Jodohku

Jodohku
Bahagia tanpa anak.


__ADS_3

"Selamat pagi Bunda Arin".


"Pagi Ega, ada apa menelpon pagi sekali?"


Esok harinya setelah kejadian Tiara dan Putri, aku menelpon Bunda Arin.


"Bunda, setelah melakukan Hysteroscopy, apa efek samping yang akan terjadi?"


"Perut akan keram. Ada juga yang mengalami pendarahan, tapi itu sangat jarang. Yang pasti adalah perut menjadi keram".


"Apakah saya harus beristirahat lama setelah itu?"


"Ega, kenapa kamu menanyakan ini? apa kamu berniat untuk mundur?"


"Bunda, sesuatu terjadi pada keponakannya Mandala dan Istri adiknya Mandala. Saya harus menjaga mereka untuk sementara waktu di rumah sakit".


Aku kemudian menceritakan pada Bunda Arin apa yang terjadi pada Tiara dan Putri.


"Bisakah saya menjaga mereka setelah saya melakukan Hysteroscopy? mereka saat ini sangat membutuhkan saya".


"Aku mengerti posisimu Ega. Tapi jika kamu membatalkannya, akan sangat sulit membuat jadwal baru lagi".


"Baik Bunda, Saya akan membicarakannya dengan Mandala terlebih dahulu".


"Baiklah, aku tunggu keputusanmu hari ini juga".


"Baik Bunda".


Setelah menelpon Bunda Arin, aku menelpon ibu.


Kembali menceritakan yang terjadi pada Tiara dan Putri pada Ibu.


"Ibu, mungkin ini kehendak Alloh. Mungkin Alloh mempunyai jalan lain, sehingga segala usahaku untuk melakukan hal medis selalu mendapatkan rintangan".


"Sayang, kamu tetap saja lakukan. Ada ibu, ibu akan bantu kamu untuk menjaga Putri".


"Tapi ibu, bagaimana jika setelah Hysteroscopy aku mengalami pendarahan atau hal lain yang menyebabkan aku susah untuk bangun".


"Ega, jangan pesimis seperti ini. Sudah ada jalan untuk kamu bisa hamil".


"Ibu, ini hanya sebuah pemeriksaan. Setelah melakukan ini, belum tentu juga Ega hamil. Pemeriksaan ini hanya untuk mengetahui bagaimana keadaan rahim Ega. Belum bisa memastikan dengan pemeriksaan ini bahwa Ega bisa hamil".


"Ibu terserah padamu, tapi ibu akan tetap berangkat. Ibu bisa menemanimu dan juga membantumu menjaga Putri".


"Terima kasih bu, dukungan ibu sangat berarti buat Ega".


"Bicarakan dulu dengan Mandala semuanya sebelum mengambil keputusan. Kamu sudah mengorbankan kariermu".


"Baik bu, Ega akan bicarakan dulu dengan Mandala. Ibu akan di jemput supir di bandara dan langsung kerumah sakit".


"Iya, ibu mengerti".


"Hati-hati bu, hubungi Ega jika ibu sudah mau berangkat".


"Baik sayang, ibu siap-siap dulu. Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam".


Aku pun menutup telepon dari Ibu.


Putri terbangun dan memandangku...


"Bunda, dimana Mami?".


"Sayang, mami juga sakit kan? jadi mami juga harus di rawat seperti Putri. Nanti kalo Putri sudah sembuh, kita lihat mami ya nak".


Putri hanya mengangguk, kulihat matanya berkaca-kaca menahan tangis.


Putri masih berumur empat tahun lebih, tapi karena lebih cepat memiliki adik, Putri terlihat lebih cepat dewasa dari umurnya. Di tambah lagi kemampuan bicaranya yang memang di atas anak seumurannya. Putri lebih fasih dan pintar berbicara.


Aku memeluk Putri.


"Bunda Seka badannya, terus makan ya sayang".

__ADS_1


"Baik Bunda".


Aku membersihkan badan Putri kemudian menyuapinya makan. Dokter dan perawat masuk untuk melakukan pemeriksaan.


"Selamat pagi anak cantik".


Dokter Rio Spesialis Anak menyapa Putri sambil memberikan Putri permen lolipop.


Putri tersenyum menerima permen dari dokter Rio.


"Terima kasih doktel". Sahut Putri kemudian.


"dokter Chintya, apa kabar?".


"Baik dokter".


"Ini siapa?"


Dokter Rio bertanya pada Putri sambil menunjuk ke arahku dan sambil melakukan pemeriksaan pada Putri.


"Bundanya Putri, Bunda juga doktel".


Dokter Rio mengelus kepala Putri.


"Putri mau jadi dokter juga seperti Bunda?"


"Putri mau jadi pilot seperti Ayah".


Putri menirukan gaya pesawat dengan tangannya.


Aku tersenyum dan membelai lembut tangan mungilnya Putri.


"Ayahnya seorang pilot?"


Dokter Rio bertanya padaku.


"Suami saya seorang penerbang AU dokter, dia tahunya suami saya pilot pesawat terbang. Itu saja".


