Jodohku

Jodohku
Akhir segalanya.


__ADS_3

Sore hari di sebuah pulau yang di kelilingi lautan. Tampak seorang laki-laki bermain dengan dua orang balita yang berumur satu tahun lebih. Mereka bertiga bermain pasir di depan sebuah penginapan.


"Dirga.. Dewa.. Ayo pulang nak, mandi dulu"


Sesosok wanita keluar dari sebuah rumah yang terletak tepat di sebelah klinik kesehatan untuk para tamu penginapan. Wanita itu memanggil kedua putra kecilnya yang sedang asyik bermain pasir.


Mendengar suara bundanya, Laki-laki itu langsung menggendong kedua putranya untuk masuk kedalam.


"Aduh, anak bunda bau acem"


Wanita itu mengambil salah satu putra kembarnya.


"Ayahnya juga minta di mandikan bunda"


Sambil menyerahkan salah satu putranya, dia mencium kening istrinya.


"Mandi bertiga ayah saja ya nak. Biar bunda bisa temani nenek masak"


"Maunya berempat bunda"


"Itu mau ayahmu. Ayo yah mandikan si kembar, bunda bantu ibu masak dulu"


Ketiga laki-laki itu masuk ke dalam kamar mandi.


Terdengar suara bermain air di dalam kamar mandi yang sangat heboh.


"Si kembar sudah mandi?"


Wanita tua yang sedang membersihkan ikan menoleh ketika wanita muda itu masuk ke dapur.


"Bersama Ayahnya bu, satu jam baru itu selesai. Kita bisa masak dengan tenang"


Wanita tua dan wanita muda itu tertawa bersama. Terlihat kebahagiaan di wajah mereka di balik rumah kecil sederhana berlantai dua itu.


---------------------


Dua setengah tahun yang lalu..


"Kapten, aku hamil. Dapatkah kamu mendengarku kapten? bangunlah, temani aku menjaga anak ini"


Tubuh yang terbaring itu tidak bergerak sama sekali. Kemaren tubuh itu bereaksi hingga membuat jantungku ikut berdetak lebih cepat. Reaksi tubuh Mandala yang tiba-tiba tidak dapat bernafas membuatku pingsan dan akhirnya mengetahui kehamilanku.


Sewaktu aku di rawat karena pingsanku, Mandala di intubasi oleh dokter yang merawatnya untuk menjaga saluran udara tetap terbuka agar tidak terjadi lagi gagal nafas akibat kekurangan oksigen.


Aku bahagia dengan kehamilanku, tapi aku juga bersedih karena keadaan Mandala yang masih koma.


"Selamat siang ibu. Maaf,saya kembali mengganggu"


Aku terkejut dengan suara laki-laki yang tiba-tiba muncul di sampingku. Aku ingat laki-laki ini yang kemarin memberikanku surat-surat kepemilikan rumah dan penginapan di sebuah pulau.


"Maaf, siapa nama bapak?"


"Saya Ardi bu"


"Pak Ardi, apakah penginapan itu sudah bisa beroperasi?"


"Sudah bu, tinggal pengrekrutan karyawan saja"


"Bisa Pak Ardi menolong saya?"


"Saya siap membantu bu. Mandala adalah teman yang juga selalu membantu saya"


"Kalo begitu panggil saja saya Ega, jangan ibu"


Ardi tertawa.


"Panggil juga saya Ardi kalo begitu, jangan bapak"


"Baiklah. Ardi, saya ingin membangun rumah buat tempat tinggal kami di sana. Apa lahannya masih cukup?"


"Cukup kalo hanya rumah sederhana. Kita buat meningkat ke atas"


"Tolong desain kan. Saya ingin pindah ke sana membawa anak-anak saya nanti"


Ardi mengangguk.


"Aku mengerti, berapa kamar yang di perlukan?"


"Untuk ibuku yang sudah lanjut usia, buatku dan Mandala dan buat anakku kelak"


"Bagaimana dengan budgetnya?"


