
Aku sedang berkemas ketika ibu mengetuk pintu kamarku.
Aku menoleh ke arah pintu dan tersenyum pada ibu.
"Ega, apa kamu yakin akan hadir di acara itu? kamu bukan lagi istri prajurit"
"Ini yang terakhir ibu, mereka tidak mengetahui jika Ega sudah bercerai dengan Mandala. Kasian mereka yang sudah mempersiapkan acara ini dan berharap Ega datang"
"Kamu akan bertemu Mandala di sana?"
"Kemungkinan iya bu"
"Ibu khawatir"
"Ibu, Ega sekian tahun kuliah diluar, ibu tidak pernah khawatir seperti ini"
"Menjaga Janda sepertimu sama sulitnya dengan menjaga anak perawan"
"Apa maksud ibu Ega akan bertemu Mandala dan berbuat yang enggak-enggak?"
"Siapa yang tahu. Kalian berdua masih saling mencintai"
Aku tersenyum sambil tertawa kecil.
"Ibu, Ega memang masih mencintai Mandala. Tapi Ega tahu kalo kami sudah bercerai. Ega tidak akan melakukan sesuatu di luar norma agama Ega"
"Kalo Mandala memaksamu?"
"Ibuuuuuuu"
Ibu tersenyum dan memelukku.
"Ibu percaya padamu dan Mandala. Jangan buat ibu kecewa"
"Ibu tenang saja. Ega akan kembali minggu sore"
"Berkemaslah, besok ibu akan membuatkan cemilan kecil untuk Mandala. Bagaimana pun juga dia pernah menjadi menantu kesayangan ibu"
"Memangnya ibu punya berapa orang menantu?"
Ibu tertawa sambil berlalu dari kamarku.
-------------------
"Jadi malam ini berangkat Ga?" Dokter Syarif bertanya padaku.
"Iya dokter, pesawat terakhir malam ini"
"Ingat untuk pulang. Selasa hari perpisahan untuk saya"
"Iya dokter, saya ingat"
"Suamimu pasti senang melihatmu datang"
Dokter Syarif menggodaku. Aku hanya tersenyum.
Tidak ada yang mengetahui di rumah sakit ini jika aku sudah bercerai. Aku memang tidak ingin mempublikasikannya. Jika suatu saat aku kembali pada Mandala. Aku pun tidak perlu mengklarifikasinya lagi.
----------------
Sejak pagi Mandala selalu tersenyum.
Mandala mengetahui dari para ibu-ibu panitia acara bahwa Ega bersedia hadir pada acara tersebut.
Jelas hari ini Ega akan datang karena acara di adakan besok pagi.
Tapi Mandala juga tidak mengetahui jam berapa pesawat yang di tumpangi Ega datang.
Yang jelas besok pagi, Mandala akan bertemu dengan Ega.
"Haruskah aku menanyakan padanya?"
"Akankah dia membalas pesan atau menerima telpon dariku?"
"Aku coba saja"
Mandala berbicara sendiri dari tadi sambil terus tersenyum.
"Aku seperti remaja yang sedang jatuh cinta"
Mandala pun mengambil handphonenya dan mulai mengetik pesan.
---‐------------------
Aku sedang istirahat siang ketika notifikasi chat masuk di handphoneku. Aku melihat di layar handphone chat tersebut dari Mandala. Tapi menggunakan nomor asli Mandala yang selama ini tersimpan di kontakku.
Dengan cepat aku membersihkan tanganku dan membuka chat.
"Kata ibu-ibu dharma wanita, kamu datang ke acara besok pagi. Kamu berangkat hari ini? pesawat jam berapa? Aku jemput"
Aku mengerutkan bibirku. Mandala kah ini? menjemputku? tidak, Mandala tidak boleh menjemputku.
Aku pun membalas chat dari Mandala.
"Tidak usah menjemput, bertemu besok saja di acara"
Mandala kembali membalas chatku.
"Kita datang bersama. Jika tidak, akan terlihat aneh"
Aku berpikir sejenak sebelum membalas chat dari Mandala.
