
Dua minggu kemudian.
"Kamu berhenti bekerja?"
Mandala memandangku dengan tatapan tidak percaya.
"Iya". Aku menjawab sambil mengangguk.
"Tidak sayang dengan ilmu yang kamu dapatkan selama bertahun tahun? Dengan uang kuliah yang selama ini di keluarkan?"
"Sayang, aku ingin punya anak. Aku akan fokus pada program yang di berikan Bunda Arin".
Mandala menghela nafasnya.
"Jika itu memang keputusanmu, aku dukung. Tapi jangan menyesal nantinya".
Aku menggelengkan kepalaku.
"Aku tidak akan menyesal, karena aku akan fokus menjaga diriku agar cepat bisa hamil".
"Dengan siapa kamu hamil?"
Mandala menggodaku.
"Entahlah, mungkin aku akan mencari seorang selebritis top atau seorang atlet basket".
"Jika mereka berani menghadapiku, silahkan saja di coba".
"Siapa yang memulai, siapa yang marah".
Aku mengejek Mandala balik.
"Kapan kamu mulai berhenti bekerja?"
"Suratnya sudah aku ajukan, tapi pihak manajemen belum memberi jawaban, mereka berjanji dalam minggu ini akan memberikan keputusan. Selama belum ada surat keluar, aku masih diwajibkan untuk masuk kerja".
"Jadi, apa yang kamu lakukan kalo tidak bekerja?"
"Aku akan menjaga kondisi tubuhku. Minum vitamin, makan makanan yang sehat. Aku tidak boleh lelah".
"Begitu saja? bagaimana bisa hamil dengan minum vitamin dan makan makanan yang sehat?"
"Kapteeeennn... jelas aku memerlukanmu untuk bisa hamil".
"Jadi sekarang aku di perlukan?"
Mandala terus saja menggangguku.
"Aku memerlukanmu untuk memberiku nafkah lahir karena aku sudah jadi pengangguran. Dan memberikanku nafkah bathin karena aku ingin hamil".
"Jadi selama kamu bekerja aku tidak pernah memberimu nafkah? kemana hilangnya uang gajiku setiap bulan di dalam rekening itu?"
"Kapten, kenapa kamu selalu membalikkan setiap kata-kataku?"
"Karena mengganggumu membuatku bahagia".
Mandala membawaku ke dalam pelukannya.
"Kapan program Bunda Arin akan dimulai?"
"Bunda masih di Singapura. Bisakah kita kesana menemuinya?"
"Hmmmm... sekarang hanya aku yang bekerja, haruskah kita menghamburkan uang untuk berangkat?"
"Kapten, kenapa kamu sekarang menjadi pelit".
"Karena aku mulai sekarang harus menggunakan semua uangku. Aku tidak bisa lagi membujukmu untuk menggunakan uang gajimu".
Aku memeluk Mandala sambil menggigit dadanya.
"Selama ini uang gajiku juga selalu utuh, kita selalu menggunakan uang gajimu untuk keperluan kita sehari hari. Aku juga masih akan dapat uang dari klinik kan?".
"Aku tahu, aku hanya bercanda sayang. Aku senang jika kamu memutuskan untuk tidak bekerja, walaupun sebenarnya sangat di sayangkan.
Aku dapat membiayaimu walaupun kamu benar-benar berhenti total".
Mandala memelukku erat.
Aku kembali menggigit dada mandala.
__ADS_1
"Sayaaanng, program kehamilannya akan kita mulai malam ini jika kamu terus menggigit dadaku".
Aku kembali menggigit.
Mandala mengangkat kepalaku, memandangiku dengan mata birunya.
"Aku juga punya berita untukmu".
Aku memandang Mandala dengan pandangan serius.
"Aku di tugaskan untuk program latihan bersama di Australia selama dua bulan".
Aku membulatkan mataku.
"Program hamilku?"
"Karenanya aku terkejut dengan keputusanmu berhenti bekerja. Seharusnya kamu berdiskusi dulu denganku".
Mandala masih berkata dengan lembut, walaupun dari kalimatnya dia kecewa karena aku memutuskan sendiri tanpa berdiskusi padanya.
Aku menundukkan kepalaku.
Jujur, aku juga kecewa.
"Maaf, seharusnya aku cerita dari dulu padamu".
Mandala membelai lembut rambutku.
"Jangan menyesal kan ku bilang tadi. Aku masih akan berangkat minggu depan. Nikmatilah dulu waktu liburmu selama dua bulan ini. Santai dan beristirahatlah di rumah".
"Programnya di tunda?"
" Selama dua bulan ini, kamu bisa memulihkan kondisi tubuhmu kan? berkonsultasilah pada Bunda Arin. Dan bersiaplah untuk menerima seranganku yang terpendam selama dua bulan".
Aku menunjukkan wajah cemberut pada Mandala.
"Sayang, kita sudah bersabar selama lima tahun. Tidak bisakah kita bersabar selama dua bulan lagi?".
" Baiklah, Bunda Arin juga berkata bahwa aku harus melakukan berbagai tes dulu".
