Jodohku

Jodohku
Episode 10


__ADS_3

Pagi ini aku berangkat ke kantor. Ada dokumen penting yang harus aku tanda tangani. Rizal sudah mempersiapkan berkas-berkasnya. Setelah itu kami siap ke lokasi perumahan baru yang siap kami garab. Dengan sigap Rizal membantuku. Sedangkan Khansa sudah masuk ke sekolah juga. Sebelum berangkat dia izin pulang malam karena harus ke kampus.


Pekerjaan yang melelahkan, namun syukurlah, perumahan yang kami garap sekarang sudah berkembang pesat. Semua itu berkat kerja kerasku, hehehe, bolehlah sombong sedikit. Hiburku selama ini setelah sekian lama patah hati karena Maria, dan harus menikah dengan wanita yang tak kucinta Khansa. Tak terasa, hari sudah menjelang siang.


"Zal, yuk makan," ajakku pada asistenku.


"Maaf bos, tadi istriku bawain bekal. Sayang kalau nggak dimakan. Mana masaknya pakai cinta lagi," jawab Rizal sambil ketawa. Jujur ada rasa cemburu menelusup didada ketika menyebutkan istri, apalagi dengan cinta. Sampai saat ini aku belum bisa mencintai Khansa.


"Saya langsung balik ke kantor ya bos, mau makan bekel buatan istri tersayang," pamit Rizal padaku. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Akupun melangkah pergi dari proyek. Segera kulajukan mobilku ke arah rumah makan betawi. Segera aku turun menuju sebuah meja dibawah saung. Rumah makan betawi ini penuh dengan saung sehingga nuansa pedesaan begitu terasa. Seorang pelayanan mendekatiku memberikan daftar menu.


"Soto daging 1 sama jus jeruk 1 ya mbak," ucapku.


"Baik pak, ada lagi?" tanyanya lagi.


"Cukup itu saja," ucapku. Pelayan itupun berlalu dariku. Sambil menunggu pesanan datang, akupun berselancar dengan gawaiku. Sesekali menikmati taman yang indah. Tiba-tiba mataku menangkap seseorang yang sepertinya aku kenal. Kuperhatikan dengan seksama seseorang yang duduk di saung pojok bersama gadis kecil dan seorang laki-laki. "Astaga, bukankah itu Khansa," gumamku.


Aku mengepal menahan amarah. Darah ini rasanya sudah mendidih. Bagaimana mungkin Khansa yang kelihatannya alim itu bersama seorang laki-laki. Walaupun aku melum bisa menerimanya sebagai istri, tapi dada ini berdesir bila melihatnya bersama laki-laki lain.


Seorang pelayan sudah membawakan pesanan yang aku pesan.


"Selamat makan pak," ucapnya dengan ramah.


"Terimakasih," jawabku. Tadi perutku terasa keroncongan, tapi tiba-tiba setelah melihat Khansa selera makanku hilang. Segera ku teguk jus jeruk dan kumakan sedikit soto daging dihadapanku. Kuletakkan 2 lembar uang merah di atas meja dan akupun segera berlalu.


*****


"Sudah pulang Arkan?" tanya papi.


"Iya pi, lagi nggak enak body," jawabku berbohong.


"Mana mami?" tanyaku.


"Mamimu sama mang Yusuf ke bandara untuk menjemput Maria dan anak-anaknya," jawab papi.


"Maria mau tinggal disini?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Iya, untuk sementara mereka akan tinggal disini sampai mereka menemukan apartemen yang cocok," jawab papi.


"Papi nggak ikut ke bandara?" tanyaku lagi


"Nggak, lagi nggak enak body," jawab papi. Aku tahu papi berbohong dengan mengatakan tak enak body. Papi selama ini tidak menyukai Maria.


