Jodohku

Jodohku
GANDALA MEDIKA


__ADS_3

Waktu terus berputar. Hari terus berganti. Aku berusaha untuk menata hidupku kembali, terutama menata hatiku, yang diungkapkan remaja masa kini dengan Move On.


Melalui proses pengadilan yang sah, aku menjadi pemilik tunggal klinik "Gandala Medika". Klinik yang merupakan gabungan namaku dan Mandala. Aku ingin merubah semuanya termasuk nama Klinik yang ingin kuganti. Tapi karena adanya proses perubahan akte pendirian, perijinan dan sebagainya yang membuatku pusing, aku akhirnya menyerah. Biarkan nama klinik itu menjadi kenangan manis kami berdua.


Mandala juga melalui pengacaranya memberiku satu unit rumah di perumahan elit di kota ini. Untuk apa aku rumah ini? hanya untuk mengingatkanku jika rumah ini adalah pemberian Mandala?. Jika pun kelak aku menikah lagi, tidak mungkin suami baruku berkenan untuk tinggal di rumah itu.


"Berikan untukku. Aku akan menerimanya dengan senang hati"


Ayu membaca keputusan pengadilan tentang pembagian harta untukku.


"Jika kamu ingin tinggal di sana, silahkan. Aku senang ada yang merawatnya"


"Aku hanya bercanda, perumahan seperti itu. Berapa biaya perbulannya. Bisa botak kepala suamiku"


Aku tertawa.


"Lebih enak di komplek sini ya Yu. Penjual makanan bisa masuk"


"Yoi, kita kan komplek elit juga. Istri mantan orang nomor satu tinggal di komplek ini"


Aku melempar bantal pada Ayu yang asyik bersender pada kepala tempat tidurku.


"Aku benar kan? bukan hoax kan?"


"Di dengar ibu, habis di cubit ibu kamu yu".


Kami berdua tertawa bersama.


"Masih ada komunikasi dengan Mandala?"


Ayu bertanya sambil memandang wajahku.


Aku menggeleng.


"Mandala benar-benar bisa move on. Mungkin, dia sekarang sudah menikah lagi"


"Baru satu bulan, masa sudah menikah"


"Hei bu dokter yang lugu. Mandala tu laki-laki. Dia tidak mempunyai aturan masa iddah. Beda dengan kita yang perempuan. Harus menunggu masa iddah baru boleh menikah lagi"


"Maksudku, secepat itu dia menikah? Apa dia sudah punya calon sebelumnya?"


"Mungkin Mandala tidak punya calon. Tapi Ama pasti punya. Melky saja di nikahkan belum lagi


Aku terdiam sesaat.


"Mungkin"


Hanya itu kata yang keluar dari mulutku.


Ayu melihat perubahan di wajahku.


"Kalo memang jodoh kalian masih ada, pasti ada jalan untuk kalian kembali"


Aku hanya tersenyum.


"Jangan mengharap sesuatu yang tidak mungkin"


"Kalo begitu ayo kita ke mall. Kita cari pria-pria kaya yang bisa menghidupimu"


"Kenapa harus ke mall? yang ada di sana juga SPG bukan pria kaya"


"Iya, ya kenapa harus ke mall. Seharusnya kita ke cafe. Di cafe para pengusaha itu sering bertemu"


"Aku gak minat Yu. Mending aku fokus berkerja"


"Gak bisa move on nih dari Mandala?"

__ADS_1


"Bisa, tapi bukan sekarang. Ayo temani aku ke klinik. Aku ingin bertemu para dokter di sana"


"Apa salah satu dokter itu ada yang belum mempunyai istri?"


"Ayu, cukup! aku belum ingin menikah lagi"


Ayu mengangkat tangannya.


"Jika ingin memiliki anak, maka kamu harus cepat menikah. Usia sudah tidak muda lagi. Cuma itu pesanku"


"Terima kasih sahabatku yang cantiiiikk. Aku pasti akan memikirkannya nanti. Tenang saja, sekarang biarkan aku menikmati seluruh kekayaan yang di berikan Mandala padaku dulu. Sebelum kekayaan itu nantinya di pinjam oleh suami baruku"


Kami berdua kembali tertawa. Aku senang, bagaimana pun juga aku masih bisa tertawa. Aku dan Ayu pun berpamitan pada ibu untuk ke klinik.


---------


Klinik "Gandala Medika"


Klinik yang kubangun bersama Mandala ini mempunyai lima dokter spesialis. Dokter Umum, Dokter spesialis anak, dokter spesialis THT, Dokter spesialis kandungan dan Dokter spesialis penyakit dalam.


Mereka semua praktek hampir bersamaan. Dokter spesialis anak dan Dokter spesialis THT praktek di pagi hari. Sedangkan tiga dokter lainnya praktek dari sore sampai malam hari.


