Janda Judes

Janda Judes
124 Rumah Sakit.


__ADS_3

Hampir lima jam perjalanan yang ditempuh Marco untuk membawa Dery pergi jauh dari Rizal.


Hingga akhirnya dia memutuskan untuk singgah diwilayah pinggiran kota yang tidak terlalu ramai.


Marco sudah meyakinkan jika dirinya tidak akan terlacak oleh Rizal dan orang-orangnya.


Marco menyewa villa kecil dipinggir desa yang cukup jauh dari rumah-rumah lainnya.


"masuklah, dan jangan coba-coba kabur," bisik Marco.


Dery hanya mengangguk samar.


Ramon terus saja memeluk Dery erat, tubuhnya masih bergetar ketakutan.


"sayang, sudah ya jangan takut lagi, ada Mama disini," Dery mengusap pipi Ramon lembut, saat mereka sudah masuk kedalam kamar.


"Ramon takut Om jahat Ma,"


"tenang sayang, Mama pasti jagain Ramon,"


"dimana Papa ma? kenapa papa gak jemput kita,"


"ekhem.." Marco sudah berdiri diambang pintu, Dery hanya meliriknya sekilas.


"Papa mu sudah bahagia dengan istri barunya sayang, jangan lagi mengharapkan dia." kalimat yang keluar dari mulut Marco sukses membuat hati Dery nyeri.


"Marco..." ketus Dery.


"Ramon masih kecil, dia tidak pantas mendengar ini semua,"


"apa salahnya sayang, dia harus tahu kan jika papa nya itu sudah memiliki istri lagi." Marco sudah berbaring diatas tempat tidur.


"keluarlah co, aku ingin menidurkan Ramon, kasian dia sangat lelah,"


"Ramon, sini sayang sama Om," Ramon hanya diam menatap Marco lekat, "Om bukan orang jahat, yang menyelamatkan dirimu tadi kan Om, apa kamu lupa?"


Ramon mengangguk, "terima kasih sudah menolong ku Om," dia berjalan mendekati Marco lalu memeluknya.


Melihat Ramon memeluk Marco seperti itu membuat dery bertanya-tanya.


Marco menyelamatkan Ramon? bukannya dia yang menyekap Ramon tadi?. batin Dery.


Dery hanya duduk di sofa tidak jauh dari ranjang itu. Terus menatap Ramon yang mulai terlelap di pelukan Marco.


Marco hanya tersenyum melihat Dery yang menatap heran padanya.


Tidak lama Ramon sudah tidur dengan pulas nya. Marco perlahan turun dari tempat tidur dan menghampiri Dery yang menyandarkan kepalanya pada sofa.


"sayang," belaian tangan Marco mengagetkan Dery.


"Marco.." Dery berusaha menjauh dari Marco.


"kenapa kamu tidak lagi memanggil ku dengan sebutan mas lagi, hmm?"


Dery hanya diam menatap Marco yang berusaha mendekatinya.


"panggil aku mas, sayang, aku rindu panggilan itu,"


"Marco aku mohon, jangan seperti ini, aku bukan lagi istri mu," wajah Dery berubah pias saat Marco mengungkung tubuh kecilnya.


"aku merindukan mu," terlihat jelas jika Marco sudah bergairah saat ini.

__ADS_1


"lepaskan aku," Dery memejamkan mata, "aku mohon,"


Tidak memperdulikan Dery yang mulai bergetar takut, Marco tetap ******* bibir Dery yang tidak bisa bergerak dibawahnya.


Marco mulai menyusuri rahang dan leher Dery dengan rakus.


"aku mohon mas," Dery mulai terisak.


"aku merindukan mu sayang, kembalilah pada ku," bisik Marco tepat ditelinga Dery.


"Ak..aku akan kembali padamu, tapi tolong jangan menyentuh ku,"


Marco mengangkat kepalanya, menatap mata Dery dengan intens.


"kenapa?" suara Marco berubah mencekam.


"ka..karena aku sedang mengandung saat ini," Dery menarik nafas dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. "dan aku tidak bisa berhubungan dulu sebelum anak ini lahir mas,"


Berhasil, kalimat Dery sukses membuat Marco melepaskan kungkungannya.


"kenapa harus sampai anak itu lahir?"


"karena kandungan ku sangat lemah, kau bisa mencari wanita lain untuk memuaskan mu, tapi aku mohon setidaknya kasihanilah anak dalam kandungan ku mas," Dery sengaja mengiba pada Marco, bagaimana pun caranya dia tidak ingin sampai Marco menyentuhnya.


"aku tidak akan menyentuh mu..." Dery sudah sedikit bernafas lega. "tapi aku harus tahu apakah ucapan mu itu benar atau tidak."


Marco menarik Dery keluar, dia ingin membawa Dery pergi kerumah sakit dan memeriksa kan kandungannya.


"kalian berdua jaga Ramon, jika dia bangun bilang aku dan Dery sedang ke rumah sakit," titah Marco.


