Jodohku

Jodohku
Episode 23


__ADS_3

Aku dan Zea asyik ngobrol. Zea begitu ceria, bercerita berbagai hal tentang Zio adiknya, sekolahnya, opa dan oma, bahkan tentang mas Arkan. Ada rasa nyeri kalau mendengar nama mas Arkan disebut. Mungkin aku terlalu berharap sesuatu yang tak mungkin jadi milikku. Mas Arkan lebih memilih cinta pertamanya ketimbang aku. Sungguh menyedihkan, ketika aku berusaha menjadi istri yang baik,berusaha mencintai, menerima kelebihan maupun kekurangan, justru aku ditinggalkan.


Kak Kevin terlihat begitu asyik ngobrol sama bapak. Bapak bekerja di keluarga pak Surya sudah sangat lama. Bahkan ketika Kak Kevin masih SMA, bapaklah yang mengantar jemputnya dari sekolah. Sementara aku, waktu itu masih terlalu kecil. Makanya ketika kak Kevin datang, aku tak mengenalinya. Semua karena aku dan mas Arkan, jadinya bapak berhenti bekerja di keluarga pak Surya. Ah bapak, kasihan. Sekarang jadi pengangguran gara-gara aku. Hanya ibu yang bekerja jualan nasi uduk di depan rumah untuk menyambung hidup. Rencananya bapak dan ibu mau pulang kampung saja. Mereka akan bertani saja di kampung setelah aku selesai kuliah.


Malam semakin larut. Akhirnya kak Kevin dan Zea pamit untuk pulang. Bapak dan aku mengantar mereka sampai pagar rumah.


"Tante khansa, sampai jumpa lagi. Assalamu'alaikum," suara Zea sambil melambaikan tangan saat duduk dalam mobil.


"Wa'alaikumussalam," jawabku sambil membalas melambaikan tangan juga.


*****


Pagi menjelang. Sudah saatnya aku berjuang. Berjuang bersama anak-anak yang riang. Mengajarkan mereka adab, akhlak dan aqidah. Semoga kelak diantara mereka ada yang menarikku ke Jannah. Aamiin.


"Assalamu'alaikum ustadzah Khansa," sapa ustadzah Ika.


"Wa'alaikumussalam ustadzah Ika," balasku sambil tersenyum.


"Kok sekarang saya lihat selalu naik ojek online. Suaminya nggak pernah nganter lagi," ucap ustadzah Ika.


"Nggak ustadzah. Lebih cepat naik ojek online. Jadi nggak kena macet," jawabku.


"Oya, ustadzah Khansa. Mohon maaf ya sebelumnya. Saya perhatikan ustadzah kok sekarang sangat dekat dengan Nayla. Kadang ustadzah Khansa juga satu mobil sama papanya Nayla. Apa nggak khawatir nanti jadi fitnah. Apalagi ustadzah sudah bersuami." Perkataan ustadzah Ika membuatku terdiam. Aku harus jawab apa. Apa aku mesti jujur dengan rumah tanggaku yang hancur. Ingin aku menutupi, tapi semakin kututupi semakin banyak pertanyaan darinya.


"Terimakasih atas perhatian ustadzah Ika. Aku dekat dengan Nayla karena dia murid privatku. Sedangkan kalau 1 mobil itu hanya kebetulan jika papa Nayla jemput. Jadi sekalian mau ngajar Nayla," jawabku.


"Apa suami ustadzah tidak keberatan?" tanyanya lagi.


"Saya dan suami sudah berpisah ustadzah," jawabku dengan sedih.


"Astaghfirullah, sudah pisah ustadzah. Ada masalah apa Ustadzah? kok sampai berpisah."


"Maaf ustadzah Ika, saya tak bisa cerita. Cukup jadi rahasia kami saja. Mungkin jodoh saya hanya sampai di sini," jawabku.


*****


Aku semakin sibuk dengan tugas-tugas di kampus. Alhamdulillah ada Azizah sahabat baikku yang selalu bisa di andalkan.

__ADS_1


"Sa, nanti ke rumahku yuk. Kebetulan ibuku tadi masak enak," pinta Azizah sambil ngetik makalah yang akan kami persentasikan pekan depan.


"Dalam rangka apa nih Zah, kok tumben masak enak. Apa jangan-jangan ada pria tampan dan soleh yang mau meminang sahabatku ini," celotehku sambil tertawa.


"Boro-boro Sa. Lagian aku belum mikir soal jodoh. Masih fokus kerja dan kuliah," jawab Azizah.


