Jodohku

Jodohku
Emosi Bibi


__ADS_3

Taksi yang kutumpangi berhenti di sebuah rumah mewah. Rumah yang membuatku bahagia karena kasih sayang, perhatian dan kebersamaan mereka. Tapi rumah ini juga yang membuatku takut untuk tinggal lebih lama, karena banyaknya rahasia yang tidak ku ketahui yang tersimpan di dalamnya.


"Betul ini rumahnya bu?"


Suara pak supir menyadarkanku.


"Iya pak betul"


Aku pun langsung membuka pintu. Membayar biaya taksi dan kemudian masuk ke dalam gerbang. Penjaga di pintu gerbang tersenyum padaku sambil membukakan pintu gerbang.


Mataku berkeliling memandangi halaman yang luas. Tukang kebun ku lihat sedang bekerja membersihkan taman. Beberapa mobil terparkir di garasi tanpa pintu itu. Hari ini hari minggu, jelas saja semua orang ada di rumah. Kulihat mobil Melky dan Mandala pun terparkir di sana.


Seseorang menyadari kedatanganku. Tak lama kulihat Nia setengah berlari menghampiriku.


"Kakak ipar" Nia berteriak melihatku.


"Aku bukan kakak iparmu lagi. Jangan panggil aku seperti itu"


Nia hanya tersenyum dan langsung memelukku.


"Kami kangen kak. Ayo kak, masuklah ke dalam. Pintu ini selalu terbuka untuk kakak"


Aku melangkah bersama Nia memasuki teras rumah selangkah demi selangkah sampai di depan pintu. Langkahku terhenti sesaat.


"Kakak masuklah. Tidak ada yang akan menyakiti kakak lagi" Nia menggenggam tanganku.


Aku hanya tersenyum dan balas menggenggam tangan Nia yang menguatkanku. Senyumku semakin lebar ketika ku dengar dua suara mungil memanggilku.


"Bundaaaaaaa"


"Bundaaaaaaa"


Mereka berdua berlari ke arahku di ikuti Melky di belakang mereka.


"Sayang lari sayang. Nanti jatuh"


Putri dan utami langsung masuk ke dalam pelukanku yang berjongkok menyambut mereka.


Putri menangis di dalam pelukanku. Aku pun tanpa sadar meneteskan air mata.


"Kakak kangen bunda"


Aku mengelus kepala Putri. Rupanya sekarang Melky dan Nia mengajarkan Putri untuk memanggil dirinya kakak. Karena memang sudah ada utami adiknya atau juga Nia sekarang sedang hamil karena ku lihat badan Nia berubah menjadi lebih beriisi.


"Bunda juga kangen sama Putri"


"Ayo kak, ajak bundanya masuk"


Melky yang dari tadi diam membuka mulutnya membuat aku menoleh padanya.


Aku tersenyum pada Melky. Melky spontan memelukku ketika aku sudah dekat dengannya. Karena kedua tanganku memegang Putri dan Utami di masing-masing tangan, jadi aku tidak membalas pelukan Melky.


"Apa kabar Melky?"


"Kakak juga apa kabar? Lantai tiga seperti kuburan ketika kakak pergi. Abang juga seperti mayat hidup"


Aku hanya tersenyum kecil.


"Boleh aku melihat Ama?"


"Silahkan kak, ayo kami antar"


Kami berjalan menuju kamar Ama. Putri masih memegang tanganku. Utami sudah beralih ke dalam gendongannya Melky.


Memasuki kamar Ama kulihat Ibunya Melky duduk di samping tempat tidur. Apa mereka masih memiliki hubungan?


"Assalamualaikum" Aku mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam kamar.


Ibunya Melky menjawab salamku dan langsung memalingkan kepalanya melihatku. Seketika kulihat wajah ramah yang memandangi Ama tadi berubah menjadi wajah dengan tatapan tajam. Jelas sekali kalo ibunya Melky yang biasa di panggil Mandala bibi itu tidak senang dengan kedatanganku.


"Apa kabar bi?" Aku menghampiri lebih dulu dan mencium punggung tangan beliau yang di berikan dengan terpaksa.


"Baik. Datang sendiri?"


"Iya bi, ada urusan di sini. Sekalian mau lihat Ama"


"Jangan lama-lama. Bibi sudah memanggil calon istri Dala kesini. Kalian bisa bertemu nantinya. Bibi takut kamu tidak bisa menerimanya"


"Mama.." Melky berteriak mengingatkan ibunya.


