Jodohku

Jodohku
Episode 12


__ADS_3

POV Khansa Almira


Mobil pajero yang kutumpangi segera masuk ke halaman rumah yang tampak megah. Segera aku turun tanpa mempedulikan mas Arkan lagi. Kutahan air mata ini agar tak jatuh. Zea dan Zio menyambut kedatanganku. Mereka tampak riang sekali.


"Tante Khansa," Zio menghambur memelukku diikuti kakaknya Zea.


"Tante nangis? tante kenapa?" tanya Zea padaku.


"Nggak, tante tadi cuma kelilipan habis bantuin mama Maria bawain barangnya. Ternyata ada debu yang menempel di tasnya," jawabku


"Oh gitu, sini mata tante Zea tiup biar hilang debunya," pinta Zea kemudian meniup mataku. Aku mencoba tersenyum dihadapan Zea dan Zio. Mami dan papi yang melihatku penuh tanda tanya. Namun mereka tak berkata apa-apa. Mereka hanya menatap mas Arkan yang baru datang.


"Zea, zio masuk kamar dulu yuk, sudah malam. Besok main lagi sama tante," ucap mami. Kemudian Zea dan Zio mengikuti mami menuju ke kamar.


"Arkan, kau apakan Khansa?" tanya papi dengan nada agak tinggi.


"Arkan nggak apa-apain," jawab mas Arkan lalu berlalu menuju ruang tengah. Papi segera menyusulnya.


"Awas kalau buat istrimu terluka, papi akan buat perhitungan denganmu," ancam papi pada mas Arkan. Sementara mas Arkan tak begitu menanggapi ucapan papi. Iya malah asyik dengan remot TV yang ada di tangannya. Aku segera naik ke kamar. Rasanya sungguh melelahkan. Jika hanya lelah badan ini mungkin dengan istirahat akan segera hilang. Tapi hatiku yang lelah. Aku nggak ngerti harus bagaimana.


Aku duduk disofa. Berfikir tentang kehidupan rumah tanggaku. Dulu aku selalu bermimpi punya suami yang soleh, yang bisa menjadi imamku saat solat, memberi nasehat dan ilmu agama, menyayangiku sebagaimana Rosulullah begitu sayangnya dengan Aisyah. Tapi justru takdir membawaku pada jodoh yang tak ku kehendaki. Seorang laki-laki tampan, kaya raya, berpendidikan tinggi, namun jauh dari agama. Mungkin bagi kebanyakan wanita diluar sana akan mendambakan laki-laki seperti mas Arkan yang nyaris sempurna dalam kehidupan dunia, bergelimang harta. Namun tidak bagiku. Aku tak butuh semua ini. Aku mulai terisak. Tak tahan air mata ini segera meluncur. Sampai kapan aku bisa bertahan."Bapak, ibu, aku kangen,"gumamku.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Mas Arkan masuk tanpa ada rasa bersalah. Segera dia langsung ke ranjangnya tanpa peduli akan keberadaanku. Entahlah, hatinya terbuat dari apa. 15 menit kemudian terdengar dengkuran halus darinya.


Aku segera melangkah menuju lemari untuk mengambil selimut. Segera ku rebahkan tubuh ini diatas sofa."Jadikanlah sholat dan sabar sebagai penolongmu,"petikan ayat itu jadi penghibur kesedihanku. Segera kubaca doa sebelum tidur dan doa agar aku dibangunkan sebelum subuh. Akhirnya mata ini pun terpejam.


*****


Mas Arkan sudah terlihat rapi. Wajahnya yang tampan dan postur tubuhnya yang tinggi mungkin banyak membuat para wanita jatuh cinta padanya. Secara naluriah perempuan, aku pun jatuh cinta padanya. Tapi menghadapi ini semua kadang membuatku putus asa. Mungkin memang sebaiknya kita berpisah. Karena aku tahu siapa diriku dibandingkan mbak Maria. Aku hanyalah perempuan miskin yang mencoba bangkit memperbaiki keadaan dengan mengajar dan kuliah. Sedangkan mba Maria adalah wanita cantik berpendidikan tinggi bak model.

__ADS_1


"Coba di cek ponselmu, aku sudah tranfer uang bulananmu. Aku harap kamu tak perlu ngajar privat segala. Cukup ngajar di sekolah dan kuliah saja. Kalau perlu berhentilah ngajar. Malu pada dunia, istri seorang Arkan Pratama harus keluar untuk bekerja," ucapnya. Aku segera mengambil ponselku. Mataku membulat dengan noninal yang mas Arkan transfer. 50 juta. Bulan kemarin mas Arkan memberiku 20 juta. Itu saja uangnya tak banyak terpakai.


"Apa cukup uang segitu untukmu, jika kurang akan aku transfer lagi," lanjutnya.


"Labih dari cukup, tapi untuk apa uang sebanyak ini. Aku rasa aku tak membutuhkannya. Hidup bukan hanya sekedar persoalan uang. Aku ngajar juga bukan hanya karena uang. Tapi lebih pada rasa sayangku pada anak-anak dan ibadah. Aku berharap ilmu yang aku sampaikan bisa menjadi ilmu yang bermanfaat. Sehingga bisa memberikan syafa'at kelak di yaumil hisab,"ucapku


"Aku minta maaf. Aku tak bisa berhenti untuk mengajar. Karena aku menyukainya juga," lanjut ku.


