
Dua hari aku beristirahat di rumah.
Dan itu termasuk akhir pekan.
Sangat rugi sekali sakit di saat akhir pekan.
Waktu ijinnya terpotong.
Tapi siapa juga yang tahu kalo akan sakit.
Siapa juga yang ingin terlibat di dalam kecelakaan.
Oia, kecelakaan beruntun itu menyebabkan supir truk dan keneknya meninggal di tempat.
Satu unit mobil mini bus yang pas di tabrak di depan truk juga terbakar, terdapat tiga orang di dalamnya termasuk seorang balita yang juga ikut terbakar ðŸ˜
Mobilku adalah mobil terdepan yang di tabrak.
Karenanya aku hanya mendapatkan sedikit sisa getaran dari belakang.
Dan masih beruntungnya aku, mobil di belakangku membanting setirnya, sehingga hanya sedikit menyenggol mobilku.
Tapi menyebabkan mobil tersebut menghantam pagar pembatas jalan.
Kemarin aku di panggjl pihak kepolisian untuk di mintai keterangan. Tidak ada informasi yang bisa kuberikan, karena aku memang tidak tahu kejadian di belakangku.
Tiba-tiba saja aku merasa mobilku di tabrak dan aku langsung pingsan.
Aku pun tidak tahu siapa yang menolongku waktu itu, tas dan dompetku masih ada di dalam mobil dan diamankan oleh polisi.
Hanya saja, handphone dan uang di dalam dompetku hilang.
Masih ada saja orang yang menggunakan kesempatan ini untuk mengambil milik orang lain.
Aku sudah melaporkan kehilangan handphoneku dan sudah melacaknya.
Aku sudah mengetahui keberadaan handphoneku.
Tapi lagi-lagi Mandala memintaku untuk mengikhlaskannya.
"Mungkin orang itu lebih membutuhkan. Aku akan membelikanmu lagi handphone yang baru".
"Kemaren yang belikan gak ikhlas sih, hilang kan jadinya".
Mandala mengacak rambutku
"Kalo aku gak ikhlas, gak kubelikan lagi yang baru. Siap-siap, malam ini kita beli".
Untung handphone yang lama masih ada, jadi aku masih bisa menggunakan itu untuk berkomunikasi dengan Ibu dan rekan-rekan di rumah sakit.
Untuk nomor handphone, minta ganti kartu yang baru di grapari tentunya.
Dua hari aku di rumah, Mandala pun selalu di rumah menemaniku.
"Kapten, kenapa gak kerja?"
"Masih dalam masa istirahat setelah tugas, kenapa? bosan melihatku di rumah?"
"Enggak, malah senang. Gak menjenguk Ama atau Sarah?"
"Istriku lebih membutuhkanku".
"Lebay".
Padahal aku senang Mandala mengatakan itu.
Dua hari ini pun tidak ada pikiran aneh lagi yang menggangguku. Hanya ada Mandala seorang yang menggangguku pagi, siang maupun malam.
Sambil tersenyum aku membuka grup dokter di whatsapp.
Beberapa rekan dokter bercanda padaku di grup whatsapp..
"dokter Chintya, cepatlah masuk kerja, para korban harus di otopsi olehmu".
Aku membalas.
"Aku serahkan pada dokter Herman tugas mulia itu"
__ADS_1
"dokter Chintya, kami merindukanmu".
"dokter Chintya, cepat sembuh. Apa perlu kami mengirimimu bunga?"
"Aku tidak perlu bunga, aku perlu tambahan gaji untuk memperbaiki mobilku".
Beberapa chat ku balas dengan ucapan "terima kasih"
dokter Iin mengirimkan beberapa foto di grup dokter, foto waktu aku pingsan di ruangan waktu itu 🙈
Aku membalas dokter Iin.
"Dokter Iin, aku akan menuntutmu pencemaran nama baik, karena menyebarkan foto foto cantikku".
dokter Iin membalas.
"Orang yang lagi pingsan, mana tau dia cantik atau tidak".
beberapa dokter laki-laki berkomentar pada foto yang di share dokter Iin.
"Tidak adakah foto pada saat tindakan? aku ingin melihat rambut dokter Chintya".
"Sayang dokter Chintya sudah menikah, aku yang mengenalinya di UGD waktu itu, jika tidak penolongnya akan di jadikan suami".
"dokter Chintya tetap cantik walaupun sedang pingsan"
dokter Iin yang membalas semua komentar itu. karena dokter Iin tahu, para dokter laki-laki yang berkomentar itu adalah para juniornya di UGD.
"Kalian kurang kerjaan ya? gak takut di tembak sama suaminya dokter Chintya?".
Dan para dokter junior itu pun langsung kabur 😄
Aku membalas dokter Iin.
"Terima kasih dokter Iin sayang, kebaikanmu tidak akan aku lupakan".
dokter Iin membalas.
"Teraktir aku makan begitu kamu sembuh"
Aku kembali tersenyum sendiri.
Berniat untuk berhenti bermain handphone. Tapi kemudian chat di grup kembali masuk.
Dari dokter Herman, rekan sesama dokter forensik di rumah sakit, dengan kalimat yang menyakitkan.