"Kenapa? Apa Dala harus kesepian terus?"


Aku hanya tersenyum, berjalan menghampiri Ama. Mencium tangan Ama yang sudah tidak dapat bergerak. Aku terus memandangi tubuh Ama yang sudah dipenuhi dengan berbagai alat medis. Seorang perawat bertugas menjaga Ama. Hanya bola mata Ama yang kulihat masih aktif bergerak kesana kemari seolah-olah mata itu ingin berbicara sesuatu.


Aku berhenti memandangi Ama ketika kudengar Putri yang duduk di dekat daddynya berteriak.


"Ayaaah, ada bunda datang. Bunda kembali Ayah"


Kualihkan pandanganku ke arah pintu masuk. Sepertinya Mandala baru selesai mandi. Tersenyum manis pada putri dan langsung memeluknya.


"Oya, benar ada bunda datang?"


"Itu Bundanya, Ayah"


Putri mengarahkan telunjuknya padaku. Mandala melihatku. Kami berpandangan sesaat. Aku langsung mengalihkan mataku kembali menatap Ama.


"Bundanya tambah cantik gak?"


Mandala bertanya pada Putri sambil terus memandangiku.


"Bunda memang cantik kan kak" Melky ikut juga menimpali.


"Bundanya kakak selalu cantik. Iya kan bunda?"


Putri kembali menghampiriku dan memegang tanganku. Aku mengelus kepala Putri.


"Putrinya bunda juga cantik"


"Kakak sayang sama bunda. Bunda jangan pergi lagi ya"


"Putri!"


Ibunya Melky yang memang berada di dekatku langsung menarik Putri.


"Bibi, jangan kasar sama anak kecil"


Mandala langsung mengambil tangan putri kembali dari gengggaman ibunya Melky.


"Dala, siang ini calon istrimu akan kemari"


Mandala memandangi bibi.

__ADS_1


"Calon istri Dala sudah kemari. Sudah berdiri di dekat bibi"


"DALA!"


Ibunya Melky berteriak. Aku pun terkejut dengan ucapan Mandala dan langsung melihatnya.


"Dala sudah memutuskan untuk menikahi Ega kembali. Bibi suka atau pun tidak"


Kulihat Nia dan Melky tersenyum. Entah apa arti senyuman mereka. Ibunya Melky melototkan matanya karena marah Dala tidak mengikuti kata-katanya. Aku pun langsung memperhatikan reaksinya Ama. kulihat bola mata Ama bergerak, tapi ada cahaya di sana. Apa ama merestuinya?"


"Kapten, apa yang kamu katakan?"


"Tidak sayang, aku sudah memutuskan. Aku akan rujuk kembali denganmu"


"Dala, apa kamu lupa janjimu?"


"Dala sudah menepati janji menceraikan Ega. Tapi Dala tidak pernah berjanji untuk tidak rujuk dengan Ega"


"DALA!! APA KAMU LUPA YANG TERJADI DENGAN DEWA!"


Kulihat bibi sudah mulai emosi. Melky mendekati ibunya. Berusaha menenangkan tapi di tepis oleh ibunya.


"Dala tahu. Tapi itu bukan salah Ega ataupun Dala. Itu adalah takdir yang sudah di tentukan oleh yang Kuasa. Kenapa harus kami yang menanggung semuanya"


"Sekarang kamu sudah mulai melawan karena Amamu sudah tidak berdaya. Kamu lupa dengan janjimu pada Dewa"


"Bibi, pada saat Dewa di temukan meninggal. Dala di paksa Ama untuk berjanji bahwa Dala akan membalaskan dendam Dewa dengan menyakiti Ega. Ama membuat Dala yang waktu itu belum mengerti apa-apa percaya bahwa Dala lah penyebab kematian Dewa. Ama membuat Dala berpikir jika Dala tidak menyelamatkan Ega maka Dewa pasti akan selamat. Tapi Dala sudah bisa berpikir sekarang bibi. Walaupun saat itu Dala tidak menyelamatkan Ega. Dewa pun tetap tidak bisa di selamatkan karena penyakitnya Dewa yang langsung kambuh bila berada di dalam air."


Ibunya Melky terduduk di kursi sambil menangis.


"Bibi, kejadian masa lalu bukan salah Ega. Ega tidak tahu jika Dewa menyukainya. Ega tidak tahu jika Dewa selalu mengikutinya. Membuat lukisan untuknya. Kita sudah banyak menyakiti Ega. Tapi bibi lihat, apa Ega membalasnya? Dia tetap kemari menemui Ama dan tetap menghormati bibi."


