
Pagi ini kami berangkat ke kampung halaman Mandala. Ama ingin di kuburkan bersampingan dengan mendiang istri dan anaknya Dewa.
Kami menggunakan pesawat komersil, Jenazah diletakan di bagasi bawah dan kami duduk di kursi penumpang seperti biasa. Tidak ada penumpang lain yang mengetahui bahwa terdapat peti jenazah di dalam pesawat ini.
"Sudah menelpon ibu?"
Mandala menggenggam tanganku yang terus memandang keluar jendela.
"Sudah, ibu ikut berduka dan titip salam buat bibi. Tapi aku tidak berani mendekati bibi"
"Cukup aku saja yang menerima bela sungkawanya ibu. Malam ini kita menginap di hotel saja ya"
"Kapten, kamu sedang berduka kan? berkumpul lah bersama keluargamu nanti"
"Aku sudah memberitahu mereka kalo aku dan kamu akan langsung pulang sore ini"
Aku menarik nafas.
"Terserah kamu, aku ikut saja"
Mandala memiringkan kepalanya ke bahuku.
"Kapten"
"hmmm"
"Ayah sudah tahu?"
"Sudah"
"Ayah akan datang?"
"Entahlah"
"Kamu akan tidur?"
"Tenagaku habis karena semalam"
"Salah sendiri"
"Salahmu kenapa cantik, jadi aku tergoda"
"Sudah lama aku tidak menerima pesan kata-kata darimu"
"Aku akan mengatakannya langsung setelah aku tidur dan mengisi tenagaku"
Mandala kembali memejamkan matanya sambil menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku mengelus lembut kepala Mandala, dan tak lama ku dengar nafas teratur Mandala yang menandakan bahwa Mandala sudah tertidur.
Aku pun berusaha untuk memejamkan mataku. Namun ingatan bahwa ada peti jenazah di bagasi bawah membuat mataku terus terjaga. Padahal aku pun sama mengantuknya seperti Mandala. Hanya saja kekhawatiranku membuatku terus terjaga.
Kami sampai di kota tempat keluarga besarnya Mandala berada. Kota dimana awal dari masa lalu yang menjadi sebuah bencana pada diriku. Kota yang membuat ceritanya sendiri untuk merusak kebahagiaanku. Kota yang indah tapi dihantui dendam masa lalu.
Dan hari ini dipemakaman Ama, aku berharap dendam masa lalu itu ikut terkubur bersama terkuburnya jenazah Ama.
Hari yang panas mengiringi pemakaman Ama. Aku mengenakan kaca mata hitam untuk menyembunyikan kantung mataku. Aku duduk tidak terlalu dekat dengan bibi. Kulihat bibi terus menangis. Meratapi kakak yang juga kekasih hatinya. Mandala dan Melky melakukan kewajiban terakhir mereka untuk Ama. Bagaimana pun juga jahatnya Ama, Tapi beliau sangat berarti buat Mandala dan Melky.
Sesosok wanita yang memakai pakaian hitam sedari awal proses pemakaman Ama selalu berusaha untuk mendekati Mandala. Aku hanya tersenyum, membiarkan wanita tersebut mendekati Mandala. Nyatanya, Mandala selalu menghindar dan berusaha untuk tidak berbicara dengannya. Tidak ada perasaan cemburu ketika aku melihat wanita itu. Terserah apa maunya, bagiku yang terpenting, Mandala tidak meladeninya.
Proses pemakaman selesai. Aku menunggu Mandala untuk pulang bersama. Wanita itu akhirnya dapat berbicara pada Mandala. Tapi entah apa yang Mandala katakan, mereka berdua kemudian melihat ke arahku. Aku yang memakai kacamata hitam pun memandang ke arah mereka berdua. Kemudian Mandala pergi meninggalkan wanita itu dan mendekatiku.
"Kenapa meninggalkan wanita cantik yang dari tadi selalu mendekatimu?"
Aku bertanya sambil menggoda Mandala.
"Gak tertarik. Kurang seksi"
Mandala merangkul bahuku dan membawaku keluar areal pemakaman.
"Kurang seksi gimana? belahan dadanya sudah di tampakkan begitu di depan kamu"
"Hmmmm, besar tapi gak menarik. Aku suka punya kamu, biar kecil tapi padat"
Mandala berbisik di telingaku.
Aku mencubit pinggang Mandala.
__ADS_1
Protes karena dadaku di katakannya kecil.
"Siapa dia? Apa yang kalian bicarakan tadi?"
"Hmmm, penasaran juga?"
"Gak apa kalo gak mau cerita"
"Dia teman kecil ku juga, baru pulang dari hongkong"
"TKW?"
Mandala mengangguk.
"Kenapa kalian tadi melihatku?"
"Karena dia bertanya, apa aku sudah menikah?mana istrimu?. Karena itu aku melihat ke arahmu"
Aku cuma diam sambil mengerutkan bibirku ke depan.
"Jangan menggodaku dengan bibirmu itu"
"Dadaku kan kecil, jadi aku hanya bisa menggoda dengan bibirku."
Mandala kembali berbisik di telingaku.
"Setiap inci tubuhmu membuatku tergoda"
Aku melihat ke arah Mandala dan mendapati Mandala yang tersenyum dengan wajah penuh arti.
"Ayo kita masuk sebentar kemudian berpamitan. Aku sudah membuat alasan kalo aku harus berangkat tugas besok siang"
"Kita benar-benar pulang sore ini?"
