
Lisa dan Rafa sudah sampai di rumah jam 4 sore, sesuai pesan Bu dokter saat Rafa menemuinya sebelum keluar dari rumah sakit, bahwa sebaiknya Lisa tidak dulu naik turun tangga, maka Rafa menyuruh bi Rumi untuk membereskan kamar tamu yang ada di lantai bawah, mulai saat ini kamar itu akan menjadi kamar Lisa dan Rafa, kamar yang sama yang dulu ditempati Rafa saat dia pulang dari rumah sakit setelah kecelakaan mobil sepulang mengantar ayah bundanya ke bandara dua tahun yang lalu
Saat masuk kedalam rumah, Rafa membopong Lisa menuju kamar mereka.
Sebenarnya Lisa ingin jalan sendiri, tapi Rafa tidak mengijinkannya. Lisa merasa malu pada penghuni rumah yang lainnya, nyonya Meisi dan Tuan Johan juga sudah berada di rumah, mereka baru saja sampai rumah, sejak beberapa hari yang lalu harus ke luar kota mengurus bisnis mereka.
Setelah merebahkan tubuh Lisa di kasur, Rafa mengatakan akan mandi dan ganti pakaian dulu di kamar atas, dia pun membiarkan Lisa bersama bunda.
" Sayang selamat datang kembali di rumah, syukur alhamdulilah, kamu sudah sehat kembali, mulai sekarang kamar ini jadi kamar kalian, beberapa pakaian dan barang- barangmu juga sudah di pindahkan ke sini oleh bi Rumi dan bi Ati", ujar bunda menjelaskan.
" Kamu istirahat yang nyaman ya, bunda ke kamar dulu, mau membersihkan badan dan ganti baju, ini bunda baru sampai bau asem banget", ujar Nyonya Meisi kemudian meninggalkan Lisa di kamar bersama kedua ART nya.
" Apa non Lisa perlu sesuatu? biar bibi siapkan?", tanya bi Rumi.
" Tidak bi, yang penting bibi selalu stok air putih di sini yang banyak, Lisa harus memperbanyak minum air putih, biar Lisa nggak dehidrasi", Lisa menyampaikan pesan Bu dokter.
" Baik Non, kalau begitu bibi ambil botol yang paling besar bibi taruh disini ya?", kata Bi Rumi sambil keluar mengambil botol besar berisi air putih.
Bi Ati sudah mengambilkan beberapa macam buah yang sudah di cuci dan di kupas, " Ini buat ngemil non, biasanya orang hamil cepet lapar, bibi taruh disini ya non buahnya", bi Ati meletakkan piring berisi buah di meja sebelah tempat tidur. Kemudian bi Rumi juga meletakkan botol besar berisi penuh air putih di samping piring tempat buah dan sebuah gelas kosong.
" Terimakasih bibi semuanya, kalian boleh melakukan pekerjaan yang lainnya, Lisa mau istirahat", ucap Lisa menyuruh kedua ART di rumah Rafa untuk keluar kamar.
Lisa sebenarnya sama sekali tidak lelah ataupun mengantuk, Lisa hanya ingin sendiri, Lisa tidak mau keadaannya membuat orang lain sibuk untuk merawatnya, Lisa sehat dan tidak merasa sakit sama sekali di bagian tubuhnya, dia hanya perlu membatasi aktifitas fisiknya agar tidak kecapean, tapi orang-orang di sekitarnya selalu menatapnya dengan tatapan kasihan, Lisa paling tidak suka di tatap dengan cara seperti itu. Lebih baik Lisa sendirian dan membaca novel atau bermain ponsel di kamar.
Rafa masuk ke dalam kamar setelah mandi dan ganti baju di kamar atas, menjumpai Lisa yang sedang fokus membaca novel di ponselnya.
" Kenapa kakak mandi di atas?, disini kan juga ada kamar mandi", tanya Lisa.
" Kakak ingin mendinginkan badan diatas, tadi berendam air dingin sebentar, kalau disini nggak bisa, entah kenapa setiap kali melihatmu kakak ingin bermesraan denganmu, tapi dokter berpesan untuk bisa menahannya setidaknya kita boleh melakukan tapi seminggu hanya dua kali, hehehe, kata Bu dokter kamu masih dalam masa pemulihan", Rafa menyampaikan pesan Bu dokter tadi.