Kulihat bibi berdiri dari duduknya.


"Nia, antar aku kekamar. Aku lelah"


Nia pun mengantar bibi kembali ke kamarnya. Mandala yang masih memegang tangan Putri mendekatiku.


"Putri mau jalan-jalan sama Bunda?"


Mandala bertanya pada Putri.


Putri langsung mengangguk.


"Ajak bundanya sana"


Putri langsung mendekatiku dan menarik tanganku.


"Ayo bunda. Kakak mau jalan sama bunda"


"Bunda pulang hari ini sayang" Aku kembali mengelus kepala Putri. Putri langsung cemberut.


" Jam berapa pesawatnya?"


Mandala bertanya langsung padaku.


"Jam empat sore"


"Masih lama. Nanti sekalian diantar ke bandara"


"Masih ada yang harus Ega cari"


Aku tetap berusaha menolak.


Mandala langsung keluar kamar meninggalkan Putri yang terus merengek padaku.


Akhirnya aku menyerah. Berpamitan pada Ama dan mengikuti Putri keluar kamar.


Beberapa asisten rumah tangga yang melihatku langsung mendekatiku. Aku pun menyalami mereka satu persatu.


"Ibu, kasian pak Kapten. Makannya tidak teratur sejak ibu tidak ada. Bahkan malam suka gak makan. Tidur juga cuman sebentar"


Aku hanya tersenyum tanpa berkomentar.


"Saya pamit dulu ya. Kalo memang ada jodohnya, kita ketemu lagi. Titip jaga keluarga ini"


"Ayo Bunda"


Putri kembali menarik tanganku. Kulihat Mandala sudah siap di samping pintu penumpang dengan topi dan kaca mata hitamnya.


Ya Tuhan. Kenapa sosok itu sekarang begitu tampan dan mempesona.


"Tuan Putri duduk dimana?"


"Kakak di belakang, biar bunda di depan Yah"


"Baiklah tuan Putri"


Mandala membuka pintu belakang. Putri pun masuk ke dalam mobil. Mandala menutup pintu belakang dan memintaku masuk di kursi penumpang depan.


Mandala akan berputar menuju pintu supir ketika sebuah mobil masuk ke dalam halaman. Aku pun memperhatikan mobil yang datang. Dua orang wanita keluar dari mobil. Satu sudah berumur seperti bibi dan satunya masih muda, cantik dan juga seksi"


Apakah itu wanita yang akan menjadi istri Mandala? Aduh, kenapa jantung ini kembali bergemuruh hebat. Rasanya sangat sesak. Mandala langsung masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobil tanpa memperdulikan kedua orang yang sudah mendekatinya. Keduanya terkejut, seketika langsung menghindar ketika menyadari bahwa mobil Mandala sudah bergerak maju.


"Kenapa tidak menyapa mereka dulu?"


Kepalaku berpaling melihat ke belakang.


"Gak kenal"


"Itu Tante Lani, Ayah"


Putri membuka mulutnya.


"Siapa itu Putri?"


Aku mencoba mengorek info pada Putri.


"Temannya Oma. Kata Oma nanti jadi bundanya Putri"


Aku membentuk mulut dengan huruf O.


"Cantik, kenapa gak mau?" Aku bertanya pada Mandala.


"Lebih cantik kamu!"


"Seksi juga, masa gak tergoda setelah empat bulan jomblo"


"Seksi kamu lagi, masih ada sabun mandi yang membantuku"


Aku tertawa kecil.

__ADS_1


"Sepertinya masih virgin tu"


"Sok tahu. Tinggal lama di australia. Yakin masih virgin?"


"Katanya gak kenal. Tapi tahu tinggal di ausie"


Mandala tersenyum ke arahku sambil membelai kepalaku.


"Dia pernah menggodaku"


"Menggoda?" Aku langsung penasaran dan ingin tahu.


"Waktu itu aku demam. Bibi memintanya ke atas membawakanku makanan"


"Dia tahu kode lantai tiga? ajaib"


"Karena aku demam, aku memberitahukan kode pada asisten agar enak bolak balik. Dia naik bersama asisten"


"Apa yang di lakukannya?"


"Penasaran? yakin mau tahu?"


Aku memasang wajah cemberut.


Mandala kembali membelai kepalaku.


"Aku kangen wajah cemberut itu"


Aku mengembalikan wajahku ke ekspresi semula.


