Jodohku

Jodohku
Masih ada Harapan


__ADS_3

Sebagai seorang prajurit, hari ini adalah hari yang istimewa. Karena hari ini adalah hari ulang tahun kemerdekaan. Mandala sudah dua hari tidak pulang ke asrama. Persiapan di Istana Negara dan pangkalan TNI AU membuatnya menjadi sibuk. Aku sudah mengerti itu semua, karena setiap Ulang Tahun Kemerdekaan, Mandala pasti sangat sibuk.


Hari ini aku libur bekerja. Tapi sebagai istri prajurit, Aku harus mengikuti serangkaian kegiatan yang di buat oleh dharma wanita di Angkatan Udara. Aku tidak bisa lebih lama lagi untuk tidur seperti biasanya saat aku sedang libur bekerja.


Aku sudah bersiap mengenakan pakaian Dharma Wanita. Sedikit memoles wajahku biar tidak terlalu polos. Beberapa hari yang lalu, pengurus Dharma Wanita di asrama ini sudah membuat janji untuk berangkat bersama. Karena jam yang di sepakati sudah dekat, aku bergegas mengambil tas, mengenakan sepatu dan keluar untuk menemui ibu ibu yang lainnya.


Baru selesai mengunci pintu rumah, handphoneku bergetar. Dari Mandala.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, sudah mau berangkat sayang"


"Iya, ini sudah mau ketempat ngumpul ibu ibu centes, kenapa sayang?"


"Aku sudah menelpon ke Asrama, nanti ada prajurit yang mengantarmu ke Istana. Kamu ikut upacara di Istana dan ikut makan bersama nanti di Istana."


"Yang, gak usah. Aku di sini saja. Aku gak punya teman nanti di sana".


"Banyak yang kamu kenal di sini, sudah jangan melawan, sebentar lagi kamu di jemput. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


Aku pun langsung menelpon pengurus Dharma Wanita Asrama dan memberitahukan semuanya.


"Wah, enak dong jeng dapat ketemu presiden nanti"


"Hahahahaha iyaa mbak siapa tahu nanti di jadikan dokter pribadi sama ibu negara"


Aku sedikit bercanda.


Secara dokter forensik, mana mungkin jadi dokter pribadi seseorang.


Mobil yang menjemputku tiba, seorang prajurit turun dari mobil, memberi hormat padaku dan mempersilahkanku untuk masuk kedalam mobil. Di dalam mobil ada satu orang lagi istri perwira yang langsung menyapaku ketika aku di depan pintu.


"Mbak, apa kabar?"


"Alhamdulillah baik, lama gak ketemu" Kami pun saling bersalaman dan cium pipi kiri pipi kanan.


"Kita bakal satu asrama nanti mbak, Mas Romi pindah kemari bulan depan. Kan menggantikan posisi suami mbak nanti"


"Oh yaa? Saya belum tahu kalo ada pergantian jabatan".


"Iya mbak, Pak Kapten kan bakalan naik pangkat dan jabatan ke Mabes Angkatan Udara. Jadi Staf Komando Operasi. Suami saya yang menggantikan Pak Kapten nantinya jadi Komandan di Landasan".


Aku hanya diam dan tersenyum.


Ember juga ni orang pikirku dalam hati.


Jika Mandala belum memberitahukan kepadaku, itu tandanya belum pasti, tapi ni istri perwira sudah membocorkannya duluan.


Untung aku bukan tipe istri yang suka bergosip.


"Kenapa kita ikut upacara ke Istana? lebih enak ikut upacara di Landasan Angkatan Udara saja".


"Masa mbak gak tahu?"


Aku mengangguk, menandakan bahwa aku memang benar tidak tahu apa apa.

__ADS_1


"Kapten Mandala kan jadi Komandan Upacara hari ini."


"Hah? biasanya kan dari Angkatan Darat atau Kopasus".


"Gak mbak, bergantian kok dari semua angkatan. Tahun ini giliran Angkatan Udara. Bakalan viral nanti ni mbak kalo para penonton melihat komandan upacaranya cakep".


Lagi-lagi aku hanya tersenyum.


Sebenarnya aku tidak rela wajah Mandala di kenal banyak orang. Dengan sedikit orang yang mengenalnya saja aku sudah gelisah, apa lagi nanti kalo banyak yang mengenal Mandala. 😭😭


Kami sampai di sudut lain dari Istana Negara.


Sepertinya memang areal khusus untuk mobil-mobil para tentara parkir, dengan banyaknya Tentara yang berseliwiran kesana kemari.