"Baiklah, pagi sebelum acara jemput aku. Tempatnya kuberitahu padamu besok pagi"
Mandala kembali membalas.
"Baiklah"
Chat kami terhenti. Aku pun menyelesaikan makanku dan langsung kembali ke ruang kerjaku.
------------
Mandala tertekun memandangi layar handphonenya. Kembali membaca balasan chat dari Ega.
"Kenapa kamu tidak mengijinkanku untuk menjemputmu? Begitu takutkah kamu sehingga tidak memberitahukan dimana kamu menginap? takutkah kamu untuk bertemu denganku? atau kamu begitu membenciku?"
__ADS_1
Semua pertanyaan itu terlintas di kepala Mandala tanpa berani di pertanyakan langsung dan tidak tahu siapa yang harus menjawabnya.
Senyuman yang sejak pagi terukir di wajah Mandala kembali hilang.
------------------
Aku menghempaskan tubuhku di atas kasur kamar hotel yang malam ini menjadi tempatku menginap.
Penerbangan malam membuat jantungku berdetak tiga kali lebih cepat di tambah lagi kondisi cuaca yang berawan membuat beberapa kali goncangan di dalam pesawat.
Saat ini berada di dalam kamar hotel,benar-benar hal yang sangat kusyukuri. Empat bulan berlalu, akhirnya aku kembali lagi ke kota ini. Kota tempatku mengejar pendidikanku. Kota tempatku bekerja dan kota dimana aku menghabiskan waktuku bersama dengan Mandala.
Aku membersihkan diriku, mengganti pakaian kemudian bersiap untuk tidur sambil memeriksa chat yang masuk keponselku.
Aku pun membalas chat dari ibu, memberi kabar bahwa aku sudah sampai dan sekarang sedang berada di hotel.
Ada chat dari ibu-ibu dharma wanita yang mengingatkan bahwa acara besok pagi akan di mulai pukul delapan pagi. Di haruskan untuk datang setengah jam sebelumnya. Aku membalas chat mereka dan mengatakan kesanggupanku untuk datang tepat waktu.
Dan chat terakhir yang membuatku enggan membalasnya adalah chat dari Mandala.
"Sudah sampai sayang? bisa kita bertemu?"
Aku hanya menatap layar handphoneku tanpa tahu harus membalas apa.
Kumatikan handphoneku. Kucoba untuk memejamkan mataku. Apa yang harus kuucapkan ketika besok bertemu Mandala?
Aaarrrggghhhh kenapa rasanya seperti ini. Tidak seperti zaman dulu ketika kami bertemu sebelum menikah. Sekarang debaran di jantung ini semakin kencang.
----------------
Mandala sudah siap dengan pakaian kebesarannya. Kembali senyum manis itu terukir di wajah Mandala.
Setelah sekali lagi melihat dirinya di cermin. Mandala membuka chat yang di terimanya subuh tadi dari Ega.
"Jemput di hotel M kamar 336"
----------------
Aku melihat diriku di cermin dengan pakaian dharma wanita Angkatan Udara " Pia Ardhya Garini ".
Sudah lama aku tidak mengenakan pakaian ini. Memandang diriku sekilas sambil membayangkan Mandala berdiri disampingku dengan pakaian kebesarannya.
Bel pintu kamarku berbunyi. Aku mengerutkan dahiku. Masih pukul setengah tujuh pagi. Mandala kah yang datang? Seketika jantungku kembali berdebar.
Jantung, berdetaklah dengan tenang. Jangan membuatku menjadi gugup begini.
Bel kembali berbunyi. Aku bergegas ke arah pintu.
Ketika aku membuka pintu, kulihat Mandala yang tersenyum manis padaku. Memakai pakaian kebesaran Angkatan Udara yang di gunakannya waktu resepsi pernikahan kami dulu.
Aku terpana memandangi wajah tampan yang sudah empat bulan tidak ku lihat dan ku elus itu.
"Sayang?"
Aku tersadar dari lamunanku dan menjadi salah tingkah.
"Masuklah"
Hanya itu kata yang kuucapkan sambil membuka pintu lebih lebar.