"Sesuaikan dengan anggaranmu. Jangan mahal, jangan juga kamu merugi"


Ardi tertawa.


"Aku paham. Aku desain kan dulu. Setelah itu aku akan kembali ke sini. Bagaimana dengan penginapan?"


"Aku akan mencari orang yang bisa mengelolanya. Tolong umumkan untuk orang lokal di sana bahwa penginapan membutuhkan karyawan"


Lagi-lagi Ardi hanya mengangguk.


"Seminggu lagi aku kembali. Ku harap bisa bertemu orang yang akan mengelola penginapan itu"


"Baiklah, kita bertemu seminggu lagi"


Ardi berpamitan padaku. Aku menyimpan surat-surat yang di berikan Ardi.


"Kapten, kamu dengar tadi? Penginapan yang kamu siapkan untuk pensiunmu kelak sudah selesai. Aku akan meminta orang untuk mengelolanya. Setelah kamu sadar nanti, kita akan tinggal di sana bersama anak-anak kita"


Aku menggenggam tangan Mandala. Lagi-lagi tangan itu tidak memberikan respon. Aku membersihkan tangan Mandala. Mengurutnya perlahan supaya melancarkan peredaran darahnya.


Aku sudah bertekad, sadar atau tidak sadarnya Mandala, aku akan tetap tinggal di sana, membawa anakku jauh dari kota dimana ayah dan bundanya tidak bahagia.


Seminggu kemudian Ardi kembali datang. Aku dan Ardi sepakat untuk desain rumah dan budget yang harus di keluarkan. Aku minta bantuan beberapa kerabat untuk menjual rumah yang dulunya di berikan Mandala waktu kami bercerai. Uang hasil penjualan rumah itu kugunakan untuk membangun rumah di pulau.

__ADS_1


Aku ingin pergi jauh dari kota.


Aku ingin melupakan semua cerita masa lalu diriku dan memulai yang baru bersama anakku kelak.


Untuk penginapan, aku memanggil adiknya Ayu untuk menjadi Manager sampai aku dan keluargaku pindah kesana. Kuminta Ardi untuk membantu adiknya Ayu di lapangan selama persiapan sebelum penginapan benar-benar di buka.


---------


Hari ini usia kandunganku delapan minggu. Aku melakukan pemeriksaan pada dokter Mia, dokter kandungan yang dulu merawat Sarah.


"Dokter Chintya.. apa kamu melihatnya?"


"Ada apa dokter Mia?"


"Kantungnya ada dua. Lihatlah ini"


Aku memperhatikan monitor di depanku. Seketika air mataku menetes. Seandainya juga Mandala melihat ini.


"Jangan bersedih, kasian nanti bayinya"


"Apa bayiku kembar?"


Dokter Mia mengangguk.


"Penantian panjangmu. Akhirnya kamu mengandung anak kembar"


"Iya" Aku kembali terisak.


"Selalu berdoa, yakinlah bahwa mukjizat itu pasti ada. Yakin bahwa Ayahnya akan kembali sadar"


"Terima kasih dokter Mia"


"Jaga kandunganmu. Kamu harus kuat dan bersabar. Sudah lama kamu menantikan ini".


Dokter Mia dan Aku berpelukan. Sesaat aku merasa beban di hatiku berkurang.


"Jangan lupa makan makanan yang bergizi ya. Ingat, ada dua orang di dalam perutmu".


Aku mengangguk sambil tersenyum dan berpamitan pada dokter Mia.


-----------


Aku duduk di sisi tempat tidur Mandala. Seperti biasa sejak Mandala koma, aku mengajaknya berbicara sambil mencatat apa yang terjadi pada hari itu. Sehingga kelak jika Mandala sadar, dia akan membacanya dan mengetahui setiap kejadian yang terjadi selama dirinya tidak sadarkan diri.


Sambil menulis, aku sambil berbicara.


Aku melihat selintas tangan Mandala bergerak. Aku menghentikan aktivitasku menulis. Aku menggenggam tangan Mandala, tangan itu merespon genggamanku. Seketika aku langsung menekan tombol darurat sambil membiarkan tanganku tetap di dalam genggaman Mandala.


