Janda Judes

Janda Judes
42 Kesempatan 4


__ADS_3

Rizal Arandra Putra dengan segala kekayaan dan kekuasaannya, sangat mudah dia menghilangkan semua petunjuk tentang keberadaan Dery.


Ya Rizal lah orang yang menyembunyikan Dery. Membuat rencana agar Dery bisa jauh dari Marco, terlepas dari segala beban yang Marco berikan selama Dery menjadi istrinya.


Entah apa yang mendorong Rizal begitu menginginkan kebahagiaan untuk Dery. Yang dia tau, Dery tidak pantas hidup dibawah tekanan Marco. Bukan bermaksud mengkhianati persahabatannya dengan Marco, tapi di hatinya terselip rasa penyesalan yang selalu menghantui.


Penyesalan karena telah menjatuhkan wanita sebaik Dery kedalam dekapan pria seperti Marco, padahal dia tahu, Marco tidak akan bisa berubah, dia sangat senang mempermainkan wanita, mencengkram sekuat mungkin agar wanita yang dia inginkan tidak pergi darinya. Meskipun Marco sangat mencintai wanitanya, cinta itu juga yang membuat wanitanya terluka. Tidak akan bisa hidup dengan hanya satu wanita disisinya.


Siang ini asisten pribadi Rizal memberi kabar jika Dery sudah diijinkan pulang oleh dokter, "Dery sudah boleh pulang, lebih baik aku jemput dia sendiri," Tanpa pikir panjang Rizal meninggalkan semua pekerjaannya.


Saat baru keluar dari lift, tanpa sengaja Rizal berpapasan dengan Marco.


"hei bos, mau kemana buru-buru banget, ini kan masih siang?" tanya Marco.


"aku ada urusan penting, kamu sendiri mau kemana? apa pekerjaan mu sudah selesai?" Rizal berhenti sejenak.


"kenapa akhir-akhir ini kamu sangat sibuk diluar kantor bos, tidak pernah mengajak aku lagi," Marco merasa ada yang Rizal sembunyikan darinya.


"aku hanya ingin sendiri dulu, terlalu banyak pekerjaan membuat kepala ku pusing. Sudahlah aku pergi dulu, jika kamu tidak punya pekerjaan disini, tolong cek kantor cabang, sepertinya disana sedang ada sedikit masalah." selesai bicara Rizal meninggalkan Marco tanpa mau mendengar jawabannya.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Rizal terus sibuk memberi perintah pada orang-orang kepercayaannya agar membuat Marco sibuk dikantor cabang.


"jangan sampai Marco mengetahui jika Dery ada bersama ku," batinnya


Jika Marco tau Dery ada bersama Rizal hilang sudah kesempatan untuk menjauhkan Dery dari Marco, bisa-bisa Marco akan lebih gila dari sebelumnya.


Ingatan Rizal kembali pada saat istri pertama Marco yang akhirnya meninggal karena bunuh diri, merasa sudah tidak sanggup hidup dengan pria kasar seperti Marco membuatnya berpikir kematian lebih baik daripada harus hidup dengan rasa sakit.


****


Dirumah sakit, sudah tiga puluh menit Dery berdiri menatap keluar jendela. Hingga tidak menyadari jika Zyan asisten pribadi Marco sudah berdiri dibelakangnya.


"apa yang Anda pikirkan nona?" suara berat Zyan mengagetkan dirinya.


"ck, bisa tidak memanggil ku dengan nama saja," Dery berbalik menatap Zyan dengan wajah kesalnya.


"hahaha memangnya kenapa? tidak salahkan kau pantas dipanggil nona," Zyan hanya mengedikkan bahu cuek.

__ADS_1


"sekali lagi kau panggil aku nona, aku pastikan kulit putih mu itu akan memerah," mendelik dengan bibir manyun.


Melihat Dery seperti itu Zyan menjadi gemas "oh nona pantas saja tuan Rizal kekeh ingin membantu kamu, lihat, kamu itu sungguh menggemaskan." salah tingkah sendiri.


"kembali ke pertanyaan ku, der, apa yang sedang kamu pikirkan?" kembali bertanya.


"tidak ada, aku hanya merasa sedikit aneh di kepala ku," Dery duduk bersila di atas ranjang.


"maksud mu? apa kamu merasa sakit? mau aku panggilkan dokter?" kepanikan nampak jelas terlihat di wajah Zyan.


"tidak sakit, hanya saja setelah kejadian aku lompat dari mobil Marco, kenapa aku sering mimisan, apa itu wajar?" menunjukkan banyaknya tissue bekas bernoda darah dibawah ranjangnya. "lihat pagi ini saja sudah dua kali mimisan, apa karena aku stres?"


"aku panggilkan dokter ya, dokter akan lebih mengerti apa yang terjadi pada mu," saat akan berjalan keluar ruangan, Dery menghentikan langkah Zyan.