*****


Malam menjelang, tapi Khansa belum juga pulang. Entah kemana dia. Pagi tadi dia izin setelah pulang dari sekolah akan ke kampus. Tapi nyatanya tadi siang malah pergi dengan seorang laki-laki. Ada rasa khawatir dan juga marah. Bagaimanapun juga dia istriku. Tak seharusnya dia seperti itu.


Aku duduk sendiri dalam kamar. Terdengar suara riang Zea dan Zio dari bawah. Mami sangat senang dengan kehadiran mereka. Ada Maria juga. Dia terlihat cantik dan seksi. Maria kesini bersama kedua anaknya. Sedangkan kak Kevin masih di Australia.


Tok


Tok


Tok


"Siapa?" tanyaku.


"Maria," jawabannya.


"Ada apa?" tanyaku


"Mami memintamu turun untuk makan. Arkan, kamu masih seperti dulu. Tak berubah, " ucapnya.


"Baik, aku akan segera turun, " ucapku.


*****


Di meja makan mami begitu senang bisa makan sambil ngobrol dengan Zea dan Zio. Sedangkan papi hanya terdiam. Sesekali aku menatap Maria, wanita yang pernah menghiasi hatiku namun juga yang telah menorehkan luka yang mendalam.


"Assalamu'alaikum," salam Khansa yang baru pulang. Dia segera mencium punggung tangan mami, papi, dan tanganku.


"Wa'alaikumsalam," jawabku, mami, dan papi.

__ADS_1


"Khansa, kenalin ini Maria," ucap mami. Khansa dan Maria saling bersalaman.


"Ini pasti Zea dan Zio ya," ucap Khansa lagi sambil menyalami tangan kedua ponakanku itu.


"Iya tante, tante siapa? " tanya Zea


"Nama tante Khansa. Tante istrinya om Arkan," jawab Khansa sambil tersenyum.


"Ayuk makan Khansa," ucap mami.


"Nanti aja mam, Khansa mandi dulu. Sudah lengket," jawab Khansa. kemudian dia naik ke atas.


*****


"Aku nggak nyangka wanita yang selama ini terlihat alim ternyata munafik," ucapku pada Khansa yang sedang duduk di sofa kamar.


"Apa maksudmu mas? Siapa wanita yang mas maksud?" tanyanya padaku.


"Oh, ternyata nggak nyadar, " sindirku.


"Maksud mas Arkan aku?" tanyanya lagi


"Iya siapa lagi. Emang ada wanita lain disini selain kamu." ucapku sambil menahan amarah.


"Wanita yang sudah bersuami tapi berduaan sama laki-laki lain," lanjutku.


"Berduaan? Aku? mas jangan bercanda," ucapnya


"Lalu siapa laki-laki yang bersamamu tadi siang di rumah makan betawi?" tanyaku dengan nada keras.


"Oh itu, itu ayahnya Nayla. Nayla murid privat aku mas. Tadi sebelum aku mau ngajar Nayla, ayahnya menjemput kami dari sekolah trus mengajakku makan. Setelah itu aku ke rumahnya untuk ngajar," jawab Khansa sambil tersenyum.


"Jika mas Arkan marah, itu artinya mas cemburu ya?" lanjutnya.


"Cemburu, jangan mimpi," ucapku berbohong. Padahal jujur aku tak rela dia bersama laki-laki lain. Di sisi lain aku juga bahagia dengan kehadiran Maria. Apakah aku egois?

__ADS_1


"Iya, mungkin aku hanya berharap mas. Apalagi sekarang ada mba Maria," ucapnya


"Jika mas Arkan tak menginginkan aku sebagai istri dan ingin kembali dengan mba Maria, lebih baik kita berpisah mas. Aku tak ingin kita terperangkap lebih jauh dalam ikatan pernikahan yang tak sehat seperti ini," lanjutnya lagi. Aku hanya terdiam. Jujur, selama ini aku sudah nyaman dengan Khansa yang bawel. Disisi lain aku masih mencintai Maria.


__ADS_2