
Di dalam mobil Lisa merasa mules-mulesnya jadi lebih sering, " Apa getaran mobil membuat kontraksi jadi semakin cepat ya kak?, Lisa merasa mules banget", ucap Lisa mengelus perutnya yang tegang.
" Aduh, padahal kakak sudah menjalankannya dengan sangat hati-hati dan pelan, sabar ya sayang, sebentar lagi sampai", ucap Rafa.
Mobil mereka sampai di rumah sakit, Lisa langsung direbahkan di brankar, dan di dorong oleh dua orang perawat.
" Suster tolong, istri saya mau melahirkan ", ucap Rafa, kemudian Rafa menuju bagasi dan mengambil koper yang tadi sudah disiapkan oleh Lisa mengikuti langkah dua orang suster itu membawa Lisa.
" Untung saja bunda sudah menyiapkan semua keperluan untuk cucunya", batin Rafa.
Memang benar, disaat Lisa tidak boleh pergi kemanapun, Bunda yang mendatangi Lisa dan menunjukan beberapa produk perlengkapan bayi yang ada di supermarket miliknya, Lisa dan bunda memilih beberapa pakaian dan perlengkapan bayi yang dibutuhkan saat nanti jabang bayi sudah lahir.
Dokter yang biasa memeriksa dan mengecek keadaan Lisa tiap bulan langsung mengecek keadaan Lisa. " Bagus nyonya, kau kesini sudah bukaan 8, sebentar lagi bayimu akan lahir, sebisa mungkin simpan tenaga anda untuk mengejan nanti saat bukaan sudah penuh, sekarang anda jangan mengejan dulu, kalau bayi mengajak keluar anda harus tetap tahan, tarik nafas panjang dan hembuskan nafas perlahan melalui mulut", Bu Dokter memberi tahu apa yang harus dilakukan.
Lisa mengikuti instruksi dari dokter, meski berulang kali dia merasa perutnya benar-benar mules dan ada dorongan dari dalam untuk mengejan.
" Tahan ya sayang, istighfar, tarik nafas, keluarkan", ekspresi Rafa terlihat panik melihat keadaan Lisa yang sedang kesakitan.
" Dok , bayinya ngajak Lisa pengen mengejan, padahal sudah Lisa tahan Dok", ucap Lisa sambil terus menarik nafas panjang dan membuangnya lewat mulut sesuai instruksi bu dokter. Lisa juga terus beristighfar seperti yang Rafa katakan.
" Baiklah, coba ibu periksa ya, apa sudah waktunya atau belum", ucap Bu dokter, kemudian melihat bagian intim Lisa.
" Sudah bukaan 9, nunggu sebentar lagi ya, di tahan saja kalau kepengin mengejan, karena kalau mengejan sebelum waktunya bisa membuat jalan lahir menjadi bengkak", Bu dokter menjelaskan.
" Sus, tolong disiapkan perlengkapan untuk bayinya, sepertinya sebentar lagi sudah mau lahir", ucap Bu dokter.
Dua orang suster membantu Bu dokter mempersiapkan perlengkapan bayi yang diambil dari koper Lisa.
" Baiklah Nyonya Lisa sekarang sudah waktunya, sama seperti tadi, tarik nafas yang dalam dan hembuskan secara perlahan lewat mulut, kalau nanti bayinya seperti mendorong pengen keluar, dan anda pengin mengejan lagi, mengejan lah sekuat tenaga, biar bayinya cepet keluar", ucap Bu dokter.
Rafa masih terus berdiri di samping Lisa sambil menggenggam tangan Lisa yang mulai basah oleh keringat.
Benar saja, saat tiba-tiba perut Lisa benar-benar merasa mules dan seperti ada dorongan dari dalam, Lisa mengejan sekuat tenaga.
__ADS_1
" Ayo terus Nyonya, tarik nafas, keluarkan lewat mulut, kalau pengen mengejan mengejan yang kuat", ucap Bu dokter terus mengulang kata-katanya.
Lisa kembali tarik nafas , keluarkan dan mengejan.
" Sedikit lagi Nyonya, sudah kelihatan rambutnya", ucap Bu dokter menyemangati.
Lisa kembali menarik nafas panjang dan saat merasa ada dorongan dari dalam Lisa mengejan sekuat tenaga dan...
" Eeaaaaaa.........!!!!"
" Eeaaaaaa.....!!!"
Tepat pukul 06.20 WIB, terdengar tangisan bayi yang sangat keras, Rafa langsung mengecup kening Lisa dan mengucapkan terimakasih, mereka berdua tersenyum bahagia mendengar tangisan bayi mereka.
