Jodohku

Jodohku
Masih ada rahasia??


__ADS_3

Aku terbangun mendengar suara yang memanggilku.


"Bu dokter.. bu dokter.."


Aku membuka mataku. Entah sejak kapan aku tertidur di dalam mobil. Kedua orang yang mengawalku menghentikan mobil di sebuah halaman kantor.


"Sudah sampai?"


Aku melihat kesekelilingku.


"Bu dokter harus berganti kendaraan. Dari sini menggunakan taksi itu."


Salah seorang dari mereka menunjuk taksi yang terparkir tidak jauh dari kami.


"Kalian?"


"Kami akan mengiringi ibu dari belakang sampai kekampus"


"Sekarang ibu lihat kedua foto ini baik-baik"


Mereka memberiku sebuah foto. Keduanya seorang wanita.


"Foto pertama ini, akan menemui ibu di kampus. Ibu harus bersikap akrab dengannya. Seolah-olah sudah mengenalnya lama. Dia lah yang akan menjaga ibu selama di kampus"


"Wanita yang kedua adalah seorang perawat tentara. Dia yang menjaga ibu di rumah sakit. Usahakan ibu untuk selalu bersamanya dalam tugas di rumah sakit. Kami sudah mengatur supaya dia menjadi asisten ibu di kamar jenazah".


Aku hanya mengangguk sambil mengingat wajah keduanya.


"Dan ibu akan tinggal di kost ini sementara waktu bersama mereka berdua. Akan timbul kecurigaan jika ibu terus menginap di hotel"


"Bila ada yang bertanya tentang hubungan ibu dan Pak Mandala. Ibu harus menjelaskan bahwa kalian akan bercerai"


"Aku mengerti"


"Baiklah, ibu bisa naik taksi sekarang. Kami akan tetap mengawasi ibu".


"Terima kasih banyak. Sepertinya aku harus ke rumah sakit dulu. Agak siang baru ke kampus"


"Ibu harus mengurus surat pengunduran diri. Kali ini harus benar-benar mundur. Alasan ibu, akan kembali ke kampung halaman".


"Iya, baiklah"


Setelah itu aku pun berpindah kendaraan. Menaiki taksi dan menuju rumah sakit.


Aku sampai di rumah sakit. Seperti biasa, aku terus melangkah masuk menuju ruang kerjaku.


Seorang perawat menegurku begitu aku membuka pintu utama ruang forensik.


"Selamat siang dokter Chintya"


"Siang" Aku tersenyum dan mengangguk padanya.


"Bantu saya"


"Baik dokter"


Perawat itu pun mengikutiku masuk ke dalam ruang kerjaku.


"Beri tahu mereka berdua, apa saya harus mengambil mobil saya buat transportasi?"


"Tidak dokter, lebih baik tidak membawa mobil itu. Karena mobil itu bukan uang dokter sendiri"


"Kamu benar. Baiklah, lupakan tentang mobil. Mungkin lebih aman bagiku untuk tidak membawa harta milik mereka".


"Lebih baik seperti itu dokter"


"Siapa namamu? Kita akan lebih sering bersama, jadi aku harus mengetahui namamu"


"Dokter bisa memanggil saya Rita"


"Baiklah Rita. Saya akan ke ruangan dokter Herman. Mungkin kamu tidak perlu mengikuti saya"


"Baik dokter, cuma tolong dokter berhati-hati. Tidak semua dokter itu teman yang baik"


"Rita, apa maksudmu?"


"Dokter akan tahu dengan sendirinya nanti"


"Baiklah, aku pergi dulu"


"Saya akan berada di luar ruangan"


Aku mengangguk dan berjalan ke ruangan dokter Herman. Mengetuk pintu dan masuk kedalam ketika mendengar dokter Herman mempersilahkan masuk.


"Siang dokter, apa dokter sibuk?"


"Tidak, duduklah dokter Chintya. Ada apa?"


"Saya ingin mengambil beberapa dokumen yang saya titipkan pada dokter"


"Oh iya, sebentar"


Dokter Herman membuka laci mejanya dan menyerahkan padaku amplop coklat yang waktu itu aku titipkan.


"Tas pakaianmu ada di dalam lemari"


"Baik dokter. Terima kasih sebelumnya"


"Apa yang akan kamu lakukan?"


"Kali ini saya benar-benar akan resign dokter. Saya berniat untuk pulang dan mengabdi di sana"


"Bagaimana dengan suamimu?"


"Kami akan berpisah. Kami tidak bisa melanjutkan hubungan kami lagi"


"Apa suamimu mengakui bahwa dia melakukan vasektomi?"


Aku memandangi dokter Herman. Haruskah aku menceritakan yang sebenarnya? Tapi apa yang di katakan Rita tadi? Tidak semua dokter itu teman yang baik.


Mungkin aku tidak harus bercerita pada dokter Herman.


"Dokter Chintya?"


Suara dokter Herman membuatku sadar.


"Iya dokter, suami saya mengakuinya. Karena itu kami bertengkar dan memilih untuk bercerai"


"Apa suamimu mau bercerai?"