"Oh, kirain. Trus dalam rangka apa dong Zah?" tanyaku lagi.


"Alhamdulillah, aku naik jabatan di kantor. Kemarin hanya staf biasa sekarang diangkat jadi kepala divisi. Jadinya ibu ngadain acara syukuran," jawab Azizah.


"Alhamdulillah, tabarakallah," ucapku.


"Aamiin Sa, terima kasih," ucapnya.


Selesai mengerjakan tugas kami segera membereskan buku-buku dan laptop. Kami berdua segera meninggalkan perpustakaan menuju gerbang kampus.


"Sa, bentar ya biar aku pesankan taksi online," ucap Azizah.


"Ok," jawabku.


Tiba-tiba sebuah mobil mewah yang tak asing bagiku berhenti tepat di depanku. Ketika kaca mobil terbuka terlihat gadis kecil yang tak asing bagiku.


"Hai Nayla, lagi nunggu taksi," jawabku


"Ayuk ikut aja, nanti biar papa anter ke rumah," pinta Nayla padaku.


"Nggak usah Nay, teman ustadzah sudah pesan taksi," jawabku. Azizah tiba-tiba mendekat sambil berbisik.


"Itu siapa Sa," tanya Azizah lirih.


"Murid privatku Zah," jawabku pelan.


"Sa, sebaiknya kita ikut aja. Dari tadi taksi onlinenya di cancel terus. Mungkin karena jam sibuk kali," bisik Azizah lagi.


"Aku nggak enak Zah," jawabku pelan.


"Ayulah ustadzah keburu malam," pinta Nayla sambil menarik tanganku. Terpaksa aku ikut Nayla. Sedangkan Azizah mengikutiku dari belakang. Aku dan Azizah duduk di bangku belakang. Sedangkan Nayla duduk di depan di samping papanya yang lagi nyetir. Sesekali ku menangkap tatapan mata papa Nayla dari kaca. Aku hanya menunduk malu.

__ADS_1


"Langsung kerumah ustadzah ya?" tanya Nayla


"Bukan, kerumah Azizah di perumahan puri indah," jawabku agak gugup.


"Oh, memang ada acara ustadzah," tanya Nayla lagi.


"Iya Nayla," jawabku.


Selama perjalanan aku hanya diam. Ada rasa tidak nyaman bila satu mobil dengan papa Nayla. Apalagi dia pernah memberiku setangkai bunga mawar dan mengatakan ingin jadi sahabat dekatku. Sedangkan Azizah tampak menikmati berada di mobil mewah ini.


Kurang lebih 45 menit kami sampai di rumah Azizah. Aku dan Azizah segera turun dari mobil.


"Terima kasih Nayla, terimakasih pak Rayhan," ucapku diikuti ucapan Azizah.


"Sama-sama ustadzah," jawab Nayla. Sedangkan papanya hanya tersenyum. Kemudian mobil itupun berlalu. Aku dan Azizah masuk kerumah. Ada bapak dan ibu Azizah. Tak lupa kuucapkan salam dan mencium punggung tangan mereka.


"Zah, tadi tetangga sudah pada datang. Alhamdulillah mereka ikut senang dengan kenaikan jabatanmu dan mendoakan agar kamu lebih baik," ucap Ibu Azizah.


"Oh, alhamdulillah. Makasih ya buk," ucap Azizah sambil mencium pipi ibunya.


"Kamu mau makan sekarang apa nanti," tanya ibu Azizah.


"Nanti saja buk,Azizah mau mandi dulu. Ayuk Sa ikut aku ke kamar." Azizah menarik tanganku menuju ke kamar.


"Sa, mandi dulu yuk," pinta Azizah padaku.


"Nggak usah Zah, nanti aku di rumah aja," jawabku.


"Sa, papanya Nayla keren ya," ucap Azizah tiba-tiba. Aku hanya tersenyum.


"Tapi sepertinya dia suka sama kamu dech Sa," lanjut Azizah.


"Ah, sok tahu kamu Zah," jawabku.


"Beneran dech Sa, dari cara dia menatapmu beda," ucap Azizah lagi.


"Ah, kamu bisa aja Zah," jawabku.

__ADS_1


"Aku setuju kok jika kamu sama dia Sa. Sudah tampan, kaya, sopan pula."


"Sudahlah Zah, jangan bicarakan itu. Aku hanya ingin menata hatiku dulu," ucapku. Azizah hanya tersenyum lalu masuk ke kamar mandi. Aku hanya duduk sendiri sambil sesekali melihat ponselku.


__ADS_2