Mandala masuk kedalam. Aku masih berdiri di pintu tanpa bergerak. Mandala mengambil alih pintu dan menutupnya.
"Apa kabarmu sayang?" Mandala mencium ujung kepalaku yang sudah tertutup jilbab.
Seketika aku sadar, kemudian mendorong Mandala menjauh dari tubuhku.
"Baik"
Aku pun menjauh dari Mandala. Menuju tempat tidur mengambil tas kecilku.
"Ayo kita pergi. Sarapan dulu dibawah"
Mandala sepertinya menyadari bahwa aku menghindari dirinya. Bahkan aku tidak berani menatap matanya.
"Sayang"
Mandala memegang pergelangan tanganku.
"Jangan panggil aku seperti itu"
Tanpa menjawab lagi Mandala langsung mencium bibirku. Aku berusaha melawan. Tangan Mandala memegang tengkukku supaya aku tidak bisa berontak dan tangan satunya memegang kedua tanganku.
Aku kalah dengan Mandala. Mandala mencium bibirku seperti memuaskan dirinya dengan empat bulan kami yang terlewat. Aku sempat terhanyut dengan ciuman Mandala. Aku membalasnya. Kami berciuman sangat lama. Ketika tangan Mandala mulai bergerilya di tubuhku. Aku langsung mendorong Mandala dengan kuat.
"Sayaaanng" Mandala terkejut dengan tindakanku.
"Kita sudah bercerai, ini salah Kapten. Sekarang kita harus pergi"
Aku kembali ke cermin. Membenarkan riasan dan jilbabku kembali. Mempoleskan lipstik di bibirku yang tadi habis di ***** Mandala.
"Ayo kita pergi"
Aku bergegas membuka pintu tanpa melihat ke arah Mandala lagi. Mandala mengikutiku sambil menutup pintu. Aku melihatnya sekilas. Ada kekecewaan di wajahnya karena penolakanku.
"Kapten"
Mandala menoleh ketika aku memanggilnya.
Aku mengambil tisu di dalam tas kecilku. Membersihkan bibir Mandala karena ada bekas lipstikku tertinggal di sana. Mandala terus memandangiku.
"Maaf, kita sudah bercerai. Kita tidak bisa melakukannya"
"Aku mencintaimu sayang. Aku sangat merindukanmu. Aku merindukan sentuhanmu"
"Maaf, ini namanya zina. Aku tidak bisa. Ayo, aku mau sarapan lebih dulu"
Aku pun melangkah lebih dulu menuju lift. Mandala pun menyusulku dengan langkah cepatnya dan langsung berdiri di sampingku.
"Maafkan aku sayang. Aku terbawa perasaan."
Aku pun tersenyum kecil, kemudian kami berdua masuk ke dalam lift menuju restoran untuk mengisi perutku yang dari tadi malam belum kuisi.
-----------------
"Bagaimana Ama?"
__ADS_1
Aku bertanya pada Mandala ketika kami berdua sudah berada di dalam mobil.
"Masih sama, belum ada perubahan yang berarti"
"Di rumah atau di rumah sakit?"
"Di rumah. Ama ingin di rawat di rumah"
"Boleh aku melihat Ama besok sebelum pulang? Aku juga ingin bertemu Putri dan Utami"
"Silahkan, telpon Nia lebih dulu. Supaya dia bisa menunggumu"
Kami kembali terdiam. Aku melihat Mandala sekilas.
"Kapten, kamu lebih kurus"
Mandala tersenyum. Membelai lembut kepalaku tanpa berkata apa-apa.
Dengan cepat aku mengalihkan wajahku keluar jendela karena air mata ini hampir tumpah ketika Mandala mengelus kepalaku.
"Bagaimana pekerjaan di sana? sudah terbiasa dengan suasananya?"
Aku mengangguk.
"Sama saja seperti di sini"
"Klinik?"
"Berjalan seperti biasa. Aku melakukan beberapa renovasi"
"Itu sudah menjadi milikmu. Terserah apa yang mau kamu lakukan"
"Bolehkah aku menjual rumah yang kamu berikan?"
