Jodohku

Jodohku
Tidak ada yang sempurna....


__ADS_3

dr.Chintya Rismawaty Marega Sp.FM...


itu namaku sekarang yang tertera di papan depan ruangan forensik...


Yaa, aku sekarang sudah bekerja di Rumah sakit milik pemerintah daerah..


enam bulan yang lalu aku mengikuti tes pegawai untuk dokter.. dan aku berhasil di terima kemudian di tempatkan di rumah sakit milik pemerintah...


Aku menolak Rumah sakit tentara waktu itu..


karena aku ingin masuk bekerja atas usahaku sendiri..


bukan bantuan dari siapa pun...


Dan juga aku malas bertemu dengan dokter Arini..


Aku percaya dengan Mandala jika mereka tidak pernah ada apa apa...


Tapi jika aku selalu di provokasi setiap bertemu dengannya.. lama kelamaan aku takut akan terpengaruh... akan berbahaya nantinya untuk rumah tangga ku dan Mandala...


Jadi aku memutuskan untuk tidak bekerja di rumah sakit itu bersama seorang dokter pengendali emosi orang lain 😄😁


Mandala menerima dan mendukung semua keputusanku.. walaupun rumah sakit yang sekarang ini lebih jauh dari asrama tepat kami tinggal... tapi mandala tetap mengijinkanku.. bahkan jika aku dinas malam, mandala akan mengantar dan menjemputku kembali di pagi harinya...


Hari ini aku bekerja seperti biasanya... aku mendapat dinas pagi... sehingga aku membawa kendaraan sendiri...


Hari ini juga satu bulan aku bekerja.. sehingga aku sudah terbiasa dengan sistem kerja ataupun aturan yang ada di dalam rumah sakit ini...


Selama jam kerja, tidak diperbolehkan membawa handphone ke dalam ruang forensik.. sehingga jika ada yang darurat, kami akan di hubungi melalui telepon rumah sakit yang terhubung di tiap ruangan..


Aku masih di dalam bersama seorang mayat perempuan korban pembunuhan, ketika seorang perawat mengetok pintuku...


"Dokter, ada telpon dari kepala rumah sakit..."


Aku menghentikan aktivitasku dan menerima telepon..


"Halo.."


"Dokter Chintya, pekerjaanmu akan digantikan oleh dr.Herman.. saya sudah menelponnya.. kamu segera ke ruangan saya"


"Baik dokter..."


Aku hanya terdiam... ada apa ini??


Aku menuju ruangan dokter kepala rumah sakit...


Ketika aku masuk di dalam ruangan ada Melky...


"Kakak ipar..."


"Ada apa Melky?"


"Saya harus membawa kakak ipar pulang dan berkemas... bapak sakit, kakak ipar harus pulang.. abang menunggu di pangkalan.. saya akan mengantar kakak ipar juga kepangkalan..."


Aku memandangi dokter kepala rumah sakit dan dokter kepala forensik atasanku yang juga berada di ruangan...


"Pulanglah dokter chintya.. ijinmu di sini akan saya atur.. kabari saya kalo ada apa apa.."


dokter kepala forensik berkata padaku..


Aku segera berdiri dan pamitan pada dua orang dokter senior yang kuhormati ini...


Di dalam rumah tidak tau apa yang harus kukemas.. kenapa aku tiba tiba menjadi bingung dan linglung..


aku sedikit gelisah.. parahkah penyakit bapak? kenapa ibu tidak menelponku...


Aku membawa pakaian seadanya... juga membawa pakaian mandala...


Aku menitipkan kunci rumah pada tetangga di sebelah dan meminta dicarikan orang untuk membersihkan rumah...


"tadi kapten juga sudah menelpon kami.. tenang saja bu dokter, kabari kami ya bu dokter keadaan bapaknya ibu"


Aku mengangguk kemudian pergi bersama melky menuju pangkalan TNI AU.. sepertinya Mandala akan menggunakan helikopter untuk membawaku pulang..


dan benar saja, sampai dipangkalan Mandala sudah siap dengan helikopternya... Mandala sendiri yang menjadi pilotnya... ada seorang rekannya disamping.. juga ada Ama...


Rupanya Ama juga akan ikut bersama kami...


Ketika melihatku datang.. Mandala turun dari helikopter... memelukku sebentar.. kemudian membawaku kedalam helikopter...

__ADS_1


memasangkan semua safety yang harus kukenakan...


"Duduk yang tenang.. kalo bisa dibawa tidur saja"


Mandala mencium keningku... kemudian turun dan menutup pintu helikopter... dan kembali keposisinya di depan sebagai pilot...


Baru kali ini aku melihat Mandala membawa helikopter...


kalo aku tidak dalam suasana hati yang galau, aku pasti akan tersenyum bahagia melihat langsung suamiku membawa helikopter...


Tapi sayang, hari ini aku hanya banyak diam sambil melihat pemandangan disamping... dan juga helikopter ini sangat berisik, bagaimana aku bisa tidur 🙈


Mandala rupanya sudah berkoordinasi lebih dulu dengan batalyon di daerah, jadi ketika kami datang.. landasan mendarat pun sudah di siapkan.. termasuk mobil yang akan membawa kami setelah turun dari helikopter...


Kami langsung menuju rumah sakit...


Ketika memasuki rumah sakit...


Mandala yang selalu menggenggam tanganku sejak turun dari helikopter langsung memelukku...


"Sayang, ada yang harus kuceritakan"


Mandala membawaku duduk kembali kedalam mobil...


