Jodohku

Jodohku
Episode 21


__ADS_3

POV Khansa Almira


Kehidupan telah membawaku masuk lebih dalam. Hingga aku hampir tenggelam. Walaupun terkadang aku tak mengerti apa tujuan dari semua ini. Aku tahu semua kejadian yang menimpaku tentu ada hikmahnya. Tapi entahlah, kenapa hatiku tetap berontak, mengapa mesti aku yang menjalani. Kenapa tidak orang lain saja. Padahal aku sudah berusaha untuk menjadi wanita baik. Mungkinkan aku ini wanita pilihan yang dianggap mampu dengan ujian ini. Padahal dadaku terasa sesak sekali.


Buliran bening terus mengalir di kedua pipiku tanpa bisa aku tahan. Ingin rasanya aku berteriak dengan takdir ini. Tapi pantaskah seseorang yang menyatakan bahwa Allah adalah Robbku, dan nabi Muhammad adalah rosulku berputus asa dari rahmatNya. Sementara ayat-ayat cintanya selalu kubaca.


Aku Khansa Almira, selalu berusaha menjadi muslimah yang taat, menjadi istri yang baik. Berusaha menyuruh yang ma'ruf dan mencegah yang munkar tetapi tetap diceraikan sang suami karena kecintaan suami pada wanita yang dulu pernah jadi kekasihnya. Aku yang sudah menikah selama 2 bulan tanpa dinafkahi batinnya. Aku yang kini menyandang status janda tapi masih perawan. Ah, sungguh menyedihkan.


"Khansa, janganlah berlarut-larut dalam kesedihan nak. Kehidupan masih panjang. Kamu masih muda. InsyaAllah, Allah akan memberikan jodoh yang terbaik buat kamu," ucap Ibu sambil membelai rambutku.


"Apa menurut ibu, mas Arkan bukan laki-laki yang baik buat Khansa? Mas Arkan tak pernah ringan tangan, mas Arkan juga baik sama keluarganya. Dia juga dermawan. Tapi kenapa dia lebih memilih mbak Maria ya bu?" aku tak habis mengerti, apa yang membuat mas Arkan benar-benar cinta buta sama mbak Maria. Apa karena mbak Maria cantik, seksi dan berpendidikan. Padahal banyak wanita-wanita seperti mbak Maria yang mencoba masuk dalam kehidupan mas Arkan sebelum dijodohkan sama aku.


"Ya itulah ujian nak. Jika Allah kehendaki hatinya tertutup maka siapapun tak mungkin bisa membukanya. Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat? tentu tidakkan? Itulah gambaran nak Arkan yang buta mata hatinya," jawab ibuku.


"Percayalah, wanita yang baik itu jodohnya laki-laki yang baik, begitupun sebaliknya. Sedangkan wanita pezina itu jodohnya laki-laki pezina juga, begitupun sebaliknya," lanjut ibu.


"Tapi mas Arkan bukan pezina buk," protesku.


"Doakan saja nak Arkan dapat hidayah. Sekarang jangan sedih lagi. Semangat lagi untuk beraktivitas ya. Murid - muridmu menanti senyumanmu. Bukan tangisanmu."


*****


Pagi ini aku berangkat ke sekolah dengan lebih semangat. Seorang ojek online telah mengantarkan aku sampai depan pintu gerbang.


"Ustadzah Khansa, tumben naik ojek online. Biasanya dianter suaminya," ucap ustadzah Ika wali kelas 4. Aku hanya tersenyum pahit. Ustadzah Ika tak tahu kalau aku sudah bercerai dengan suamiku.


"Lagi sibuk ustadzah," jawabku.

__ADS_1


"Oh, oya ustadzah Khansa masih ngajar privat Nayla?" tanyanya lagi sambil kita berjalan ke ruang guru.


"Alhamdulillah masih," jawabku.


"Saya dengar Nayla mengalami perkembangan yang pesat sejak di pegang ustadzah Khansa. Hafalan juz 30 melesat dengan cepat. Bacaan umminya juga sudah jilid 5," lanjutnya.


"Alhamdulillah ustadzah Ika. Sekarang anaknya sangat bersemangat," ucapku lagi.