"Itu sudah menjadi rumahmu. Kenapa bertanya padaku lagi".
Aku kembali terdiam.
"Kamu tidak menyukainya?"
"Tidak di tempati juga. Sayang tidak terawat nantinya"
"Terserah padamu. Aku sudah memberikan rumah itu untukmu"
Kami sampai di Markas Besar Angkatan Udara. Asisten Mandala menyambut kami di pintu gerbang dan memberi arahan untuk parkir mobil.
Mandala pun menghentikan mobilnya di tempat yang sudah diatur. Kami turun dan Mandala menyerahkan kunci mobil pada Asistennya.
Prajurit Muda menyambut kami dan memberi hormat ketika Mandala turun dari mobil dan juga menyapaku dengan hormat. Kami pun diantar masuk kedalam tempat acara.
Kedatanganku dan Mandala di sambut hangat oleh beberapa rekan Mandala yang lebih dulu datang. Kami pun ber ramah tamah dengan mereka.
Ada beberapa yang menggoda kami. Karena mereka tahu kami terpisah jarak selama ini. Jadi pertemuan kami ini menjadi bahan buat mereka menggoda kami. Tanpa mereka ketahui bahwa kami sudah bercerai.
Aku dan Mandala hanya tersenyum kecil menanggapi godaan mereka.
----------------
Acara ulang tahun hari ini berlangsung sampai malam hari. Mandala mendapat penghargaan dan aku masuk ke dalam sepuluh istri tentara yang berprestasi. Kami berdua berusaha bersikap sewajarnya. Selayaknya suami istri di depan orang banyak.
"Langsung pulang saja, tidak usah mengantar ku ke kamar"
Aku langsung membuka pintu mobil. Mandala menahan tanganku.
"Sayaaaang"
"Kapten, kita sudah bercerai. Ingat itu"
Mandala menghembuskan nafas dengan kasar.
"Kalo kamu memaksa untuk naik. Aku akan memberitahukan semua orang bahwa kita sudah bercerai. Aku selalu membawa salinan akta cerai kita"
Mandala kembali menghembuskan nafasnya.
"Naiklah, istirahat. Aku akan langsung pulang"
Aku tersenyum kecil kemudian turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam hotel tanpa menoleh lagi ke Mandala.
Ketika aku hendak memasuki lift, aku melihat Mandala melajukan mobilnya keluar dari hotel.
Aku menarik nafas lega.
"Maaf Kapten. Status kita sekarang sudah berbeda"
Aku pun masuk ke dalam lift menuju kamarku dan langsung membaringkan diri di atas kasur.
Ah, badanku sangat lelah.
Jiwaku juga lelah.
Aku ingin melupakan semuanya dulu saat ini.
Tanpa sadar mataku terpejam dan aku pun terlelap di alam mimpi tanpa mengganti pakaianku lebih dahulu.
--------------
Mandala sampai di rumah besar. Membuka pakaiannya dan langsung menuju kamar Mandi.
Mendinginkan otak dan hawa panas di tubuhnya dengan guyuran air dingin.
"Egaaaaaa"
Mandala berteriak menyebut nama Ega berkali kali di bawah air shower yang terus mengguyur badannya.
"Aku akan menikahimu kembali. Aku janji bahwa kita akan bersama lagi. Aku tidak bisa berpisah darimu. Aku merindukanmu"
Akhirnya Mandala terduduk di lantai kamar mandi sambil menangis. Perih melihat Ega menolaknya. Ingin terus memeluk Ega. Ingin terus membelai kepalanya.
Mandala, apakah kau lupa. Status kalian sekarang berbeda. Kau tidak bisa melakukan semua yang ingin kau lakukan ketika kalian dulu masih suami istri.
sebuah suara seperti terdengar mengingatkan Mandala. Mandala pun kembali terisak.
Mandala mengeringkan badannya. Memakai pakaian tidur dan berbaring di atas tempat tidur. Berusaha menepis semua keresahan hatinya dengan meneguk dua butir pil tidur dan memejamkan matanya.
----------------------------------
__ADS_1
Jangan lupa votenya yaa
LOVE YOU 😘😘😘😘