
Kami seperti mempunyai kehidupan yang baru di rumah besar ini.
Ama dengan tenangnya berjalan di dalam rumah sambil melatih otot kaki.
Ibu bisa keluar masuk dapur berkreasi dengan para asisten yang ada.
Dan aku bisa bermain dengan leluasa bersama kedua bidadari mungil di rumah ini tanpa harus mengurung mereka di dalam kamar.
Melky karena harus bekerja, dan bolak balik ke rumah sakit merawat Tiara, jadi lebih banyak menyerahkan ke dua putrinya padaku.
Aku pun sangat senang merawat mereka berdua, karena memang sejak aku memilih untuk tidak bekerja, aku jadi tidak memiliki kesibukan lagi. Merawat mereka merupakan kebahagiaan sendiri untukku.
"Assalamualaikum Ayah.."
Aku membuka pembicaraan video call dengan Mandala malam ini.
"Waalaikumsalam. Mana ni cantik cantiknya ayah?"
"Ayah.. Ayah... Ayah"
Putri dan Utami berebut untuk melihat wajah Mandala..
Aku mendudukkan mereka berdua di pangkuanku. Jadi kami bertiga bisa terlihat oleh Mandala.
Putri mulai mengucapkan sepatah sepatah kata kepada Mandala. Utami hanya mengikuti apa yang di katakan Putri.
Aku tertawa geli mendengar pembicaraan lucu Mandala dan Putri juga menjadi gemes karena tingkah Utami yang menjadi burung beo kakaknya.
"Ayah, puti mau es gim"
Putri meminta pada Mandala
"Gim" sahut Utami kemudian
"Minta sama Bunda"
"Bunda gak oleh ayah. Bunda pelit".
"Nanti batuk makan es cream terus"
Aku langsung menyela pembicaraan mereka.
"Bunda gak oleh kan ayah?betul?".
"Betul" Sahut Utami.
Mandala juga tertawa.
"Cium Ayah dulu"
Mandala memiringkan pipinya ke layar handphone. Putri langsung mencium pipi Mandala yang ada di layar. Utami pun mengikuti dan meninggalkan tanda bercak air liurnya di layar.
"Nanti Ayah minta Bunda belikan es creamnya ya. Sekarang harus nurut dulu sama Bunda biar Bunda mau belikan es cream"
Putri langsung mengangguk, Utami pun ikut mengangguk.
"Kalian main dulu ya, Bunda mau bicara sama Ayah"
Aku menurunkan mereka berdua dari pangkuanku. Memindahkan video ke panggilan biasa.
__ADS_1
"Kenapa di pindah sayang?"
"Kedengaran yang lain, di sini juga ada Ibu dan yang lain"
"Naiklah kelantai 3"
"Terlalu jauh, aku akan ketaman samping"
Aku duduk di kursi teras.
"Gak leluasa kalo pake video"
"Aku ingin melihat wajahmu"
"Tadi kan sudah bersama anak-anak"
"Naiklah ke kamar kita. Aku ingin melihatmu membuka pakaian"
"Kapten, otakmu kemasukan apa?"
"Sayang, aku kangen. Beri aku imajinasi untuk di kamar mandi nanti".
Aku tertawa ngakak.
"Simpanlah, untuk nanti di saat kamu pulang. Siapa tau aku langsung hamil".
"Sayang, aku membuangnya di kamar mandi. Tenang saja, masih akan tersimpan banyak nantinya".
Mandala terus merayuku agar naik kekamar kami.
Akhirnya aku menyerah.
"Kamu sudah mandi?"
"Kapten, di sini sudah malam, jelas aku sudah mandi".
"Mandilah lagi. Aku juga akan masuk kekamar mandi".
"Kapten, lama-lama kamu menjadi gila".
"Sayang, tolonglah".
Kegilaan itu akhirnya terjadi.
Aku masuk ke dalam kamar mandi. Begitu pula dengan Mandala di sana.
