Jodohku

Jodohku
Episode 22


__ADS_3

Bunga mawar ini sudah ada di tangan. Aku bingung dengan maksud ingin jadi sahabat dekat. Apakah papa Nayla menyukaiku? Sementara untuk memulai hubungan baru rasanya hatiku belum bisa terima. Ada ketakutan akan tersakiti kembali.


Papa Nayla tersenyum padaku. Senyum yang sangat sulit diartikan. Dia memang tampan. Tak kalah tampan dengan mas Arkan mantan suamiku. Dia juga pria yang sukses dalam karier dan usahanya. Walaupun dia seorang duda beranak satu. Oh, ya Tuhan..., apakah aku mulai suka juga sapa papa Nayla?


Aku hanya menunduk malu. Rasanya tak mungkin secepat ini aku menemukan pengganti. Ingin rasanya aku berlari dari sini, tapi kaki ini sepertinya menjadi kaku hanya untuk sekedar melangkah.


"Ustadzah Khansa, aku ingin sekali ustadzah bisa jadi mamaku. Mau ya ustadzah!" Suara Nayla tiba-tiba mencairkan kebekuan diantara kami. Aku bingung harus menjawab apa.


"Nay, ustadzah Khansa belum bisa jawab sekarang. Nanti papa tanya lagi ya. Sekarang papa antar Nay pulang dulu ya..., oya belajarnya sudahkan ustadzah?"


"Iya pak sudah," jawabku.


"Mau saya antar sekalian pulang ke rumah ustadzah?" tanya papa Nayla padaku.


"Nggak usah pak, saya mau langsung ke kampus. Kebetulan ada tugas yang harus saya selesaikan," jawabku agak sedikit gugup.


"Nggak apa ustadzah, biar papa antar ustadzah ke kampus. Kan sekalian jalan," pinta Nayla


"Ustadzah ada janji sama teman dulu Nay, Maaf ya ustadzah pamit duluan, assalamu'alaikum," ucapku langsung pergi meninggalkan mereka.


"Wa'alaikumsalam," jawab Nayla dan papanya.


"Hati-hati ustadzah, sampai jumpa lagi," teriak Nayla sambil melambaikan tangan. Akupun membalas dengan melambaikan tangan juga.


******


Ojek online telah membawaku ke kampus ini. Tiga semester lagi insyaallah aku lulus dari fakultas pendidikan. Untuk biaya aku tak perlu khawatir, uang tabunganku masih lebih dari cukup. Mas Arkan memberiku uang lebih yang tak banyak kupakai. Karena aku tak suka shoping-shoping yang tak perlu. Pakaian, aku lebih memilih baju gamis yang biasa saja. Tas dan sepatu juga bukan barang-barang yang brended. Asal nyaman aku pakai itu lebih dari cukup.


Aku berjalan menuju perpustakaan. Ku edarkan pandanganku mencari teman yang bernama Azizah. Tapi entah kemana dia. Daripada aku hanya duduk bengong tanpa manfaat, aku segera mencari buku referensi untuk makalah nanti.


"Sa, sudah lama ya." Suara Azizah mengagetkan aku yang sedang mencari buku.

__ADS_1


"Eh, kamu kapan nyampainya?" tanyaku balik.


"Barusan, macet Sa."Azizah beralasan.


"Sudah ketemu bukunya,"lanjutnya lagi.


"Baru satu nih, yuk bantuin," pintaku pada Azizah.


Tak terasa pencarian buku-buku yang akan kami jadikan referensi buat makalah memakan waktu yang cukup lama. Suara adzan maghrib menghentikan aktivitas kami. Syukurlah perpustakaan tutup sampai malam. Karena banyak mahasiswa yang mengambil kelas malam juga.


"Sa, yuk sholat dulu," ajak Azizah padaku.


"Sorry Zah, aku lagi nggak sholat. Oya aku rasa buku-buku ini sudah cukup," ucapku pada Azizah.


"Ya udah, kamu langsung ke bu Adinda aja buat mencatat semua buku yang mau di pinjam. Aku ke mushola dulu ya," ucap Azizah langsung pergi meninggalkan aku. Aku segera pergi ke bu Adinda untuk mencatat semua buku yang hendak kami pinjam. Selesai dari bu Adinda aku sengaja menunggu Azizah di depan mushola.


Selesai sholat Azizah menghampiriku. Kami duduk di teras mushola.