"Ada apa? aku ingin melihat Bapak.."


"okey, lihat dulu bapak, baru kuceritakan"


Mandala kemudian membawaku masuk ke dalam rumah sakit..


Ketika aku melihat Bapak dan ibu berbaring bersama dalam satu kamar.. barulah aku merasa bahwa ada sesuatu yang terjadi..


pantas saja bukan ibu yang menelponku, karena ibu pun ikut terbaring koma bersama bapak...


Aku menangis melihat kedua orang tuaku...


Bagian kepala bapak dan ibu terluka cukup parah...


Diwajah dan tangan banyak terdapat luka...


Siapa orang yang tega melakukan semua ini...


Aku duduk di kursi depan ruang ICU..


Menatap semua orang di depanku..


Karena bapak seorang pejabat, maka ada Dokter kepala rumah sakit, kepala polisi, pangdam dan juga pejabat teras lainnya yang menunggu bersama di depan ruangan..


Terakhir aku menatap Mandala yang duduk disampingku dengan terus menggenggam tanganku..


"Ceritakan apa yang terjadi? aku sudah siap mendengarnya."


Mandala meminta polisi yang ada di rumah sakit untuk menjelaskan padaku..


"Tadi malam, pulang acara dari Hulu, mobil di hadang perampok.. supir dan asisten meninggal di tempat.. bapak dan ibu seperti sekarang, dalam keadaan koma"


"Sudah di tangkap pelakunya?"


Aku bertanya pada polisi tersebut..


"Masih dalam pengejaran kami"


Aku memandang Mandala..


"Bapak orang nomor satu di sini.. bagaimana pengaman terhadap beliau sampai hal ini bisa terjadi? aku takut ini bukan perampokan tapi pembunuhan berencana.."


Mandala memelukku..


"Semua akan di selidiki"


Aku memandang dokter kepala rumah sakit...


"Dokter, boleh saya melihat laporan medis milik kedua orang tua saya.."


"Baik, saya akan meminta seseorang membawakannya kemari"


"Dan satu lagi dokter, saya siap dan ikhlas atas apapun yang akan terjadi pada kedua orang tua saya.. saya cuma meminta... bila orang tua saya tidak bisa bertahan lagi.. jangan pompa jantungnya dan ijinkan saya untuk ikut serta dalam proses otopsi.."


Dokter kepala rumah sakit memandangku..

__ADS_1


"Saya juga dokter forensik, saya ingin mencari tau sendiri nantinya"


Aku sedikit menjelaskan melihat keraguan dari dokter kepala...


Beberapa orang berpakaian putih datang mendekati dokter kepala rumah sakit... menyerahkan dua map yang kuyakini itu adalah laporan pemeriksaan milik kedua orang tuaku..


salah seorang dari mereka memandangku...


"Dokter Chintya?"


Aku menoleh kearah suara... kulihat seorang laki laki yang juga seumuranku berdiri diantara para dokter senior itu... dia juga memakai jas dokter berarti dia pun seorang dokter di sini...


"Dokter Agung?"


Dokter agung mendekatiku.. mengulurkan tangannya..


"Apa kabar? mereka orang tuamu?"


Aku menerima uluran tangan dokter agung sambil mengangguk...


"kenalkan ini suamiku"


dokter agung pun menyalami Mandala...


"Aku tidak tahu mereka orang tuamu... aku dinas di sini, aku dokter bedah yang menangani mereka"


dokter agung menjelaskan padaku...


"Terima kasih sudah merawat orang tuaku.."


Aku sedikit berbasa basi...


"Sudah kewajiban kami, aku dengar sekarang kamu sudah menjadi dokter spesialis forensik dan berdinas di rumah sakit pemerintah juga"


"Iya benar, boleh aku membaca laporan milik orang tuaku?"


dokter Agung mengambil laporan yang ada pada kepala rumah sakit dan menyerahkannya padaku..


Air mataku kembali menetes melihat laporan di depanku...


Tidak bisa kubayangkan bagaimana rasa sakit yang dialami kedua orang tuaku dengan luka yang mereka dapatkan...


Aku menutup laporan dan kembali menangis di pelukan mandala...


Semua orang satu persatu pamitan pada kami...


Yang tersisa hanya beberapa polisi dan tentara yang berjaga...


Mandala pun memintaku untuk makan dan beristirahat... tapi tidak ada satu makanan pun yang membuatku berselera...


Mandala memutuskan untuk menyuapiku makan...


Aku menurut pada Mandala...


terus membuka mulutku jika mandala mulai menyuapkan makanan..


"Terima kasih..."


Aku berkata pada Mandala


"Untuk apa berterima kasih, ini adalah kewajibanku"


"Semua orang bilang aku beruntung mendapatkan suami yang sempurna sepertimu kapten"


"Tidak ada yang sempurna, sempurna itu hanya milik Allah SWT, aku hanya berusaha menjadi suami yang baik untukmu.. Aku tidak berharap suatu hari nanti berbuat salah padamu... tapi jika itu terjadi, paling tidak aku pernah menjadi suamimu yang baik...


Ayo makan lagi, biar kuat"


Mandala tersenyum sambil membelai kepalaku...


Sempurna memang hanya milik sang Pencipta..


Tapi laki laki di depanku ini adalah yang terbaik bagiku..


-----------


Jangan Lupa Votenya yaa


LOVE YOU 😘😘

__ADS_1


__ADS_2