Aku membantu Mandala dari jauh untuk mengeluarkan hasratnya di kamar mandi.
Biarlah, dari pada Mandala mencari pelampiasan lain di sana, lebih baik aku menuruti apa maunya.
Aku kembali memakai pakaianku dan keluar kamar mandi.
"Kapten, kamu sudah menelpon Bunda Arin?"
"Sudah, aku juga sudah menjelaskan pada beliau".
"Apa Bunda Arin marah?"
"Tidak, beliau sangat mengerti. Beliau hanya menyayangkan kesempatan yang terlewat ini. Beliau akan kembali ke Singapur bulan depan".
__ADS_1
"Kesempatan kita sekarang hanya berdoa yang banyak pada Allah. Hanya Allah lah yang bisa mengabulkan keinginan kita".
"Sayang, sudah ku bilang, aku bahagia bersamamu walaupun tanpa anak".
"Sekarang berkata seperti ini, entah dua atau tiga tahun lagi".
"Sayang, ama juga tidak mempunyai anak. Tapi mereka tetap bersama dan bahagia".
"Ada kamu kan kapten, anak dari kakaknya Ama secara kandung".
"Kita juga punya Putri dan Utami".
"Secara agama, Putri dan Utami bukan muhrimmu. Setelah mereka dewasa pun mereka tidak akan mau lagi kamu peluk dan cium".
"Aku akan memaksa mereka jika tidak mau mencium ayahnya".
Aku dan Mandala sama-sama tertawa. Kami pun mengakhiri panggilan.
Aku kembali turun kebawah dan mengajak ke dua bidadari rumah ini untuk tidur.
Mereka berdua tidur di kamarku dan Mandala.
Sebelum tidur aku selalu mengajarkan mereka surah surah pendek.
Walaupun mereka belum bisa mengucapkan dengan benar dan lancar, paling tidak jika di dengar setiap hari, mereka akan hafal dengan sendirinya.
----------------------------------
Inilah hari-hari yang kulalui sekarang.
Aku mengantar dan menjemput Putri pra-sekolah setiap hari.
Menidurkan mereka di siang hari sampai aku pun ikut tertidur juga.
Di sore hari aku mengajak mereka berdua untuk melihat mommy nya sebentar.
Walaupun hanya melihat lewat kaca jendela, tapi mata Putri selalu berbinar ketika melihat mommy nya.
"Mi, bangun. Jangan bobo terus".
itulah yang selalu di katakan Putri yang membuat air mataku kadang kala menetes keluar.
Kedua anak Melky dan Tiara selama ini di rawat oleh asisten. Entah kesibukan apa yang dikerjakan Tiara sehingga Utami lebih dekat pada si Mbak.
Sayang sekali, seseorang yang di berikan kepercayaan untuk memiliki seorang anak, tapi tidak berusaha untuk merawatnya sendiri. Malah menyerahkan pada orang lain.
Aku juga membawa asisten jika aku bepergian bersama Putri dan Utami. Tapi itu kulakukan hanya untuk keselamatan mereka berdua. Akan lebih aman jika ada yang menemaniku di mobil menjaga mereka selama aku mengendarai mobil.
Aku bahagia sejak aku merawat mereka berdua.
Aku merasa duniaku indah, hariku bersinar ceria.
Setiap harinya waktu terlewati tanpa terasa karena kesibukanku bermain dan bercanda dengan mereka.
Mungkin inilah kehendak Allah SWT untuk tidak memberiku anak terlebih dahulu. Karena Allah SWT ingin aku menjaga kedua gadis cilik ini supaya mereka tidak kehilangan kasih sayang seorang ibu.
Aku juga mulai melupakan program kehamilanku. Keinginanku untuk hamil kuserahkan sepenuhnya pada kehendak Allah SWT.
Jika sudah waktunya, Alloh SWT pasti akan memberikanku keajaiban itu.
__ADS_1