
Satu minggu sudah kejadian kecelakaan yang menimpa Khansa akibat ulahku. Mang Yusuf bilang kalau Khansa sudah baikan. Pagi tadi mami bilang kalau nanti malam kami harus ke rumah mang Yusuf untuk melamar Khansa. Karena ucapan mami, aku kini tak bersemangat kerja. Aku hanya duduk-duduk sambil sesekali memainkan ponselku. Sementara segala urusan kantor dan proyek aku serahkan pada Rizal asistenku.
Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal, berharap rencana perjodohan ini batal. Apalagi aku mendengar kalau Maria mengajukan gugatan cerai sama kak Kevin. Benar-benar kak Kevin laki-laki pecundang. Bisa-bisanya dia mempermainkan kehidupan kami. Jika dia ada dihadapanku, sudah pasti ku hajar sampai babak belur. Aku tak peduli lagi meskipun dia kakak kandungku.
*****
Malam menjelang, aku begitu enggan meninggalkan kantor ini. Rasanya ingin berlama-lama. Berharap mami bilang perjodohan batal. Tapi sepertinya itu tak akan terjadi. Ku lirik ponsel yang tergeletak di atas meja mulai berdering. Ah mami. Ku abaikan untuk sesaat, namun ponsel itu terus berdering tak berhenti.
"Ya hallo mi, " ucapku akhirnya setelah ku angkat.
"Kamu dimana sih Arkan? Mami dan papi sudah siap dari tadi. Ayolah buruan. Tak enak sama mang Yusuf nanti kalau kemalaman, " cerocos mami.
"Arkan masih dikantor, papi dan mami langsung aja. Nanti Arkan langsung nyusul, " ucapku
"Cepetan ya, awas kalau nggak nyusul. Mami coret dari daftar anak, " ancam mami.
"Iya, iya, pasti Arkan nyusul," ucapku. Segera sambungan seluler terputus. Dengan malas akhirnya kutinggalkan kantor. Segera kunaiki mobil Pajero menuju rumah mang Yusuf. Jalanan tampak begitu ramai. Ada sedikit kemacetan. 30 menit setelah berkutat dijalanan Jakarta akhirnya sampai juga.
Segera ku parkir mobil di halaman rumah mang Yusuf. Kulihat papi dan mami sedang asyik ngobrol dengan istri mang Yusuf.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, " salamku pada mereka
"Wa'alaikumsalam, " jawab mereka bersamaan.
"Ayo mas Arkan, silakan masuk, " ucap istri mang Yusuf. Aku segera masuk dan duduk disamping mami. Kulihat Khansa datang. Dia duduk disamping mang Yusuf. Dengan cepat mami menyampaikan maksud kedatangan kami. Mami begitu antusias dengan perjodohan ini. Mungkin dia malu jika anaknya ini tidak akan pernah mau menikah seumur hidupnya.
"Bagaimana nak Khansa? Apakah lamaran kami diterima? " tanya mami berharap.
"InsyaAllah Khansa terima," jawab Khansa. Mendengar jawabannya, sepertinya kepalaku ini ketiban balok yang besar.
"Aih, kenapa diterima," batinku.
"Oya, kami berharap pernikahan akan segera dilaksanakan. Kalau 2 minggu lagi gimana mang Yusuf? " tanya papi. Aku yang sedang minum tersedak mendengar ucapan papi.
"Kenapa cepat sekali pi? " protesku
"Lebih cepat lebih baik," ucap mami sambil tersenyum.
*****
__ADS_1
Hari ini pernikahanku dengan Khansa akan digelar. Di sebuah hotel ternama di Jakarta. Terdengar kasak-kusuk mengenai calon mempelai wanita yang hanya anak supir kami. Tapi nampak wajah papi dan mami tak memperdulikan semua itu. Mami dan papi tampak bahagia.
Aku duduk di depan penghulu. Tapi aku seperti duduk di kursi terdakwa. Ada rasa kesal dan marah dengan takdir ini. Ku lirik Khansa dengan balutan gaun pengantin berwarna putih dan jilbab putih yang menutup dadanya. Dia tampak begitu anggun. Dengan senyum tipisnya. Tapi keanggunannya tak bisa membuat jantungku bergetar.
"Saya terima nikah dan kawinnya Khansa Almira binti Yusuf dengan mas kawin perhiasan 20 gram, uang tunai 100 juta dan seperangkat alat sholat dibayar tunai, " ucapku.
"Bagaimana saksi, sah,"
"Sah," jawab mereka serentak.
Sekarang statusku sudah berubah. Bukan lagi perjaka tua. Melainkan seorang suami dari seorang wanita yang masih belia. Jarak usia kami terpaut begitu jauh. Entah bagaimana aku akan menjadi nahkoda dari sebuah bahtera. Bahtera yang tak kuinginkan.
*****
Setelah seharian aku menjadi raja yang tak kuinginkan, akhirnya aku sudah berada dalam kamar ini. Aku segera ke kamar mandi untuk menyegarkan badan. Kusiram kepalaku agar terasa dingin setelah kurasakan panas di dada.
Aku duduk di tepi ranjangku. Nampak Khansa masuk kekamar mandi untuk membersihkan badannya juga. 20 menit dia keluar dari kamar mandi dengan baju tidur bernama merah muda. Rambutnya basah tergerai dengan aroma shampo.
"Tidurlah di sofa. Aku tak ingin melakukan malam ini. Aku lelah sekali," ucapku sambil memberikan bantal dan selimut untuknya. Kulihat Khansa hanya terdiam menuju sofa. Aku tak peduli. Malam pertamaku berlalu begitu saja. Aku segera tidur, aku tak mungkin menyentuhnya. Bayangkan Maria masih melintas dipikiranku.
__ADS_1