"baik tuan."


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Dery berfikir keras, dia harus bisa membuat Marco mempercayainya.


Antrian didokter kandungan tidak banyak, setelah cukup lama akhirnya giliran Dery yang masuk.


Untunglah Marco tidak diperkenankan masuk saat Dery diusg.


untunglah dokter itu membaca kertas yang aku titipkan pada suster tadi. terima kasih Tuhan. batin Dery.


Saat didalam ruangan dokter itu bertanya pada Dery,


"nyonya, kenapa anda tidak ingin suami Anda ikut masuk kemari?"


Dery hanya tersenyum, "dokter bolehkah aku meminta bantuan mu,"


"tentu saja nyonya, katakan saja, jika aku bisa aku pasti membantu mu,"


"tolong katakan pada pria diluar, jika kandungan ku lemah dan sampai aku melahirkan, aku tidak bisa melakukan hubungan itu.."


Dokter itu masih mencerna kata-kata Dery, "maksud nona hubungan intim?"


"i..iya dokter, aku mohon," Dery memohon dengan wajah lesu.


"apakah pria diluar itu bukan suami nyonya?"


lebih baik aku ceritakan pada dokter ini saja siapa tahu dokter ini bisa membantu ku.


"dia menculik ku dan putra ku dok, tolong bantu aku dok, setidaknya agar aku tidak harus melayani nya."


"kenapa nona tidak lapor pada polisi?"

__ADS_1


"aku tidak bisa dok, putra ku akan dalam bahaya jika aku melapor pada polisi,"


"baiklah aku akan membantu nyonya"


"apa aku boleh meminta bantuan dokter satu kali lagi?"


"tentu nyoaya,"


'boleh aku minta kertas dan pulpen?"


"ini nyonya," seorang suster menyerahkan kertas dan pulpen pada Dery.


Lalu Dery menuliskan nomor ponsel Rizal, dan juga Joe. Hanya dua nomor itu yang dia hafal.


"setelah aku pergi nanti, tolong hubungi nomor ini, katakan pada nya jika aku datang kerumah sakit ini bersama pria bernama Marco. aku mohon tolong aku dokter, suster,"


"baiklah nyonya, aku akan membatu mu," Dery memeluk dokter itu, semoga dengan cara ini Rizal bisa menemukan dimana dia berada sekarang.


"terima kasih banyak dokter, aku akan mengingat selalu bantuan dari mu ini."


"kita sesama perempuan harus saling membantu kan nyonya, sekarang mari kita keluar, aku akan membuat pria itu yakin jika nyonya tidak bisa melayaninya."


Dery tersenyum senang.


Terima kasih Tuhan, ternyata di dunia ini masih banyak orang-orang baik, yang mau membantu kesulitan orang lain.


Dokter itu tampak tenang menghadapi Marco, dia tidak terlihat gugup sama sekali.


"tuan, dengan berat hati aku harus mengatakan ini," dokter itu menarik nafas dalam.


"janin dalam kandungan istri Anda sangat lemah tuan, dan aku sarankan selama masa kehamilan ini jangan melakukan hubungan dulu, karena itu bisa berbahaya bagi janin dan juga akan membahayakan nyawa istri Anda."


Marco tampak sangat terkejut dengan penjelasan dokter wanita ini.


Jadi benar, Dery sedang mengandung anak Rizal, dan dia tidak bisa aku sentuh.


"maksud dokter bisa berbahaya untuk nyawa istri saya?"


"ini hasil usg kandungan istri Anda tuan, dari sini kita bisa lihat jika rahim istri Anda sangat lemah, jika tuan memaksakan melakukan hubungan intim, maka nyonya bisa mengalami pendarahan dan jika itu terjadi kesempatan nyonya untuk selamat akan sangat kecil tuan."


Dery bernafas lega, setelah mendengar penjelasan dari dokter itu, Marco terlihat sangat iba padanya.


aku tidak mau kehilangan mu Dery, aku pastikan kamu dan anak dalam kandungan mu akan baik-baik saja. batin Marco.


"berikan obat apapun untuk memperkuat kandungan dan janin dalam rahim istri saya dokter,"


"tentu saja tuan, kami akan memberikan yang terbaik untuk istri Anda." dokter itu menuliskan resep obat lalu menyerahkannya pada Marco.


"Anda bisa menebus ini diapotek, minumlah dengan teratur ya nyonya,"


Dery tersenyum hangat pada dokter itu, "terima kasih dokter,"


Dan dibalas anggukan dari dokter itu.


Marco memerintahkan pengawal nya untuk menebus obat Dery diapotek, dia sendiri membawa Dery kembali ke villa. Dia tidak ingin Dery kelelahan.


Semoga dokter itu bisa menghubungi Rizal,


bersambung...


jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan vote ya dear..

__ADS_1


love yuuu ❤❤❤


__ADS_2