" Selamat ya Tuan dan nyonya, sesuai dengan USG, bayi kalian laki-laki, sangat tampan seperti ayahnya", ucap Bu dokter memberi selamat.
***
Di kediaman Rafa semua orang baru sadar jika Rafa dan Lisa belum turun untuk sarapan. Nyonya Meisi menyuruh bi Rumi memanggil Rafa dan Lisa untuk sarapan bersama, tapi saat bi Rumi mengetuk pintu tidak juga ada jawaban, sehingga bi Rumi kembali keruang makan dan menyampaikan jika Rafa dan Lisa tidak menjawab.
" Bi Rumi, panggil pak satpam kesini", seru Nyonya Meisi.
Bi Rumi langsung berlari keluar memanggil pak satpam.
" Iya ada apa nyonya besar? ", tanya pak satpam.
" Apa Rafa dan Lisa keluar dari rumah?", tanya Nyonya Meisi mencari tahu.
" Iya betul Nyonya, tadi pagi-pago sekali, sekitar jam 3 tadi, sepertinya non Lisa mau melahirkan, dia juga titip pesen kalau nyonya nyariin suruh bilang kalau mereka sedang di rumah sakit dan minta do'anya semoga dilancarkan proses persalinannya", ucap pak satpam.
" Terimakasih pak, ya sudah kembali ke pos saja ", Nyonya Meisi berjalan cepat menuju meja makan.
" Ayah, ayo kita ke rumah sakit sekarang juga", ucap Nyonya Meisi pada suaminya.
__ADS_1
" Kenapa Bu?, apa Lisa sudah mules-mules?", tanya Tuan Johan.
" Rafa dan Lisa sudah di rumah sakit, mereka berdua keluar dari jam 3 pagi. Ayo cepat Yah", ucap Bunda.
" Coba di telpon dulu Rafanya, jangan buru-buru seperti itu, tanya Rafa dimana posisinya, kita juga sarapan dulu saja, kasihan bi Ati sudah masakin tapi di tinggal", ucap tuan Johan.
Akhirnya Nyonya Meisi nurut, mereka berdua sarapan terlebih dahulu, sambil berusaha menelepon Rafa, tapi tak juga ada jawaban.
Selesai sarapan kedua orang tua Rafa langsung menuju rumah sakit tempat Lisa biasa kontrol kandungan tiap bulan.
Saat tuan Johan dan Nyonya Meisi sampai di rumah sakit langsung bertanya di resepsionis pasien melahirkan dengan nama Melisa Wulandari. Setelah tahu kamar Lisa ayah dan bunda saling menatap,
" Yah, apa Lisa sakit lagi?, kok sudah dapat kamar saja, ku kira pekerja di resepsionis akan menunjukan pada kita jalan ruang persalinan, tapi ternyata yang diberitahukan ruang rawat inap.
Tuan Johan dan Nyonya Meisi sampai di depan pintu kamar, mengetuknya kemudian masuk.
Pemandangan yang menakjubkan saat melihat Lisa tengah berbaring di kasur dengan perut yang sudah mengecil dan Rafa tengah menggendong bayi montok dengan pipi chubby berwarna merah muda, benar-benar menggemaskan.
" Sayang, apa ini cucu nenek?", tanya Nyonya Meisi menatap Rafa spitcles.
Rafa dan Lisa mengangguk sambil tersenyum mengiyakan.
Nyonya Meisi langsung menghambur pada Lisa dan memeluknya dengan sangat erat ,
" terimakasih sayang, kau sudah berjuang untuk melahirkan cucu pertama kami, sekarang bunda sudah resmi jadi nenek, jam berapa tadi lahirnya?, selamat ya kalian berdua sudah jadi ayah dan bunda sekarang", ucap Nyonya Meisi begitu bahagia.
" Bukan ayah-bunda, tapi Papa-mama, itu maunya kak Rafa, dede bayi manggilnya itu", ucap Lisa.
" Owh,manggilnya mama papa juga bagus", ucap Tuan Johan.
" Mau diberi nama siapa ini cucu kakek?", tanya tuan Johan kemudian mengusap pipi chubby cucunya.
" Sini nenek gendong cucu nenek yang montok ini", nyonya Meisi menggendong bayi Rafa dengan sangat berhati-hati.
__ADS_1
" Sudah berpuluh tahun nggak gendong bayi, jadi kaku gendongnya", tawa nyonya Meisi sambil mencium pipi cucunya berkali-kali.
" Terima kasih nak Lisa, kau sudah berjuang melahirkan cucu kami", ujar ayah sambil tersenyum lega akhirnya dirinya sudah resmi menjadi kakek.