Jodohku

Jodohku
Episode 19


__ADS_3

Kami mengantarkan kak Kevin ke bandara. Ada raut sedih di wajah Zea dan Zio karena papanya ingin pergi. Kak kevin mendekatiku sebelum masuk.


"Aku sudah memperingatkan kamu bro, jangan sampai kamu menyesal sepertiku," bisik kak Kevin padaku. Aku hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan kak Kevin. Aku yakin pada Maria. Karena kami saling mencintai.


"Terima kasih Kak, santai aja. Tak akan terjadi apa-apa. Semua akan berakhir bahagia,"balas ku.


" Nitip anak-anak ya."ucap kak Kevin sambil menepuk pundakku. Kemudian dia memeluk Zea dan Zio.


"Nitip Zea dan Zio ya mi, pi," lanjutnya lagi.


"Iya, tentu. Hati-hati." Mami memeluk kak Kevin. Begitu juga papi. Kemudian kak Kevin masuk meninggalkan kami. Setelah itu ku gendong Zio karena terlihat mami dan papi begitu lelah. Kami menuju mobil. Sesampainya di mobil, kuberikan Zio pada mami lagi. Kusandarkan badanku pada kursi. Segera kunyalakan mobil. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah. Tak ada pembicaraan diantara kami. Hanya sedikit ocehan Zea yang merasa sedih karena papanya tak bisa tinggal disini lebih lama.


*****


Persiapkan pernikahanku dengan Maria tinggal 1 minggu lagi. Tapi Maria begitu sibuk dengan karirnya sebagai seorang model. Kadang ada sedikit keraguan dalam hatiku. Namun keraguan itu segera kutepis karena dalamnya cintaku pada Maria.


Aku duduk di sofa kamar. Kuambil ponselku. Kutulis pesan pada aplikasi hijauku


[ Lagi dimana? ] Aku. Pesan itu hanya terkirim. Namun belum terbaca. Sepertinya Maria benar-benar sibuk. Ku teguk secangkir kopi hitam buatan bik Iyem penghilang penatku.


15 menit kemudian centang itu berubah warna menjadi biru. Itu artinya Maria sudah baca.


[Lagi ada kerjaan mas] Maria.

__ADS_1


[Kalau sudah selesai, datanglah kerumah. Zea dan Zio merindukanmu] Balasku. Padahal Zea dan Zio biasa aja. Justru dia bersedih karena kak Kevin telah balik ke Australia. Mungkin dengan kehadiran mamanya, mereka akan bahagia.


[Malas ah, ada Kevin ] Maria.


[Dia sudah balik] Aku.


[ Oh ok, nanti kalau sudah selesai aku kerumah] Maria.


[ Ok, aku tunggu] Aku.


Tak terasa secangkir kopiku sudah habis. Aku segera turun membawa cangkir kotor ke dapur. Kulihat papi asyik bermain dengan Zea dan Zio. Sedangkan mami lagi sibuk di dapur membantu bik Iyem.


Aku duduk menikmati cemilan pisang goreng yang dibuat bik Iyem. Tiba-tiba mami duduk di sampingku.


"Seriuslah mi," jawabku.


"Apa kata orang nanti, kamu menikahi mantan kakak iparmu. Orang-orang akan beranggapan kalau rumah tangga kakakmu hancur karena kamu." Aku hanya diam mendengarkan ucapan mami. Tapi aku tak peduli. Biarlah semua orang bicara sesukanya. Karena aku benar-benar cinta Maria. Tak mungkin aku melewatkan kesempatan yang sudah lama untuk bisa bersama dengan Maria.


"Biar saja orang bicara sesukanya mi. Tapi Arkan sudah mantap untuk menikahi Maria," ucapku.


"Tapi papimu tak suka Arkan. Dia tetap tak akan merestuimu," ucap mami sambil menahan kecewa mendengarkan keputusanku.


"Aku akan menikahi Maria, dengan atau tanpa restu papi,"ucapku dengan tegas pada mami.

__ADS_1


" Ya sudah terserah kamulah, ayah dan anak sama-sama keras kepala. Yang satu kekeh tak mengijinkan, yang satu kekeh mau menikah." Mami meninggalkan aku menuju dapur lagi.


*****


Ting tong, Ting tong. Suara bel berbunyi. bik Iyem segera berlari menuju pintu depan untuk membukakan pintu. Terlihat Maria masuk membawakan mainan untuk anak-anaknya. Zio berlari menghampiri Maria. Mungkin dia sangat rindu dengan ibunya.


"Mama," ucap Zio memeluk Maria. Mariapun membalas pelukan anaknya sambil memberikan hadiah mainannya.


"Mama, kenapa baru datang sekarang? Papa sudah balik lagi ke Australia," protes Zea.


"Maaf sayang, mama lagi sibuk kerja. Jadi baru sempat kesini," jawab Maria memberi alasan. padahal memang dia tak mau bertemu kak Kevin. Aku segera menghampiri Maria.


"Hai, gimana kabarmu?" sapaku.


"Baik mas," jawab Maria kemudian mencium pipi kanan dan kiriku. Zea hanya melihatku. Aku tak tahu gimana perasaan anak itu. Apakah dia senang aku bakalan nikah sama mamanya ataukah sedih. Kemudian Maria menghampiri mami dan mencium tangan mami. Mami begitu ramah pada Maria walaupun dia tak suka. Mami begitu pandai menyembunyikan perasaannya. Kemudian Maria berjalan menuju papi. Ketika hendak mencium tangan papi, tiba-tiba papi menepisnya.


"Pergilah, aku tak suka dengan wanita yang sudah merusak kehidupan kedua putraku," ucap papi. Maria dan aku begitu kaget mendengar ucapan papi. Tapi Maria hanya diam tak menjawab.


"Aku masih menghargaimu karena kamu ibu dari Zea dan Zio," lanjut papi. Akhirnya aku mengajak Maria untuk ke kamar Zea dan Zio saja. Maria melepas rindu dengan anak-anaknya di kamar anak-anaknya.


"Pi, kenapa papi seperti itu," protesku.


"Apa! kamu tak suka. Jika tak suka, pergilah kamu bersama wanita itu," ucap papi.

__ADS_1


"Oh, jadi papi mengusirku. Baik, setelah aku menikahi Maria, aku akan meninggalkan rumah ini," ucapku kesal pada papi.


__ADS_2