Janda Judes

Janda Judes
165


__ADS_3

Sudah Di rumah sakit,


Beberapa Dokter wanita sedang sibuk memeriksa keadaan istri pemilik rumah sakit.


Dokter Ilham yang tidak diijinkan masuk hanya bisa menunggu diluar bersama Rizal.


Usia kandungan Dery yang baru menginjak delapan bulan membuat Rizal panik bukan main. Bagaimana jika istrinya akan melahirkan sekarang, apa itu tidak akan membahayakan anak dan istrinya, begitulah kekhawatiran Rizal saat ini.


Seorang dokter wanita keluar dari ruang tindakan menemui dokter Ilham.


Wajah dokter Ilham berubah tegang setelah mendengar penjelasan dari dokter wanita itu.


Rizal yang tidak paham apa yang sedang dibicarakan Ilham dan juga dokter wanita itu, hanya bisa menunggu dengan wajah cemas.


Ilham menghampiri Rizal yang sudah tidak sabar menunggu kabar tentang keadaan sang istri, "Tuan, sepertinya kita memang harus melakukan operasi sekarang,"


Deg


Rizal nampak terkejut, "tapi Ham, kau tahu kan usia kandungan istri ku belum genap delapan bulan," ucap Rizal panik.


"tapi air ketuban sudah pecah tuan, kita tidak punya pilihan lain,"


"bagaimana bisa? tadi pagi dia masih baik-baik saja ham," seru Rizal tidak percaya.


"dari penjelasan dokter kandungan tadi, pemicu air ketuban nona pecah karena benturan, tuan," penjelasan Ilham sukses membuat Rizal melongo tidak percaya.


Bagaimana bisa istrinya bisa mengalami benturan, tapi dirinya sama sekali tidak tahu.


"lakukan semua yang terbaik, selamatkan istri dan juga baby ku," dengan wajah tertunduk Rizal menyetujui operasi untuk istrinya.


Dokter Ilham mengangguk lalu bergegas menyiapkan semua kebutuhan operasi Dery.


Sedangkan Rizal menerobos masuk kedalam ruang rawat sang istri.


Melihat Dery yang begitu pucat dengan keringat terus mengalir membuat Rizal ikut bergetar takut.


Dia bahkan bisa merasakan perutnya terasa berdenyut berkali-kali, entah apa sebabnya.


Dery menatap lekat wajah sang suami, nampak jelas gurat kekhawatiran diwajah tampannya. "sayang..." bisik Dery lembut.


Rizal yang sejak tadi hanya melamun menatap Dery, terkejut saat sang istri menggoyangkan lengannya pelan.


"ya sayang, kau butuh sesuatu," kini Rizal mengusap lembut pipi Dery, sambil menggenggam tangannya erat.


"aku dan baby kita akan baik-baik saja sayang, jangan khawatir," Rizal hanya tersenyum, lalu menyembunyikan wajahnya di dada sang istri.


Ditengah kesakitan mu saja, kau bisa menenangkan ku sayang....

__ADS_1


"maafkan aku, karena kecerobohan ku membuat keadaan semakin sulit," sambung Dery lagi. Rizal mendongak menatap netra Dery penuh kasih sayang.


"tidak sayang... kamu sudah sangat baik menjaga baby kita," Rizal mengecupi seluruh wajah Dery. "seharusnya aku juga menjaga mu kan, tapi aku masih saja sibuk dengan pekerjaan ku," Dery menggeleng mendengar penuturan Rizal.


"apa sahabat ku sudah datang?" Dery mencoba mengalihkan pembicaraan.


"aku merindukan mereka," sambungnya.


Rizal menegakkan tubuhnya, "sayang, kondisi mu seperti ini tapi kau malah merindukan sahabat gila mu itu," kesal Rizal.


"apa suami ku ini masih cemburu dengan ketiga sahabat ku, hmm?" goda Dery.


"aku tidak akan cemburu dengan anak bau kencur seperti mereka," dengus Rizal langsung memeluk Dery sambil mengusap-usap perut sang istri. Jika sudah seperti itu, Dery hanya bisa menghela nafas panjang.


Tuan muda ini selalu saja cemburu berlebihan dengan trio kudanil itu. gumam Dery


.


Diluar ruang rawat...


Iwan dan Roby baru saja tiba, disambut oleh Zyan yang sejak tadi berdiri didepan pintu.


Sedangkan Marco yang juga berdiri disamping Zyan langsung mendapatkan tatapan tidak suka dari Roby dan Iwan.