"Maaf, kamu harus menjalaninya sendiri. Kamu bisa kan?"
Aku mengedipkan mataku ke Mandala.
"Karena kamu sudah tidak bekerja, selama aku tugas, jangan bete di rumah, jangan menghabiskan uang buat shopping yang aneh-aneh.".
"Buat bayar biaya pengobatan ke Bunda Arin?"
"Bukannya tadi kamu bilang, kalo selama ini uang gajimu masih utuh? berarti tabunganmu banyak. Pakailah uang tabunganmu dulu".
"Kapteeeeeennn"
Aku memukul dada Mandala.
Mandala kembali memelukku dan mulai menciumi leherku.
Malam ini pun program kehamilan yang belum
diresmikan Bunda Arin sudah di resmikan Mandala lebih dulu.
---------------
"Dokter Chintya silahkan duduk".
Pagi ini aku dipanggil pihak manajemen. Aku tahu ini berhubungan dengan surat pengunduran diriku.
Bukan hanya pihak manajemen yang ada, tapi juga ada Direktur Rumah Sakit dan Dokter Herman sebagai dokter kepala di forensik.
Aku duduk di sofa bersampingan dengan dokter Herman.
"Kami sudah menerima surat pengunduran diri dari dokter Chintya. Alasan pengunduran diri pun sudah jelas di dalam surat tersebut. Kami dapat memakluminya".
Kepala manajemen berkata, kemudian mempersilahkan Direktur Rumah Sakit berbicara.
"Dokter Chintya, sebenarnya sangat di sayangkan. dokter Herman juga tidak rela melepaskanmu. Jadi kami ingin berdiskusi dulu dengan dokter Chintya sebelum mengambil keputusan".
"Baik dokter".
"Apa dokter Chintya berniat untuk mengikuti program kehamilan?".
__ADS_1
"Benar dokter, program tersebut mengharuskan saya untuk fokus. Tidak bisa membuat saya lelah".
"Kapan programnya di mulai?".
"Secepatnya dokter, saya sudah lima tahun menikah. Saya ingin segera punya anak".
Aku tidak mungkin memberitahu para dokter di depanku ini bahwa suamiku bertugas selama dua bulan, dan program itu tertunda.
"Kami mengerti kondisi dokter Chintya. Karenanya kami sekarang memberikan dokter Chintya ijin sakit saja terlebih dahulu".
"Ijin sakit dokter?"
Aku bertanya dengan heran.
"Iya, kami memberikan ijin sakit selama tiga bulan. Semoga dalam tiga bulan, program kehamilan itu sudah ada hasilnya. Untuk selanjutnya, kita akan pikirkan kemudian".
"Jadi surat pengunduran diri saya belum di setujui?"
"Kami tidak akan melepaskan seorang dokter seperti dokter Chintya. Jadi inilah dulu solusi pertama kami".
Aku menganggukkan kepalaku. Entah aku mengerti atau menyetujuinya.
"dokter Chintya, untuk gaji selama ijin sakit akan kami berikan full, anggap saja untuk membiayai program yang dokter jalani. Hanya saja dokter Chintya tidak akan mendapatkan tunjangan".
Kepala Manajemen kali ini yang menjelaskan padaku.
"Apa dokter Chintya menyetujuinya?"
"Baiklah, saya menyetujuinya."
"Setelah tiga bulan depan, kita akan berdiskusi kembali".
"Terima kasih dokter, sudah mengerti dan memahami kondisi saya".
Aku menyalami ketiga dokter Senior di hadapanku.
"Dokter Chintya, semoga programnya berjalan lancar. Kami semua berdoa untuk dokter".
Aku tersenyum sambil menahan air mataku agar tidak jatuh dan berpamitan untuk keluar.
Di rumah, aku menceritakan semuanya pada Mandala.
"Enak dong, gak kerja tapi dapat gaji".
"Itulah untungnya jadi dokter yang cantik dan pintar seperti istrimu ini".
Aku memuji diriku sendiri sambil membereskan pakaian Mandala yang akan di bawanya bertugas.
"Kapteenn.. apa ada tentara wanitanya juga?"
"Adalah..biasanya dokter tentara.. ikut juga latihan bersama dengan kami".
"Cantik gak?"
"Belum tahu, nanti kalo sudah bertemu akan kuajak foto bersama. Fotonya akan kukirimkan padamu".
"Gak usah di kirim, aku gak perlu melihatnya".
Aku menutup tas Mandala dan menaruhnya dengan kuat di lantai sehingga terdengar bunyi yang keras.
Mandala memelukku dari belakang.
"Tenanglah, hanya kamu satu-satunya di hatiku. Aku tidak akan mencari ibu yang lain untuk anakku".
Mandala mencium leherku dari belakang.
"Beri aku sangu sebelum berangkat, peras sampai habis malam ini biar aku bisa menahannya selama dua bulan nanti".
Aku hanya mengangguk. Mandala menggendongku ke tempat tidur.
Selamat Malam semua..
Selamat tidur.. hehehehhehe
---------
Jangan lupa votenya yaa
LOVE YOU 😘😘😘
__ADS_1