
" Apa kita pulang saja ke rumah?", tanya Rafa saat mereka tengah di mobil.
Lisa mengaitkan kembali kancing baju kebayanya karena Sultan sudah tidur pulas setelah merasa kenyang. Masih dengan posisi memangku Sultan.
" Nanti Kak, ayah dan bunda juga masih disana, kita kan belum melakukan sesi foto-foto, sebentar lagi ya, ini acara Tami sama kak Doni lho..., mereka berdua yang sudah punya andil besar dan sangat berjasa dalam hubungan kita", ucap Lisa sambil mengangkat tubuh Sultan dan memposisikan berdiri agar bersendawa setelah minum Asi.
" Apa kakak mempermasalahkan soal ucapan kak Akbar tadi?", tanya Lisa sambil menatap Rafa, kemudian Lisa kembali memangku Sultan setelah Sultan bersendawa.
" Dia kan cuma menyampaikan isi hatinya, mungkin saat ini keadaan hatinya sudah menjadi lebih baik, kerena apa yang di pendam selama ini akhirnya bisa dia sampaikan, atau mungkin bisa juga semakin buruk karena apa yang kakak katakan setelahnya, tapi yang harus kakak ketahui, Lisa juga baru tahu tadi, tentang perasaannya selama ini", ucap Lisa sambil menatap Rafa lekat.
" Seandainya, kamu tahu perasaan Akbar dari dulu, apa kau ada sedikit saja rasa tertarik padanya?", Rafa mempertanyakan apa yang Lisa rasakan.
" Dia itu kakaknya Tami, seperti bagaimana Tami menganggapnya, begitu juga denganku, tidak pernah sedikitpun terbersit pikiran menyayanginya sebagai seorang laki-laki, dia itu sudah Lisa anggap kakak", Lisa menjelaskan dengan kalimat yang mudah untuk Rafa pahami.
" Ayo keluar, sepertinya sesi foto-foto sudah di mulai ", Lisa membuk hendle pintu mobil, kemudian menggendong Sultan keluar dari mobilnya.
" Sini biar papa yang gantian gendong, kasihan mama udah diserap energinya, hehehehe", Rafa terkekeh sambil mengambil Sultan dari gendongan Lisa dan mereka berdua berjalan memasuki tenda kembali.
Beberapa tamu undangan ternyata adalah teman-teman SMK Tami dan Lisa, Lisa yang dari tadi duduk di kursi paling depan, tidak menyadari jika beberapa temannya hadir dan duduk di bangku belakang.
" Lisa, apa kabarmu?", sambil berpelukan dan cipika-cipiki dengan ke-empat temannya yang ternyata diundang oleh Tami.
" Baik, kalian bagaimana?"
" Baik juga...", jawab mereka serempak.
__ADS_1
" Kamu sengaja datang dari kota X kah?", tanya salah salah seorang teman yang rumahnya dekat dengan rumah Tama, makanya dia tahu kalau Lisa tinggal di kota X.
" Iya, kenalin, ini suamiku, dan ini anak kami", ucap Lisa memperkenalkan Rafa dan Sultan.
Rafa pun menyalami mereka satu persatu.
Tatapan mata ke empat teman Lisa merasa takjub dengan kharisma dan pesona ketampanan Rafa, apalagi di balut dengan kemeja batik berwarna dasar hitam dengan motif batik keemasan, benar-benar membuat aura ketampanan Rafa semakin menonjol.
" Wah, beruntungnya banget kamu Lis, dapat suami bak aktor sinetron, bening banget, putramu juga mirip banget sama ayahnya, kok nggak undang-undang di acara pernikahanmu?", tanya teman Lisa.
" Eh iya, maaf ya, bukannya nggak mau ngundang, tapi karena nggak di buat pesta seperti ini, hanya keluarga dekat saja yang hadir di acara akad nikah", ucap Lisa menjelaskan.
" Owh jadi nggak ada pestanya, tapi bukan karena kamu 'kebobolan' kan Lis?", tanya salah satu teman Lisa yang gacor.
