
Kami masih dalam buaian mimpi, dan aku pun masih berada di dalam pelukan Mandala ketika handphoneku terus bergetar, disusul kemudian Handphone Mandala yang berdering.
Sontak kami berdua bangun dan duduk di atas tempat tidur.
Aku melihat handphoneku, ada telpon dari dokter Iin dan Mandala mendapat telpon dari dokter Irawan.
Kenapa kedua dokter suami istri ini menelpon kami?
"Iya dokter, ada apa?"
Mandala langsung menerima telpon dari dokter Irawan.
"Ada apa In?"
Aku pun juga menjawab telpon dari dokter Iin.
Serempak kami berdua berpandangan.
Mandala langsung berlari kekamar mandi dan aku pun menyusulnya. Kami berdua dengan cepat mencuci muka, menyikat gigi dan kembali kekamar mengganti pakaian.
Tidak ada kata yang terucap dalam setiap perbuatan kami.
Mandala menuju mobil dan aku mengunci pintu rumah. Kami langsung ke rumah sakit tempat Sarah di rawat.
Sampai di rumah sakit, dokter Irawan sudah menunggu kami.
"Harus di operasi sekarang, kami perlu tanda tangan persetujuan dari wali".
dokter Irawan menyerahkan sebuah kertas pada Mandala.
"Walinya Sarah adalah paman saya, tapi paman saya lagi kurang sehat, saya tidak bisa menanda tanganinya. Saya takut ada salah paham di kemudian hari. Saya telpon paman saya dulu".
"Yang, ini mendesak".
Aku memegang tangan Mandala.
"Tidak sayang, Ama memiliki surat sah sebagai walinya Sarah, aku tidak bisa menanda tanganinya. Aku akan telpon Melky untuk mengajak Ama kemari".
Mandala pun menjauh dari kami dan menelpon Melky.
Aku memandangi punggung Mandala. Aku tahu Mandala tidak ingin aku salah paham, jadi memutuskan untuk tidak menanda tangani surat persetujuan operasi.
Ini darurat kapten, aku bisa memahaminya.
"Mereka akan kemari dokter, bisa dokter menunggu?"
Mandala sudah selesai menelpon dan mendekati kami.
"Baiklah, kami akan menunggu. Dokter Maya juga menunggu di rumah sakit bersalin. Saya harap kita bisa cepat".
"Mereka akan segera sampai"
dokter Irawan mengangguk dan permisi pada kami kemudian menuju ruangan perawat.
Aku dan Mandala duduk di depan ruang tindakan.
"Sayang, kenapa?"
Aku menggenggam tangan Mandala.
Mandala tersenyum padaku dan menggenggam tanganku kembali.
"Jika Ama yang tanda tangan, kedepannya tidak akan ada masalah karena ama memiliki surat sah secara hukum sebagai wali. Tapi aku tidak memiliki hak. Sebagai apa aku tanda tangan di situ. Apa aku suaminya?"
Mandala berkata sambil mengedipkan mata padaku.
Aku memandang Mandala sambil mengerutkan keningku.
"Kalo ini terjadi padamu, aku akan langsung tanda tangan, karena memang hak ku atas dirimu".
"Aku tersanjung kaptenku sayang".
__ADS_1
Aku pun memeluk lengan Mandala sambil bersandar di bahunya.
Setengah jam kemudian Ama dan Melky datang.
Setelah Ama keluar rumah sakit, baru ini aku melihat Ama kembali. Aku pun berdiri, mencium punggung tangan Ama dan memeluk beliau.
"Ayo kita temui dokter"
Ama berkata dengan suara pelan.
Kami ber empat pun menemui dokter Irawan.
Sarah kembali mengalami pendarahan.
Kali ini bayinya harus segera di keluarkan, karena denyut jantung bayi yang sudah melemah.
Sarah di rujuk ke rumah sakit lain untuk di lakukan tindakan operasi cesar.
Karena di rumah sakit khusus kejiwaan ini,tidak ada sarana buat operasi besar.
dokter Irawan pun merujuk Sarah ke rumah sakit bersalin di mana tempat dokter Maya bertugas.
Kami semua menunggu di depan ruang operasi, termasuk Ama yang dengan setia menunggu kelahiran cucu nya.
Beberapa kali Ama berdiri sambil melihat ruang operasi, seolah olah yang berada di dalam adalah benar anak kandung beliau.
Apa Ama akan seperti ini juga ketika aku melahirkan kelak??
Aku sedikit mengantuk, Mandala menarik kepalaku untuk bersandar di bahunya. Duduk menunggu seperti ini memang sangat melelahkan.
Akhirnya aku mengerti bagaimana perasaan keluarga pasien yang selalu menunggu di depan ruang operasi.
Dokter Maya keluar dari ruang operasi setelah dua jam kami menunggu.
Begitu keluar, dokter Maya memandangi kami satu persatu. Kami pun berdiri dan juga menatap dokter Maya menunggu penjelasan.
Dokter Maya menarik nafas dalam.
"Sarah dalam kondisi baik, kami sudah mengeluarkan bayinya. Dan saya minta maaf, bayinya tidak bisa kami selamatkan".
ini berarti bayinya Sarah sudah meninggal dunia.
"Untuk prosedur selanjutnya, akan ada perawat yang membantu kalian. Saya permisi dulu".
