Jodohku

Jodohku
BAB 169


__ADS_3

Waktu terus bergulir, Rafa yang kembali sibuk di perusahaan karena kini resmi menjadi pemimpin perusahaan DSware menggantikan posisi ayahnya yang kini selalu pergi berdua bersama bunda mengurus swalayan bunda yang semakin maju dan tengah membuka cabang di beberapa kota.


Merekapun sering pergi ke luar kota beberapa minggu baru pulang kerumah, karena mereka ingin memantau secara langsung perkembangan swalayan baru yang masih dalam proses pembangunan.


Keadaan Lisa yang semakin membaik dan sudah bisa beraktifitas seperti biasa, tapi masih tetap belum boleh melakukan pekerjaan yang berat karena dia masih harus berhati-hati dengan kehamilannya, perutnya kini semakin membesar, Lisa sekarang punya kebiasaan baru yaitu jalan-jalan pagi berkeliling rumah bersama Rafa, setiap hari menyiapkan baju kerja Rafa dan mengantar Rafa hingga depan pintu setiap kali Rafa berangkat kerja, dan menghadang Rafa di depan pintu setiap kali Rafa pulang kerja.


Hari ini sudah tiba tanggal perkiraan Lisa melahirkan, tapi justru keadaan perutnya masih baik-baik saja, Lisa belum merasakan kontraksi seperti waktu dulu dia pulang dari Singapura, saat usia kandungannya baru 4 bulan.


Lisa menyuruh Rafa untuk tetap berangkat kerja, karena dirumah sesudah ada bi Ati dan bi Rumi yang menemaninya. Sampai Rafa pulang kerja Lisa masih bisa menyambutnya di depan pintu.


" Sayang, apa kamu belum merasakan mules-mules perut karena kontraksi ?", tanya Rafa saat mereka berdua tengah rebahan di kamar.


Lisa menggeleng, " Belum, kata Bu dokter saat hamil tua harus sering berhubungan badan, tapi kita jarang melakukannya selama ini, karena kakak takut menyakitiku, padahal itu kan bisa membantu biar lahirannya lebih mudah", ucap Lisa.


" Apa sekarang kalau kakak ajak kamu bermain ranjang, nggak apa-apa?", tanya Rafa yang sudah duduk menatap Lisa.


" Tentu baik-baik saja, setidaknya sebelum aku melahirkan dan kakak harus bisa menahan selama 40 hari selama aku nifas, malam ini puas-puaskan saja, sebanyak yang kakak mau", ucap Lisa sambil tersenyum.


" Susah ya Kak?, perut Lisa sudah begitu besar", Lisa tertawa merasa lucu melihat posisi Rafa.


" Meski susah harus tetap berusaha, karena papa pengen Dede cepet keluar, kasihan mama udah berat bawa Dede kemana-mana, Dede yang baik dan nurut, nanti setelah papa tengokin, kamu buruan keluar ya, papa, mama, nenek dan kakek sudah ingin sekali melihat senyumanmu dan mendengar tangisanmu".


Rafa mulai meraba perut Lisa halus, kemudian memainkan kedua gunung kembar Lisa yang sudah berukuran super big, karena ukurannya naik 3 tingkat dari ukuran bra yang terakhir di pakainya sebelum hamil. Dari size 36 menjadi 42.


Rafa mengecup lembut put**g Lisa kanan dan kiri bergantian, membuat Lisa mulai bergerak meliak-liukan tubuhnya merasa geli sekaligus nikmat bersamaan. Rafa yang mengerti Lisa sudah mulai menikmati permainannya mulai mengungkung tubuh Lisa di bawah tubuhnya, dan melakukan penyatuan.

__ADS_1


Rafa semakin mempercepat gerakannya saat sesuatu dari dalam tubuhnya hendak mencuat keluar. Dan melepaskan diri setelah mereka berdua sama-sama mencapai puncaknya.


Setelah merasa lelah Rafa dan Lisa langsung tertidur pulas diatas ranjang. Tapi baru dua jam Lisa tidur, tiba-tiba perutnya terasa mulas dan kram, membuatnya terbangun dari tidur.


" Apa rasa mulas ini yang dinamakan kontraksi?", batin Lisa penuh tanya, tapi tiba-tiba rasa mulas itu hilang begitu saja.


" Wah aneh sekali kenapa sembuh sendiri, atau tadi aku terlalu bersemangat sehingga perutku kram?", Lisa masih terus bertanya-tanya dalam hatinya.


" Lebih baik aku tidur lagi saja, baru jam 11 malam, masih lama menuju pagi", gumam Lisa, kemudian dia kembali memejamkan matanya berusaha untuk tidur kembali.


" Selang beberapa jam kemudian Lisa kembali terbangun dan berjalan menuju kamar mandi karena merasa ingin buang air kecil, kemudian kembali ke tempat tidurnya, selang beberapa menit kemudian Lisa kembali ke kamar mandi, dan bolak-balik seperti itu terus sampai Lisa merasa lelah. Lisa akhirnya melepas ****** ******** agar lebih mudah saat buang air kecil. Tapi betapa terkejutnya saat tiba-tiba ada gumpalan kecil seperti darah yang menetes dari daerah intimnya.


