Janda Judes

Janda Judes
104 Hilang kontak.


__ADS_3

Rizal sudah berada disebuah kamar apartemen dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun.


Seorang wanita sedang menatap Rizal dari ujung kaki hingga kepala.


Kau sungguh sangat gagah sayang, aku merindukan mu. gumamnya sambil melepaskan semua kain yang menempel pada tubuhnya.


Dengan cepat dia menindih Rizal, mencium setiap inci tubuh polosnya.


Meninggalkan jejak kepemilikan dikulit putih Rizal.


Sangat lama, tapi tidak sedikit pun membuat Rizal terpancing, padahal Rizal meracau sejak tadi, tapi yang disebut hanya Dery Dery dan Dery terus.


Dengan wajah kesal wanita itu keluar kamar dengan membanting pintu.


"Brengs*k dalam keadaan tidak sadar saja dia hanya menyebut jal*ng itu."


"Heii ada apa dengan mu? bukankah kau sedang menikmatinya, kenapa malah marah-marah, hmm?" Marco menatap wanita itu, dia bahkan keluar dari kamar tanpa mengenakan kain apapun.


"kau sengaja memancing ku ya?"


"menikmati apanya, dia bahkan tidak menunjukan tanda-tanda akan On, bahkan setelah aku memancingnya berkali-kali." gerutunya kesal.


"hahaha mungkin dia sudah tidak perkasa lagi," cuek Marco. "kemari lah," Marco menepuk kursi disampingnya.


"apa sudah kau foto semua yang aku lakukan tadi," wanita itu duduk diatas pangkuan Marco, menampilkan bongkahan kenyal miliknya didepan wajah Marco.


"tentu saja sudah," wanita itu langsung menyambar bibir Marco dengan sangat rakus, dia sudah tidak lagi bisa menahan gairahnya.


Lagi-lagi mereka melakukan penyatuan, Marco meninggalkan banyak bekas merah ditubuh wanita itu.


Lalu mengangkatnya masuk kedalam kamar sebelum pergi.


Saat akan beranjak wanita itu menarik tangan Marco, "aku ingin lagi sayang, lakukan saja disini," bisiknya.


Mereka berdua melakukan itu lagi, tidak peduli dengan keberadaan Rizal disamping mereka.


Goncangan kuat diatas tempat tidur ini bahkan sama sekali tidak membangunkan Rizal.


Setelah puas Marco beranjak pergi meninggalkan Rizal dengan wanita ini yang sudah terlelap karena kelelahan.

__ADS_1


.


Dirumah Dery terus saja mencoba menghubungi Rizal, ponselnya aktif tapi tidak sekalipun Rizal mengangkat telepon darinya, bahkan pesan yang dikirimkan Dery juga tidak dibalas.


kak Rizal kemana sih, tumben sekali dia tidak ada kabar begini.


Dery tidak bisa tidur sepanjang malam karena khawatir dengan Rizal.


Joe dan Zyan juga tidak kalah paniknya, mereka berulang kali menghubungi bosnya itu tapi tidak satupun dijawab.


"apa kau sudah dapat kabar dari tuan Joe?" Zyan menjatuhkan diri disofa samping Joe.


Joe hanya menggeleng, sambil terus menatap layar ponselnya.


"kita tidak mendampinginya sehari saja tuan sudah menghilang," Zyan mengurut pelipisnya.


Hingga keesokan harinya..


Rizal masih belum bisa dihubungi. Dery sampai datang kekantor Rizal saking khawatirnya.


"Joe, dimana kak Rizal?" Dery sudah masuk kedalam ruangan Rizal.


"dimana kak Rizal Joe, sejak kemarin dia tidak bisa dihubungi, apa dia marah padaku?"


"saya kira tuan bersama mu nona," Dery membelalakkan mata.


"maksud mu? apa kak Rizal juga tidak menghubungi kau dan Zyan?" Joe mengangguk.


"kemarin kami ditugaskan oleh tuan untuk mengurusi semua keperluan pernikahan tuan dan nona, sampai malam saat kita kembali kerumah tuan tidak ada dirumah nona, kami tidak bisa menghubungi tuan," jelas Joe.


Tap..tap..tap...


Zyan masuk dengan wajah kesal.


"Joe kemarin tuan meeting diluar kant...." Zyan menghentikan kalimatnya saat melihat Dery ada disana. "nona?"


"lanjutkan bicara mu Zy," tegas Dery.


"emm itu nona, kemarin sore tuan meeting diluar kantor, di resto XXX, tuan sendiri yang kesana karena sekertaris tuan juga diperintahkan untuk membantu persiapan pernikahan tuan dan nona," Zyan menjelaskan semuanya.

__ADS_1


"aku sudah mengutus orang untuk mencari tuan, nona" Zyan menunduk, dia bisa melihat dengan jelas Dery sangat mengkhawatirkan Rizal.


.


Dilain tempat...


Rizal merasakan kepalanya sangat pusing, dia mengerjapkan mata berkali-kali, merasakan tubuhnya sangat dingin.


Rizal membuka matanya, melihat sekeliling yang nampak tidak asing baginya.


Rizal terkejut bukan main saat dirinya berada dalam pelukan wanita yang sangat dia banci.


"kau?" Rizal melompat dari tempat tidur, meraih baju dan celananya.


"heii sayang kau sudah bangun?" wanita itu duduk menatap Rizal yang sedang mengenakan pakaiannya.


"apa yang kau lakukan jal*ng," teriak Rizal.


"hahaha, apa kau lupa, semalaman kau menggempur ku dengan sangat brutal sayang, lihat ini," wanita itu bangkit tanpa rasa malu menunjukkan tubuh polosnya yang penuh dengan tanda merah.


"ini semua perbuatan mu, kau tidak pernah berubah, kau sangat tangguh," wanita itu memeluk Rizal erat.


"lepaskan, aku tidak mungkin menyentuh wanita seperti diri mu setelah apa yang kau lakukan dulu," mendorong wanita itu menjauh.


"tapi kenyataannya kau yang datang kemari dan memaksa ku melayani mu, apa kau lupa semua itu?" meski marah wanita itu mencoba menahannya.


"aku tau kau masih mencintaiku, dan kau akan datang kemari, karena itu aku tidak pernah meninggalkan apartemen ini sayang." Rizal menggeleng berulang kali.


"aku sudah tidak pernah bernafsu pada wanita manapun kecuali Dery calon istri ku." lantang Rizal mengucapkan kalimatnya. Lalu berjalan cepat keluar dari tempat terkutuk itu.


Setelah kepergian Rizal wanita itu tersenyum puas,


kau hanya milik ku, selamanya akan menjadi milik ku Rizal.


Didalam mobil Rizal mengacak rambutnya, berkali-kali menarik kuat rambutnya, mengutuki dirinya sendiri bagaimana dia bisa tidur dengan wanita licik itu. Dia mengkhianati Dery.


Tanpa sengaja Rizal melihat dadanya yang masih terbuka, matanya terbelalak melihat banyaknya tanda merah disana.


Brengs*k, aku yakin ini semua hanya jebakan. Wanita licik itu awas saja kau.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2