Dokter Maya berpamitan pada kami. Tidak lama kemudian dokter Irawan juga datang menemui kami.
"Sarah akan berada di sini dulu untuk beberapa hari. Untuk keselamatannya, kami akan mengikat tangan Sarah sebelum dia sadar. Jadi saya harap kalian bisa memaklumi saya".
Kulihat Ama mengangguk mendengar perkataan dokter Irawan.
"Untuk jenazah bayinya, kalian mau bagaimana?"
"Tolong mandikan dan kafankan saja di sini, kami akan membawanya nanti untuk di kuburkan".
Kali ini Ama yang berbicara.
"Baik pak, saya akan koordinasikan dengan pihak rumah sakit di sini. Saya permisi dulu".
dokter Irawan pamit, dan kami kembali duduk.
"Melky, telpon pihak pemakaman, kita kuburkan saja langsung".
"Iya Ama"
Mandala menghampiri Ama.
"Ama pulang saja dulu, nanti kembali lagi untuk mengambil bayi Sarah dan menguburkannya".
"Iya Ama, perawat bilang mungkin pukul sepuluh baru semuanya siap. Jadi sekarang Ama istirahat dulu".
Ama mengangguk, setuju dengan perkataan Mandala dan Melky.
__ADS_1
Melky membawa Ama pulang.
Setelah menemui perawat dan memastikan ruangan rawat inap buat Sarah, aku dan Mandala pun kembali ke Asrama. Kami berdua juga perlu membaringkan badan yang penat karena menunggu dan perut yang terus berbunyi karena lapar.
Di atas tempat tidur, aku meluruskan pinggangku dan menarik nafas lega.
Mungkin aku adalah manusia yang paling jahat, ketika mendengar anak Sarah tidak bisa di selamatkan, aku malah merasa seperti beban di kepala dan dadaku hilang.
Ada kelegaan sendiri, entah itu untuk apa.
Aku bahagia di atas musibahnya Sarah.
Mandala yang dari tadi berada di sampingku, yang juga memejamkan matanya menarik nafas yang panjang.
"Akhirnya, Alloh memberikan jalan terbaik Nya".
Aku menoleh pada Mandala. Mandala pun melihatku. Memberi kode untukku masuk kedalam pelukannya.
"Kenapa berkata seperti itu?".
"Aku lega, Sarah sudah terbebas dari bayinya".
"Kapten??". Aku mengerutkan dahiku.
"Pada awalnya, dokter Irawan menganjurkan untuk tidak mempertahankan kandungan Sarah. Mengingat kondisi mental Sarah, sangat sulit untuk mempertahankan kehamilan. Dokter Irawan juga tidak bisa memberi Sarah obat-obatan yang dapat membahayakan kandungannya".
"Kenapa akhirnya di teruskan?"
"Ama yang bertahan, Waktu itu kandungan Sarah sudah dua bulan. Ama berharap kelak anak itu bisa kita asuh walaupun Sarah masih depresi".
"Kita?".
"Iya, itu yang dikatakan Ama waktu itu, tapi aku hanya diam saja tidak menyetujuinya. Dan aku juga tidak bisa membantah Ama untuk tetap mempertahankan kandungan Sarah".
"Kenapa sekarang kamu merasa lega?".
"Dokter Irawan bisa melakukan pengobatan yang maksimal pada Sarah, dengan obat-obatan yang paten tanpa takut mempengaruhi kandungan Sarah. Semoga itu bisa mempercepat kesembuhannya".
"Hanya itu?"
"Aku juga tidak ingin merawat anaknya Sarah?"
"Kenapa?"
"Karena aku yakin, istriku juga tidak bersedia".
"Kenapa kamu yakin aku tidak bersedia?"
"Sayang, mungkin pikiranku jahat dan dangkal, tapi aku meyakini, anak yang lahir dari ibu yang depresi, juga akan sulit untuk lahir dengan normal.".
Mandala kemudian mempererat pelukannya padaku.
"Dan aku percaya, bahwa suatu hari nanti, aku akan merawat anak-anakku sendiri. Jadi belum waktunya bagi kita sekarang untuk merawat anak orang lain".
"Kapten, bagaimana dengan keadaan Ama sekarang?".
"Aku tahu bahwa Ama memikirkan kita berdua, dan aku juga mengerti bagaimana perasaan Ama karena selama ini beliau pun tidak memiliki anak kandung sendiri. Tapi menurutku perkawinan kita berdua belum dalam masa kritis. Kita baru menikah tiga tahun, keinginan memiliki anak memang ada. Tapi belum sampai tahap dimana kita harus mengadopsi seorang anak".
Mandala mencium lama keningku.
"Aku pernah bilang kan sayang, kalo Alloh memberikan kita kesempatan untuk pacaran dulu. Jadi aku harap kamu pun jangan berpikiran yang macam-macam. Di bawa santai saja. Jika waktunya sudah tiba, perut ini pasti akan ada isinya."
Mandala mengelus perutku.
Aku mengangguk menyetujui perkataan Mandala.
Aku pun tidak pernah menyangka pemikiran Mandala tentang Sarah dan bayinya ternyata selama ini seperti itu.
Terima kasih ya Alloh, kau berikan padaku suami yang penuh pengertian ini.
-----‐---------
__ADS_1
Jangan lupa Votenya yaa
LOVE YOU 😘😘😘