Kenapa dokter Herman terlalu banyak bertanya kali ini?


"Saya ingin memiliki anak, dan itu tidak mungkin bersama Mandala. Karenanya saya harus bercerai dulu baru kemudian menikah lagi"

__ADS_1


Dokter Herman seperti menarik nafas lega.


"Baiklah, jadi apa yang bisa saya bantu?"


"Saya ingin resign,hanya itu keinginan saya sekarang"


"Apa kamu akan menuntut harta pada suamimu?"


"Tidak dokter. Saya tidak akan menuntut apa pun. Toh kami juga tidak mempunyai anak"


"Klinik di daerah?"


"Terserah Mandala dengan klinik itu. Saya akan kembalikan jika dia memintanya"


Ternyata aku pintar akting juga hihihhihihi


"Uruslah dengan baik, masalah resign mu buatlah suratnya. Aku akan membantumu menghadap direktur rumah sakit"


"Baik dokter, terima kasih sebelumnya. Saya permisi dulu"


Aku beranjak dari kursiku dan berjalan keluar.


"Eh sebentar dokter Chintya"


Aku kembali memalingkan wajahku ke arah dokter Herman.


"kamu sekarang tinggal dimana?"


"Di sebuah kost-kostan"


"Daerahnya aman?"


"Aman saja, kebetulan ada pegawai rumah sakit dan mahasiswa kedokteran yang indekost juga di sana"


"Baiklah, hanya itu yang akan saya tanyakan"


"Saya keluar dokter"


Dokter Herman hanya mengangguk.


Di luar kulihat Rita sedang menungguku.


Kami berdua kembali masuk ke dalam ruanganku.


"Saya harus ke kampus. Entah apa saya bisa dapat ijin karena kuliah baru di mulai."


"Dokter Sapto akan membantu dokter"


Aku mengangguk.


"Jika ada yang mencariku, bilang aku ke kampus"


"Baik dokter. Saya akan menghubungi taksi"


Rita memencet smartphonenya. Tak lama kemudian dia kembali berkata padaku.


"Taksi menunggu dokter di gerbang rumah sakit. Taksi yang berbeda tapi supir yang sama. Nomor taksinya 369".


"Terima kasih Rita. Aku merasa seperti di film. Kita sedang bersembunyi dari seorang penjahat"


Rita tertawa kecil.


"Kenyataannya memang seperti itu kan dokter"


-------------


Rita memang benar. Ini taksi yang berbeda tapi supir yang sama. Benar-benar seperti film detektif di stasiun tivi luar negeri.


Aku sampai di kampus.


Seorang wanita berkaca mata menegurku dengan ramah. Aku tahu dialah wanita yang di foto itu.


"Masuk kelas atau mau kemana?"


"Ke bagian TU. Aku mau mengundurkan diri. Syukur jika uang masuk di kembalikan walaupun separonya saja"


Wanita itu tertawa.


"Hahahahaha rugi bandar kata pihak Fakultas"


Wanita itu menyerahkan sebuah kertas padaku.


"Ini dari dokter Sapto. Semoga bisa membantu. Katakan pada mereka bahwa kamu ada masalah keluarga sehingga harus pulang kampung"


"Baik, aku mengerti"


"Dokter, di kampus ini orang-orangnya masih bisa di percaya. Berbeda dengan di rumah sakit"


"Kenapa kamu dan Rita berkata yang sama?"


"Dokter akan mengetahuinya nanti"


"Apa ada rahasia lagi yang saya tidak tahu?"


"Masih banyak yang dokter tidak ketahui. Mayor pun banyak mempunyai rahasia"


"Kamu jangan menakutiku. Aku tidak sanggup lagi menerimanya"


"Tapi yang pasti, Mayor sangat mencintai dokter. Rahasia Mayor hanyalah demi Pekerjaannya"


"Aku ke dalam dulu. Semoga mereka tidak mempersulit"


"Aku akan menunggu di luar"


"Baik, terima kasih"


Aku pun masuk ke dalam ruangan. Hampir satu jam aku menyelesaikan semua urusan. Tapi akhirnya semua selesai. Aku mengundurkan diri dari kuliahku. Tapi jika suatu saat aku berniat kembali kuliah, mereka akan langsung menerimaku tanpa tes dan uang masuk lagi.


Ya, mungkin setelah semuanya selesai. Aku akan kembali kuliah lagi.


----------------


Aku dan duo R.. Rita dan Rini, berada di dalam sebuah kost-kostan khusus wanita. Kamarnya hanya lima. Berarti hanya dua orang yang belum aku kenal.


Kami sedang mengobrol di dalam kamar Rini ketika handphone Rini berbunyi.


"Halo, Siap! Baik!"


Rini memberikan handphone padaku.


"Bu dokter, ini Pak Mayor"


"Mandala??"

__ADS_1


Rini mengangguk. Kemudian keluar kamar bersama Rita. Mereka memang pengertian.


"Halo, Kapten"


"Sayang, apa kamu nyaman di sana?"