"Terserah kamulah," ucap mas Arkan lalu turun kebawah. Setelah kumerapikan jilbab panjangku, segera aku menyusul kebawah.


Di meja makan semua sudah berkumpul. Hanya Zio yang tak terlihat.


"Dimana Zio mi," tanyaku pada mami.


"Belum bangun, dia tidur nyenyak sekali," jawab mami.


"Tante Khansa, tante cantik dech. Nanti ajarin Zea pakai jilbab seperti tante ya," ucap Zea padaku. Terdengar mas Arkan batuk. Sepertinya dia tersedak mendengar ucapan Zea barusan.


"Zea boleh nggak sekolah di tempat tante," ucap Zea lagi. Anak ini begitu riang dan cerdas. Cepat sekali dia mengikuti apa yang aku ajarkan. Bahkan mulutnya selalu bertanya macam-macam.


"Nanti Zea tanya sama mama Maria ya. Kalau mama Maria mengijinkan, Zea bisa sekolah bareng tante," ucapku. Selesai sarapan kucium punggung tangan papi dan mami.


"Khansa pamit ya mi, pi," ucapku pada mami dan papi.


"Hati-hati ya nak, Arkan.... anterin Khansa kesekolah," pinta papi. Mas Arkan tak menjawab. Dia hanya mencium punggung tangan papi dan mami juga.


"Tante, jangan lama-lama ya ke sekolahnya. Zea pingin denger tante cerita kisah para sahabiyah lagi," ucap Zea sambil memelukku.


"InsyaAllah siap," ucapku. Segera aku berlalu. Khawatir telat. Pagi hari biasanya Jakarta selalu macet.

__ADS_1


*****


Mas Arkan mengantarku sampai depan gerbang sekolah. Terlihat banyak guru-guru yang memperhatikanku. Mungkin mereka merasa aneh. Biasanya Khansa ke sekolah hanya naik ojek online tapi ini dianter dengan mobil pajero sport.


"Mas, maaf nanti Khansa pulang malam. Khansa ada privat dan kuliah," izin ku pada mas Arkan.


"ok," ucapnya lalu mobil itu pergi meninggalkan aku. Aku segera masuk kesekolah. Disana anak-anak sudah menyambutku.


*****


"Ustadzah Khansa, hari ini papa nggak bisa jemput. Nanti om Arif yang jemput," ucap Nayla padaku. Nayla gadis kecil yang duduk di kelas 2. Iya gadis yang pendiam dan sulit bergaul. Awalnya dia kesulitan untuk menerima pelajaran. Karena itulah aku memberikan pelajaran privat untuknya. Ayah Nayla seorang pengusaha kaya. Dia duda karena istrinya meninggal dunia.


"Baik, nggak apa sayang," jawabku. Sudah sebulan ini sekolah telah menggunakan metode ummi untuk pembelajaran al qur'an. Jadilah panggilan buat guru-guru pun berubah. Biasanya anak-anak memanggil dengan ibu atau bapak guru, sekarang berubah jadi ustadz dan ustadzah.


*****


"Ustadzah, kita makan dulu yuk," ajak Nayla padaku. Aku pun menurut saja. Perutku dari tadi sudah berbunyi. Selesai makan kami sholat ashar bersama. Jam menunjukkan pukul 4. Segera kami belajar bersama. Sebelum belajar pelajaran sekolah, Nayla murojaah hafalan surat Al Maun.


"MasyaAllah, Nayla sudah lancar ya," puji ku pada Nayla. Nayla tersenyum senang mendengarkan pujianku.


"Kita lanjutkan membaca ummi nya ya," ucapku. Nayla sudah jilid 3.


"Baik ustadzah," ucap Nayla sambil membuka ummi jilid 3. Nada ummi nya sudah terdengar indah. Selesai membaca ummi Nayla belajar pelajaran sekolah. Dia tampak begitu semangat. Tak terasa satu setengah jam sudah berlalu. Kami mengakhiri belajar hari ini. Tiba-tiba terdengar pintu rumah di buka.


"Papa, " Nayla berlari langsung memeluk papanya. Sedangkan aku duduk sambil menikmati secangkir teh yang di buatkan oleh teh Imas.


"Gimana kabar anak papa hari ini?" tanya papa Nayla pada Nayla sambil mencium pipinya.


"Baik papa, oya ada ustadzah Khansa di dalam, " ucap Nayla.

__ADS_1


Papa Nayla menyapaku dengan ramah. Ada gurat kebahagiaan diwajahnya melihat Nayla menjadi anak yang periang.


"Pa, Nayla pingin dech punya mama seperti ustadzah Khansa. Coba kalau ustadzah Khansa belum menikah, Nayla sudah pasti memintanya jadi mama Nayla," ucap Nayla pada papanya. Papanya hanya tersenyum. Aku hanya menunduk menahan malu.


__ADS_2