Klinik yang kubangun diatas tanah milik mendiang bapak dengan keseluruhan biaya dari peninggalan amantua itu bertingkat tiga. Dimana dari setiap lantai terbuka di tengah dan bisa saling melihat dari atas maupun bawah. Aku membuat taman di tengah untuk anak-anak bermain. Karenanya spesialis anak ku letakkan di lantai satu bersama spesialis kandungan. Di lantai satu juga terdapat resepsionis penerima pasien dan Apotik. Lantai dua milik ketiga dokter lainnya dan laboratorium. Lantai tiga adalah lantai manajemen. Termasuk ruanganku nanti di sana. Selama ini Manajemen klinik di atur oleh Mas Awang, orang kepercayaan mendiang bapakku dulu.


Mas Awang sudah mengetahui perceraianku dengan Mandala, dengan alasan ingin pulang kampung menyusul istrinya, Mas Awang menyerahkan klinik seutuhnya padaku. Dan hari ini aku resmi menjadi pimpinan di klinik ini.


Kelima dokter, apoteker, kepala laboratorium dan seluruh pegawai yang bekerja sama dengan klinik sudah mengetahui bahwa sekarang klinik di dalam kepemimpinanku. Mereka pun bukannya tidak mengenalku. Mereka sudah mengenalku karena memang di awal pembukaan klinik, kami semua sudah pernah bertemu.


"Perlu renovasi gak Yu?"


Aku dan Ayu berkeliling melihat keadaan klinik.


"Kenapa? bingung mo habiskan uangnya Mandala?"


"Uang klinik kan ada. Perbaikan pake uang klinik dong"


"Apanya??"


"Mas Awang tiba-tiba pergi gitu. Ada yang mencurigakan gak?"


"Semoga tidak ada, kepalaku gak mau mumet lagi. Minggu depan juga aku sudah dinas di rumah sakit"


"Sanggup dobel-dobel gitu?"


"Sehabis dinas aku ke klinik. Untuk sementara di sanggupkan. Buat menghilangkan jenuh dan mencari kesibukan tambahan. Biar bisa melupakan semuanya"


"Katanya kenangan tidak harus di lupakan"


Aku hanya menarik nafas sambil melihat sekelilingku. Handphoneku berdering. Notifikasi chat masuk. Nomor tak di kenal lagi. Mandala kah ini??


Dihatiku berbisik..


Andai saja awan di langit berwarna..


Tentu tampak lebih indah..


Sementara awan makin jauh..


Aku termenung...


Hatiku terusik..


Ku ingat dirimu..


Ah, Aku ingin bertemu...


Aku memberikan handphoneku pada Ayu. Ayu membaca chat yang masuk.

__ADS_1


"Kamu harus mengganti nomor handphonemu"


"Kenapa?"


"Kamu mau Mandala terus-terusan mengirimimu kata-kata ini?"


"Untuk sementara mungkin iya"


Ayu menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana bisa move on jika begini"


"Sudah kubilang itu nanti. Bukan sekarang"


"Baiklah bu dokteeeerrrr. Terserah padamu. Jika Mandala terus mengirimimu kata-kata, aku yakin sampai kapan pun kamu tidak akan bisa move on"


Aku kembali menghembuskan nafas.


"Bicara memang lebih mudah dari prakteknya. Ini sangat sulit bagiku Yu"


Ayu memelukku.


"Aku mengerti. Aku akan terus menemanimu. Memberimu support untuk menemukan jodoh barumu"


"Tetap saja tentang jodoh"


Aku menunjukkan wajah cemberut pada Ayu.


"Jika ingin melupakan yang lama, harus memiliki yang baru"


Ayu mengedipkan matanya padaku.


"Ayo kita pulang. Kasian anak-anakku"


Ayu pun menarik tanganku untuk pulang. Aku berbasa-basi sebentar dengan beberapa pegawai klinik sebelum akhirnya berpamitan untuk pulang.


---------------


Di dalam kamar aku kembali membaca chat-chat dari Mandala. Bahkan aku sudah menyimpan semua kata-kata itu ke dalam emailku bersama dengan foto-foto ku dan Mandala. Aku takut jika suatu saat handphoneku hilang dan semuanya ikut menjadi hilang.


Mungkin inilah komunikasiku dengan Mandala.


Aku yakin, Mandala tidak ingin memutuskan komunikasi denganku. Karena itulah dia memakai cara ini. Walaupun aku tidak pernah membalasnya.


Dan malam ini, pesan itu kembali masuk.


Indahnya Malam ini..


Angin berhembus dengan lembutnya menerpa wajahku..


Sejenak kuterpana..


Tersentak pada satu lamunan..


Aku Rindu..


Saat-saat bahagia bersamamu..


Kali ini aku meneteskan air mata. Aku yakin Mandala di sana sangat merindukanku seperti aku yang juga merindukannya. Tapi kami berdua hanya bisa diam tanpa bisa berbuat apa-apa.


Aku beranjak dari tempat tidurku. Mengambil wudhu dan sholat untuk menenangkan hatiku. Berdoa pada Sang Maha Penentu segalanya untuk memberikanku dan Mandala keluasan dan kelapangan hati untuk bisa menerima semua ini. Dan kelak dapat menerima kehidupan baru yang mungkin nanti akan menghampiri kami.


-------‐-----


Jangan lupa votenya yaa


LOVE YOU 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2