" Kalau seminggu lagi kita check up ke rumah sakit hasil pemeriksaanmu bagus, kata Bu dokter baru boleh melakukannya sesuka hati", ucap Rafa sambil tersenyum.
" Maaf ya sayang, sementara ini kakak jarang menggaulimu", Rafa menarik tengkuk Lisa dan melahap bibirnya dengan mesra.
" Sebatas ini dulu ya sayang, kalau kau mau nanti malam kita bisa melakukannya pelan-pelan, dan tiga hari lagi baru bisa melakukannya lagi, ini saja kata dokter sudah dimaksimalkan", Rafa menyunggingkan senyumnya.
" Maafkan Lisa ya Kak, tidak bisa melayanimu
__ADS_1
setiap waktu, Lisa jadi merasa bersalah", ucap Lisa menundukkan kepalanya.
Rafa menegakkan kepala Lisa dengan menarik janggut Lisa dengan jempol tangannya, " nggak ada yang salah sayang, ini bukan salah kamu atau salah siapapun, nggak boleh ngomong seperti itu, kamu harus jaga suasana hati kamu untuk tetap bahagia, karena kata dokter, apa yang dirasakan ibu hamil itu bisa dirasakan oleh bayi dalam perutnya juga", ucap Rafa yang mengingat jelas apa saja yang disampaikan Bu dokter kepadanya tadi.
" Ayo tiduran saja, kakak temani", ucap Rafa menuntun Lisa untuk merebahkan diri di kasur, Rafa pun ikut merebahkan diri di samping Lisa, memposisikan kepala Lisa di bahunya.
" Ada yang bilang kalau bahu suami adalah tempat yang paling nyaman untuk bersandar", ucap Rafa lirih di dekat telinga Lisa.
Ada sengatan yang di timbulkan dari hembusan nafas Rafa yang terasa hangat di tengkuk leher. Lisa hanya mengerjap mencoba menahan dirinya untuk tidak berpikir macam-macam.
" Lisa akan menghabiskan waktu dengan tiduran terus beberapa hari biar cepet pulih dan sehat, jadi Lisa bisa bebas melakukan apa yang Lisa mau", ujar Lisa bersemangat.
" Kau memang Lisa istriku, masih tetap sama seperti Lisa yang ku kenal, yang selalu bersemangat dan penurut", ucap Rafa.
***
Hari sudah mulai gelap, matahari menyisakan warna jingga di atas langit. Doni dan Tami masih berada di dalam mobil, menuju apartemen Doni. Setelah jalan-jalan berdua di salah satu mall terbesar di kota X.
" Kenapa kau tidak mau membeli apapun?, apa tida ada satupun barang yang menarik perhatianmu?", tanya Doni penasaran, karena sebelum-sebelumnya setiap kali Doni mengajak jalan seorang wanita ke mall pasti belanjaan mereka seperti orang pindahan, tangan Doni akan penuh membawakan belanjaan wanita itu.
" Aku berusaha membuatmu merasa bahagia, setahuku biasanya seorang gadis akan sangat senang jika di ajak belanja oleh kekasihnya", ucap Doni menjelaskan.
" Biasanya?, sudah berapa banyak gadis yang kau ajak belanja selama ini?, wah pasti banyak ya?", goda Tami.
" Entahlah, tidak ku hitung jumlahnya, mungkin lebih dari dua puluh", jawab Doni balas menggoda, kemudian memarkirkan mobilnya di lantai dasar gedung apartemennya.
Doni turun dari mobil dan hendak membuka pintu untuk Tami, tapi keburu Tami sudah keluar dari mobil lebih dulu.
" Lebih dari dua puluh?, wah kau memang benar-benar seorang Playboy sejati", ucap Tami manyun.
Doni merangkul pundak Tami mengajaknya menuju lift. Setelah di dalam lift Doni memencet nomor lantai, dimana apartemennya berada.
" Jadi kupikir ucapanmu tadi di coffee shop adalah angin lalu, aku tidak mau mempunyai perasaan terlalu dalam dengan playboy macam kakak", ucap Tami sewot.
" Apa kau sedang cemburu dengan mereka yang pernah aku ajak belanja?, mereka tidak pernah punya tempat spesial dalam hatiku, hanya teman jalan saja, jadi kamu jangan cemburu seperti itu", Doni coba menjelaskan.