"Trus gimana dengan Bobi," tanyaku


"Ya elahh, kayak nggak tahu Bobi aja. Dia kan sibuk. Karyawan teladan. Entar dia mah mentahnya aja. Lumayan buat makan bakso," jawab Azizah. Aku tersenyum menanggapi ucapan Azizah. Temanku ini gadis periang. Seolah tak ada beban dalam hidupnya. Dulu akupun sama seperti Azizah. Berusaha untuk selalu ceria. Tapi setelah statusku berubah menjadi istri yang tak diharapkan suami, aku menjadi agak murung. Apalagi setelah bercerai. Seolah duniaku runtuh. Jadinya kecerian ini memudar dengan sendirinya.


"Oya Sa, kamu nggak di jemput suami ganteng mu. Kadang aku suka iri sama kamu Sa. Kita sama-sama anak seorang sopir. Bedanya bapakku sopir angkot sementara bapakmu sopir pribadi. Tapi nasibmu begitu mujur. Punya suami ganteng, tajir lagi," celoteh Azizah yang hanya bisa membuat aku terdiam membisu. Entah kenapa buliran bening yang aku coba tahan biar nggak keluar ternyata bandel tetap mau keluar.


"Eh Sa, ada yang salah ya dengan ucapanku. Kok kamu jadi nangis," lanjut Azizah yang terlihat panik.


"Nggak ada yang salah kok Zah, aku sudah berpisah sama mas Arkan," ucapku sedih.


"What? kamu sudah berpisah? kapan? perasaan kamu baru nikah. Kok sudah pisah aja."


"Belum lama Zah," ucapku.

__ADS_1


"Kulihat kalian adem-adem aja. kok tahu-tahu berpisah. Boleh aku tahu kenapa kamu berpisah."


"Maaf Zah, tidak semua harus diceritakan. Mungkin jodohku dengan mas Arkan cukup disini. Jadinya kita berpisah."


*****


Waktu menunjukkan pukul 20.30 saat aku sampai di rumah. Dari depan pagar aku melihat ada sebuah mobil Mewah terparkir. Mobil siapa itu. Apa bapak sekarang bekerja jadi sopir lagi? Bukannya kemarin dia berencana mau bertani saja di kampung.


"Assalamu'alaikum," salamku.


"Wa'alaikumsalam," jawab bapak dan ternyata ada tamu asing yang tak ku kenal.


"Tante Khansa, Zea kangen." Zea yang tiba-tiba memelukku membuatku kaget. Aku segera membalas pelukannya sambil tersenyum.


"Tante, ini papa Zea." Ternyata laki-laki asing ini kak Kevin yang sudah lama tinggal di Australia. Selama ini aku hanya melihatnya di foto. Saat pernikahanku dengan mas Arkan, dia tak datang karena sibuk. Kak Kevin mengulurkan tangannya padaku tapi aku hanya menyatukan kedua tanganku didepan dada. Kak Kevinpun tersenyum tanda dia paham kalau kami bukan muhrim.


Aku duduk dikursi sebelah bapak. Zea minta duduk dipangkuanku.


"Tante, kenapa tak main ke rumah. Zea kangen cerita tante. Zea pingin di ajari ngaji sama tante."


"Maaf ya sayang, tante sibuk. Jadi belum sempat main ke rumah. Gimana kabar oma dan opa?" tanyaku.


"Oma dan opa baik tante. Tapi Zea sedih, papa sebentar lagi mau balik. mama Maria sibuk kerja dan jarang ke rumah. om Arkan juga sibuk kerja."


"Kan ada oma dan opa yang nemenin Zea," ucapku.


"Oma dan opa nggak bisa ceritain kisah-kisah seperti tante. Oma dan opa juga nggak bisa ajarin Zea ngaji. Kadang oma sibuk ngurusin Zio."


"Zea yang sabar ya. Zea anak pinter bisa baca buku sendiri. Tante punya banyak buku kisah-kisah tentang sahabat nabi. Zea mau?"


"Mau tante, Oya tante, aku dengar mama Maria mau nikah sama om Arkan. Tante mau nggak kalau tante nikah sama papa Zea dan tinggal di rumah opa lagi." Aku hanya terdiam dengan ucapan Zea sambil sesekali menatap kak Kevin. Bagaimana mungkin aku menikah dengan kakaknya setelah adiknya mencampakkan aku. Kulihat kak Kevinpun hanya terdiam tanpa komentar apapun.

__ADS_1


__ADS_2