"Putri dekat dengan kalian berdua?"


"Iya dokter".


"Saya ingin bicara dengan dokter Chintya di luar".


Aku mengangguk.


"Sayang, Bunda keluar dulu. Putri duduk dulu yang pintar ya. Bunda sebentar saja".


Putri mengangguk sambil menikmati lolipopnya.


Aku pun keluar mengikuti Dokter Rio.


"Dokter Chintya, kejadian yang menimpa Putri dan ibunya jelas akan membekas di kepala anak itu. Jadi jika terjadi sesuatu dalam beberapa hari ini, tolong cepat beritahu saya. Sebelum menjadi parah, kita harus merujuknya ke psikolog anak".


"Tadi malam Putri memang tidurnya gelisah. Tapi saya terus memeluk dan menenangkannya".


"Itulah kenapa saya menanyakan kedekatan dokter Chintya dan Putri, Karena Putri memang membutuhkan seseorang di sampingnya untuk terus menenangkannya. Bisa di dapat dari Ibunya, tapi kondisi ibunya sendiri pun mengkhawatirkan".


"Saya mengerti dokter, saya akan mengawasi Putri dan memberitahukan dokter perkembangannya".


"Untuk luka-luka di badan Putri tidak menjadi masalah. Hanya luka di kakinya saja yang harus di perhatikan, jangan sampai terkena air".


" Baik dokter".


"Terima kasih dokter Chintya".


"Saya juga berterima kasih dokter Ryo".


Dokter Ryo pun berpamitan dan beranjak pergi.


Aku kembali masuk kedalam ruangan dan menemani Putri yang masih asyik dengan lolipopnya.


"Bunda, handphone Bunda berbunyi".

__ADS_1


"Oh iya sayang, siapa yaa yang telpon Bunda".


Aku melihat handphoneku.


"Dari Ayah, Putri mau video call Ayah?"


Putri mengangguk dengan antusias.


Aku menekan tombol panggilan untuk Mandala tapi hanya misscall saja, karena aku tidak mengetahui kegiatan Mandala di sana, jadi lebih baik Mandala yang menelponku.


Tak lama kemudian Mandala menelponku.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, bagaimana Putri sayang?"


"Putri mau video call Ayah".


"Baiklah, kita ganti panggilan Video yaa".


Mandala mengganti panggilan ke video. Putri terlihat senang, menceritakan dan memperlihatkan lukanya pada Mandala. Beberapa kali meminta Mandala untuk datang. Dan Mandala terus memberikannya janji-janji jika kelak Mandala pulang.


"Anak Ayah yang pintar, harus rajin minum obat dan nurut sama Bunda ya?".


"Okey Ayah"


Mandala mengakhiri panggilan videonya pada Putri. Aku meminta Mandala untuk kembali ke panggilan telepon biasa.


Aku menjelaskan keadaan Putri seperti apa kata dokter Ryo dan menjelaskan keadaan Tiara yang setelah operasi masih belum sadar dan berada di ruangan intensif care.


"Kapten, ada yang ingin aku bicarakan, tentang program dengan Bunda Arin".


"Kamu ingin membatalkannya?"


"Dari mana kamu tahu?"


"Lima tahun aku menjadi suamimu, aku tahu bagaimana sikap dan perilakumu. Dengan keadaan Putri dan Tiara seperti saat ini, jelas sekali bahwa kamu tidak akan memikirkan dirimu sendiri".


"Aku tidak membatalkannya, hanya menundanya sampai Putri dan Tiara membaik. Kamu tidak marah Kapten?"


"Aku mendukung apapun keputusanmu. Sudah aku bilang, kita bahagia walaupun tanpa anak".


"Kapteeenn... Maaf".


"Untuk apa kamu minta maaf, Putri adalah keponakanku. Kamu memperhatikan Putri tentu saja aku sangat berterima kasih".


"Aku akan memberitahukan Bunda Arin tentang penundaan ini. Semoga beliau mengerti".


"Aku pun akan menelpon Beliau untuk menjelaskannya. Sekarang kamu pun harus memperhatikan kesehatan dan makananmu, jangan hanya memperhatikan Putri saja".


"Baik suamiku sayang, aku akan memperhatikan diriku juga. Oh iya, ibu akan datang hari ini. Ibu bilang akan membantuku menjaga Putri".


"Baguslah kalo begitu, sampaikan salam hormatku buat Ibu. Aku Istirahat dulu. Pikiranku dari semalam tidak tenang karena memikirkan Putri dan Tiara".


"Jangan lupa juga untuk menjaga kesehatan".


"Disini ada dokter cantik yang selalu memperhatikan kesehatan kami".


"Kapteeeennnn".


"Hahahahaha aku bercanda sayang. Dokter militernya seorang laki-laki. Baiklah, aku tutup dulu yaa.. Love you istriku sayang. Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam"


Aku menutup telepon sambil sedikit tersenyum.


Kapteennn... Aku merindukanmu.


--------------


Jangan lupa votenya ya


LOVE YOU 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2