"kalau kamu keluar dari sini, aku bisa diculik lhoo, apa kamu tidak takut? sudah lah aku tidak merasa sakit, mungkin hanya karena lelah dan stres saja," Dery tersenyum santai.


"kenapa kamu menyebalkan sekali, kau yang mengeluh kau juga yang tidak ingin di periksa." kembali duduk di sofa dengan menyilangkan kaki.


"apa yang kalian bicarakan? mengeluh soal apa?" tanya Rizal yang baru saja masuk, langsung duduk di samping tempat tidur Dery.


"tidak ada aku hanya bosan saja, seminggu ini berada didalam kamar terus." menyela sebelum Zyan menjawab pertanyaan Rizal.


"benarkah? aku bisa pulang?" tercetak senyum dibibir Dery. "tapi aku pulang kemana, bahkan aku tidak punya tempat untuk pulang," Dery tertunduk senyum yang baru saja dilihat Rizal menghilang seketika.


"sudahlah ikut saja, kau akan tau dimana tempat mu pulang. Berbahagialah lanjutkan hidup mu, jangan biarkan kebaikan mu dimanfaatkan orang lagi." Rizal sudah menggenggam tangan Dery, menuntunnya keluar dari rumah sakit, diikuti Zyan dan tiga pengawal lain.


Didalam mobil, Dery yang terus saja melihat keluar jendela tidak menyadari jika sejak tadi Rizal terus memperhatikan dirinya.


"kau harus berubah der, jangan terlalu baik pada semua orang. Tidak semua orang sebaik yang kamu pikirkan. mungkin selama ini kamu dikelilingi sahabat serta keluarga yang menyayangi mu, tapi diluar sana banyak orang yang ingin memanfaatkan mu." batin Rizal.


"apa yang kak Rizal pikiran? kenapa melamun?" tanya Dery lembut,


"nanti kamu juga tau" Rizal menyandarkan kepalanya.


"Ok baiklah" ikut menyandarkan kepala. "apa perjalanan kita akan memakan waktu lama? aku mengantuk," membenarkan posisi duduknya.


"tidurlah perjalanan kita lumayan panjang," jawab Rizal singkat.

__ADS_1


Tak berselang lama Dery sudah terlelap, wajahnya begitu tenang. Melihat Dery terlelap dengan nyamannya, Rizal juga merasa mengantuk. Belum lama memejamkan mata, sopirnya tiba-tiba mengerem mendadak hingga membuat Dery terbentur pelan dipundak Rizal.


"tidak bisakah kau menyetir dengan benar." Rizal mendengus kesal, menahan suaranya agar tidak berteriak.


"maaf tuan, mobil didepan tiba-tiba berhenti,"


Saat akan membenarkan posisi Dery, Rizal melihat tangannya ada darah segar. "darah apa ini?" batinnya.


Hingga Rizal menyadari darah itu keluar dari hidung Dery, kepanikan terlihat jelas di wajah Rizal dan juga Zyan yang melihat darah dikemeja Rizal.


"tuan berdarah?" Zyan panik. "apa tuan terluka?"


"bukan aku, tapi Dery, meraih tissue." Rizal mengusap darah di wajah Dery.


"kenapa hidung Dery bisa berdarah sebanyak ini," bisiknya, Dery masih saja terlelap tidak terganggu dengan sentuhan Rizal.


"apa perlu kita kembali ke rumah sakit tuan?" usul Zyan.


"tidak, kita sudah hampir sampai villa, sebaiknya kamu hubungi dokter suruh datang ke villa." perintah Rizal.


Saat sampai dihalaman villa, Rizal mencoba membangunkan Dery, "apa dia pingsan kenapa susah sekali dibangunkan" Rizal sudah dibuat panik bukan main.


Zyan pun ikut panik melihat Rizal.


"Zy siapkan kamar lantai bawah, suruh pelayanan menyiapkan obat, biar aku yang angkat Dery kedalam, apa dokter sudah sampai?" teriak Rizal.


Rizal baru akan membuka pintu mobil Dery malah sudah bangun,


"apa sudah sampai?" pertanyaan Dery membuat Rizal dan Zyan melongo kaget.


"kalian kenapa? apa ada masalah?" Dery kebingungan melihat dua orang didepan nya malah saling melempar pandangan.


"kau ini tidur atau pingsan, membuat orang panik saja," Rizal kesal tapi tidak bisa marah. Jika orang lain yang seperti itu pasti akan dihajar oleh Rizal. "ayo masuk, apa mau aku bawakan kursi roda?" lanjut Rizal.


"aku tidak lumpuh" berlari menuju villa.


Zyan yang melihat senyum di wajah bos nya begitu heran, Rizal yang terkenal dingin dan kaku, bisa begitu lepas tertawa dan bercanda dengan Dery. Hanya dengan Dery saja.

__ADS_1


*cerita ini hanya fiktif* semoga kalian suka ya dear 🙏🙏❤❤ jangan lupa like dan komen


__ADS_2