Lisa berjalan membangunkan Rafa, " Kak, bangun, ayo buka matamu", ucap Lisa.


Rafa membuka matanya, melihat jam di dinding, baru jam 2 dini hari, " Kenapa?, apa kau sudah mulai merasakan kontraksi?", tanya Rafa sambil menutupi mulutnya yang menguap.


" Apa masih mulas perutnya?", tanya Rafa.


Lisa menggeleng, " sekarang sudah tidak, tapi aku sudah ke kamar mandi puluhan kali, terus-terusan pengen pipis", ucap Lisa memberi tahu.


" Aku coba telepon Dokter dulu ya, kita coba konsultasi apa kau perlu dibawa kerumah sakit atau bagaiman", Rafa menelepon nomor Bu dokter yang sudah disimpannya sejak Lisa opname beberapa bulan yang lalu.


Bu Dokter menerima panggilan Rafa dan mendengarkan semua yang di sampaikan Rafa, setelah Rafa selesai menceritakan semua yang di sampaikan Lisa tadi, Bu dokter dengan tenang menjawab.


" Tuan Rafa, apa anda bisa mengajak Nyonya Lisa ke rumah sakit sekarang?, tidak usah buru-buru dan jangan panik, sepertinya Nyonya Lisa memang akan segera melahirkan, tolong bawa sekalian perlengkapan melahirkan dan perlengkapan untuk jabang bayi. Nyonya Lisa sudah mulai merasakan kontraksi palsu, itu biasanya akan mulas tapi tiba-tiba hilang, tapi semakin lama rasa mulas itu akan lebih sering muncul, itu pertanda sudah dekat dengan waktu melahirkan, jadi lebih baik sekarang Tuan berkemas dan bawa perlengkapan yang tadi saya katakan, kebetulan saya sedang piket malam di rumah sakit, sampai bertemu di rumah sakit Tuan", ucap Bu dokter.

__ADS_1


Rafa pun menutup panggilannya itu dan menuju lemari pakaian dan lemari bayi.


" Apa yang harus aku bawa?", gumam Rafa sambil berpikir.


" Memangnya lagi nyariin apa Kak?, apa yang di katakan Bu dokter?", tanya Lisa penasaran.


" Kata Bu dokter, kamu akan segera melahirkan, kita di suruh ke rumah sakit sekarang, sekalian bawa perlengkapan melahirkan dan perlengkapan bayi, tapi kakak tidak tahu apa yang harus dibawa" , ucap Rafa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Aku panggil bibi saja buat siapin apa yang harus dibawa", ucap Rafa hendak keluar kamar.


" Tunggu, Lisa tahu apa saja yang harus disiapkan, jangan ganggu istirahat bibi, kita keluar rumah diam-diam saja, Lisa nggak mau semuanya jadi khawatir dan panik, padahal Lisa belum terlalu sering merasa mules-mulesnya", ucap Lisa, kemudian mengambil koper dan mengambil beberapa baju miliknya, handuk, kain bedong, baju bayi, selimut dan perlengkapan lainnya begitu banyak yang di masukkan ke dalam koper.


" Wah kamu seperti mau pindahan saja", ucap Rafa melihat begitu banyak barang yang masuk ke dalam koper.


" Memang orang mau melahirkan itu butuh banyak kain, Lisa dulu pernah nungguin pas ibu mau melahirkan Nayla, adik bungsu Lisa, dulu ibu juga bawa barang-barangnya banyak banget ke rumah Bu bidan", ucap Lisa menjelaskan.


" Packing baju sudah selesai, sekarang kita mandi besar dulu, kan tadi kita sudah melakukannya, jadi kita mandi dulu ya, baru kitapergi ke rumah sakit, rasa mules-mulesnya masih jarang, jadi mending kita mandi dulu saja", ucap Lisa.


Merekapun mandi besar bersama meski masih dini hari, tapi mandi memang membuat mereka berdua lebih segar dan tidak lagi mengantuk.


Usai mandi dan berganti pakaian, Rafa membawa koper ke garasi dan memasukkan ke mobilnya terlebih dahulu, baru kemudian berjalan menggandeng Lisa dari kamar menuju mobil Alphard hitam yang posisinya berada di paling dekat dengan pintu garasi.


Rafa melajukan mobilnya dan menyuruh pak satpam yang tengah berjaga untuk membukakan pintu gerbang.


" Pak kalau nanti ada yang tanya kami kemana, bilang saja ke rumah sakit", pesan Rafa pada pak Pardi.

__ADS_1


" Siap Tuan, semoga lahirannya lancar Non Lisa", ucap pak Pardi.


" Aamiin, makasih doanya Pak, nanti kalau semua sudah bangun tolong minta pada yang lain untuk doakan Lisa juga biar lahirannya dimudahkan", pesan Lisa, kemudian mobil melaju kembali menerobos jalanan yang masih sepi.


__ADS_2