
Aku benar-benar tak bisa mengendalikan emosiku. Benar-benar memuakkan memiliki kakak yang hanya bisa membuat sakit hati tanpa memberikanku kasih sayang seorang kakak. Seharusnya dia melindungi dan menyayangiku. Tapi apa yang kudapatkan. Luka dan kebencian.
"Tenanglah bro, bersabarlah! " ucap kak Kevin kemudian memberikan selembar kertas untukku.
"Apa ini?" tanyaku masih kesal.
"Bacalah! " Akupun mulai membaca selembar kertas itu. Surat keterangan tes DNA atas nama Zea.
"Apa maksud semua ini? Zea bukan anak biologis kamu?" Aku kaget membaca keterangan yang menyatakan kalau Zea bukan anak kak Kevin. Lantas anak siapa?
"Iya, aku melakukan tes tanpa sepengetahuan Maria 9 tahun yang lalu. Aku ragu saat Maria sakit ketika hamil Zea. Kemudian dokter menjelaskan padaku tentang usia kandungan Maria yang melebihi usia pernikahanku, " ucap kak Kevin.
"Kebohongan apa lagi yang hendak kamu lakukan untuk menghancurkanku." Aku benar-benar kesal dengan kak Kevin.
"Terserah kamu mau bilang apa, mau percaya atau tidak. Itulah kenyataannya. Kalau aku menikah dengan Maria karena dia mengaku telah hamil denganku," ucap kak Kevin menjelaskan.
"Bohong," teriakku.
"Diam, dengar baik-baik," ucap kak Kevin membentak ku lantas bercerita tentang 10 tahun yang lalu. Dimana dia balik ke Indonesia untuk berlibur. Sedangkan aku masih di Amerika menyelesaikan kuliah S2. Maria meminta kak Kevin yang kebetulan ada di rumah untuk menemaninya ke acara pesta ulang tahun Erika di hotel berbintang. Dan disitulah semua bencana itu terjadi.
"Apa pantas aku percaya dengan ucapan seorang playboy sepertimu." Aku semakin marah dengan penjelasan kak Kevin. Tapi tetap saja dia bercerita tentang malam itu di mana dia tak minum alkohol segelaspun. Dia hanya minum orange juice yang di berikan Maria setelah itu dia tak ingat apa-apa lagi. Dan paginya dia begitu kaget karena sudah satu ranjang dengan Maria di hotel tersebut. Aku menutup kupingku sementara kak Kevin berteriak agar aku mendengarkan penjelasannya.
__ADS_1
"Lantas, kenapa surat ini baru kamu tunjukkan padaku," ucapku pada kak Kevin. Sulit mempercayai ini semua setelah 10 tahun berlalu.
"Karena aku merasa ini aib yang mesti ditutupi. Aku berharap Maria bisa lebih baik tapi nyatanya dia tetap sama."
"Aku akui, aku memang seorang playboy yang suka dengan banyak perempuan. Tapi aku masih punya adab. Aku tak pernah merusak kesucian perempuan," lanjutnya.
"Jadi maksudnya kamu menuduh Maria perempuan nggak bener? " tanyaku
"Kamu bisa berfikir sendiri," jawabnya.
"Lantas bagaimana dengan perselingkuhanmu dengan Lela babysitter?" aku mulai melunak. Ada kebingungan dalam pikiranku. Benarkah yang diucapkan kak Kevin. Atau ini semua hanya rekayasa agar aku tak jadi menikahi Maria.
"Itu semua fitnah, yang ada justru Maria sering keluar meninggalkan anak-anak dengan Lela. Sering pergi dengan teman-temannya. Bahkan aku pernah pergoki dia jalan berduaan dengan seorang laki-laki bule," jawab kak Kevin.
"Hanya papi dan aku yang tahu semua ini. Karena aku sudah cerita sama papi. Aku tak pernah cerita sama mami karena dia punya darah tinggi." Aku tertunduk lesu. Apakah yang diceritakan kak Kevin itu benar. Atau Maria yang telah di zolimi sama kakakku itu.
"Papi yang memintaku balik kesini. Karena papi tak ingin kamu berbuat kesalahan," lanjutnya lagi setelah itu dia meninggalkan aku seorang diri.
*****
Pagi-pagi ponselku sudah berdering. Tertera nama Maria di layar ponsel.
__ADS_1
"Ya hallo, ada apa Maria," tanyaku lewat sambungan selurer.
"Mas, maaf hari ini aku ada janji pemotretan. Jadwalnya padat merayap. Jadi aku tak bisa menemuimu," ucap Maria dari seberang.
"Sebentar saja Maria," pintaku karena aku ingin penjelasan darinya tentang semua yang kak Kevin ceritakan semalam.
"Masalahnya aku pemotretan keluar kota mas, oya nitip peluk sayang buat Zea dan Zio ya," ucapnya langsung dimatikan sambungan selurernya. Aku kesal dengan semua ini. Segera kutinju dinding kamarku hingga yang ada tanganku terluka.
*****
Aku nggak konsen dengan pekerjaan karena masalah Maria. Hingga semua pekerjaan yang handle Rizal semua. Apalagi sekarang Maria begitu sibuk dengan pekerjaannya sebagai model.
"Bos, pak Angga ingin ketemu bos langsung. Kemarin katanya ada permasalahan sedikit tentang pembebasan lahan," ucap Rizal yang tiba-tiba masuk keruanganku.
"Kebiasaan nggak ketuk pintu," ucapku memarahi Rizal. Tapi asistenku itu benar-benar super sabar. Tak pernah marah walaupun aku sering ngomel.
"Sudah ketuk bos, bosnya aja nggak dengar. Jadinya aku nyelonong masuk," kilahnya.
"Ya sudah buat janji ketemu di cafe dekat taman jam 1 siang. Kau hubungi pak Angga!" perintahku.
"Ok, siap bos," jawabnya
__ADS_1
*****
Aku menyetir mobilku menuju sebuah kafe dimana aku akan bertemu dengan pak Angga. Waktu belum menunjukkan jam 1. Akhirnya sebelum masuk ke kafe, aku duduk menikmati keindahan taman kota. Warna hijau di tengah kota benar-benar menyejukkan mata. Mataku berhenti pada seseorang. Wanita berjilbab biru bersama gadis kecil yang sedang belajar. Wanita yang sepertinya aku kenal. Astaga itu Khansa. Dia begitu anggun dengan balutan jilbabnya. Tiba-tiba jantungku berdesir. Ada rasa sesak ketika ada seorang laki-laki tampan menghapirinya. Siapa laki-laki itu? Apakah Khansa sudah menikah? Kenapa ada persaan tak rela jika dia dekat dengan laki-laki lain. Ah, kenapa dengan diriku. Dia bukan siapa-siapa lagi dalam hidupku.