabat Dery memanggil ku ayah." Pak Rahmat menepuk pundak Rizal.
"baiklah, tapi ayah juga jangan memanggil ku tuan, panggil dengan nama saja," tersenyum, "ayah dan ibu sebaiknya pulang, biar aku yang menjaga Dery disini," lanjutnya.
"tapi nak..." ibu menggantung kalimatnya, terisak lagi.
"ibu harus kuat, maafkan saya ya bu, kita harus kuat untuk Dery kan? ibu harus menjaga kesehatan, dan jangan lagi bersedih." Rizal mengusap tangan ibu dengan lembut.
__ADS_1
"kamu tidak bersalah nak, ibu harusnya berterima kasih pada mu kan, kamu menjaga anak ibu dengan baik selama ini, asisten mu sudah menceritakan semuanya pada ayah dan ibu," tangis haru ibu.
"Joe antarkan ibu dan ayah pulang, dan tugaskan satu pengawal untuk menjemput besok pagi." perintah Rizal,
Setelah kepergian ayah ibu Dery, Rizal hanya terduduk menunggu perawat menyelesaikan tugasnya.
Zyan yang duduk tidak jauh dari sahabat Dery, mulai membuka suara,
"tuan Sanjaya, sebaiknya kalian pulang dan istirahatlah,"
"apa tuan Rizal baik-baik saja? bukankah lebih baik tuan Rizal yang istirahat. melihat kondisinya sepertinya dia tidak cukup tidur," Reno dibuat heran dengan penampilan berantakan Rizal.
"tuan Rizal tidak akan meninggalkan nona walau hanya sebentar saja, dia akan terus menjaga nona, jadi lebih baik kalian pulang, karena jika kalian mencoba membujuk tuan, bisa jadi tuan akan sangat marah." jelas Zyan.
"sudahlah bal, kita harus mengerti tuan Rizal mungkin merasa bersalah, jadi dia ingin menjaga Dery sendiri. sebaiknya kita pulang besok kita bisa kesini lagi," bijak Iwan merangkul pundak Ikbal.
"benar kata Iwan, jika Lo kita biarin disini berdua sama tuan Rizal, sudah pasti kalian akan baku hantam," sahut Roby.
"ck diam kalian, bukannya bantuin gue malah belain Om Om itu lagi, kalian ini sahabat siapa, haahh?" kesal Ikbal.
"cemburunya ditahan dulu, ini dirumah sakit," Reno melirik Ikbal tajam.
"baiklah, aku mengalah sekarang." mengedikan bahu cuek.
__ADS_1
Perdebatan mereka terhenti saat perawat keluar dari ruangan Dery.
Rizal langsung beediri. "boleh saya masuk sekarang?"
"tentu tuan silahkan," perawat itu menunduk sopan lalu pergi.
Ikbal menarik tangan Rizal kasar "stop, aku ingin bertemu Dery sebentar. kau diluar saja!" Rizal hanya diam tidak berniat berdebat dengan anak kecil.
"maafkan dia tuan, dia memang sangat pencemburu," Reno menggaruk kepala yang sebenernya tidak gatal.
"biarkan saja, aku mengerti." menyandarkan tubuhnya di samping pintu. "kalian akan pulang?" tanya Rizal.
"iya tuan, besok kami akan kemari lagi, saya titip Dery, jika ada sesuatu tolong kabari saya," Reno sangat menghormati Rizal, Reno tahu Rizal terkenal kejam dan dingin, tapi melihat Rizal begitu menyayangi Dery, Reno merasa bahagia.
"tentu... hati-hati dijalan." Rizal masuk, saat Ikbal sudah ditarik Iwan keluar.
"awas saja jika kau macam-macam pada Dery, akan ku patahkan tangan mu," teriak Ikbal yang diseret Iwan.
"ckk dasar anak kecil, kelakuan seperti itu bagaimana kau akan menjaga Dery. Mungkin makan saja kau masih disuapi ibu mu." batin Rizal menggelengkan kepala.
"jika saja kau bukan sahabat nona, sudah ku pecahkan kepala mu!!" Zyan bergumam melihat punggung Ikbal dari jauh.
bersambung....
__ADS_1