
"Aku sudah mendengarkan semua percakapan mas sama papi, ternyata cinta pada makluk dapat membutakan semua. Aku mencoba bertahan hampir 2 bulan agar hatimu berubah. Bahwa apa yang kamu sukai belum tentu baik bagimu mas," ucap Khansa dengan suara serak. Aku hanya diam. Namun hatiku terus menolak semua perkataan Khansa. Buktinya aku menikah dengannya tak membuat aku bahagia. Dalam benakku hanya ada Maria, dan Maria.
"Maafkan aku Khansa, aku benar-benar tak bisa melanjutkan pernikahan ini. Mungkin jodoh kita hanya sampai disini." Khansa hanya tersenyum melihatku. Senyum yang dipaksakan.
"Jika memang itu keputusan mas, aku akan mundur. Mungkin itu memang jalan yang terbaik," ucap Khansa mencoba untuk tegar.
"Aku akan mengurus perpisahan kita dengan segera walaupun mami dan papi tak menyukainya," ucapku kemudian aku pergi meninggalkan Khansa seorang diri.
*****
Akhirnya surat perpisahanku dengan Khansa sudah keluar. Kami benar-benar resmi berpisah walaupun papi dan mami tak menyuakinya. Aku merasa lega.
Khansa tampak mengemasi barang-barangnya. Terlihat dia menyeret koper miliknya turun kebawah. Mang Yusuf, mertuaku sekaligus sopir keluargaku membantu membawa koper itu. Aku mencoba membantu tapi Khansa dan mang Yusuf menolaknya. Mang Yusuf juga berhenti bekerja di rumah ini.
"Tante Khansa mau kemana?" tanya Zea menghampiri Khansa.
"Tante mau pindah sayang," jawab Khansa dengan lembut.
" Apa om Arkan ikut?" Khansa hanya menggeleng.
"Aku ikut ya tante," lanjut Zea.
__ADS_1
"Tante pindahnya jauh sayang. Nanti kalau Zea ikut tante, siapa yang nemenin oma sama opa?"
"Tapi tante janji ya, sering main kesini." lanjut Zea.
"InsyaAllah tante akan main." Khansa dan Zea saling berpelukan.
"Maafkan papi ya nak, karena papi tak bisa mengajari anak-anak dengan benar. Jadinya mereka semaunya," ucap papi penuh kecewa. Aku hanya menunduk dari kejauhan.
"Iya pi," jawab Khansa sambil mencium punggung tangan papi.
"Maafkan mami ya nak," ucap mami sambil memeluk Khansa.
"Sama-sama mi. Khansa minta maaf juga ya," jawab Khansa sambil melepaskan pelukannya dengan mami.
*****
"Sampai kapan papi dan mami akan mendiamkan aku?" tanyaku pada mereka.
"Mungkin sampai kiamat," ucap papi dengan nada tinggi. Lalu dia pergi meninggalkan aku dan mami.
"Mi, apa mami akan sama seperti papi. Aku anak mami. Aku yang menjalani. Aku yang bahagia ataupun tersiksa,"ucapku.
__ADS_1
"Semua terserah kamu, mami nggak akan ikut campur lagi urusanmu," mamipun berlalu meninggalkan aku sendiri.
*****
Pagi ini tampak begitu cerah. Aku sengaja mengajak Maria, Zea dan Zio ke taman. Bunga-bunga bermekaran dengan indah. Kupu-kupu mengepakkan sayapnya kesana kemari. Sengaja aku pergi untuk menghilangkan kepenatan di rumah karena sikap mami dan papi.
"Syukurlah, akhirnya kamu bercerai juga dengan Khansa mas," ucap Maria bahagia. Aku juga bahagia. Tapi entah kenapa kedua orang tuaku tak paham akan kebahagiaanku.
"Trus, apa rencana mas selanjutnya?" tanya Maria padaku.
"Aku akan menikahimu," ucapku.
"Walaupun papi dan mami tak merestui," lanjut ku.
"Apa, jadi papi dan mami tak ingin melihat kita bersatu mas?" tanya Maria. Aku hanya menggeleng. Tiba-tiba Zea dan Zio yang tadi asyik main sendiri duduk dipangkuanku.
"Om, Zea kangen tante Khansa. Coba ada tante Khansa. Pasti tante Khansa akan bercerita tentang semut. Tante Khansa pernah cerita pasukan semut yang hampir diinjak oleh pasukan Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman itu bisa mengerti bahasa binatang loh om. Zea mau diceritain lagi sama tante Khansa. Kapan om akan bawa tante Khansa pulang?"ucapan dan pertanyaan Zea membuat aku tertegun. Begitu dekatnya Khansa dengannya.
"Nanti mama yang cerita. Memang kenapa Zea mau diceritain tentang semut?" tanya Maria pada putrinya.
"Tadi Zea lihat pasukan semut berbaris di pohon. Ah mama mana bisa. Mamakan tahunya cerita cinderela. Zea bosan," ucap Zea kesal. Aku hanya bisa termenung. Ternyata, bukan hanya papi dan mami yang merasa kehilangan Khansa. Bahkan Zea pun begitu kehilangan.
__ADS_1
*****
Sudah 1 bulan aku berpisah dengan Khansa. Jujur, aku bahagia bisa bersama Maria kembali. Bahkan sebentar lagi aku berencana mau menikahinya. Tapi saat aku sendiri berada di kamar ini, seperti ada sesuatu yang hilang. Suara merdu Khansa membaca alquran setelah selesai sholat maghrib itu tak ada lagi. Suara bawelnya setiap pagi membangunkanku untuk sholat subuh yang tak pernah ku gubris itu lenyap bak di telan bumi. Kenapa aku jadi merindukan suara bawel itu. Ah, kenpa dengan diriku.