Dokter yang datang melihat reaksi Mandala. Meminta Mandala untuk terus menggerakkan tangannya walau mata itu masih terpejam.


"Ini kemajuan yang bagus bu, terus ajak berbicara. Kemungkinan besar, Pak Mayor akan segera sadar"


Aku hanya mengangguk menanggapi ucapan dokter. Air mataku menetes. Tanganku terus kubiarkan menggenggam tangan Mandala. Ketika Dokter dan perawat itu keluar, aku kembali mengajak Mandala berbicara.


"Kapten, kamu mendengarku. Gerak kan tanganmu jika mendengarku."


Aku terus-terusan mencium tangan mandala karena kebahagiaanku. Kemudian kudekatkan perutku pada tangan itu.


"Kapten, aku hamil. Disini ada anak kita"


Mandala kembali menggerakkan tangannya. Air pun keluar dari Mata Mandala. Mandala menangis. Aku langsung mencatat semuanya. Jam berapa tangan Mandala bergerak dan jam berapa Mandala menangis. Aku ingin semua aktivitas Mandala dapat terekam dan ku ingat sebagai kenangan kami nanti.


Hari ini merupakan awal yang baik untuk semuanya. Semoga esok hari Mandala dapat sadar dan bangun dari tidur panjangnya.


---------------------


"Nenek"


"Bunda"


Suara dua bocah kecil membuatku dan ibu menoleh.


"Sudah selesai mandinya sayang?"


Aku memeluk mereka berdua.


"Aku harus ke dermaga sayang, menjemput Melky dan anak-anak"


"Mereka akan kemari?"


"Iya, Putri kangen katanya dengan double D"


"Betulkan kata ibu Ga, tadi pagi ada kupu-kupu. Kita mau kedatangan tamu"


"Ibu masih saja percaya yang begituan"


Aku beranjak keluar dapur sambil menggandeng kedua anak kembarku.


Mandala mencium kedua putranya dan mencium keningku sebelum masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati ya yah"


Mandala mengangguk dan membawa mobil menjauh dari rumah.


Dua tahun sudah kami tinggal di pulau ini.


Ketika usia kandunganku masuk lima bulan, kami pindah kemari. Saat itu Mandala masih belum sembuh total. Disinilah aku merawat Mandala. Melatihnya kembali berjalan dan membuatnya kembali beraktifitas normal.


Mandala mengajukan pensiun dini dan mulai mengelola tempat ini menjadi areal wisata. Sedangkan aku berhenti bekerja di rumah sakit dan membuka klinik kecil di sini. Klinik besarku di kota masih berjalan dan itulah juga salah satu sumber penghasilan kami sekarang.


Aku juga membawa ibu kemari agar aku mudah menjaga ibu. Dan sekarang, semuanya kembali ke kondisi semula. Mandala sudah sembuh total, walaupun kadang dadanya sering kali nyeri bila terlalu lelah.


Kami memiliki dua orang putra kembar yang kulahirkan dengan normal walaupun aku pingsan setelah melahirkan.


Mandala ingin salah seorang anaknya bernama Dewa, untuk mengingatkan kami akan cerita lalu, bagaimana berlikunya kebahagiaan yang sekarang kami dapatkan.

__ADS_1


Dan Dirga diambil Mandala dari Dirgantara. Mengingatkannya bahwa Ayahnya adalah seorang penerbang di Angkatan Udara.


Hubungan kami dengan Melky dan keluarganya tetap terjalin. Aku dan Mandala pun kadang berkunjung ke rumah mereka. Melky dan Mandala sepakat untuk menjual rumah besar dan membagi adil semua orang yang berhak atas rumah tersebut. Sekarang Melky memiliki rumah sendiri bersama Nia dan kedua putrinya.


