Jodohku

Jodohku
Sesak di dada


__ADS_3

Lusa aku akan kembali pulang ke kota asalku. Hari ini aku berpikir akan menengok Ama untuk yang terakhir kalinya sebelum aku pulang.


Aku sudah menghubungi Nia bahwa aku akan ke rumah sakit. Aku ingin bertemu Putri dan Utami, karenanya Nia akan membawa mereka berdua ke rumah sakit.


"Bundaaaaa"


Lagi-lagi Putri berteriak begitu melihatku dan langsung berlari masuk ke dalam pelukanku.


Aku memeluk Putri erat. Sepertinya ini adalah pelukanku yang terakhir.


"Sayang, bunda liat amantua dulu ya. Putri temanin Bunda?"


Putri mengangguk dan langsung memegang tanganku. Aku pun menghampiri tempat tidur Ama.


Memegang tangan Ama dan mulai berbicara.


Aku tidak perduli, Ama mendengarku atau tidak.


"Ama, Ega akan pulang. Mungkin ini terakhir kita bertemu. Ega minta maaf jika Ega menyakiti hati Ama. Ega mengerti apa yang terjadi semua karena Ama sangat menyayangi anak-anak Ama. Tolong maafkan Ega. Ega akan berdoa untuk kebaikan Ama"


Air mataku keluar. Sebenarnya bukan itu yang ingin kuucapkan. Aku ingin berkata.


"Ama, biarkan Ega dan Mandala bahagia. Kejadian masa lalu bukan salah kami. Tapi semua sudah tulisan takdir dari Kuasa"


Nia mendekatiku dan memegang bahuku.


"Kakak ipar mau kemana?"


"Mau pulang kampung"


"Kakak tidak bekerja lagi? bukannya kakak kuliah?"


Aku menggeleng.


"Aku akan pindah tugas. Tolong jaga Putri dan Utami. Perlakukan mereka seperti anak kandungmu sendiri. Tolong, jangan sakiti mereka berdua".


"Kakak ipar bicara apa? tentu saja aku akan menyayangi mereka berdua".


"Sampaikan salamku untuk Melky"


"Melky akan datang sebentar lagi kak. Tunggulah, dia bilang ingin bertemu kakak"


"Kamu juga memberitahu abangmu aku akan datang ke rumah sakit?"


"Tidak kakak, aku sudah beberapa hari ini tidak bertemu abang".


"Dia tidak pulang ke rumah?"


"Sejak kakak pergi, abang lebih sering tidur di Asrama"


"Di Asrama?"


Aku mengerutkan alisku.


"Mandala yang berkata bahwa dia tidur di Asrama?"


"Iya kakak. Abang yang berkata seperti itu"


Aku terdiam. Mandala tidak pulang ke Asrama juga tidak pulang kerumah. Kemana Mandala setiap malamnya ketika dia tidak bersamaku?


Aku merasa masih ada teka teki di dalam kehidupan Mandala.


Pikiranku kembali bercabang. Tiba-tiba Melky masuk ke dalam ruangan dan langsung menghampiriku.


"Kakak ipar, syukurlah. Aku pikir kakak ipar sudah pulang"

__ADS_1


Aku tersenyum manis pada Melky. Entah Melky terlibat secara langsung atau tidak terhadap persekongkolan ini. Tapi Melky tetap memiliki hubungan denganku. Ibunya Melky suka atau tidak suka adalah bibiku. Akibat dari perbuatan jahat kakekku di masa lalunya.


"Kakak akan pulang kampung?"


Aku mengangguk.


"Serius kakak akan pergi? Bagaimana dengan Abang?"


"Entahlah.. biarlah waktu yang berbicara"


"Kakak serius akan menggugat cerai Abang"


Aku hanya tersenyum.


"Aku ingin menenangkan diri dulu. Langkah selanjutnya belum aku pikirkan"


"Kakak, aku ingin kakak dan abang bahagia. Tolong kakak pikirkan lagi baik-baik semua ini"


Aku memegang tangan Melky.


"Maafkan aku jika selama ini aku ada salah dengan kalian. Tolong rawat Putri dan Utami dengan baik. Jangan sakiti mereka"


Melky mengangguk dan balas menggenggam tanganku.


"Mereka kesayanganku kak. Aku pasti akan merawat mereka sepenuh hatiku. Kakak ipar jangan khawatir"


Aku pun kembali tersenyum.


"Kapan kakak ipar berangkat?"


"Lusa. Jangan beritahu abangmu"


"Teruslah menghubungiku dan Nia kak. Jangan putus komunikasi. Aku menyayangi kakak. Tolong jangan benci aku dan anak-anakku".


"Insya Allah, aku akan menelponmu. Terutama jika aku kangen dengan Putri dan Utami"


Tanpa kuduga Melky memelukku.