"Apa kamu bisa ijin beberapa hari dari rumah sakit?"
"Tidak, aku sudah harus masuk kerja senin nanti"
Mandala menunjukkan wajah kecewanya.
"Maaf, aku dokter baru di sana"
Mandala kembali tersenyum dan mengelus kepalaku.
"Gak jadi masalah. Ayo kita masuk"
Aku mengikuti Mandala masuk ke dalam rumah ibunya Melky. Mandala menggunakan bahasa daerah untuk berpamitan. Aku pun mengikuti Mandala untuk bersalaman pada semua orang. Ketika aku menyalami ibunya Melky, beliau memelukku dan berkata.
"Maafkan Ama ya Ega. Minta doanya buat ama"
"Tentu bi, Ega juga akan selalu berdoa buat Ama"
"Kalian hati-hati di jalan"
Aku dan Mandala mengangguk bersamaan. Kami pun kembali keluar rumah dan menuju hotel yang sudah di pesan Mandala.
---------------------
"Bagaimana jika ada keluargamu yang tahu kita menginap di sini?"
"Mereka tidak akan sampai di sini. Ini di luar jangkauan mereka"
"Kalo ada yang membuntuti kita?"
"Biarkan saja. Aku tidak perduli"
Mandala memelukku.
"Aku ingin menghabiskan waktu ini berdua denganmu. Jangan berpikiran yang lain. Pikirkan bagaimana caramu untuk dapat lolos dari diriku"
"Untuk apa aku melarikan diri jika aku pun tidak ingin lari"
Aku mengecup bibir Mandala sekilas kemudian berniat untuk melarikan diri. Tapi Mandala dengan cepat menangkap pinggangku.
"Jangan salahkan aku, kamu menggodaku lebih dulu".
__ADS_1
Mandala pun langsung melancarkan aksinya, membuat soreku menjadi berkeringat dan basah.
--------------------
Mandala seperti seorang pendaki yang kehausan. Selalu ingin lagi dan lagi. Aku tidak dapat tidur dengan tenang, Mandala selalu menggangguku dengan tangan nakalnya atau dengan ciuman-ciumannya. Entah berapa babak yang kami lalui menebus empat bulan yang terlewati.
Aku curiga Mandala menggunakan obat kuat karena juniornya yang selalu On setiap saat. Ketika kutanyakan itu langsung padanya, Mandala hanya tertawa.
"Ini efek empat bulan menjomblo. Aku harus menebusnya sebelum kita berpisah lagi. Anggap ini bulan madu kita"
Aku hanya memasang wajah cemberut, dan menenggelamkan kembali kepalaku di dada Mandala. Mandala membelai lembut kepalaku.
"Tidurlah, aku tidak akan mengganggumu lagi"
"Janji?"
"Aku janji untuk saat ini, tidak tahu dua jam ke depan"
"Kapteeenn, aku lelah"
Mandala tertawa dan kembali memelukku erat.
"Ayo kita tidur benaran, bukan tidurin. Aku pun mengantuk"
Aku hanya mengangguk dan mulai memejamkan mataku. Semoga Mandala menepati janjinya untuk benar-benar tidur, karena aku memang benar-benar lelah.
------------------------
Kami sudah berada di dalam pesawat pulang menuju kota kelahiranku. Mandala bersikeras untuk mengantarku pulang. Aku pun menyerah dan membiarkan Mandala mengantarku.
"Sayang, aku akan pulang dua minggu sekali"
Aku hanya mengangguk. Membiarkan Mandala mengambil keputusan apapun yang menurutnya bagus untuk kami.
"Gak boros di tiket bang?" Aku menggoda Mandala dengan memanggilnya abang. Karena para gadis di kota Mandala kemarin memanggil Mandala dengan sebutan abang.
"Aku akan meminta uang padamu kalo uangku habis"
Mandala tersenyum sambil mengedipkan matanya.
"Melky tidak memberimu uang lagi?"
Mandala kembali tersenyum.
"Aku menjual seluruh sahamku"
"Kenapa?"
"Untuk menebus keseluruhan saham klinik, aku menjual sahamku di perusahaan. Juga membelikanmu rumah itu".
"Kamu lakukan ini untukku?"
"Aku ingin kamu memiliki klinik seutuhnya. Aku tidak ingin kamu kekurangan apa pun setelah berpisah denganku"
"Sekarang kita sudah bersama lagi".
"Klinik tetap milikmu. Tapi, bolehkan aku menumpang hidup denganmu?"
Mandala tertawa sambil mencubit hidungku.
Aku pun memeluk lengan Mandala dan merebahkan kepalaku di bahunya.
"Karena sekarang aku yang berkuasa, kamu harus mengikuti perintahku".
Mandala kembali tertawa kecil.
"Setinggi apapun pangkat seorang tentara, masih tinggi satu tingkat pangkat istrinya. Perintah istri
selalu nomor satu di rumah"
Aku ikut tertawa bersama Mandala. Mandala meraih bahuku masuk ke dalam pelukannya.. Aku pun memejamkan mata di dalam pelukan Mandala. Tidak memperdulikan tatapan mata pramugari yang mengantar minuman buat kami.
Semoga tidak ada lagi orang-orang yang akan mengganggu kebahagiaan kami.
-------------
__ADS_1
Maaf ya cuma bisa Up sekian 😊😉
LOVE YOU 😘😘😘