" Maaf tolong di jaga sopan santun anda nona", ucap Rafa merasa Lisa tidak pantas mendapatkan pertanyaan semacam itu.
" Kak, jangan diambil hati, kadang-kadang memang kalau cewek-cewek lagi kumpul itu ngomongnya agak ngaco, kakak yang slow ya jangan dipikirkan ucapan mereka", Lisa berkata sambil menatap Rafa yang merasa semakin tidak nyaman berada di pesta Tami.
" Kita buruan foto saja sama Tami dan Doni, habis itu kita pulang, bilang saja Sultan rewel karena ramai dan panas", ucap Rafa yang sudah merasa sangat tidak nyaman.
" Ya sudah ayo kita naik ke panggung, bilang sama fotografernya minta satu kali take", Lisa mengajak Rafa naik ke panggung.
Tami langsung menyuruh tukang foto mengambil gambar mereka ber-lima, karena Sultan sedang ada di gendongan Rafa. Kemudian ayah dan bunda juga naik ke panggung, di ikuti pak Farhan dan Bu Soraya, mereka hendak foto ber sembilan, ketika tiba-tiba Akbar naik ke atas panggung dan minta ikut foto bersama mereka. Akhirnya mereka melakukan foto keluarga ber sepuluh.
Saat masih di atas panggung, Rafa langsung minta pamit pada Doni dan Tami dengan alasan Sultan sudah mulai rewel dan kepanasan. Meski dengan berat hati, tapi akhirnya Tami dan keluarga mempersilahkan mereka pulang.
__ADS_1
Di dalam mobil Lisa terus terdiam tanpa sepatah katapun, begitu juga dengan bi Rumi yang duduk di belakang memangku Sultan yang masih tertidur.
" Kenapa kamu diam begitu Lis?, belum mau pulang?", tanya Rafa sambil membelokkan setir ke arah kiri karena mereka sampai di pertigaan pasar.
" Bukannya belum mau pulang, tapi alasan kakak itu nggak masuk akal banget, lihatlah Sultan sedang tertidur dengan lelap dan anteng, tapi tadi kakak pamitnya pakai alasan kalau Sultan rewel. Untung Tami dan keluarganya memaklumi, mereka berpikir pasti kalau kita sengaja mencari alasan agar bisa cepat pulang", ujar Lisa yang merasa tidak enak dengan keluarga Tami.
" Aku malas sekali melihat wajah kakaknya Tami yang terus memperhatikan gerak gerikmu, sebaiknya kita di sini jangan terlalu lama, besok pagi kita balik ke kota X ", ucap Rafa mengambil keputusan tanpa meminta persetujuan Lisa terlebih dahulu.
" Sudah punya anak saja, cemburuan nya nggak ilang-ilang", batin Lisa sambil tersenyum menatap Rafa.
Rafa melirik kearah Lisa yang tengah tersenyum, " kenapa menatapku dan tersenyum seperti itu?", tanya Rafa ketus.
" Nggak papa, iya besok kita balik ke kota X, kan acara Tami juga sudah selesai, dan mungkin kita perlu refreshing mengajak sultan jalan-jalan ke tempat yang sejuk dan berudara bersih, gimana?", Lisa menyampaikan pendapatnya.
" Boleh, kalau besok ke fila yang di puncak gimana?", Sultan dan bi Rumi juga ikut, biar bisa refreshing di sana", ucap Rafa bersemangat.
" Gimana Bi?, masih capek apa nggak?", tanya Lisa menengok ke arah bi Rumi di bangku belakang.
" Bibi nggak capek kok Non, mau di ajak kemana saja ya ayo", ucap Bi Rumi berantusias.
" Oke, jadi besok deal kita ke fila yang di puncak", ucap Rafa membuat keputusan.
" Iya deal ", Lisa mengulang kalimat Rafa.
Mobil pun sampai di garasi rumah Lisa. Mereka ber empat turun dan masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Tak lama kemudian mobil yang di tumpangi kedua orang tua Rafa juga sampai di depan garasi mobil.
Nyonya Meisi dan Tuan Johan masuk ke dalam rumah.