"Aku menyayangimu kakak."


Aku membalas pelukan Melky. Aku tahu kenapa Melky melakukan itu. Banyak hal yang ingin di ungkapkan Melky yang tidak bisa di ucapkannya secara langsung padaku.


Aku melepaskan pelukan Melky. Melky kembali menatapku dengan mata yang sedikit basah.


"Kakak hati-hati. Selalu jaga kesehatan"


"Kamu juga. Jaga keluargamu. Aku juga menyayangi kalian semua".


"Kakak ipar "


Suara Nia membuatku dan Melky menoleh bersamaan.


"Ama bangun. Sepertinya ingin berkata sesuatu pada kakak"


Aku melihat ke arah Ama. Bibir Ama bergerak. Tapi kami semua tidak bisa mendengar apa yang di ucapkan Ama.


"Ada apa Ama?"


Melky mendekatkan telinganya pada bibir Ama.


"Ega? Iya, itu kakak ipar"


Aku pun mendekati Ama dan mengikuti Melky mendekatkan telingaku


"Ini Ega Ama"

__ADS_1


"Ma..af. Ma af"


Hanya itu yang kudengar dari mulutnya Ama.


Aku memandangi Ama. Apa Ama meminta maaf padaku? Apa ada yang ingin di katakan Ama lagi padaku?"


"Kenapa Ama minta maaf pada Ega? Ega yang harusnya minta maaf"


Bibir Ama kembali bergerak. Aku pun kembali mendekatkan telingaku.


"Ma af.. Ma af"


Kembali hanya itu yang dapat kudengar.


"Ega memaafkan Ama. Ega pun berharap Ama memafkan Ega"


Kulihat wajah tua itu sedikit tersenyum. Semoga kali ini Ama mendapat hidayah untuk tidak menyakiti siapapun lagi.


"Ega pamit ya Ama. Ega akan pulang menengok ibu. Ama jangan lupa minum obat. Ikuti semua apa kata dokter".


Ama terlihat kembali sedih. Aku masih tidak bisa membaca ekspresi Ama. Apa yang dipikirkan Ama. Apa maunya Ama. Aku masih belum bisa menebaknya.


Aku pun beralih pada Melky dan Nia.


"Aku pamit dulu, tolong jaga Ama"


Nia memelukku.


"Hati-hati kakak. Bersabarlah"


"Jaga keluarga ini Nia. Kamulah Nyonya rumah itu sekarang"


"Bagi Nia, kakak lah Nyonya di rumah itu. Jadi cepatlah kembali"


Aku hanya tersenyum. Mungkinkah aku akan kembali lagi kesana?


Melky kembali memelukku sesaat. Aku juga memeluk Putri dan Utami. Aku mengeluarkan handphoneku. Aku memotret kedua bidadari kecil itu.


Air mataku menetes tanpa di perintah.


"Bunda selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian berdua. Selalu ingat Bunda ya sayang"


Aku menciumi pipi keduanya. Kembali memeluk erat mereka.


Aku menarik nafas panjang kemudian berdiri dan melangkah ke arah pintu. Kudengar Putri menangis memanggilku. Aku ingin kembali untuk memeluk Putri, tapi kuurungkan niatku. Aku terus melangkah menuju pintu, membuka pintu, melangkah keluar dan menutup pintu kembali.


Aku bergegas menuju taman rumah sakit. Bersembunyi di salah satu pohon yang rindang. Aku menangis terisak. Tidak mudah bagiku untuk pergi begitu saja. Enam tahun aku bersama mereka. Tetap ada rasa yang tertinggal di hatiku untuk mereka.


Setelah aku merasa lebih tenang. Aku pun melangkah pergi meninggalkan rumah sakit. Malam ini mungkin aku kembali berdiam diri di kamar. Dalam berapa hari ini dadaku terasa sesak. Aku selalu ingin menangis. Seperti ada beban berat yang belum aku lepaskan.


Mandala pun tidak menghubungiku lagi. Sehingga sesak di dada ini makin bertambah karena kekhawatiranku tentang Mandala.


"Ibu baik-baik saja?"


Rita yang menyambutku pulang ke kost terlihat khawatir memandangku.


Aku hanya tersenyum.


"Aku ingin istirahat. Jika ada yang mencariku, katakan aku tidur"


"Baik bu. Istirahatlah"


Aku masuk ke dalam kamarku. Memandangi langit-langit kamar. Berharap aku memiliki doraemon hingga aku bisa kembali ke masa lalu dan mengubah semuanya. Mengubah cerita hidupku. Mengubah kejadian yang membuatku sekarang tidak bahagia.


-----------

__ADS_1


Jangan lupa votenya yaa


LOVE YOU 😘😘😘


__ADS_2