Jodohku

Jodohku
Episode 18


__ADS_3

Kak Kevin melotot kearahku. Kemudian dia berlalu menuju toilet. Sedangkan Zea menatap ku dengan wajah tak mengerti.


"Om Arkan kenapa? lagi sakit?" tanya Zea padaku.


"Iya, sepertinya om masuk angin. Om pergi dulu ya. Bibi, tolong bersihin ya!" Aku segera berlalu keluar. Pikiranku masih kacau. Masa aku dan kak Kevin bertukar istri. Aku memang mau nikahin Maria, mantan istri kak Kevin. Tapi aku tak rela kalau Khansa nikah sama kak Kevin. Lebih baik dia nikah dengan orang lain.


Mobil pajeroku segera melesat menembus kemacetan kota Jakarta menuju kantorku. PT Surya Pratama. Perusahaan yang bergerak di bidang properti ini dibangun oleh kakekku. Syukurlah sejak aku pegang, perusahaan ini maju pesat.


Setelah berjibaku dengan kemacetan kota Jakarta, akhirnya aku sampai juga di kantor. Segera kuparkir mobilku di tempat parkir. Kemudian aku berjalan menuju ruanganku.


tok


tok


tok


Pintu ruanganku dibuka. Rizal asistenku masuk ke dalam.


"Pagi bos!"


"Iya, sudah tahu kalau sekarang pagi. Bukan siang," ucapku. Entah kenapa moodku jadi kurang baik pagi ini.


"Ya elah bos, bos kesambet apa pagi-pagi begini sudah esmoni, eh emosi."


"Ada apa, buruan. Sebelum entar keluar nih tanduk di kepala," ucapku.


"Ini bos, ada berkas yang perlu bos tanda tangani." Aku segera mengambil pena dan segera menandatangani berkas tersebut.


"Ini sudah, pergi sana!" ucapku

__ADS_1


"Sabar bos, istighfar." Rizal segera berlalu meninggalkan ruangan. Aku berkutat dengan leptopku. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Jam ditanganku menunjukkan pukul 11 siang. Kulihat ponselku. Ada pesan dari aplikasi berwarna hijau.


[Mas, aku ada di cafe dekat taman. Mas kesini ya]Maria.


[Ok, mas kesana]Aku.


Kututup leptopku setelah menjawab pesan dari Maria. Aku segera meluncur menuju cafe yang Maria sebutkan. Ada rasa rindu dengan Mariaku. Namun ada juga tanya yang belum terjawab mengenai cerita kak Kevin tentang Maria.


30 menit aku sudah sampai di cafe. Kuedarkan pandanganku mencari seseorang wanita yang aku rindu. Mataku tertuju pada sesosok wanita yang memakai baju berwarna merah menyala dengan rambut bergelombang yang tergerai dibahunya. Aku segera berjalan menghampiri wanita itu.


"Hai, sudah lama nunggu?" tanyaku pada Maria yang sedang menikmati segelas orange juice.


"Lumayan, sekalian tadi ada temen."


"Terus temannya mana?" Aku bertanya sambil membenarkan dudukku.


"Kamu tak menemui Zea dan Zio di rumah. Apa tak kangen sama mereka?" tanyaku lagi.


"Malaslah, ada Kevin di rumah," jawabnya.


Seorang pelayanan menghampiriku untuk menulis pesananku. Selesai menulis pada selembar kertas, pelayanan itupun pergi.


"Bagaimana pekerjaanmu? Apa semuanya lancar?" tanyaku.


"Ya, semuanya lancar. Aku happy banget. Mereka suka dengan penampilanku. Mereka akan merekomendasikan aku untuk menjadi model desainer ternama dari Amerika. Itu artinya aku akan go internasional." Terlihat Maria begitu semangat. Ada rasa kagum buat Maria. Kariernya begitu cepat meningkat. Sudah cantik, smart lagi.


Aku mengeluarkan kertas milik kak Kevin yang selama ini aku simpan. Kuberikan pada Maria.


"Apa ini?" tanya Maria.

__ADS_1


"Bacalah!" perintahku.


Maria segera membaca kertas hasil tes DNA yang disimpan rapat-rapat oleh kak Kevin. Wajahnya menunjukkan keterkecutan dengan surat itu. Aku hanya bisa menduga, mungkin surat itu benar. Jika surat itu benar, berarti selama ini bukan kak Kevin yang mengambil Maria dariku. Tapi justru Maria yang menjebak kak Kevin agar mau menikahinya.


"Mas Arkan percaya dengan ini, bisa saja Kevin memalsukan semua ini agar hubungan kita hancur. Dasar licik!" Maria terlihat marah dengan semua ini. Aku benar-benar bingung, siapa yang benar dan siapa yang salah.


"Aku tak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Jika tak berkeberatan, aku ingin melakukan tes DNA lagi anatara Zea dan kak Kevin."


"Jadi mas lebih percaya dengan Kevin daripada aku. Jika mas tak percaya lagi buat apa kita bersama. Mungkin lebih baik kita putus saja." ancam Maria. Aku tak mungkin mau jika putus dengan Maria. Sudah sekian lama aku berusaha move on darinya. Tapi nyatanya aku tak bisa.


"Baik, itu semua masa lalu. Aku akan melupakannya. Entah itu benar atau salah. Yang jelas aku hanya ingin menikahimu," ucapku. Mariapun tersenyum padaku.


*****


Aku sedang santai duduk di depan TV. Seminggu lagi kak Kevin akan balik ke Australia. Mungkin dia menyerah setelah dengan berbagai upaya mencoba menghentikan keinginanku untuk menikahi Maria gagal. Apapun yang terjadi, aku akan tetap menikah dengan Maria dengan atau tanpa restu papi dan mami.


Dua minggu lagi rencana pernikahanku dengan Maria akan di gelar. Kami akan menikah sebuah hotel dengan mengundang beberapa kolegaku. Aku yakin mereka akan kagum dengan Maria yang cantik dan smart. Tiba-tiba Zea menghampiriku.


"Om, papa akan segera balik ke Australia. Zea sedih om. Kemarin kita jadi ke rumah tante Khansa. Aku seneng sekali. Aku juga meminta tante Khansa jadi mamaku. Tapi tante Khansa hanya diam. Papa juga nggak bicara banyak. Om, bujuk papa buat tetap tinggal disini om. Biar papa bisa dekat dengan tante Khansa," pintar Zea padaku. Aku hanya tersenyum melihat tingkah Zea.


"Om nggak bisa bujuk papa. Karena papa banyak kerjaan di Australia," jawabku.


"Kalau begitu Zea nggak akan ijinin om menikah dengan mama Maria."


"Darimana Zea tahu om mau nikah dengan mama Maria?" tanyaku kaget mendengar Zea bicara itu. Padahal aku tak pernah cerita padanya kalau aku mau menikahi mamanya.


"Zea dengar percakapan oma sama papa. Oma sama papa nggak suka kalau om menikah dengan mama Maria. Tapi Zea suka kalau om sama mama. Asal papa sama tante Khansa. Jadi aku punya dua papa yang sayang aku. Dan 2 mama yang sayang aku pula."


Aku bingung dengan permintaan Zea. Bagaimana mungkin aku membujuk kak Kevin menikahi Khansa sedangkan hatiku bergemuruh bila melihat Khansa di dekatmu.

__ADS_1


__ADS_2