
*****
Kasih ibu sepanjang masa. Itulah yang pantas aku sematkan untuk mami. Sebenci-bencinya dia dengan sikapku, namun dia tetap hadir dalam acara pernikahan keduaku. Zea dan Zio juga hadir. Sedangkan papi tak nampak. Entah kemana papi pergi. Papi benar-benar menunjukkan sikapnya. Jika dia tak suka, maka akan sulit mengubah keputusannya. Dan itulah sifatnya yang menurun ke aku. Jika ini kunilai baik menurutku, maka sulit bagi siapapun untuk mengubah keputusanku.
Para tamu undangan sudah hadir di acara ini. Sengaja aku menggelar pesta pernikahan ini secara mewah di sebuah hotel, agar semua orang tahu kalau calon istriku adalah seorang wanita cantik, smart, dan juga model ternama. Walaupun dia mantan kakak iparku sendiri. Akan kubuktikan jika semua perkataan kak Kevin salah. Bahwa dialah yang suatu saat akan menyesal dengan keputusannya telah bercerai dengan Maria.
Makanan dan minuman yang lezatpun sudah tersaji. Tamu undangan bebas menikmati sajian yang telah kami sediakan. Aku ingin mereka juga menikmati kebahagiaan yang aku rasakan. Seorang penghulu sudah hadir di tengah-tengah kami. Rencana akad nikah akan dilaksanakan jam 09.00. Sekarang waktu menunjukkan pukul 08.30.
"Mana Maria? Kenapa belum muncul juga?" tanya mami padaku.
"Mungkin mencet kali mi," jawabku. Aku mulai gelisah. Acara 30 menit lagi. Tapi Maria belum muncul juga. Padahal aku saja sudah disini sejak satu setengah jam yang lalu. Segera kuambil ponselku. Kucari aplikasi hijau dan segera kutulis pesan.
[Maria dimana? Acara akad nikah akan segera dimulai? ] pesanku pada Maria. Tapi pesan itu hanya centang satu. Segera kuhubungi nomor nya. Astaga, nggak aktif juga.
"Rizal, tolong kamu pergi ke apartemen Maria. Aku takut terjadi apa-apa," pintaku pada Rizal asistenku. Rizal pun pergi dengan membawa mobilku. Sementara anak dan istrinya tetap disini.
"Gimana mas, sudah jam 9," ucap penghulu padaku.
"Tunggu sebentar lagi pak, calon istri saya belum datang," ucapku. Aku semakin gelisah. Begitupun mami juga terlihat cemas. Para tamu undangan banyak yang berbisik-bisik. Entah apa yang mereka bicarakan. Banyak diantara mereka menatapku. Mungkin mereka mengasihani aku. "Tenang, tenang. Aku harus berfikir positif," batinku. Ponselku berdering. Terlihat nama Rizal tertera pada layar.
"Halo Zal, gimana?" tanyaku lewat sambungan seluler.
"Bos, mbak Maria tak ada di apartemen. Tadi security bilang mbak Maria pergi membawa koper besar naik taksi online," ucap Rizal dari seberang. Seketika badanku lemas tak bertenaga.
__ADS_1
"Arkan, ada apa?" tanya mami penasaran.
"Maria tak ada di apartemen mi, dia pergi," aku tertunduk lesu.
"Astaghfirullah, lha terus ini gimana dengan akad nikahnya?" tanya mami dengan panik. Suara mami terdengar oleh beberapa tamu undangan. Aku luruh ke lantai. Aku tak percaya dengan semua ini. Teganya Maria menghianatiku untuk kedua kalinya.
"Jadi ini gimana mas, soalnya jam 10 saya ada jadwal di tempat lain," ucap penghulu padaku.
"Aku tak tahu pak. Calon istriku pergi." Aku benar-benar sedih, kecewa, dan sekaligus marah.
"Maaf Pak, acara pernikahannya batal." Akhirnya mami memberikan jawaban pada penghulu itu.
"Baiklah mas, mungkin dia bukan jodohmu. Yang sabar ya mas," hibur penghulu itu padaku. Aku hanya tertunduk menahan malu yang teramat sangat.
"Wa'alaikumsalam," jawab mami.
Ya Tuhan, kenapa semua ini terjadi padaku. Disaat aku ingin hidup bahagia dengan orang yang aku cinta, justru dia pergi entah kemana. Disaat aku ingin menunjukkan kepada dunia, betapa beruntungnya seorang Arkan bisa bersanding dengan seorang wanita yang cantik, smart dan model ternama, justru wanita itu mencoreng mukaku dihadapan semua orang.
Para tamu satu persatu mulai meninggalkan ruangan ini.
"Sabar ya pak Arkan," ucap seorang padaku.
"Terima kasih," ucapku.
__ADS_1
"Pak Arkan, makanya jadi orang itu harus banyak bersyukur. Sudah punya istri cantik, solehah, malah ditinggalin. Eh, malah ngejar istri kakaknya sendiri. Kualat itu namanya." Tiba-tiba seorang ibu-ibu nyeletuk padaku kemudian berlalu pergi. Ada rasa sesak di dada mendengar ucapannya. Ketika hampir semua orang telah pergi. Hanya ada beberapa orang terdekat yang tersisa. Aku luruh dikaki mami. Air mataku tak terbendung lagi. Begitupun dengan mami. Terlihat buliran bening mengalir di pipinya.
"Sabar ya nak, mungkin memang Maria bukan jodohmu," ucap mami sambil mengusap kepalaku. Zea dan Zio tiba-tiba ikut bersedih dan memelukku.
Rizal sudah kembali dari apartemen Maria. Dia berjalan kearahku sambil memberikan kunci mobilku. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Aku hanya duduk dengan lesu.
"Bos, sabar ya," ucapnya. Aku hanya diam membisu.
*****
Aku bangkit dari dudukku. Rizal dan anak istrinya sudah pergi. Tinggal aku, Zea, Zio dan mami. Seorang laki-laki dari catering menghampiri kami.
"Maaf Bu, ini makanannya bagaimana?" tanyanya pada mami.
"Tolong di sedekahin aja ya mas," jawab mami.
" Baik bu, nanti akan kami sedekahkan, " jawabnya.
Aku ambil kunciku. Tak mungkin aku meratapi nasibku di sini terus. Percuma, toh Maria tak akan datang. Aku segera melangkah.
"Arkan, mau kemana?" tanya mami.
"Mau nenangin diri mi." Aku segera pergi meninggalkan mami dan anak-anak. Segera kumasuk kedalam mobil. Pikiranku benar-benar kalut.
__ADS_1
"Maria brengsek!" teriakku dalam mobil. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba ada sebuah motor yang hendak menyebrang. Aku berusaha menghindarinya. Dan, astaga aku kehilangan kendali. Mobilku menghantam sebatang pohon. Dan entahlah, aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.