Pintu lift terbuka mereka berdua melangkah menuju apartemen Doni, setelah memencet kode angka di pintu masuk, pintu pun terbuka, dan mereka berdua masuk ke dalam apartemen.
__ADS_1
" 000000, itu kode masuk ke apartemenku, kamu ingat ya, biar kalau kamu kangen sama aku, bisa langsung masuk ke dalam", ucap Doni.
Tami tertawa terbahak mendengar kode yang dikatakan oleh Doni, " Kode macam apa itu angka 0 semua, kalau ada yang lihat kamu mencet kode itu di pintu pasti langsung ketahuan kodenya, bisa-bisa maling juga bisa masuk kesini", ujar Tami masih terkekeh .
" Apanya yang lucu?, kamu tahu tidak kenapa kodenya aku buat nol ( 0 ) semua?, dulu aku pernah pakai tanggal lahir ku sebagai kode pintu masuk, tapi pernah pas aku mabuk, balik dari club malam, aku benar-benar lupa tanggal lahir ku, akhirnya aku tidur di luar apartemen semalaman", Doni mencoba menceritakan pengalamannya yang konyol.
" Hahahaha, rasain tuh, makanya jangan suka mabuk-mabukan, jadi tidur diluar semalaman kan, itu ganjarannya", kata Tami masih terus menertawakan Doni.
" Kau terus saja menertawakan aku, diam atau aku cium kamu", ucap Doni menggertak.
Tapi Tami masih saja tak bisa menahan tawanya mendengar kisah konyol kekasihnya itu. Doni langsung menghampiri Tami dan menarik tengkuknya, sepersekian detik bibir mereka berdua sudah menyatu.
Otomatis tawa Tami langsung berhenti, suasana apartemen yang tadi ramai dengan tawa Tami berubah menjadi sunyi. Doni melepaskan ciumannya ketika Tami mendorong tubuhnya.
" Kau mau aku mati kehabisan nafas.....?", sebelum Tami menyelesaikan kalimatnya, Doni sudah menyatukan bibir mereka kembali, tapi kali ini sesekali Doni melepasnya, memberi kesempatan Tami mengambil nafas.
Doni menghentikan aksinya setelah bibir Tami membengkak dan berwarna merah semu hitam.
" Apa kau sudah gila, lihat aku harus bagaimana, besok Lisa menyuruhku main ke rumahnya", ucap Tami sambil memukul-mukul dada Doni yang bidang setelah melihat seperti apa keadaan bibirnya saat ini.
" Ya sudah nggak usah kerumah Lisa, bilang saja kau sedang kurang enak badan", ucap Doni memberi solusi.
" Bete tau hari libur di asrama sendirian, makanya besok aku mau kerumah Lisa, sekalian memberikannya selamat atas kesembuhannya", ucap Tami menjelaskan.
" Di sini saja temani aku, bermalam disini ya?, kau kan sudah membawa baju tidurmu, juga baju ganti buat besok yang masih ada di mobilku", ucap Doni santai.
" Enak saja, nginep disini? tidur di apartemenmu?, hanya berdua?, apa kau bisa jamin kamu nggak bakalan macem-macem?, aku ngga bisa percaya, buktinya tadi kau sudah mengambil ciuman pertamaku, dasar kak Doni menyebalkan!", Tami masih sangat kesal.
" Ciuman pertama?, serius Tam?, saat kau sudah kuliah dan menjadi mahasiswa, kau baru pernah berciuman?, wah kau ini apa waktu kau pacaran dengan Tama dia nggak pernah menginginkanmu?, dia pasti bukan laki-laki normal", ucap Doni meremehkan.
" Dia normal, kakak jangan asal bicara, dia pasti juga menginginkannya, tapi dia sangat menghormatiku", ucap Tami menjelaskan.
" Kakak ini benar-benar menyebalkan, antarkan aku pulang ke asrama sekarang juga", ucap Tami masih kesal.
" Tidak mau, sebelum kau tenang dan memaafkan aku, kau harus bisa meredam kemarahanmu, baru aku mau mengantarmu pulang", ucap Doni.
Tami benar-benar tidak menyangka Doni semenyebalkan itu. " Apa aku salah menerimanya menjadi kekasihku, dia sangat egois dan menyebalkan", batin Tami.
__ADS_1