"Pak Kapten di sana bu".


Prajurit yang membawaku tadi mengantarkanku pada Mandala.


Aku bertemu Mandala, dan di sambut senyuman manisnya.


"Cakep gak suamimu ini?"


Mandala mencium keningku. Tak perduli pandangan para tentara lain yang berada di sekitar kami.


Aku merapikan pakaian Mandala.


"Gak pulang dua hari narsisnya tambah jadi".


Mandala tertawa, kembali mencium ujung kepalaku.


"Duduk yang manis, selesai upacara ku jemput".


Aku mengikuti upacara bendera pertama kalinya di Istana. Ada perasaan haru, tegang dan bahagia ketika melihat Mandala di tengah halaman Istana menjadi komandan Upacara.


Jika kelak aku memiliki anak, pasti anakku akan bangga pada ayahnya.


Pasti anakku ingin mengikuti jejak ayahnya seperti Mandala yang juga mengikuti jejak almarhum ayahnya.


Selesai upacara, Kami di undang untuk makan bersama dengan para petugas lainnya. Termasuk para pelajar paskibraka dari berbagai daerah.


Mandala menggenggam tanganku memasuki ruang makan. Beberapa Tentara entah perwira juga or prajurit menghampiri Mandala. Menyalami kami berdua, berbincang sebentar kemudian berjalan kembali. Bertemu lagi dengan beberapa orang, bersalaman, basa basi sebentar, berjalan kembali.


Inilah acara ramah tamah yang di adakan Istana.


Aku pun hanya mengikuti kemana Mandala melangkah, ikut bersalaman, ikut tersenyum dan ikut duduk di samping Mandala ketika protokal mengumumkan bahwa acara akan segera di mulai.


"Capek?" Mandala melihat ke arahku dan berbisik.


"Lumayan kaki pegel". Aku pun ikut berbisik di telinga Mandala.


"Latihan, kalo nanti suamimu jadi pejabat".


"Gak usah jadi pejabat, aku gak mau jadi ibu pejabat".


Mandala tersenyum.


"Maunya jadi ibu apa?"

__ADS_1


"Ibunya anak-anakmu pak Kapten"


Mandala menggenggam tanganku.


"Sabar ya sayang".


Aku pun mengangguk lemah dengan wajah sedih.


Selanjutnya kami mengikuti seluruh acara ramah tamah sampai kemudian Pemimpin dan para pejabat Istana meninggalkan ruangan ramah tamah.


Mandala memperkenalkanku pada seseorang di acara hari ini.


Beliau adalah seorang profesor. Suami beliau Perwira Tinggi di Angkatan Laut.


"Bunda, ini Istri saya".


Mandala memperkenalkanku pada sosok perempuan berwajah lembut yang dipanggilnya bunda.


"Cantik, seperti yang sering Mandala ceritakan"


"Duduklah bersama bunda, aku pergi sebentar".


Aku mengangguk dan Mandala meninggalkan kami.


Perempuan itu memandangiku dan menggenggam tanganku lembut.


"Mandala dan putra kami bersahabat, karenanya Mandala sudah kuanggap seperti anak sendiri. Sayangnya putra kami sudah lebih dulu pergi".


"Saya ikut berduka cita bunda".


Bunda tersenyum.


"Mandala memberitahuku tentang dirimu. Tentang kandunganmu. Kebetulan aku adalah dokter Kandungan. Mandala ingin aku membantumu"


Aku sedikit terkejut.


Pantas saja aku seperti pernah melihat wajah bunda. Ternyata beliau adalah Professor di kedokteran yang keahlian utama beliau adalah di bidang Obstetri dan Ginekologi.


Wajah beliau sering muncul di acara seminar dan di majalah majalah.


Kenapa aku tidak mengenali beliau dari awal tadi 🙈


"Saya beruntung bisa bertemu Bunda".


"Datanglah kerumah, Mandala tahu alamat rumah kami. Sangat tidak santai jika kita berbicara di sini".


"Baik bunda, saya akan memberitahu Mandala"


"Minggu depan aku kembali ke singapura, secepatnya kerumah, bawa semua rekam medis menyangkut kehamilan dan kandunganmu".


Aku mengangguk dan tersenyum.


Ternyata Mandala juga memikirkan tentang ini. Mandala diam-diam mencarikanku dokter yang kompeten di bidang ini.


Aku bernafas lega. Ada harapan yang besar bahwa kemungkinan aku akan berhasil hamil kembali.


----------------

__ADS_1


Jangan lupa Votenya yaa...


LOVE YOU 😘😘😘


__ADS_2