"Dia memelukku. Katanya supaya demamku turun. Dia membuka pakaianku dan juga pakaiannya"


Aku menahan nafasku ketika mendengar cerita Mandala. Mandala tertawa kecil melihat ekspresi wajahku.


"Sayang, juniorku saat itu memang langsung beraksi melihat tubuh telanjang di depanku. Tapi akalku masih waras. Aku langsung bangun ke kamar mandi dan mengenakan pakaianku. Aku memintanya keluar dari kamar"


"Yakin cerita itu bisa di percaya?"


"Masih ingat kalo aku memasang CCTV di kamar? rekamannya masih kusimpan sebagai bukti"


"Sebagai bukti atau cuma ingin mengulang untuk melihat tubuh telanjang?"


"hahahhahaa kamu cemburu sayang?"


"Untuk apa aku cemburu? kamu laki-laki bebas tanpa ikatan"


"Tapi kenapa suaramu bergetar ketika mengucapkan itu?" Mandala meraih tanganku dan menciumnya. Aku kaget dengan tindakan Mandala.


"Ada putri" aku langsung menarik tanganku.


"Apa pak Jaksa itu masih suka menemuimu?"


"Kamu memata mataiku?"


"Tidak, aku akan kerumahmu waktu itu. Tapi aku melihat dia ada di sana. Kalian juga mengantarnya sampai kedepan pintu"


"Kamu datang kerumah Kapten?"


Mandala mengangguk.


"Tapi kubatalkan setelah melihat laki-laki itu. Kita belum bercerai, tapi kamu sudah mengundangnya ke rumah"


"Dia teman Ari. Aku tidak mengundangnya. Kami tidak ada hubungan apa-apa"


"Seekor kucing akan tahu ketika ada kucing lain yang mengincar makanannya"


"Sok tahu"


"Aku melihat pandangan matanya padamu sayang, dia menyukaimu"


"Apa benar dia menyukaiku? hmm aku bisa mempertimbangkannya"


"Sayaaannggg. Aku akan kesana minggu depan menemui ibumu. Aku akan menikahimu kembali"


"Hmmm sulit di percaya"


"Aku akan membuktikan kata-kataku. Ama juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Bibi tidak akan berdaya tanpa Ama"


"Ama masih punya anak buah kan yang bisa di perintah bibi"


"Aku kemaren menerima pesan rahasia dari Ayah kalo seluruh anteknya Ama sudah di tangkap"


"Apa kabar Ayah?"


"Selalu berkata kepadaku seperti ini. Sabarlah, Ayah berpisah dengan mamamu lama tapi tidak seperti kamu sekarang ini"


Aku tertawa dengan santai. Mandala kembali tersenyum dan kembali menggenggam tanganku.


"Aku berjanji akan mengembalikan senyum dan tawamu lagi sayang"


Aku hanya diam tanpa komentar.


Entahlah, apakah aku masih bisa yakin dengan Mandala.


Kami sampai di hotel tempatku menginap. Mengambil koperku dan mengurus check out.


Mandala menemaniku membeli apa saja pesanan ibu, kemudian mengajak putri bermain dan makan siang bersama. Selintas kami mirip keluarga kecil yang bahagia.


Sebagai penutup, Mandala dan Putri mengantarku ke bandara. Karena Putri tertidur di mobil, aku meminta Mandala untuk tidak mengantarku sampai masuk. Aku memberikan kue-kue kering dari ibu buat Mandala.


"Sampaikan terima kasihku untuk ibu. Tunggu aku ya sayang, jangan terima lamaran laki-laki lain"


Mandala memelukku. Mencium kepala dan keningku.


Aku pun memeluk Mandala kembali.


"Sampaikan salamku buat Melky dan Nia"


"Hati-hati sayang, beri kabar jika sudah sampai"


Aku mengangguk kemudian keluar dari mobil. Mandala juga keluar dari mobil, membantuku mengeluarkan tas dari bagasi.


Sekali lagi Mandala memelukku.


"Aku mencintaimu. Percayalah pada Cintaku"


Aku tersenyum, melambaikan tanganku dan mulai melangkah masuk. Aku kembali menoleh pada Mandala yang masih melihatku. Aku kembali melambaikan tangan.


Kapten, jika memang jodoh kita masih ada. Aku percaya kita akan kembali bahagia bersama.


----------------------

__ADS_1


Jangan lupa votenya yaa


LOBE YOU 😘😘😘


__ADS_2