"dokter Chintya, aku ikut sedih dengan kecelakaanmu. Aku tidak bisa membayangkan jika aku harus mengotopsi dirimu di meja ruang kerja kita"
dokter Herman melanjutkan.
"Sangat di sayangkan, jika aku harus melihat tubuh dokter Chintya di saat sudah membeku".
beberapa dokter senior menanggapi kalimat dokter Herman.
Para dokter junior di bawah dokter Herman, tidak ada yang berani berkomentar.
Dokter Herman adalah dokter senior di atasku dua tahun, dan juga lebih dulu bekerja di ruang forensik di banding aku. Jadi aku pun agak sedikit segan untuk membalas kata-katanya.
Biarlah para dokter senior itu yang membalaskannya.
"dokter Herman, kata-katamu sungguh menyentuh hati".
"dokter Herman, mungkin memang sudah nasibmu hanya melihat tubuh wanita cantik di saat tubuhnya sudah membeku".
"dokter Herman, dokter Chintya berumur panjang. Dialah nanti yang akan mengotopsimu"
dokter Herman membalas.
"Aku terkena serangan jantung, bagaimana dokter Chintya harus mengotopsiku".
"kamu memang terkena serangan jantung, tapi di dalam hotel bersama perempuan malam"
kali ini dokter Ramli ahli bedah nomor satu di rumah sakit kami yang membalasnya.
Dokter Herman memang terkenal playboy dan suka mengganggu para perawat.
Hanya aku yang lolos dari kejaran dokter Herman karena memang dokter herman takut dengan Mandala 😄.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum membaca semua itu.
Kemudian menanggapi komentar dokter Ramli.
"Terima kasih dokter Ramli, sudah mengeluarkan unek-unek di kepala saya".
"Dokter Chintya, jangan bersembunyi dibelakang dokter Ramli. Badannya kecil, kamu masih akan terlihat".
dokter Herman membalas chatku.
"Biar badanku kecil, tapi aku mampu membedah hati setiap orang".
dokter Ramli kembali membalas.
(ya iyalah, secara dokter Ramli adalah dokter bedah🙈)
"Aku pun mampu membedah hati".
lagi-lagi dokter Herman membalas dokter Ramli.
dokter Ramli membalas.
"Tapi hati yang sudah membeku".
(karena dokter Herman membedah jenazah 😄)
Aku tersenyum dan tertawa sendiri membaca chat di grup para dokter. Yang kuyakini mereka saat ini sedang santai tidak ada pasien yang ditangani.
"Kenapa yang, ketawa sendiri".
Mandala melihatku yang tertawa langsung bertanya.
"Di whatsapp grup dokter, dokter Herman dan dokter Ramli berdebat masalah membedah hati".
Mandala tidak membahasnya lagi, matanya kembali ke arah laptop di depannya. Aku tahu apa yang di kerjakan Mandala.
Ini berkaitan dengan warisan yang di tinggalkan oleh Amantua.
Amantua meninggalkan seluruh asetnya di Indonesia untuk Ama, Mandala dan Kakak Mandali.
Termasuk kepemilikan saham yang ada di perusahaan yang di kelola Melky.
Ini semua cukup untuk kami jika kelak Mandala pensiun, tapi Mandala berkeinginan untuk menyalurkan uang Amantua ke hal yang lebih berguna.
Karenanya Mandala sekarang lagi menghitung untuk menyumbangkan beberapa harta Amantua ke yayasan panti asuhan dan panti jompo.
Untuk perusahaan Amantua di Luar Negeri, setengahnya menjadi milik putri Amantua atau bibinya Mandala di sana, dan setengahnya lagi menjadi milik Ama,Mandala dan Kakak Dali sesuai dengan surat wasiat yang di tulis Amantua.
Karenanya kemarin sehabis Amantua meninggal, Mandala menyelesaikan dulu semua prosedur pengalihan harta sebelum kembali ke Indonesia.
Amantua juga memberikanku sejumlah uang dan perhiasan. Karena masalah pajak dan juga keamanan, Mandala hanya membawa satu set perhiasan buatku. Untuk uang sudah di transfer oleh Mandala ke rekening khusus masa depan kami. Dan beberapa perhiasan, masih di titipkan Mandala dengan bibinya di sana.
Jika aku ingin membuka sebuah Klinik.
Mandala mengusulkan untukku menjual perhiasan yang ada pada bibi dan mencairkan dana warisanku dari Amantua.
Tapi dengan catatan, aku harus menabung sendiri untuk masa depanku kelak. Karena dana masa depan untukku dan anak-anakku kelak sudah habis ku pakai membangun klinik.
Aku menyetujui usulan Mandala.
Jika aku mempunyai klinik, otomatis aku pasti bisa menabung.
Tapi aku belum memberitahu Mandala, bahwa klinik yang ingin ku bangun bukan di kota ini, tapi di kota kelahiranku, di kampung halamanku.
Aku akan memikirkan rancangannya dulu sebelum aku memberitahu Mandala detail keseluruhannya.
Biarlah aku menikmati dulu rasa bahagiaku berada di rumah saat ini bersama Mandala.
Menikmati perhatian Mandala padaku.
Dan menikmati kemanjaanku pada Mandala.
----------
jangan lupa Votenya yaa
LOVE YOU 😘😘😘
__ADS_1