"kau..." Roby berdiri tepat didepan Marco. "kenapa kau disini? jangan coba-coba sakiti Dery atau aku akan membuat mu menyesal seumur hidup," sentak Roby, Iwan yang berdiri dibelakang Roby terus menatap Marco dengan tatapan membunuh.


"dia tidak akan berani menyentuh nona, kalian tenang saja," sahut Zyan tegas.


Jika Ikbal melihat si brengs*k ini disini, bisa dipastikan akan terjadi baku hantam. batin Roby.


Tidak lama Daniel datang bersama dengan Ramon, lalu mereka diijinkan masuk kedalam ruangan Dery kecuali Zyan dan Marco tentunya.


"Ijah.. aku merindukan mu.." seru Iwan saat baru masuk, membuat Rizal langsung mendelik tidak suka.


"jaga sikap mu," ketus Daniel begitu menyadari sang kakak terlihat begitu kesal.


"diam kau, jangan ikut campur," sentak Iwan tidak mau kalah.


"kau..." Daniel sudah hampir melayangkan tinjunya, tapi ia urungkan saat mengingat bagaimana kemarahan Rizal tempo hari saat dia menghajar Marco didepan kakak ipar.


Cih


Daniel hanya berdecih kesal, lalu menjatuhkan diri diatas sofa.


"dimana Ikbal?" tanya Dery.


"entahlah, dia belum membalas pesan ku," jawab Roby yang kini sudah duduk disamping Dery.

__ADS_1


"sayang... lupakan pria itu, disini sudah ada mereka berdua jadi tidak perlu pria tengil itu juga kan," Rizal melirik kesal pada Iwan dan juga Roby bergantian.


Dia masih saja cemburuan. gumam Iwan


"tutup mulut mu!" ketus Rizal.


Eh! apa dia mendengar ku? Iwan.


"aku tahu apa yang ada dalam pikiran kalian!" sambung Rizal.


Roby dan Iwan hanya melongo, dengan pikiran mereka masing-masing.


"sayang, apa tidak bisa kau bersikap manis sedikit saja dengan sahabat ku," Rajuk Dery.


Sebelum Dery menyelesaikan kalimatnya, dari luar ruangan terdengar keributan yang membuat Daniel, Iwan dan Roby panik.


Itu suara Ikbal. bisik Roby pada Iwan.


Dengan langkah cepat mereka keluar dari ruang rawat Dery, dan mendapati Ikbal sedang menghajar Marco, sedangkan Zyan berusaha memisahkan mereka.


"hentikan!" bentak Daniel dengan suara lantang. "apa yang kau lakukan, haahh," dengan kasar dia menarik Ikbal menjauh dari Marco.


"jika kau membuat keributan disini, lebih baik kau pergi," sambungnya.


"bagaimana kalian bisa membiarkan pria brengs*k itu ada disini, bagaimana jika dia berusaha membahayakan Dery." sungut Ikbal tak mau kalah.


"tutup mulut mu itu," sentak Daniel. "jika kau ingin disini diam dan jangan buat keributan atau kau pergi sekarang juga." Melihat kilatan kemarahan Dimata Daniel, Roby langsung menarik Ikbal masuk kedalam ruang rawat Dery.


Jangan macam-macam disini, dia tidak akan menyentuh Dery. bisik Roby.


Akhirnya Ikbal menurut, dan mengikuti langkah Roby menemui Dery yang terbaring diatas brankar.


Ikbal yang melihat Dery tersenyum padanya, langsung menghambur duduk disamping Dery, tanpa memperdulikan keberadaan Rizal.


"Ijah...." Ikbal mengusap-usap punggung tangan Dery dengan lembut.


"sudah sangat lama kita tidak bertemu, aku benar-benar merindukan mu," mendengar kalimat yang diucapkan Ikbal membuat Rizal tersulut emosi.


Beruntung sebelum Rizal semakin emosi dokter Ilham sudah masuk bersama dengan beberapa perawat dan dokter wanita.


"aku juga merindukan kalian..." ucap Dery lirih. Dengan melihat ketiga sahabatnya membuat Dery lebih tenang dan lega.


"nona harus dibawa ke ruang operasi sekarang, tuan," ucap dokter Ilham, Rizal hanya mengangguk.


"aku akan mendampingi istri ku selama diruang operasi,"


Kekhawatiran dan tegang terlihat jelas diwajah semua orang yang berada di sana.

__ADS_1


Ikbal......


bersambung......


__ADS_2