Mama dan Kakak Dali berkunjung ke pulau ketika si kembar lahir. Mama terlihat bahagia melihat kedua cucu laki-laki kembarnya. Aku dan Mandala sepakat untuk menyembunyikan semua kisah kami dari Mama dan menguburkan semua cerita itu ke dalam tanah sedalam-dalamnya. Agar cerita itu tidak lagi dapat muncul di masa depan kami kelak.


--------------------


"Sayang, ayo bangun. kasian nenek harus mengurusi si kembar sendirian"


Mandala memelukku dari belakang.


Bukannya menjawab Mandala, aku malah berlari ke kamar mandi.


"Huek.. huek" Aku tiba-tiba merasa mual dan kepalaku pusing.


"Kamu kenapa sayang?" Mandala memijit pundakku sambil menyerahkan minyak kayu putih yang sudah satu minggu ini selalu ku bawa.


Aku mengusap perutku dengan minyak kayu putih dan menghirup aromanya.


Aku berdiri di bantu Mandala dan kembali ke tempat tidur.


"Tolong jaga si kembar. Aku mau tidur lagi"


"Perlu kupanggil dokter di klinik?"


Aku hanya menggeleng.


"Yakin kamu baik-baik saja? apa kupanggil bibi urut?"


Lagi-lagi aku menggeleng. Kuambil tangan Mandala dan kugenggam.


"Berapa umur si kembar?"


"Kamu bundanya, masa tidak tahu umur anaknya?"


"Aku bertanya padamu Kapteeennn"


"Baiklah, sepertinya mau delapan belas bulan"


Aku meletakkan tangan Mandala pada perutku.


"Si kembar mau punya ade"


Mandala memandangku dan memandang tangannya yang ada di perutku.


"Serius sayang?"


Aku mengangguk. Mandala memelukku. Seandainya waktu kehamilan kembar dulu Mandala sadar, pasti Mandala akan bereaksi sama seperti ini.


"Terima kasih sayang. Terima kasih atas kebahagiaan ini"


Tanpa kusadari Mandala terisak. Aku pun ikut terisak.


Si kembar masuk ke dalam kamar sambil berlari ke arah tempat tidur.


"Ayah.. bunda"


Mandala melepas pelukannya padaku. Meraih kedua putra kembarnya dan ikut duduk bersamaku diatas tempat tidur.


"Pegang perut bunda. Ada adik perempuan di sini"


Mandala mengarahkan tangan kedua putranya keperutku


"Yakin perempuan?" Aku menatap Mandala


Mandala mengangguk


"Yakin, Insya Allah perempuan"


Aku hanya tersenyum. Mandala kembali memelukku.


Sikembar protes dan ikut memelukku.


Akhinya kami berempat pun berpelukan bersama.


Tuhan, tolong jangan pisahkan kami.


Berikan terus kebahagiaan kepada kami.


------------------------------


Beberapa tahun kemudian.


Berita utama Harian pagi lokal hari ini.


SPEEDBOAT PENYEBRANGAN TENGGELAM. PEMILIK PENGINAPAN BERSERTA KELUARGANYA TEWAS TENGGELAM.


Korban adalah pemilik penginapan dan klinik di pulau, bersama keluarganya baru pulang dari kota sehabis pemakaman ibunya.


Korban atas nama M (45), C (42), anak-anak D (7) dan H (5).


Sekarang korban sedang berada di rumah sakit umum setempat untuk di evakuasi dan dikuburkan.


"Jodohku" dengan Mandala berakhir sampai malaikat maut mencabut nyawa kami bersama.


----------------------


Ini Edisi terakhir ya untuk cerita ini.


Mohon Maaf lahir bathin jika ada kata-kata saya yang menyinggung perasaan kalian.


Insya Allah saya akan kembali dengan judul yang baru. Tetap aktifkan notifikasi yaa, biar tahu kalo judul baru nanti terbit.


Terima kasih atas dukungan kalian selama ini pada saya. Semoga saya terus sehat dan terus semangat untuk menulis.

__ADS_1


LOVE YOU SEMUA


😘😘😘😘😘😘


__ADS_2