*****


Pulang sekolah Nayla menghampiriku ke ruang guru. Dia ingin mengajakku pulang bareng sekalian mau belajar privat. Hari ini memang pulang agak cepat karena sebagian guru-guru mengikuti seminar pendidikan anak. Sedangkan aku tak ikut seminar. Guru-guru yang ikut seminar adalah guru-guru yang di tunjuk kepala sekolah untuk mengikutinya.


"Ustadzah Khansa, papa hari ini katanya nggak bisa jemput. Kita naik taksi online aja yuk," ajak Nayla padaku.


"Boleh, ustadzah pesenin dulu ya," ucapku sambil membuka aplikasi taksi online.


"Ok, siap." Aku segera memesan taksi online dengan tujuan taman kota. 5 menit kemudian taksi online pesanan kami sudah menunggu di depan gerbang sekolah. Segera aku dan Naila menghampiri taksi online.


"Taman kota ya pak," ucapku sambil masuk ke dalam taksi bersama Nayla.


"Baik neng," ucap abang taksi online.


Taksi online melaju dengan kecepatan sedang membelah kemacetan kota Jakarta menuju taman kota yang kami maksud. 25 menit kemudian kami sudah sampai di taman. Sebelum belajar, kami ke cafe dulu untuk mengisi perut yang sudah keroncongan. Selesai makan kami segera menuju ke taman.


Tanaman yang hijau tampak bergoyang-goyang diterpa angin. Sungguh terasa sejuk dan segar di tengah panasnya kota. Jilbabku pun ikut menari-nari. Sesekali aku memeganginya agar tak tersingkap dan terlihat rambutku.


Aku dan Nayla duduk di atas rumput yang hijau. Kulihat Nayla begitu semangat. Wajahnya tanpak begitu ceria.

__ADS_1


"Apa tadi ada PR Naila?" tanyaku.


"Tak ada ustadzah," jawabnya.


"Kalau begitu kita murajaah surat Al Balad ya," ucapku. Alhamdulillah Naila sudah sampai surat Asy Syam. Sekarang lanjut surat Al Balad.


"Baik ustadzah, tapi Nayla baru hafal sampai ayat 10," ucapnya.


"Nggak apa Nay, nanti ustadzah talaqqi ayat berikutnya," ucapku. Dengan nada umminya Nayla mulai membaca Ayat 1-10. MaasyaAllah, bacaannya sudah mulai tartil. Selesai membaca surat Al Balad, Nayla mulai murajaah buku ummi jilid 5. Ketika kami lagi fokus murajaah ummi jilid 5 tiba-tiba papa Nayla datang dengan mengagetkan Nayla.


"Papa, kok papa tahu kita lagi di sini," tanya Nayla dengan gembira


"Tadi papa nggak jadi meeting, papa lihat di group WA wali murid kalau hari ini Nayla pulang cepat. Jadi papa langsung ke sekolah Nayla. Pas papa sampai, papa lihat Nay sama ustadzah Khansa sudah masuk taksi. Jadi papa ikutin diam-diam."


"Oh, jadi tadi papa lihat Nay sama ustadzah Khansa makan di cafe juga ya?" tanya Nayla penasaran.


"Iya sayang," ucap papa Nayla.


"Kok papa nggak ikut gabung?" tanya Nayla lagi.


"Kalau papa gabung, berarti tidak ada kejutan dong," ucap papa Naila sambik tersenyum. Aku hanya menunduk sambil mendengarkan percakapan antara ayah dan anak itu.


"Ustadzah Khansa, ini buat ustadzah," ucap papa Nayla sambil memberikan setangkai bunga mawar. Aku ragu -ragu untuk menerimanya. Apa maksud pemberian ini? Sementara saat aku menikah dengan mas Arkan, mas Arkan tak pernah memberikan aku bunga seperti ini.


"Terima ustadzah, itu papa ingin jadi sahabat dekat ustadzah. Papa sudah tahu kok kalau ustadzah sudah berpisah dari suami ustadzah," pinta Khansa padaku. Aku tak pernah cerita tentang kehidupanku pada Nayla, apalagi pada papanya. Bagaimana dia tahu kalau aku sudah berpisah dengan mas Arkan? Aku masih terdiam.


"Ayolah ustadzah," pinta Nayla sambil menarik tanganku. Akhirnya aku menerima bunga itu karena paksakan Nayla.

__ADS_1


__ADS_2