"Iya, aku nyaman dan baik-baik saja"


"Semua urusan selesai?"


"Urusan kuliah selesai, tinggal pengunduran diri di rumah sakit"


"Syukurlah. Cepat selesai, cepat juga kamu aman"


"Kapten, apa ada dokter di rumah sakit yang terlibat?"


"Menurutmu? Kenapa tiba-tiba berpikiran seperti itu?"


"Duo R membuat teka teki di kepalaku"


"Aku akan menegur mereka"


"Jangan, mereka sangat baik padaku. Ceritakan saja, apa ada dokter yang terlibat?"


"Iya, kedua dokter yang memberitahumu tentang vasektomiku"


"Dokter Heru dan dokter Herman?"


"Dokter Heru hanya alat. Dokter Hermanlah mata-matanya"


"Kenapa dokter Herman seperti itu?"


"Dokter Herman adalah anak didik Ama. Berhutang budi pada Ama. Ama memberinya tugas untuk memberitahumu tentang vasektomiku sehingga kamu marah dan pergi dariku. Dokter Herman menggunakan dokter Heru sebagai alatnya"


"Sejak kapan kamu mengetahuinya, Kapten?"


"Aku sudah tahu lama. Aku pernah melihat dokter Herman mengunjungi Ama ketika ama opname di rumah sakit. Aku jadi curiga di mana mereka kenal. Tidak mungkin mereka begitu akrab hanya karena dokter Herman atasanmu. Jadi aku menyelidikinya"


"Terus?"


"Dokter Herman juga yang memberitahukan Ama tentang program kehamilan yang akan kamu jalani. Karenanya penganiayaan Tiara di percepat dan Melky memintamu menjaga anak-anaknya"


"Ama kan sudah tahu bahwa program itu tidak akan berhasil"


"Karenanya sebelum kamu ingin melakukan program lagi, maka Ama meminta dokter Herman untuk membuatmu tahu tentang Vasektomiku"


"Apa dokter Heru juga terlibat?"


"Tidak, dokter Heru hanya alat. Dokter Herman memakai kata-kata iba untukmu sehingga dokter Heru bersedia untuk memberikan berkas pasien yang seharusnya rahasia"


"Pantas saja dokter Herman tadi banyak bertanya"


"Dia pasti melaporkannya pada Ama"


"Kapten, bagaimana dengan handphoneku? Apa aku bisa mendapatkannya lagi? Aku tidak bisa menghubungi siapa pun, karena semua nomor tersimpan disana".


"Aku akan menemuimu besok di gerbang rumah sakit. Kita akan terlihat berbicara. Tapi ingat, kamu marah padaku dan tidak senang melihat kehadiranku. Semua orang yang melihat kita besok harus tahu bahwa kita bertengkar"


"Apa aku harus berteriak histeris seperti di film?"


"Sayaaaangg"


"Aku bercanda Kapten. Baiklah, aku mengerti"


"Tidurlah dengan cepat malam ini. Jangan lupa kunci pintu. Jangan makan dan minum selain yang di beri oleh Rita dan Rini"


"Baik"


"Bersabarlah sayang. Aku mencintaimu"


Aku menutup panggilan telepon. Meletakkan handphone di atas meja dan beranjak keluar kamar.


Duo R sejak duduk manis di kursi luar kamar.


"Maaf, kalian jadi terusir"


"Lebih baik terusir dari pada hati merana karena mendengar telepon mesra"


Rini yang lebih cuek mengejekku.


Aku tersenyum.


"Tenang saja, jika ada kalian aku tidak akan mengumbar kata-kata mesra pada Mandala.


Boleh aku bertanya sesuatu pada kalian?"


"Silahkan bu dokter"


"Siapa yang menggaji kalian? Berapa gaji kalian? Pasti tidak murah kan?"


Rini tertawa sedangkan Rita hanya tersenyum sambil melempar Rini yang tertawa dengan sendal jepitnya.


"Pak Mayor benar, bu dokter itu pemikir. Semua di pikirkan termasuk gaji kami hahahaha"


Rini kembali tertawa.


"Salah jika aku bertanya?"


Aku mengerutkan bibirku.


"Bu dokter tahu kan kalo pak Mayor itu banyak warisan dari kakeknya. Kalo hanya menggaji kami, itu tidak seberapa dari uangnya pak Mayor"


"Baik-baik. Bisa sebutkan berapa digit gaji kalian?"


"Itu rahasia kami bu dokter. Tapi nanti bu dokter bisa mengecek di rekening koran milik Pak Mayor"


Aku kembali mengerutkan bibir dan menggembungkan pipiku.


"Baiklah, terserah kalian. Aku tidur dulu. Selamat malam. Selamat tidur"


Aku pun beranjak dan pergi ke kamarku yang terletak di tengah antara kamar Rini dan Rita.


Aaahh masalah gaji aja rahasia.


Apa masih ada rahasia lain lagi yang aku tidak tahu??


Semoga saja tidak.


Apa kalian memiliki rahasia??


Jangan lupa like, komen dan votenya yaa


LOVE YOU 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2