
POV Arkan Pratama
"Bos, ada mba Maria mau ketemu," Ucap Rizal padaku. Ada apalagi dia mau ketemu. Apa belum cukup membuatku dan Khansa bertengkar.
"Biar aku yang turun menemuinya." Segera aku melangkah keluar ruangan. Dibelakangku Rizal membuntutiku.
"Pergilah keruanganmu Zal, biar aku sendiri, " lanjutku.
"Siap bos," jawabnya.
Aku segera menghampiri Maria yang duduk di kursi costumer servis. Dia tampak sangat cantik. Dengan gaun warna biru dan rambut yang bergelombang.
"Mau apa lagi kesini?" tanyaku pada Maria.
"Aku hanya ingin jawabanmu," jawabnya.
"Ayo kita pergi. Tak enak dilihat banyak karyawan disini." Aku segera melangkah menuju ke tempat parkir. Segera kumasuk ke dalam mobil. Maria duduk disampingku. Ada senyum kebahagiaan terpancar di wajahnya. Segera ku tinggalkan kantor menuju sebuah cafe yang terletak di pinggir kota. Segera ku parkir mobilku. Dan kami berdua masuk kedalama cafe. Seorang pelayan menghampiri kami.
"sandwich ayam 1, jus jeruk 1," pesanku sedangkan Maria memesan spagetti dan es lemon tea. Pelayan itu berlalu dari hadapan kami.
__ADS_1
"Jawaban apa yang kamu mau? bukankah kamu tahu aku sudah menikah," ucapku pada Maria. Dengan berani dia memegang tanganku. Aku hanya diam. Ada rasa kesal tapi juga senang. Bayanganku kembali pada masa-masa SMA dulu dan masa kuliah S1 disini. Masa-masa yang indah dimana kami selalu jalan berdua, menghabiskan weekend di tempat-tempat hiburan.
"Aku tahu, kamu tak mencintai Khansa. Kamu menikah dengannya karena terpaksa bukan." Aku hanya diam mendengarkan perkataan Maria. Semua yang diucapkan memang benar. Tapi rasa sakit dihati karena penghianatannya membuat mulutku enggan menjawab ia, bahwa aku masih mencintainya.
"Aku memang belum mencintainya, tapi aku yakin suatu saat aku akan bisa mencintainya," ucapku.
"Sampai kapan? Aku tahu bahkan kamu tak bisa menyentuhnya bukan?" perkataan sinis Maria terasa menusukku. Bagaimana bisa dia tahu tentang rumah tanggaku.
"Sok tahu," ucapku.
"Jika kalian sudah saling menerima, tak mungkin kalian tidur terpisah."
"Aku sudah memafkanmu, tapi untuk kembali denganmu itu tak mungkin. Aku sudah punya istri," ucapku.
"Sampai kapan mas akan bertahan dengan Khansa? Apakah mas tidak tersiksa dengan semua ini," ucapannya ada benarnya juga. Selama ini aku cukup tersiksa hidup dengan wanita yang tak aku suka, begitu juga dengan Khansa. Yang ada hanyalah pertengkaran demi pertengkaran. Mungkin memang lebih baik aku berpisah dengan Khansa. Tapi jika aku berpisah, papi dan mami akan terluka. Begitu juga dengan mang Yusuf.
"Mas, aku ingin kita bisa seperti dulu. Kita bisa mulai lagi dengan lembaran baru," ucap Maria sambil menggenggam jari tanganku. Dan entah kenapa aku pun membalasnya.
"Aku akan pikirkan dulu. Aku akan mencoba bicara dengan papi dan mami. Tapi aku minta kamu jangan datang ke kantor. Tak enak dilihat banyak orang," ucapku.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menunggu kabar baik darimu mas," ucap Maria sambil tersenyum. Akupun membalas senyumannya dan secara reflek aku mencium tangannya.
*****
"Apa, kamu mau pisah sama Khansa dan kembali dengan Maria," ucap papi begitu kaget mendengarkan penjelasanku.
"Aku masih mencintai Maria pi. Lagi pula Maria sama kak Kevin sudah bercerai. Aku tak bisa melanjutkan hubunganku dengan Khansa."
"Tidak, papi tak akan mengijinkan," ucap papi dengan marah.
"Jika papi tak mengijinkan, berarti papi telah menyiksa kami bertiga," lanjutku.
"Apa maksudnya papi menyiksa kalian?" tanya papi tampak kebingungan.
"Pi, dari awal aku tak mencintai Khansa. Aku hanya mencintai Maria. Semua itu karena Kevin sialan yang masuk dalam kehidupan kami." Aku mencoba menjelaskan isi hatiku pada papi.
"Jaga ucapanmu, bagaimanapun Kevin adalah kakakmu."
"Buat apa Arkan punya kakak seorang laki-laki tak berguna. Lebih baik Arkan tak punya saudara." Plak. Tiba-tiba pipiku terasa panas. Tamparan papi membuatku langsung terdiam.
__ADS_1
"Jangan karena cinta kamu dibutakan segalanya. Dengarkanlah penjelasan kakakmu dulu sebelum kamu berkata. Jangan hanya mendengarkan perkataan sepihak saja. Sampai kapanpun papi tak akan merestui kamu dengan Maria," ucap papi lalu beranjak pergi. Aku masih memegangi pipiku yang terasa perih. Saat aku berbalik ternyata Khansa sudah berdiri dengan linangan air mata.